Rembulan

Rembulan
Dua Sisi Cerita


Inneke Pov


Malam itu entah kenapa aku sulit untuk tidur, setelah menemani Elma tidur ada perasaan yang tidak tenang muncul di hati. Tadi siang Kevin bilang kalau malamnya ada dinner meeting dengan klien sehingga ia akan pulang malam. Sampai akhirnya hampir jam sebelas malam dia telepon, memintaku untuk mengirim supir yang bisa menjemputnya. Aneh… tidak seperti biasanya ia seperti itu.


Dan ternyata kecurigaanku terbukti adanya, dia datang dengan muka penuh dengan luka dan lebam seperti habis berkelahi dan meringis kesakitan. Aku panik belum pernah aku melihat Kevin seperti ini, tanpa banyak bicara aku langsung membawanya ke rumah sakit.


Saat kutanya diperjalanan apa yang terjadi dia cuma tersenyum sinis dan membuang muka, sulit untuk berbicara dengannya kalau sudah dalam mode diam seperti itu malah hanya membuat kita emosi karena sikap tidak pedulinya.


Di rumah sakit saat dokter menanyakan kenapa sampai ada luka seperti itu, dia hanya menjawab “biasa laki-laki dok… kadang-kadang harus diselesaikan dengan fisik baru puas”


Apa maksudnya lagi ini, tapi aku tidak bisa bicara banyak, karena suster dan dokter yang masih merawat dan membersihkan luka dimuka Kevin membuatku hanya bisa menarik nafas panjang melihat muka Kevin, mukanya yang putih pucat membuat lebam dan kemerahan terlihat dengan jelas. Bagaimana nanti menjelaskan pada Elma kalau melihat Daddy nya seperti ini.


“Apa yang terjadi?” tanyaku di mobil , aku sengaja memulangkan supir yang tadi mengantar ke rumah sakit, sehingga hanya tinggal kami berdua di mobil.


Dia masih diam dan memandang ke arahan mobil-mobil yang terparkir di rumah sakit. Aku hanya menghidupkan mobil dan tidak berniat untuk beranjak keluar dari area parkiran.


“Aku lelah… pengen istirahat sekarang” cuma itu jawabannya, masih saja menghindar. Jangan menyebut aku Inneke kalau tidak bisa memaksanya berbicara.


“Kita tidak akan pulang sebelum kamu menjelaskan apa yang terjadi, kamu kira luka seperti itu bisa terjadi hanya karena ketidaksengajaan?. Aku tahu kamu pasti berkelahi hebat sampai luka seperti itu”


“Untung saja tidak ada rusuk yang patah” hasil rontgen menunjukkan kalau semua dalam kondisi baik, tapi tetap saja lebam kebiruan pun ada di punggung dan dadanya.


“Kamu berkelahi sama preman? Bukan kamu banget sampai kelahi seperti itu!” ucapku kesal. Kevin selalu bisa menahan diri dan emosi. Dia adalah laki-laki yang paling bisa mengontrol emosinya dengan baik, itu yang membuat dia berbeda dengan laki-laki yang pernah kukenal.


“Bukankah kamu menyukai laki-laki yang emosional?” dia bertanya dengan sambil tersenyum sinis. Apa maksudnya?


“Maksudnya apa?” dia langsung membuang muka.


“Mantan kekasihmu yang melakukan ini! Dia tiba-tiba saja datang dan memukulku hanya karena aku bersama dengan istrinya. PUAS?” sudah lama Kevin tidak pernah bersuara keras seperti ini.


“Maksud siapa mantan kekasih?” kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu.


“Memangnya mantan kamu ada berapa?” dia malah balik bertanya dengan muka sinis.


“Ju...Juno yang membuat kamu begini? Kenapa?” aku sama sekali tidak menyangka.


“Ahhhh… sudahlah aku lagi malas bicara.” dia kembali menghindar dan kemudian merebahkan diri di kursi. Tiba-tiba saja ada perasaan sedih dengan kondisi ini, mengapa semuanya terasa menjadi lebih sulit semenjak kehadiran perempuan itu di kantor Kevin, aku jadi semakin sulit untuk melepaskan semua bayang-bayang J dari kehidupanku.


Besok aku harus bicara dengan Icha dia pasti bisa menjelaskan semua permasalahan ini, sulit untuk berbicara dengan Kevin sekarang, apalagi kondisi fisik dan emosionalnya yang sedang tidak baik seperti sekarang. Aku hanya harus memikirkan alasan apa yang harus kuberikan pada Elma kalau nanti dia bertanya, kenapa Daddy nya terluka seperti sekarang.


Sudah aku perkirakan kalau Bulan pasti akan terimbas dengan kejadian malam itu, barusan Icha telepon kalau Bulan mengajukan surat pengunduran diri, alasannya akan membantu bisnis suami. Alasan yang aku kira dibuat-buat, karena perusahaan baru tidak akan langsung memiliki kesibukan yang berarti.


Ingin rasanya sekedar bertanya bagaimana kondisinya?, apakah dia baik-baik saja? Apakah suaminya yang temperamental itu memperlakukannya dengan baik. Dia adalah perempuan yang tidak beruntung masuk pada kerumitan hubungan antara kita bertiga. Hubungan yang aku tahu belakangan setelah menikah dengan Inneke.


“Daddy… aku mau spaghetti dengan meatball. I don't want tuna anymore. Aku bosan” Hari ini aku membuatkan Elma makan siang, dia ingin makan spaghetti. Sudah dua hari dia tidak sekolah, bilangnya sih ingin merawatku supaya bisa memberikan obat pada luka di wajah.


“Kenapa tidak mau makan tuna, eat a lot of fish will make you become a smart girl” Elma memang seperti aku suka pada daging merah, Inneke selalu menyiapkan menu ikan untuknya. Salmon dan Tuna menjadi santapan setiap hari, jadi pantas saja anak ini bosan.


“Today is special lunch because I will make it for you”


“If you want to eat spaghetti with meat ball, than I will make it for you”


Selama dua hari ini Elma dengan telaten mengoleskan salep untuk luka lebam dan menyiapkan obat untukku, walaupun sebetulnya sudah tidak terasa sakit. Tapi melihat semangat dan dedikasinya untuk merawatku menjadi penguat dan penyemangat untuk cepat sembuh.


“Daddy I think i want to be a doctor” tiba-tiba saja, ucapan itu terlontar dari mulut cantiknya.


“Really? Why?” ia memperhatikan aku yang sedang membuat saus spaghetti.


"Because aku suka ngasih obat sama Daddy”


“Hmmm aku suka buka-bukain obat buat Daddy” anak ini memang cerdas dan baik, perpaduan yang sempurna untuk seorang perempuan seperti Rembulan. Ahhh kenapa aku jadi ingat pada perempuan itu.


Saat Marissa menyebutkan kalau laki-laki itu mencari mencari Rembulan karena hp nya mati, aku merasa punya kesempatan untuk membuat dia merasakan apa yang kurasakan selama ini. Biar saja dia setengah mati mencari dimana istrinya, biar saja dia kebingungan. Tiba-tiba saja muncul kepuasaan membayangkan kalau laki-laki itu melihat kalau istri yang dicari-cari sedang bersamaku.


Dan ternyata sekarang aku harus membayar semua keisengan itu dengan membuat Rembulan berhenti bekerja. Sudah ada chemistry kerja yang terbangun dengannya, aku bisa mengandalkan dia untuk banyak pekerjaan, dia juga teman berbicara yang menyenangkan, ada banyak kesamaan dalam bahan bacaan dan cara berpikir. Itu yang sulit aku temukan dengan perempuan lain, tidak dengan Inneke ataupun Icha. Benar-benar suatu kehilangan besar kalau Rembulan sampai berhenti bekerja.


###############


Hi...


Mohon maaf selama tiga hari belakangan kesibukan pekerjaan sangat menyita waktu dan energi sehingga tidak bersisa untuk membuat cerita. Semoga dapat memahami kesulitan yang dialami. Mohon doanya agar dapat segera diselesaikan dengan baik.


Semoga sehat dan bahagia selalu yaa semuanya.


Big Hug,


ShAnti