Rembulan

Rembulan
Jalan ke Surga


Sore itu suasana di belakang rumah terdengar riuh antara teriakan Benny dan tawa Bulan yang terbahak-bahak.


“Bang tahaaan sebelah sana, jangan sampai lepas” teriak Benny


“Itu kurung ayamnya bawa Bang… di pegang posisi diatas jadi tinggal nungkupin” Benny memperingatkan posisi kurung ayam yang ada di sebelah Juno.


“Haaah kurung yang mana?” Juno terdengar bingung, mereka berdua sedang bekerja sama untuk menangkap si Jago yang kabur dari kandangnya.


“Itu kurung ayam yang disebelah Abang… yang warna merah hijau” Benny tampak kesulitan mengarahkan Jago yang berlaga akan terbang melewati dirinya.


“Aduuuh kamu tuh Jagoo… jangan terbang nanti Bapak ribut lagi” Benny merentangkan tangannya berusaha menghalangi.


“Yang ini? Memang cukup?” Juno memandang kurung ayam yang kecil.


“Kenapa gak dimasukin langsung aja ke kandangnya, supaya langsung selesai” Juno menggelengkan kepala bingung.


“Susah Bang.. nanti dia suka matuk, dia gak akan mau masuk ke kandang sendiri, yang masukin ke kandangnya sama kita sendiri”


“Udah dirungkup aja pake kurung dulu nanti dipegangin masukin ke kandang” ucap Benny optimis. Bulan duduk di bangku belakang melihat interaksi antara adik dan kakak iparnya itu.


‘Siap yaah Bang… begitu aku giring pas udah deket langsung ditungkup sama kurung” jelas Benny. Juno menangguk dengan tatapan penuh keraguan, seumur hidupnya ia belum pernah menangkap ayam.


“Oke… Bang deketin Bang…. Yaaaa…. Sekarang Bang TUNGKUUUUP” teriak Benny. Juno berusaha mendekati Jago dengan hati-hati tapi pada saat akan menungkup tiba-tiba saja Jago membuka sayap seakan menantang akan menyerang.


‘Argghhhh hush…hushhh kenapa dia!” Juno berteriak. Tiba-tiba saja Jago menyerangnya.


‘Arghhhhh BULAAAAAN INI KENAPA AYAAAMNYAAA” entah kekuatan dari mana Jago melakukan penyerangan pada Juno. Selama ini ia belum pernah mengenal laki-laki yang membawa kurungan ayam.


“Aahahahahhahahahahaha” Bulan tertawa terbahak-bahak melihat Juno yang dikejar Jago.


“Benn….Bennnn…. Tolongin Abaang…. Argghhhhhh …hush…hussshh enyah kau…hushhh” Juno berteriak ngeri. Kurung ayam yang ada ditangannya menjadi senjata seperti tameng. Jago yang selama ini terkungkung seperti mendapatkan lawan untuk bertanding.


“Ayam Gila….. Pergi…hush….hushhh” Juno berusaha menghindari serangan Jago.


“Ahahhahahhahahahaha” Bulan memegang perutnya yang terguncang hebat. Ia baru tahu kalau ternyata Juno takut pada ayam jago. Padahal badannya beberapa kali lipat dari ayam itu.


“Ada apa ini kok ribut?” Bapak yang baru datang bingung mendengar suara jeritan dan tertawa, membuatnya langsung ke halaman belakang.


“Ya Allah kenapa si Jago jadi nyerang si Aa…. Jagooo….kurrr….kurrrr….kurrrt” begitu Bapak melihat Jago yang seperti sedang bertanding melawan tameng kurung ayam.


“Diam A… jangan digerak-gerakin kandang, biar sama Bapak ditangkap” Bapak bergerak mendekat perlahan sambil bersuara mencoba menenangkan Jago.


“Kurttt….kurtttt…. Ini makanan kamu… juragan… sudah bosan di kandang yaaah… Jangan khawatir Juragan nanti dibuatkan kandang yang besar” Bapak menebarkan makanan kesukaan Jago di dekatnya. Perhatian Jago langsung terpecah saat melihat makanan kesukaan ditebar di dekatnya.


“Kurrrttt….kurrrtttt” Bapak terus berbunyi sambil membelai Jago perlahan. Akhirnya drama pertempuran berakhir. Juno menarik napas lega, seumur hidupnya belum pernah ia diserang oleh ayam. Kalau bukan ayam peliharaan Bapak mungkin ia akan langsung menyerang balik tanpa berpikir panjang, tapi karena ini peliharaan kesayangan Bapak ia tidak berani melakukan itu. Khawatir nanti melukai dan membuat Bapak sedih.


“Ini kenapa si Jago  sampai keluar?” tanya Bapak heran, langsung mengangkat Jago sambil dielus-elus supaya tenang.


“Tadi ade ngasih makan, kayaknya lupa mengunci pintunya” jawab Benny berterus terang, sampai menggaruk-garuk kepalanya.


“Dia kayaknya pengen bebas Pak… soalnya dari tadi ngibas-ngibas sayapnya”


“Pegel Pak diam terus di kurungan… kasihan” jelas Benny.


Bapak diam termenung, ia pun sebetulnya ingin membebaskan Jago untuk bisa berkeliaran tapi rasanya tidak mungkin dilakukan khawatir ada yang mencuri, banyak orang yang menyukai jenis Ayam Ketawa seperti Jago ini, apalagi dengan suara yang sudah bagus seperti sekarang.


“Kalau tembok ditinggikan dengan kawat filter supaya agar tinggi Jagonya bisa bebas berkeliaran Pak” saran Juno mengusap keringat di dahinya padahal udara Bandung cukup dingin tapi ketegangan melawan ayam membuatnya panik.


“Saya buatkan gambarnya saja sekarang Pak… kita pakai kawat filter yang diameternya besar saja”


“Nanti pakai tulang penguat besi supaya stabil posisinya”, jelas Juno. Bapak mengangguk-angguk setuju.


“Ben… ada meteran gulung gak?” tanya Juno pada Benny.


“Ada De… ambilin sana di tempat perabot di lemari bawah tangga”. Bapak langsung menginstruksikan Benny. Rupanya hal ini sudah Bapak pikirkan dari dulu tapi kondisi fisiknya yang gampang lelah membuatnya sulit untuk berkegiatan yang berat.


Juno langsung mengambil pensil dan kertas membuat sketsa dan mencoret coret dengan asyik di halaman belakang. Bulan tidak mau mengganggunya, ia sudah hafal kalau suaminya sudah menggambar pasti sulit diganggu.


“Bapak mau minum kopi susu?” tanya Bulan, tidak ada lagi kegiatan yang harus ia amati sekarang, pertempuran ayam dan manusia sudah selesai.


“Susu coklat saja, Bapak udah gak minum kopi sekarang” jawab Bapak setelah menyimpan Jago ke dalam kandang. Benny dan Juno sibuk berdua, mengukur ini dan itu di halaman belakang. Bapak hanya mengamati saja. Akhirnya Bulan memutuskan masuk ke dalam rumah dan membuat kudapan sore, kemarin dia membuat cireng dan pisang aroma kalau digoreng sekarang akan menjadi snack sore yang pas.


Kopi hitam untuk suaminya, susu coklat untuk Bapak dan teh untuknya dan Benny. Saat ia kembali ke halaman belakang tinggal Bapak yang sedang duduk di bangku.


“Pada kemana Pak?” tanya Bulan heran. Saking sibuknya di dapur sampai tidak menyadari suaminya pergi.


“Suamimu keluar sama Benny buat beli barang-barang keperluan buat kandang sama pagar pengaman”


“Kandang?” Bulan mengerutkan dahi bingung, membuat kandang lagi bukankah sudah ada kandangnya Jago.


“Iya katanya kalau Bapak lagi diluar sebaiknya Jago dikasih kandang yang lebih besar supaya dia nyaman bergerak bisa hilir mudik dalam kandang, nah kalau Bapak dirumah baru bisa dilepas”


“Tadi sudah dibuatkan gambarnya, diujung sana disimpannya biar gak mengganggu kalau si Ema mau ngejemur baju, jadi jemuran dipindahkan ke sebelah sini” Bapak menunjukkan arah tempat penyimpanan kandang ayam nantinya. Halaman belakang memang cukup luas, bahkan sangat dimungkinkan untuk membuat kamar tambahan. Tapi siapa yang akan menempatinya hingga akhirnya hanya dipakai untuk menjemur pakaian saja.


“Bikin apa itu?” tanya Bapak.


“Ini cemilan, trus kopi buat Aa, susu coklat buat Bapa, teteh sama ade mah minum teh aja”


“Gimana kondisi kandungan kamu sekarang?” tanya Bapak sambil memandang perut putrinya. Walaupun sudah tiga bulan lebih tapi belum terlihat tonjolan yang berarti, apalagi kalau Bulan menggunakan pakaian longgar masih terlihat seperti gadis.


“Alhamdulillah sekarang sudah terasa kaya ada getaran diperut, seperti  yang masuk angin blubuk-blubuk gitu, gak tahu memang masuk angin kali..hehehehe”


“Aku dari awal gak kerasa yang aneh-aneh kok Pak… cuma waktu itu aja vertigo”


“Kayanya dulu karena kurang tidur sama terlalu cape aja Pak”


“Seminggu di Bandung bikin aku merasa segar”


“Udara di Bandung mah bisa dipakai bernafas kalau di Jakarta mah heuuh sesek” jawab Bulan sambil melengos.


“Tapi dulu selama kamu kerja gak pernah komplain sesak sama Bapak” tanggap Bapak.


“Yah kan waktu kerja mah seminggu sekali pulang, dua hari narik napas di Bandung, sekarang mah gak pernah pulang jadi gak bisa narik napas” keluh Bulan. Bapak tersenyum mendengarkan keluhan anaknya.


“Kalau kita sudah berumah tangga memang begitu adanya. Ibumu juga dulu pengennya pulang ke Garut tapi kan Bapak ngajar jadi tidak bisa selalu pulang nganterin ibu kamu”


“Tapi lama-lama ibu terbiasa tinggal di Bandung”


“Bapak lihat suami kamu sekarang berbeda jauh dibandingkan dengan dulu waktu awal menikah”


“Dulu gayanya kelihatan pisan anak orang kayanya, songong kalau kata orang Sunda mah”


“Sekarang beda pisan”


“Tadi ngejelasin bikin kandang ayam sama Bapak meni sopan, hati-hati, beberapa kali nanya keinginan Bapak gimana? Walaupun cuma bikin kandang ayam tapi kaya ngegambar buat rumah” Bapak tersenyum senang. Bulan hanya tersenyum samar, ia senang kalau Juno bersiap baik kepada Bapak.


“Syukur atuh Pak” jawab Bulan pendek.


“Tadi malam juga, ngelarang Bapak ngebangunin teteh. Lapar katanya tadi malam tuh, dibelikan nasi goreng sama ade. Trus rame mendongeng berdua”


“Gak tau tah tidur jam berapa kayanya jam satuan” cerita Bapak, Bulan mengangguk, baru ia mengerti pantas saja tadi subuh Juno susah diajak ngobrol tapi pas ditawarin take away langsung sadar total.


“Bapak jadi tenang perasaan sekarang, kalian berdua kalau Bapak tinggal ada yang ngurus, ada yang ngelindungin” mata Bapak terlihat berair. Bulan langsung cemberut kesal.


“Bapak apaan sih ngomongnya kok kaya gitu… Bulan kan masih pengen ditemani sama Bapak, kalau gak ada Bapak nanti Bulan sama siapa?”


“Kemarin juga Bulan tuh kesel sama A Juno, suka galak sama teteh tuh gampang banget marah”


“Udah gitu masih aja ada hubungan sama perempuan yang dulu pernah jadi pacarnya… dikejar-kejar sampai sekarang”


“Ada hubungan gimana?” dahi Bapak langsung berkerut, Bulan kaget ia kelepasan bicara gegara Bapak bicara melow.


“Nggak… nggak ada hubungan apa-apa A Juno mah, cuma itu bekas pacarnya ngejar-ngejar terus… mengirim pesan ke teteh bilang kalau jadi istri tuh mesti mendukung suami bukannya melarang-larang”


“Itu gara-gara kemarin A Juno mau nyicil mobil padahal kan kita lagi gak ada uang, sama teteh dilarang. Coba dari mana uangnya?”


“Ternyata A Juno punya simpanan deposito mau bayar dari situ, tapi kan mendingan depositonya dipakai modal usaha daripada bayar cicilan lagi”


“Akhirnya A Juno membatalkan pembelian mobil… ehh terus perempuan itu marah-marah nyebut Teteh gak mendukung suami”


“Teteh nyari investor buat ngasih modal tambahan ke perusahaan”


“Teteh ngelengkapin semua profil perusahaan, sampai punya website. Teteh bikin sendiri itu Pak” jelas Bulan berapi-api. Bapak cuma mengangguk angguk bijak.


“Ehhh dengan seenaknya perempuan itu nyebut teteh istri yang tidak mendukung suami”


“Huuh untung waktu itu Teteh lagi sakit jadi gak direspon tapi kalau kondisinya kaya sekarang sudah sehat, pengen Teteh benyek-benyek Pak… mau dibanting… mau…” Bulan terengah-engah, matanya melotot kesal.


“Istigfar…” ucap Bapak tegas. Bulan terdiam kemudian menarik napas panjang.


“Apa manfaatnya teteh marah-marah seperti itu? Jangan suka mengikuti hawa napsu”


“Itu setan” ucap Bapak pendek.


“Kalau kita mau melakukan perbuatan yang diluar dari kebiasaan kita, harus diingat apakah memang perlu dilakukan sampai sejauh itu, ada manfaatnya tidak. Jangankan untuk diucapkan, dipikirkan juga sebaiknya jangan dibiasakan nanti kita terbiasa berpikir buruk dan jahat pada orang”


“Apa coba manfaatnya untuk kita? Untung teteh tidak melakukannya, coba kalau dilakukan artinya didikan Bapak masih belum tuntas sama kamu”


Bulan diam termenung mendengar ucapan Bapak.


“Perempuan yang masih mengurusi suami orang itu artinya hidupnya tidak bahagia, perasaannya tidak tenang dalam rumah tangganya, malah kita mestinya kasian sama orang seperti itu” jelas Bapak.


“Selama si Aa nya gak menanggapi dia, teteh jangan khawatir”


“Junaedi gak menanggapi pan?” tanya Bapak. Bulan langsung tersenyum mendengar julukan Juno dari Bapak.


“Nggak sih Pak… kemarin malah katanya memperingatkan jangan suka ngirim-ngirim pesan ke Teteh, jangan ikut campur sama urusan rumah tangga kita katanya”


“Trus kemarin juga A Juno minta ijin mau ketemu sama perempuan itu, mau memberikan batasan supaya dia nya ngerti” jelas Bulan.


“Nah apa lagi seperti itu, banyak teh… laki-laki diluar sana, kalau ada perempuan yang suka sama dia dilayani aja, padahal udah sama-sama nikah” Bapak menggelengkan kepalanya, ia sering mendengar cerita tentang teman-teman sesama guru yang berkasus dengan teman kerjanya.


“Ujian lima tahun dalam pernikahan itu biasanya soal keuangan, perempuan yang sudah biasa bekerja atau yang sudah biasa dicukupi kebutuhannya oleh keluarga saat menikah dengan seorang laki-laki pilihannya harus kecewa karena yang didapatkannya ternyata lebih kecil, suaminya menjadi lebih perhitungan karena memang uangnya sedikit”.


“Nanti lima tahun kedua mulai merasa bosan dengan pasangan kemudian melihat orang lain lebih ramah, lebih perhatian, lebih menarik. Padahal sebetulnya, karena orang itu tidak memperlihatkan kebiasaan sehari-harinya saja. Tidak mungkin orang ramah terus, pasti ada diemnya, pasti ada marah-marah nya. Jadi masa iya sama kita yang jarang ketemu tiba-tiba marah-marah. Yang suka perhatian sama orang lain, apa sama keluarganya juga seperti itu? Kalau sama kita orang lain saja perhatian pastinya sama keluarganya lebih perhatian atau mungkin jarang memperhatikan”


“Nanti lima tahun ketiga akan merasa jenuh dengan pasangan, merasa suami tidak memperhatikan, istri tidak menarik. Pakai baju itu-itu saja, suami datang bau keringat muka berminyak. Kalau istri mengeluhnya suami kalau datang bukannya ngajak ngobrol setelah seharian gak ketemu malah sibuk dengan hpnya. Akhirnya memilih saling mendiamkan dan akhirnya mencari kesibukan masing-masing. Rumah hanya sekedar tempat tinggal bukan tempat untuk saling membahagiakan”


“Intinya setiap tahun pernikahan akan ada cobaanya. Kemampuan untuk menghadapi cobaan itu yang menjadi ibadah. Itu sebabnya kalau yang belum menikah ingin meningkatkan level ibadahnya dia harus berani menikah kenapa karena dalam pernikahan itu kita bisa meningkatkan ladang amal kebaikan kita”


“Coba teteh sebutkan sikap si Aa yang suka bikin teteh kesal?” tanya Bapak lembut. Bulan mengerutkan dahi mencoba berpikir.


“Suka marah-marah”


“Suka cemburuan”


“Trus kalau handuk basah suka disimpan di kasur… walaupun sadar dijemur ditumpukin di atas baju yang kering” ucapnya sambil menggebu-gebu.


“Kalau diajak ngomong kadang jawab kadang nggak”


“Kalau sendirinya nanya beuuh kudu buru-buru dijawab”


“Kalau teteh gak ngejawab… teriak-teriak Bulaaaan… Bulaaan kamu dimana” hidung Bulan sampai kembang kempis menceritakannya, Bapak tersenyum melihat Bulan menirukan gaya Juno yang mencari-cari istrinya.


“Alhamdulillah… mesti bersyukur teteh itu”


“Bakalan banyak ladang amalnya”


“Itu belum seberapa Bapak masih banyak yang ngeselinnya” ucap Bulan sambil mendelik kesal.


“Iya Bapak juga tahu, bisa Bapak bayangkan soalnya dia kan anak yang sudah terbiasa dengan fasilitas yang serba ada, dari kecil sudah biasa hidup berkecukupan, ada yang melayani”


“Selalu dipenuhi kebutuhan hidupnya”


“Teteh tahu tidak kalau ke surga itu banyak jalannya. Dan salah satunya jalan ke surga yang bisa diambil  Teteh adalah menjadi istri yang sholehah, yang menjadikan suaminya menjadi laki-laki yang lebih baik, lebih soleh, lebih berbakti pada orangtua dan lebih amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di dunia”


“Jadi teteh harus lihat apakah dia menjadi laki-laki yang lebih baik dalam ibadahnya atau sama saja dibandingkan waktu dulu pertama kali nikah. Atau bahkan malah lebih parah jadi gak inget sholat?” tanya Bapak. Bulan langsung menggelengkan kepala.


“Nggak Pak… lebih sholeh, solatnya sekarang lima waktu walaupun masih suka ada bolong utamanya subuh, suka susah bangun soalnya tidurnya malam terus”


“Iya baguslah kalau gitu mah” Bapak mengangguk senang.


“Soal handuk basah yang suka disimpan di kasur, aduh itu mah kesempatan emas atuh teh” ucap Bapak sambil tersenyum.


“Kesempatan emas apanya, ngeselin aja yang ada”


“Kesempatan emas untuk bisa masuk ke surga”


“Orang lain untuk bisa masuk surga harus berjihad, teteh gak usah jauh-jauh ke Palestina, cukup bawa handuk ke jemuran”


“Mencari amal soleh dengan membawakan handuk basah suami ke jemuran”


“Untung pisan kan teh”


“Coba bayangkan kalau Junaedi itu laki-laki yang sempurna gak ada kekurangannya, dia itu ramah, penuh perhatian, soleh trus apalagi? cakep mah da sekarang juga udah cakep”


“Kalau si Aa nya udah baik semua nanti teteh gak bakalan punya jalan ke surga”


“Selama kekurangannya bukan hal yang prinsip seperti melakukan kekerasan fisik atau tidak menafkahi baik lahir maupun batin maka itu akan menjadi ladang amal”


“Mengerti gak teh”


“Hidup rumah tangga itu adalah proses penyesuaian bukan untuk saling merubah”


“Bapak bisa mengerti kalau Ibumu itu gak suka banyak bicara, tapi bukan berarti gak ada keinginan”


“Ibumu banyak keinginan tapi dia ingin Bapak bisa mengerti”


“Awalnya Bapak tidak mengerti dan mencoba meminta Ibumu untuk bisa menceritakan kalau ada keinginan”


“Tapi yah tidak bisa begitu ternyata karena sudah jadi watak”


“Sehingga akhirnya Bapak mengerti dan mencoba menyesuaikan diri begitu juga dengan ibumu”


“Kesabaran ibumu untuk bisa menerima segala kekurangan Bapak yang tidak bisa mensejahterakan hidup kalian semua”


“Bapak berdoa supaya hidup ibumu sekarang bahagia tidak lagi mengalami kekurangan seperti saat di dunia” Bapak terlihat sedih. Bulan ikut menunduk sedih, dulu ia tidak terlalu menyadari arti kekurangan secara ekonomi karena merasa baik-baik saja.


“Iya Pak… teteh ngerti” jawabnya pelan.


“Kemarin malam Bapak tanya kenapa gak pakai mobil, katanya dijual buat modal usaha, artinya dia sudah berubah banyak, gak takut kehilangan kenyamanan”


“Jadi kalau pasangan kita banyak kekurangannya, jangan ditinggalkan tapi kita lengkapi, kita harus lihat itu sebagai jalan kita menuju surga”


“Sambil berdoa semoga kekurangannya itu bisa menjadi lebih baik, supaya kalian tetap sakinah mawadah dan warohmah sampai akhir”


“Iya Pak” jawab Bulan lagi. Ternyata kalau cara berpikirnya diubah akan lebih menyenangkan untuk hidup berumah tangga itu. Selama ini ia selalu melihat kekurangan suaminya sebagai beban, tapi kalau kekurangan itu dilihat sebagai cara untuk mendapatkan amal soleh sebagai bekal akhirat akan terasa ringan.


‘Makasih yah Pak sudah mengingatkan Bulan” ucapnya pelan.


“Bapak yang sehat jangan mikir yang aneh-aneh umur pendek da umur itu di atur sama Allah”


“Kan katanya mau lapor sama Ibu udah lihat cucu, lihat ade kuliah diwisuda”


“Bapak jadi mesti sehat jangan banyak pikiran” dipeluknya Bapak  merasa sangat bersyukur, ternyata walaupun tidak ada Ibu, dengan adanya Bapak tuntutan rumah tangga tetap ia dapatkan.


“Eleuuuh sudah punya suami juga masih aja manja sama Bapak” ucap Benny dari belakang. Rupanya ia sudah pulang dari toko bahan bangunan.


“Udah mau tutup tokonya, tapi A Juno maksa beli barang heheheh ternyata kalau yang belinya yang cakep mah, si teteh pelayannya meni semangat” adu Benny pada kakaknya.


“Gak aneh” jawab Bulan ketus, orang yang dibicarakan tampak santai tidak peduli sambil membawa barang perlengkapan ke halaman belakang.


“A… mandi dulu gih baru nanti ngopi… bau keringat” ucap Bulan sambil menyodorkan handuk yang ia bawa dari jemuran. Juno mengangguk sambil beranjak masuk ke dalam. Sisa pertempuran dengan ayam membuat badannya tidak nyaman.


“Tumben si Teteh meni penuh perhatian gitu” komentar Benny heran.


“Ehhh jalan ke surga you know”