Rembulan

Rembulan
Racun Sudah Mulai Bekerja


Bulan melihat proses akad nikah, hatinya terharu melihat sahabatnya menikah. Memiliki kesempatan untuk bisa mendampinginya hingga melepaskan status lajang. Ingatannya kembali saat masa-masa penerimaan mahasiswa baru.


Ia berada dalam satu kelompok dengan Afi, mukanya yang kecil tenggelam dalam kacamatanya yang besar. Tidak pernah banyak bicara malah lebih sering terlihat cemberut sehingga teman-teman enggan berbicara dengannya. Pada saat pembagian kelompok untuk membuat tugas tidak ada yang memilihnya untuk menjadi pasangan tapi dia seperti tidak peduli.


“Afianti yaa” Bulan menatap name tag di dadanya.


“Sudah punya pasangan?” dia hanya menggeleng sambil diam.


“Aku juga belum” padahal tadi dia menolak beberapa ajakan untuk berpasangan, semenjak awal Bulan sudah menetapkan akan memilih orang yang tidak dipilih.


Afi hanya hanya memandang dirinya datar.


“Aku pasangan sama kamu aja yah” ajak Bulan, Afi hanya mengangguk tipis. Dan semenjak itu Afi menjadi sahabat yang sulit ia lepaskan. Mereka adalah sepasang sahabat yang saling mengisi. Kepintaran Afi membuat Bulan mudah dalam menyelesaikan tugas-tugas selama perkuliahan walaupun ia aktif dalam kegiatan mahasiswa. Afi membutuhkan Bulan untuk bisa terkoneksi dengan lingkungan karena ia tidak bisa berhubungan baik dengan orang lain, walaupun teman kuliah seangkatan.


Bulan sering keteter dalam mengerjakan tugas karena sibuk dengan organisasi, sehingga satu-satunya orang yang selalu melambaikan kertas tugas adalah Afi walaupun disertai dengan umpatan dan ujaran kekesalan. Afi memang tidak pernah mau mengikuti kegiatan apapun, ia hanya tertarik untuk belajar tentang materi perkuliahan atau mempelajari materi penunjang lainnya seperti kursus pajak. Itu sebabnya Afi lulus dengan predikat CumLaude… IPK nya nyaris sempurna 3.9 hanya satu mata kuliah yang nilainya B yaitu Olahraga Kesenian dan Kreativitas. Afi hanya hadir untuk absensi sisanya dia tidak mengerjakan tugas dengan maksimal.


“Ananda Emilo Nicolas Putra bin Ahmad Sanusi. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Afianti Restu Senggala dengan maskawinnya berupa perhiasan emas seberat 65 gram dan perlengkapan shalat, Tunai” Papa Bhanu mengucapkan ijab sebagai bentuk penyerahan selaku orangtua Afi kepada mempelai pria  yaitu Nico.


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Afianti Restu Senggala binti Bhanu Senggala dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.” Nico mengucapkan kabul dengan tegas dan cepat sehingga langsung direspon oleh semua orang dengan ucapan


“Syah?..... Syaaaaah…. Syah” bersahut-sahutan jawaban syah di masjid itu. Bulan mengusap air mata yang mengalir tanpa disadarinya. Kebahagian yang tidak akan pernah ia lupakan.


Selanjutnya semua keluarga memberikan selamat kepada mempelai, Bulan hanya menunggu sampai semua keluarga selesai. Kemudian ia melihat sesi foto keluarga, kembali muncul perasaan rindu yang hebat pada Bapak dan Benny. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan video call dengan Bapak dan Benny.


“Haloo assalamualaikum…” yang pertama kali mengangkat panggilan video adalah Bapak, tampak Bapak tengah berbaring di kamar.


“Bapak masih sakit kepala?” Bulan terlihat cemas, bapak tampak pucat.


“Ehhh anak bapak meni pangling cantik pisan…. Kamu makin kesini makin mirip sama Ibu” bapak tersenyum lemah.


“Teteh pulang aja yah setelah nikahan Afi? Bapak kok pucet sih” Bulan jadi panik melihat Bapak.


“Ehhh tenang aja… Bapak cuma kecapekan… kemarin bikin laporan keuangan sekolah. Laporan BOS… Bantuan Operasional Sekolah”


“Yang suka bikin laporannya sakit jadi aja bapak sama temen-temen musti bikin, berhubungan gak biasa jadi banyak salah” Bapak tersenyum lemah


“Atuh kenapa Bapak gak bilang sama Teteh padahal mah dibantuin” Bulan menghela nafas sedih.


“Ah sama Bapak juga bisa dikerjakan dibantu sama teman-teman. Cuma Bapak jadi kurang tidur aja sakit kepala” masih mencoba tersenyum lebar.


“Assalamualaikum…. Weeiis Teteh lagi acara apa ini cantik begitu”


“De… kamu lagi dimana? Gimana sih Bapak lagi sakit malah kelayapan di luar”


Bulan melihat kalau Benny sedang ada di luar dari tampilan videonya.


“Aku disuruh Bapak beli obat Teteh… suka suudzon aja ih sama aku tuh” Benny terlihat kesal.


“Iya tadi Bapak suruh beli obat ke apotik, tapi meni lama udah dua jam belum pulang-pulang” Bapak mengadu sambil protes.


“Kan sambil beli makanan Pak… suka ngadu Bapak mah kalau sama Teteh... dasar” Benny masih dalam mode ngambek.


“Ya udah De… cepet pulang lah… kasian Bapak sendiri”


“Beneran Pak cuma sakit kepala? Ke dokter atuh Pak.. mumpung masih Sabtu” Bapak memang paling malas pergi ke dokter.


“Engga ah… kurang tidur nanti ge sembuh. Salam sama Mamanya Afi yah… eh gimana Ayahnya Afi datang teh?” Bapak rupanya kepo juga.


“Datang atuh Pak… kan yang jadi wali nikahnya musti sama Papahnya..” Bulan tersenyum.


“Owh syukur atuh, tinggal ini gadisnya Bapak iraha mau nikah yah… Bapak udah nabung da … cukup buat pesta kecil-kecil mah… mumpung Bapak masih sehat Teh… gera nyari calon yah…” Bapak tampak berharap.


“Aamiin yra… doain aja… jangan sampai kesusul sama Benny” Bulan tersenyum menggoda.


“Ish… jangan atuh Benny mah sina kuliah sing luhur… sampai S2 langsung.. Lebar pinter” Bapak menyadari potensi yang dimiliki Benny.


“Aamiiin yra” Bulan dan Benny bersama-sama mengaminkan.


“Udah yah… Bapak mau tidur lagi… Ben.. cepetan pulang. Kata temen Bapak itu obatnya bagus…” Bapak menatap Benny yang tampak sedang memperhatikan hal lain di video.


“Umiiiiii wadidawwwww…. Kamu cetar cantik begini” suara Anjar tiba-tiba mengganggu proses video call. Bulan langsung melotot dan meminta Anjar diam.


“Siapa teh… temennya yah… ya udah nanti disambung lagi kalau udah beres acara.. Doakan Bapak cepet sembuh yahhh”


“Iya… Bapak jangan banyak pikiran, istirahat yang cukup”


“Ade cepat pulang… temanin Bapak” Bulan langsung instruksi pada Benny yang langsung mengacungkan jempolnya.


“Iyaa.. sekarang mau pulang… assalamualaikum” Benny mematikan panggilan, Bulan melambaikan tangan.


“Assalamualaikum Bapak…. Muach.. Muach… Teteh sayang sama Bapak” yang disambut dengan lambaian lemah Bapak.


“Muach...muach juga dari calon mantu Pak… Anjar Daud” Anjar mengempaskan dirinya di samping Bulan.


Bulan melirik melihat penampilan Anjar yang tampil formal dengan batik sutera. Terlihat sangat berkelas sekaligus keren.


“Tumben pake Batik.. Umurnya langsung keliatan nambah lebih dewasa gak unyu-unyu lagi” Bulan tersenyum meledek.


“Ehhh serius? Perasaan keren ah.. Mahal loh ini Batiknya gak setiap saat keluar dari lemari, hanya untuk acara-acara tertentu aja… 500 ribu”


Bulan semakin tergelak, Anjar memang apa adanya tidak pernah menutup-nutupi sesuatu.


“Iya keliatan mahal, jadi bikin kamu lebih dewasa juga… baguslah… mana bawa pendamping gak… sama siapa kesini?” Bulan mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar.


“Sama Ibu juga Ade ...tuh lagi nemuin Mamanya Emil... gak akan lama katanya mau langsung pulang biar gak macet… palingan aku yang terus disini sambil nungguin temen-temen SD pada ngumpul” sambil duduk selonjoran di dalam masjid melihat ke arah pengantin yang masih berfoto.


“Udah agak sepi… aku mau kasih selamat sama Nico dan Afi… kamu udah kasih selamat?” tanya Bulan.


“Udah… tapi ayo aku temani aja” Anjar berdiri mengikuti Bulan.


“Tumben kamu tampilnya beda Mi… keliatan cantik kaya Raisya… makanya Abi sekarang jadi Anjar Daud aja yah” Bulan langsung mencibir.


“Tingginya kurang semeter kalau pengen kaya Hamish Dawud trus kepala nya musti diganti.. Gak cocok… Hamish Dawud mah Indo kalau kamu cuma kebagian Maretnya” ucapnya sambil mendekati pasangan pengantin.


“Wahahahahha tumben kamu cerdas humornya” Anjar tertawa cengengesan.


“Afi dan Nico selamat yaaaa… Semoga menjadi pasangan yang Sakinah Mawadah dan Warohmah… Langgeng sampai jadi Kakek Nenek… Bahagia terus selamanya” Bulan memeluk Afi dengan erat dan menyalami Nico.


“Foto-foto dulu dong sama pengantin…” Anjar langsung meminta juru foto yang sudah standby,


“Mas tolong fotoin nih couple… biar kita cepet nyusul” dengan percaya dirinya langsung mengklaim. Afi langsung melotot kesal.


“Ewwww…. Siapa yang ngasih ijin buat nyusul… musti ijin dulu sama gw kalau mau deketin Bulan” Bulan tersenyum mendengarnya, posesifnya Afi tidak berubah walaupun sudah menikah.


“Buset kaya manager artis aja… ijin dulu sama kamu” Anjar mengeluh sambil cemberut. Nico memberikan kode pada Anjar dengan kerlingan matanya, mengarahkan pada Juno yang tengah memandang mereka.


“Apaan sih kamu Anjay… suka iseng banget… udah buruan foto… ini bukan foto couple tapi anak KAP yang ngumpul di nikahannya Afi”


“Buruan mas di jekrek nanti perang lagi… make upnya bisa luntur”


Akhirnya suasana bisa dinetralkan kembali, Bulan melihat Juno yang ada di sudut ruangan Mesjid, walaupun banyak anggota keluarga yang lainnya dia nampak menyendiri. Entah dimana dedek gemesh yang selalu mengikutinya.


“Bul.. aku mau ganti baju… temenin aku” Afi sudah mulai merengek, baju akadnya lumayan tebal membuat Afi tidak nyaman


“Ayo… aku temenin”


“Njar aku tinggal dulu yah…” tugas terakhir hari ini adalah menemani Afi supaya bisa nyaman. Mereka kemudian masuk ke ruangan ganti. Ruangan yang lebih besar, ternyata ini menjadi ruangan serba guna untuk berganti pakaian. Ada banyak cermin besar di dinding, rupanya sering dipakai untuk ruangan ganti kalau gedung dipakai sebagai tempat pertunjukkan.


Bulan membantu Afi berganti pakaian, walaupun sudah ada asisten MUA, tapi karena yang berganti pakaian pestanya tidak hanya pengantin tapi juga orangtua pengantin dan keluarga inti yaitu adik dan kakak dari pasangan pengantin.


Adiknya Nico tidak berganti pakaian ia sudah memakai baju kebaya hanya menambah selendang dan di lakukan retouch make up. Orangtua pengantin tampak sibuk berganti pakaian, Bulan memperhatikan setiap orang dibantu oleh satu orang asisten.


“Ini pakaian kakaknya pengantin perempuan kenapa belum dipakai?” satu pakaian adat pria beskap dengan kain selendang yang dililitkan di pinggang. Bulan ingat kalau tadi ia melihat Juno asyik main hape di sudut masjid.


“Hmmm tadi saya liat di mesjid, saya panggilkan… mungkin lupa harus berganti baju”


“Bulan tolong yaa… Mama udah kirim pesan tapi gak dibaca” Mama Nisa tampak bingung, ia sedang dibetulkan riasan rambut oleh asisten MUA.


“Iya Ma.. Bulan panggilkan” ia bergegas keluar dari ruangan serba guna, dilihatnya ke arah masjid, ternyata benar Juno masih asyik menulis sesuatu di hp. Mukanya tampak kesal dan berkerut.


“Kak Juno…” dipanggilnya laki-laki itu tapi sepertinya lebih fokus ke hp.


“Kak Juno… ya ampun mikirin apa sih sampai ga sadar lingkungan”


“Hei…. “ Bulan memukul kakinya baru kemudian ia sadar dan menoleh.


“Ganti bajuuu… bentar lagi acara pestanya dimulai… Kak Juno musti ganti baju pakai baju adat” tampaknya muka menghadap ke Bulan tapi pikiran masih pada hal lain.


“Woi… malah bengong… ayo ganti baju… yang lain udah pada ganti… ayo” Bulan menggoyang pundak Juno.


“Hahhh… udah mesti ganti baju lagi… gak bisa pake jas aja?... aahh ribet banget sih” Juno berdiri dan membuka jasnya, tampak keringat mengucur di dahinya. Bulan mengeluarkan tissu dan memberikannya pada Juno.


“Makanya ganti baju biar lebih adem… eh tapi itu juga model jas beskap gitu, tapi paling gak ganti pakaian yang kering”


“Ayo cepatan yang lain sudah berganti pakaian” Bulan mendorong Juno untuk bergegas.


Saat masuk ke dalam ruangan serba guna, tampak Afi sudah memakai pakaian Adat Palembang, cantik dengan mahkota yang terlihat mewah yang disebut dengan Karsuhun. Sedangkan Nico memakai hiasan kepala yang tak kalah unik yang disebut dengan Kopiah Cuplak keduanya tampak serasi. Nico pun tidak memakai kacamata tebal yang biasa dipakainya. Hari ini keduanya menggunakan contact lens.


“Kaka dari tadi Mama kirimin pesan kok gak dijawab sih… ayo ganti pakaiannya, 30 menit lagi acara pestanya dimulai” Mama Nisa sudah memakai baju kebaya dengan kain adat yang cantik. Kalau orang cantik memang memakai apa saja terlihat cantik. Papa Bhanu pun terlihat gagah mukanya yang galak semakin memancarkan kewibawaan, sebetulnya mereka berdua pasangan yang serasi, tapi mengapa malah terpisahkan.


Juno membuka kemeja, terlihat bajunya basah begitu pula dengan kaos dalamnya. Ia hendak langsung memakai beskap yang sudah disiapkan.


“Kak … itu pakaian dalamnya diganti dulu, nanti masuk angin” Bulan paling tidak nyaman dengan udara kota Jakarta, pakaian dalam sering mudah basah dan ia selalu membawa baju dalaman ganti.


“Basah? Pantesan aku gak nyaman” gerutu Juno.


“Ga bawa baju ganti?” Bulan melihat kaos dalam Juno basah oleh keringat.


“Ada kaos tipis buat ganti di mobil tapi sudahlah… aku males pakai baju lagi trus ke parkiran” Juno langsung memakai baju beskap.


“Jangan … nanti sakit.. Sini aku bawain ..biar ada kerjaan daripada bengong” dimintanya kunci mobil Juno.


“Manaaa… buruan.. “ Bulan tidak sabar dengan sikap ragu Juno, diambilnya jas yang dipakai Juno. Pasti ada di saku jas, dan betul saja diambilnya kunci mobil itu.


“Disimpan dimana bajunya?” kalau seperti ini harus bergerak cepat, Juno masih terlihat bingung.


“Hmm di tas kecil di bagasi dekat sepatu olahraga” tanpa menunggu lama Bulan langsung beranjak pergi. Afi yang melihat drama kakaknya hanya tersenyum sinis pada kakaknya.


“Masih kurang yakin gimana Kak… dia udah defaultnya ngebantuin orang lain gak pake mikir lagi… kalau sekarang lepas lagi… yang salah kamu Kak… gak bisa bedain mana berlian sama batu akik” Afi sekarang menyebut mantannya Juno dengan batu akik kelihatan bagus tapi gak jelas kualitasnya.


Juno hanya diam, kembali menyibukan diri dengan hp tanpa merespon ucapan Afi. Saat Bulan datang, sebagian dari pihak keluarga sudah duduk santai menikmati kudapan yang disiapkan. Papa Bhanu tampak asyik mengobrol dengan Ayahnya Nico begitu pula dengan Mama Nisa dengan Bundanya Nico.


“Ini Kak… baju dalamnya di ganti dulu” setelah memberikan tas baju Juno, Bulan kembali melihat Afi.


“Woww keren ya Fi Baju Adat Palembang… aku jadi pengen nyari orang Palembang biar bisa pake baju nikahan bling bling”


“Bling-bling sih dari luar… tapi ini baju dan mahkotanya berat tau” Afi mengeluhkan mahkota dan pakaian yang dikenakannya.


“Gak apa-apa cuma sebentar aja… sabar jangan rungsing nanti makin gak nyaman” Bulan mengusap-usap tangan Afi.


“Bulan ...tolong bantu pasangkan ini” Juno tampak kesulitan menggunakan kain yang dililitkan di pinggangnya. Bulan menatap ke sekeliling pada kemana asisten MUA, mustinya membantu Juno memakai baju adat.


“Owh ini mudah tinggal dililit dan dipertemukan ujungnya… coba Kak Juno angkat baju beskapnya” terpaksa Bulan membantu melilitkan, jarak diantara mereka begitu dekat, sehingga Bulan harus menunduk karena ia harus menarik dengan erat kain.


“Sudah cukup kuat?” Bulan menarik tali di pinggang Juno.


“Belum masih agak longgar” jawabnya


“Tahan badannya aku tarik” Bulan menarik lagi rupanya ada belitan di tali sehingga sulit dikencangkan.


“Tahan…” Bulan mencoba menarik dengan kuat dalam sekali hentakan, yang berakibat Juno terhuyung dan menabrak tubuh Bulan sehingga harus merengkuh tubuh Bulan supaya tidak terjatuh.


“Ehhh…. Maaf .. kamu nariknya kencang banget” Bulan yang kaget, berusaha bersikap normal.


“Hmmm ini talinya ada yang menggulung di tengah jadi harus ditarik supaya lepas…. Udah kencang sekarang… hmmmmmm” berusaha menghilangkan rasa kikuk dengan mendehem seakan tenggorokan kering.


“Gimana Mbak bisa memasangkannya … maaf tadi saya minum dulu” seorang asisten MUA mendekat pada Bulan dan Juno.


“Sudah… “ Juno langsung merapihkan pakaiannya, Bulan yang masih merasa kikuk langsung beranjak meninggalkannya. Masih terasa rengkuhan Juno di pundaknya, saat mendekat ke Afi yang terlihat hanya senyuman menggoda dari sahabatnya.


“Sengaja lu yaaa narik-narik baju Kakak gw biar bisa pelukan… gimana asyik kan… dijamin bakalan ketagihan” bisiknya dengan senyum meledek. Bulan hanya menarik nafas kesal.


“Simpen otak mesum kamu buat nanti malam… aku masih mau menjaga kesucian pikiran dan perasaan” ditenangkannya debaran perasaan yang masih terasa. Sekarang dia butuh minum air putih yang banyak… harus menetralisir racun yang sudah mulai masuk ke dalam darahnya.


Diminumnya air putih yang dalam dua tegukan, terlalu intim membuatnya berpikir terlalu jauh, saat Bulan berbalik ia berhadapan dengan Juno yang rupanya memiliki pemikiran yang sama. Keduanya jadi tampak canggung saat bertatapan.


“Mi…. dicari-cari dari tadi gak taunya disini…” suara Anjar memecah suasana kikuk diantara keduanya.


“Apa… aku baru mau minum .. haus” Bulan mengambil gelas kedua.


“Ikut sama aku ketemu temen-temen SD…. mereka bilang aku jomblo akut soalnya gak bawa gandengan….”


“Kamu musti ngaku-ngaku aja yahh….”


Anjar menarik tangan Bulan …. Bulan hanya bisa melirik Juno, diikutinya Anjar agar ia tidak terjebak oleh perasaan membingungkan ini.


“Ngaku-ngaku apaaaa sih Njar…..”


Jun… gimana bakalan kesalip di tikungan lagi sekarang?