Rembulan

Rembulan
Risalah Hati


Bulan PoV


Pagi ini aku bangun dengan mata yang masih bengkak dan muka yang sembab, kepala masih terasa pusing tapi tidak sepusing kemarin. Walaupun badan masih terasa lemas dan tidak bertenaga tapi paling tidak perasaan masih lebih baik.


Setelah sholat subuh kuputuskan untuk kembali membaringkan tubuh, aku tidak boleh egois. Ada mahluk lain yang sekarang tumbuh di dalam tubuhku, mengingat gambaran kemarin di mesin USG rasanya seperti mimpi. Ada mahluk sebesar kacang yang sedang tumbuh dan keberadaannya di dunia akan sangat tergantung dari aku ibunya.


Perutku masih rata tidak ada tampak benjolan seperti Afi, padahal badanku dulu lebih berisi dari dia. Apa karena dia lebih tua usia kehamilannya dari aku? Tapi kalau tidak salah tadi Afi bilang dia sudah 16 minggu jadi wajarlah kalau baby bump nya sudah terlihat.


Tapi yang paling melegakan reaksi A Juno begitu tahu aku hamil, aku mengira kalau dia akan tidak senang tapi ternyata terlihat bersemangat. Sempat kaget juga tapi aku biarkan saja dia melakukan semua yang ingin dia lakukan saat di rumah sakit kemarin. Memapah, menyiapkan tempat duduk dan mencoba membuatku nyaman. Entah dari perasaan bersalah karena pertengkaran kemarin atau karena aku hamil anaknya atau mungkin keduanya… entahlah!.


Tidur pagi ini terasa sangat dalam sehingga saat dibangunkan oleh Mama untuk sarapan rasanya seperti ditarik dari sumur.


“Tehhh…teteh bangun… ayo kita sarapan dulu”


“Bulaaan… ayo bangun” samar terdengar suara Mama.


“Biasanya dia gak pernah bangun siang” suara yang sangat ku kenal.


“Teh… ayo bangun” suara Mama Nisa akhirnya kudengar jelas hingga membuka mata.


“Arghhh maaf… tadi tidur lagi setelah subuh” aku bergegas mencoba duduk tapi kepala langsung terasa pusing.


“Aduh masih pusing Mah…” keluhku sambil memegang kepalanya.


“Jangan dipaksakan sarapan di ruang makan… di kamar aja Ma” ternyata A Juno ada disini lagi.


“Iya… sarapan di kamar aja”


“Mau sarapan sama apa Bulannya? Mama buat nasi goreng dan cumi goreng crispy kesukaan Afi.. Bulan mau juga?” tanya Mama dengan penuh semangat.


“Apa aja Ma… badan aku masih lemes soalnya” menyandarkan badan pada tumpukan bantal yang sudah tersusun di belakang punggung.


Mama bergegas keluar


“Aku buatin meja untuk sarapan di tempat tidur” suara A Juno terdengar di ujung tempat tidur, kemudian terasa ada gerakan di tempat tidur. Rupanya ia duduk di sana.


“Mau warna apa?”


“Dulu pernah buat modeling meja lipat yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan”


“Bisa dipakai buat menyimpan makanan untuk breakfast in bed, bisa dipakai bekerja sebagai dudukan laptop atau meja untuk menulis”


Aku biarkan saja dia mengoceh, masih belum ada keinginan dan semangat untuk menanggapinya. Ternyata memang disaat kita sakit energi terasa sangat terbatas.


“Perutnya masih terasa sakit?” bisa kudengar nada khawatir di suaranya. Sebetulnya perutku tidak ada ada masalah apa kecuali kalau bergerak tiba-tiba akan terasa ngilu. Itu sebabnya aku memilih untuk hati-hati bergerak saat ini.


“Mau aku bawakan minyak gosok?” Pusing rasanya mendengar semua pertanyaan bodoh yang dia ucapkan. Kalau berpikir secara logika tidak usah banyak tanya lakukan saja yang dianggap perlu. Mana ada orang sakit ingin menjawab pertanyaan, daripada pusing mendengar semua omongannya kuputuskan untuk berbaring saja membelakanginya.


“Jangan tidur lagi… kamu belum makan nanti tambah lemas badannya” suaranya terdengar penuh kekhawatiran. Masa bodoh tapinya sekarang aku hanya ingin memikirkan diri sendiri. Akhirnya dia hanya duduk diam, tapi aku bisa merasakan kalau dia memandangku diujung tempat tidur sana.


“Maafkan aku Bulan… aku tahu memang aku bodoh suka egois” kembali pernyataan maaf yang selalu diungkapkan seperti dulu. Semalam aku berpikir kenapa sulit rasanya untuk memaafkan kesalahan yang sekarang, kenapa ledakan amarah ini seperti tidak bisa ditahan seperti dulu.


Kalau mendengarkan cerita Mama tentang alasan A Juno yang meminta uang simpanan depositonya karena pertengkaran kami kemarin, tampaknya dia berusaha untuk memperbaiki kesalahan tapi bukan itu keinginanku. Aku tidak mempermasalahkan soal uang yang diinvestasikan di perusahaan.


Aku merasa kalau kemarahan ini  lebih banyak pada rasa kecewa pada sikapnya. Sikap abainya atas usaha yang aku lakukan, baik secara materi maupun immaterial. Ditambah dengan perasaan marah karena dia masih saja berhubungan perempuan itu. Apa sih hebatnya Kak Inne dan kenapa perempuan itu seperti tidak bisa melupakan Kak Juno dan menjalani pernikahannya dengan Pak Kevin. Bukankah dia sudah memiliki keluarga yang lengkap, suami yang berpenghasilan baik, anak yang pintar dan cantik serta pekerjaan yang hebat di Bank. Kenapa harus selalu mencari kebahagian dari laki-laki yang dulu sudah ia tinggalkan.


Sampai kapan perempuan itu akan selalu hadir dalam pernikahan ini?


Kehadiran Mama memutuskan keheningan yang ada di kamar.


“Kak… kamu sarapan sana! Biar Bulan sarapan dulu dengan tenang” rupanya Mama mengerti kalau aku enggan beraktivitas kalau Kak Juno masih ada di kamar.


“Iya” rupanya dia sekarang sudah mengerti dan tidak banyak berdebat. Begitu pintu tertutup Mama langsung tertawa.


“Hahaha… anak mama betul-betul kaya harimau yang dicocok hidungnya. Jadi penurut takut dimarahin sama Mama terus dilarang ketemu kamu”


Aku mencoba bangun dan duduk di tempat tidur, kepala rasanya masih terasa berat.


“Dulu dia itu paling susah diatur”


“Mukanya emang mirip Mama tapi sifatnya.. Plek ketiplek sama Bapaknya”


“Keras kepala dan maunya menang sendiri”


“Duduk saja sayang… bersandar ke bantal… nah begitu”


“Maaf jadi merepotkan Mama” ternyata Mama membawa nampan besar berisi nasi goreng dan cumi goreng crispy yang tadi diceritakan. Ada jus buah dan juga sepotong cake berwarna merah dan taburan kacang di pinggirnya.


‘Waaah red velvet” mataku langsung membulat melihatnya.


“Hahahahaha Mama semakin yakin kalau bayi diperut kamu itu nanti bakalan mirip sama Bapaknya… kesukaannya sama” Mama terlihat senang melihat aku yang langsung akan mengambil potongan cake yang terlihat cantik. Mendengar ucapan Mama uluran tanganku langsung terhenti dan berpikir bukankah A Juno tidak suka makanan manis.


“Bukannya A Juno gak suka makanan manis?” tanyaku heran.


“Dia suka kok cake yang ada cream cheese nya, apalagi red velvet yang ada taburan kacang”


“Carrot cheese cake with peanut butter dia suka juga”


Mendengar namanya saja mulutku langsung keluar air liur.


“Iya memang ini anak akan mirip bapaknya… nge denger namanya aja Bulan langsung pengen” ucapku sambil membayangkan cake yang berwarna orange dan lapisan keju di tengahnya.


“Hahahahah… makan dulu.. Baru boleh nanti penutupnya sama makanan yang manis”


“Berat badan kamu harus kembali seperti semula supaya sehat Mama dan bayinya”


Akhirnya aku menyimpan piring kecil berisi potongan kue dan kemudian meraih piring nasi goreng, harumnya sudah membuatku merasa lapar.


“Maaf kalau teteh jadi merepotkan, besok insya allah sudah bisa beraktivitas”


“Gak enak rebahan terus juga” suapan besar nasi goreng langsung masuk ke dalam mulut. Syukurlah tidak terasa mual sama sekali.


“Sudah minum obat dari dokter?” Mama ternyata tahu ada obat yang harus diminum sebelum makan.


“Sudah Ma.. tadi begitu selesai solat subuh, teteh makan” Mama tampak mengangguk puas.


“Hari ini Bulan ijin istirahat di kamar yaa Ma… maaf gak bisa bantu-bantu Mama di rumah” anjuran untuk bed rest akan aku ikuti sampai badan terasa pulih.


“Ya dokter meminta teteh istirahat full… jangan banyak pikiran”


“Makan yaa.. Dihabiskan, nanti sama bibi bekas makannya diambil”


“Juno akan Mama larang mengganggu Teteh jadi jangan khawatir”


Ternyata apa yang dikatakan Mama benar, hingga malam A Juno tidak pernah menengok lagi ke kamar. Memberikan aku kesempatan untuk menarik napas dan berpikir mengenai hubungan kami.


Keesokannya badanku mulai terasa berenergi, seperti ada tenaga untuk berlari. Tapi tentu saja tidak mungkin aku lakukan, sekarang harus mulai berjalan dengan lebih tenang dan berirama jangan sampai mengagetkan makhluk kecil yang ada di dalam perut.


Tapi tetap saja entah karena sudah terbiasa mendengar suaranya setiap hari, rasanya ada sesuatu yang hilang saat tidak melihat A Juno, tapi kenapa kalau bertemu malah terasa kesal dan rasanya ingin marah. Perasaan yang membingungkan!.


Setelah sarapan, mencoba berjalan ke teras depan dan melihat taman yang ditata oleh Mama terlihat asri, ada bangku di taman dekat kolam berjemur sebentar dan kembali terasa mengantuk hingga akhirnya aku putuskan untuk tidur lagi. Dua hari ini yang aku lakukan hanya makan dan tidur seperti pengangguran saja. Mungkin ini hadiah liburan tidur setelah berminggu-minggu tidurnya hanya beberapa jam saja setiap malam.


Kak Cedrik bilang kalau hasil review dokumen proposal akan diumumkan beberapa hari kedepan, setelah diumumkan nanti yang lolos seleksi harus presentasi di depan investor yang diundang. Mereka nanti akan memutuskan untuk melakukan interview lanjutan kalau perusahaan kita dianggap layak didanai. Ternyata perjalanan masih panjang, untung saja dulu saat bekerja di KAP aku tidak pernah mempersulit perusahaan yang membutuhkan dana investasi. Mungkin itu sebabnya, saat aku berada pada posisi mereka semua, aku bisa mengerjakan segalanya dan berjalan dengan baik.


Masalah pasti selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Kalau dilihat sebagai hambatan pasti akan terasa sulit, seperti saat harus mentranslate dokumen dan video ke dalam Bahasa Inggris. Tapi pada akhirnya aku melihat ini seperti tantangan, belajar menerjemahkan dokumen formal dengan melihat contoh di internet. Kemudian mengedit ulang semua video dengan memasukan subtitle Bahasa Inggris. Pada akhirnya aku jadi menguasai aplikasi editing video dan tentu saja merasa puas karena membuatnya sendiri. Kalaupun nanti tidak lolos didanai paling tidak aku sudah menguasai skills baru. Tapi tetap saja ada harga yang harus dibayar ternyata… kurang tidur, kelelahan dan akhirnya jadi sakit.


Tiba-tiba saja terpikir… apakah rasa marah yang tidak terkendali kemarin karena aku yang kelelahan dan kurang tidur sehingga sulit mengendalikan diri untuk tidak membalas kemarahannya. Bisa jadi itu menjadi salah satu faktor penyebab pertengkaran hebat kemarin. Artinya kedepan aku harus bisa mengatur lagi waktu dalam bekerja, kurang tidur dan terlalu lelah membuat kewarasan otak menjadi rendah.


Saat bangun menjelang dzuhur kepala semakin terasa ringan. Rasanya hidup terasa lebih bahagia, kalau diibaratkan perasaanku saat ini seperti anak kecil yang berjalan pulang bersama Bapak dan Ibu dan dibelikan mainan boneka. Ternyata bahagia itu sederhana, dan kebahagian itu bertambah saat aku melirik di meja kecil sebelah tempat tidur ada sepotong besar cake yang berwarna orange berselimutkan kacang tanah yang besar-besar. Disebelahnya tampak satu mug besar minuman yang berwarna putih kecoklatan.


“Apa ini?” mug nya masih terasa hangat.


“Woaaah teh tarik” sudah lama sekali aku tidak meminumnya. Waaaaah enak sekali terasa hangat di dalam perut. Hampir setengah cangkir aku habiskan langsung, jadi ingat omongan Afi kalau aku minum kopi panas dan langsung habis setengahnya.


“Waaah sudah bangun anak Mama”


“Baru mau bangunkan… lelap sekali tadi tidurnya”


“Tadi Juno kesini… bawain teteh Carrot Cake” aku menatap Mama bingung, jadi artinya tadi A Juno masuk ke kamar saat aku tidur.


“Iya tadi Juno bikinin kamu teh tarik soalnya katanya kemarin Bulan kan gak suka minum susu plain”


“Dia bilang kalau Teteh paling suka minum teh, jadi tadi dia buat teh tarik… yang penting harus minum susu”


“Nanti Juno akan beli susu hamil rasa strawberry atau cokelat. Tadi dia tanya kesukaan Bulan rasa apa? Mama bilang ya tidak tahu.. Yang musti tahu kan suaminya… eh dia malah bengong hahahahahha”


Mama tampak bahagia, aku jadi malu sendiri karena baru bangun tidur setelah seharian hanya makan dan berjemur.


“Bulan sudah terlihat lebih segar sekarang”


“Mama senang melihatnya, jangan terlalu terbebani oleh pekerjaan. Biarkan saja Juno yang belajar bertanggung jawab penuh”


“Tadi Mama sudah menasehati dia untuk memikirkan langkah kedepan”


“Belajar mengambil keputusan dengan bijak… karena dia sekarang sudah jadi kepala keluarga, sudah memiliki istri, dan sebentar lagi punya anak”


“Jangan suka impulsif membeli sesuatu hanya karena keinginannya semata”


“Mesti dipikirkan baik dan buruknya bagaimana kedepan”


“Waktu mama tanya soal rencana pencairan deposito dia bilang gak jadi katanya”


Aku langsung kaget, apa itu berarti dia akan tetap mencicil mobil yang dia akan beli dari temannya itu, kepala langsung terasa pusing lagi.


“A Juno ingin mencicil mobil dari bunga deposito itu Ma… kalau dicairkan nanti kita tidak bisa membayar cicilan karena pemasukan dari proyek masih terserap untuk biaya pembuatan interior di workshop” Mama Nisa mengangguk paham. Ternyata permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi, sekarang yang menjadi prioritas adalah bayi di dalam kandungan, jangan sampai aku harus minum obat terus menerus. Walaupun dokter berkata kalau obatnya aman dikonsumsi ibu hamil tetap saja bahan kimia harus diminimalisir selama masa kehamilan.


Semakin hari kondisi semakin membaik, esok harinya, aku sudah bisa bangun dan beraktivitas dengan normal. Setelah sholat subuh bisa langsung beraktivitas ke dapur membantu Bibi untuk menyiapkan sarapan. Afi sudah siap di meja makan bersama Nico keduanya sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke kantor. Ahhhh… rasanya rindu berpakaian seperti itu, berangkat bekerja dengan memakai baju kerja dan sepatu dengan hak tinggi. Rasanya seperti akan bertempur dengan dunia.


“Woaaah sudah bisa masak lagiii… aseeek udah bisa diajak main ke Mall dong” komentar Afi selalu saja berbeda.


“BELUM BOLEH KELUAR RUMAH SELAMA SEMINGGU” Mama langsung menjawab tegas, Afi hanya melengos dengan kesal. Mengambil nasi goreng sepiring penuh lengkap dengan telur dan sayuran iris.


“Afiii… piringnya Nico diisi dulu baru kamu mengisi punya kamu” Mama menggelengkan kepala pusing melihat kelakuan putrinya.


“Hehe lupaa… lagian kamu ihh jadi kebiasaan diambilin makanan sama aku… dulu sebelum nikah kamu ngambil sendiri… apa susahnya sih ngambil sendiri”  Afi sambil melotot kesal sambil memenuhi piring Nico dengan nasi dan telur. Nico hanya tersenyum sambil menggerakan alis ke atas.


“Kapan lagi aku di layani kamu… mumpung ada Mama” ucapnya sambil tersenyum menggoda, dengan muka  cemberut Afi menyiapkan semuanya. Melihat Afi dan Nico memang seperti anak sekolah yang hidup bersama, tidak ada beban dan menikmati kehidupan.


“Assalamualaikum” suara di pintu mengagetkan aku… A Juno.. tumben pagi-pagi datang.


“Cieee yang mau numpang sarapan pengen makan nasi goreng buatan istri niiiyyy”


“Jam berapa Kak dari Ruko?… habis solat subuh pasti langsung cabut kesini”


“Kangen sama istri atau pengen makan gratisan?”


“Banyak omong kamu… kalau hamil banyakin ngaji bukan ngomong gak jelas” ketokan di kepala Afi langsung membuatnya meringis dan berteriak.


“Maaaamaa… Kakak mukul kepala akuuu…sakiiiit iniiih” ternyata memang bakat ribut kakak dan adik tidak akan berhenti walaupun sudah menikah. Dia langsung duduk di meja dan tidak berkata apa-apa.


Kuambil piring dan mengisinya dengan nasi dan telur lengkap dengan sayuran dan menyimpan di depannya.


“Makasih” ucapnya pendek, tidak aku jawab dan langsung berbalik kembali ke dapur.


“Hihihihi…. Gimana enak gak diasinin? Sakit tapi tidak berdarah wkwkkwkwkwkw” aku bisa mendengar suara Afi yang tertawa puas.


“Afi sudah jangan bicara terus… makan yang betul… nanti terlambat” suara Nico terdengar tegas, dan kemudian tidak terdengar lagi percakapan di meja.


“Bulan kenapa gak makan?” Mama menyusul ke dapur.


“Lagi motongin buah dulu buat Afi di kantor… dia suka ngemil… katanya kemarin naik berat badannya kebanyakan takut bayinya terlalu besar”


“Kalau ngemilnya buah jadi lebih sehat” aku menyiapkan dua wadah besar potongan buah untuk dibawa Afi ke kantor.


“Kamu tuh malah mikirin Afi… ayo kamu makan dulu”


“Tadi aku udah minum susu sama biskuit Ma… sebentar lagi aku ke meja makan sarapan” sebetulnya aku mencari alasan supaya tidak usah satu meja bersama A Juno masih merasa canggung dan tidak nyaman.


Seperti yang sudah diduga Afi langsung menyambut bekal yang kubuat, ciuman yang tiada henti dan pelukan yang membuat kami hampir terjatuh sampai akhirnya bisa dilepas setelah dimarahi Mama. Salah satu hal yang terbaik yang terjadi dalam kehidupanku adalah memiliki saudara perempuan seperti dia.


A Juno tidak tampak di meja makan, entah dia sudah menyelesaikan sarapannya karena tidak kulihat piringnya di meja sehingga aku bisa sarapan pagi dengan tenang. Dan setelah membereskan meja, aku kembali ke kamar. Ternyata dia juga tidak ada disana. Syukurlah jadi aku tidak usah banyak berbasa basi. Pagi ini aku ingin belajar menata taman dengan Mama jadi langsung bergegas ke taman di depan. Asap rokok langsung tercium saat aku sampai di teras. Disini dia rupanya dengan laptop, kopi dan rokok di tangannya.


Dia langsung panik saat aku menatap tangannya yang memegang rokok.


“Aku lupa… aku lupa kalau lagi hamil jangan sampai kena asap rokok” dia langsung mematikan dan berdiri mengibas-ibas asap yang ada di dekatnya, tapi aku tidak peduli. Langsung beranjak ke taman dan kemudian menghampiri Mama yang sedang sibuk menyirami tanaman.


Hampir dua jam kami di Taman, tidak terasa sampai berkeringat dan udara mulai panas.


“Bulan jangan terlalu capek… besok kita lanjutkan lagi memindahkan pot bunganya” Mama memintaku untuk berhenti bekerja.


Aku mengangguk lemah, ternyata beraktivitas fisik selama dua jam langsung menguras banyak energi. Saat kembali menuju rumah A Juno sudah tidak tampak di teras, saking asyiknya membantu Mama aku sampai tidak sadar kalau dia sudah pergi.


Mandi dan kemudian menunaikan shalat Dhuha dengan tenang menjadi suatu kenikmatan yang ternyata bisa aku nikmati saat tidak bekerja di kantor. Mengaji menjadi aktivitas yang lebih aku perhatikan saat hamil, semua rasa gundah semakin berkurang saat mengucapkan sendiri bacaan ayat suci Al Quran. Ketenangan yang dirasakan oleh ibu aku yakin akan dirasakan juga oleh janin di perutku.


Saat mengakhiri bacaan Al Quran, baru aku sadari ada orang yang duduk di pinggir tempat tidur dan menatapku.


“Aku senang kamu sekarang sudah lebih sehat, walaupun sudah bisa beraktivitas tapi jangan terlalu capek”


“Ini aku belikan blueberry waffle aku kasih topping ice cream” dia tersenyum bangga sambil menunjuk kue dengan lelehan es krim diatasnya… sangat menggoda.


“Mama bilang kalau selera bayinya sama dengan aku… jadi tadi aku nyari makanan yang aku pengen makan”


“Kamu pasti suka… cepat makan sekarang ice creamnya nanti keburu mencair” dia menyodorkan piring berisi kue, dengan enggan aku mengambilnya dan duduk di sofa yang agak jauh dari tempat tidur. Masih malas rasanya berdekatan dengan dia, melihatnya saja membuat kepalaku langsung terasa pusing lagi.


Ternyata wafflenya benar-benar enak… buliran blueberry masih terasa asam dan manis dimulut berpadu dengan es krim yang manis membuatnya menjadi paduan yang pas.


“Enak kan?” ucapnya dengan penuh semangat, aku hanya menjawab dengan sedikit anggukan masih malas untuk menatapnya, karena setiap kali melihat mukanya terasa seperti ada rasa pedih bekas irisan pisau di dada.


“Teh Tarik nya diminum mumpung masih hangat, jangan lupa kalau sudah minum es krim kamu mesti minum sesuatu yang hangat. Aku masih ingat perkataan Mama dulu kalau aku makan es krim” dia menyimpan teh tarik di meja sebelah sofa. Aku langsung melengos membuang pandangan saat dia berjongkok di depan sofa.


“Bulaan… aku minta maaf… aku janji aku mau berubah lebih baik” selalu saja janji untuk berubah untuk lebih baik tapi sampai kemarin pertengkaran kami, usahanya dilakukan hanya saat dia mengucapkan janji. Tiba-tiba saja perasaan emosional kembali muncul, perasaan sedih dan ingin menangis. Aku langsung menyimpan piring berisi waffle dan beranjak ke tempat tidur. Dia hanya diam melihatku beranjak pergi.


“Aku pusing.. Mau tidur” berharap dengan ucapan itu dia mau keluar dari kamar dan meninggalkan aku sendiri, aku takut semakin lama dia ada di kamar, perasaan sedih semakin membuatku ingin menangis.


“Iyaa… kamu istirahat”


“Hmmm… aku cuma mau bilang”


“Aku cuma mau bilang kalau rencana aku untuk membeli mobil sudah aku batalkan”


“Jadi kedepan kalau ada yang akan kita beli… kita akan diskusikan sama-sama apapun itu”


“Kamu istirahat dulu yaa… “


“Ingat jangan terlalu capek… kalau ada yang ingin kamu makan dan beli bilang sama Mama dan Afi”


“Besok aku harus ke Surabaya… gak lama cuma dua hari”


“Ada klien yang dulu suka aku kerjakan proyeknya minta bertemu untuk proyek berikutnya”


“Jaga diri baik-baik yah selama aku pergi”


Terasa gerakan tubuhnya saat dia mendekat ke sisi tempat tidur, dan tiba-tiba saja tangannya mengusap kepala dan mencium rambutku lama, hembusan nafasnya terasa berat dan dalam, air mataku langsung menggenang. Aku tidak boleh menangis. Jangan menangis Bulan… jangan menangis…. Itu hanya akan membuatnya merasa berat dan kemudian diam di kamar lebih lama dan aku masih perlu waktu untuk lebih mengendalikan emosi, sehingga bisa berbicara dengan A Juno tanpa mengeluarkan air mata.