Rembulan

Rembulan
Ngemil-ikin Kamu Seutuhnya


“A… “ suara parau Bulan terdengar, sepuluh menit mereka berdua kembali terbaring, setelah untuk kedua kali listrik kembali menyengat dan mengakibatkan putaran badai yang kedua. Tapi kali ini Bulan terlihat meringkuk di sisi tempat tidur dengan beralaskan tangan Juno.


“Yaa kenapa?” Juno yang masih terkapar di sebelahnya.


“Mau minum.. Tapi aku nya gak bisa bangun…. Sakiiit” keluh Bulan sambil berusaha bangun tapi kembali terbaring.


“Aku ambilkan” ucap Juno sambil meraih kaos dan celana pendek yang tadi dilemparkan ke lantai.


“A…” ucap Bulan lagi sambil menatap Juno dengan tatapan lemah.


“Aku juga lapar tadi belum makan”


“Nanti sekalian tolong ambilin sanmol cair di wadah obat” sambungnya lagi


“Sanmol? Obat apa?” Juno terlihat bingung.


‘Hmm obat sakit, badan aku terasa sakit semua trus kok kaya meriang” ucapnya sambil kembali menggulung dirinya di dalam selimut.


“Hahh…” Juno terlihat kaget, dihampirinya Bulan dan disentuhnya dahi ternyata memang terasa lebih hangat dari suhu badan normal.


“Kenapa kamu kok jadi sakit?” Juno jadi mendadak panik.


“Gak apa-apa… masuk angin aja tadi belum makan malam, tolong ambilin aja minum sama nasi goreng yang dibelikan Bebey”


“Jangan lupa obatnya di atas meja sudut ada rak kaca”


“Kalau Bapak atau ade tanya bilang aja aku masuk angin” ucapnya lagi


Juno menatap Bulan dengan perasaan bersalah, tadi mereka memang melewatkan makan malam, ia sudah keburu nafsu melihat istrinya. Bergegas keluar mencari apa yang diminta istrinya, mengambil air minum, nasi goreng yang dibelikan Benny dan obat. Terdengar samar percakapan Bapak dan Juno.


“Teteh emang gak bisa minum tablet dari dulu, makanya Bapak nyimpen sirup turun panas, kaya bayi dia mah. Kalau dikasih tablet keluar lagi sampai muntah”


“Padahal kalau makan rujak buah gede-gede juga ditelen aja”


“Tapi kemarin waktu di RS dia kan pernah sakit obatnya ditelan aja Pak” sanggah Juno.


“Biasanya kalau bentuknya kaplet dia kunyah yang susah kalau kapsul mesti dibuka dulu” jawab Bapak


“Eughh kan pahit itu Pak?” terdengar lagi suara Juno yang seperti meringis mendengarnya.


“Dia anaknya gengsian gak mau keliatan lemah”


“Tapi kalau dirumah disuruh minum obat gak akan mau yang kaplet atau kapsul pasti minta sirup” jelas Bapak.


“Ini sama kasih tolak angin aja, biasa dia mah suka gampang masuk angin”


“Makanya kalau udah beres langsung pake baju biar gak masuk angin...hehehe” Bulan yang sedang dikamar langsung mengkerut ke dalam selimut, sampai sekarang ia masih belum memakai baju, menggerakan badan pun terasa sakit.


Juno masuk ke dalam kamar dengan membawa banyak barang di tangannya, piring berisikan nasi goreng, air minum, dan botol obat. Bulan mengintip dari balik selimut khawatir yang masuk bukan suaminya.


“Ayo bangun makan dulu!” ajak Juno, Bulan mengeluarkan kepala dari dalam selimut sambil memandang ke arah pintu kamar.


“Bapak gak akan masuk ke kamar kan?” bisiknya, Juno jadi tertawa melihatnya.


“Kamu sudah menikah sekarang, Bapak gak akan masuk sembarangan ke kamar anaknya, gak tau kalau adik kamu...ganggu terus orang lain on juga!” gerutu Juno. Bulan hanya cemberut sambil matanya celingukan melihat ke kiri dan ke kanan.


“Baju aku mana A, aku mau bangun” berusaha mencari di dalam selimut tapi tidak ada.


“Ini... kamu tadi yang lemparin keluar selimut”


“Sini aku pakaikan” Juno menarik selimut ke bawah, tapi langsung ditahan Bulan.


“Jangan… aku bisa pakai sendiri” ucapnya cepat menyambar baju daster yang di tangan Juno dan kembali menghilang di dalam selimut. Juno hanya bisa tersenyum melihatnya.


“Malu-malu amat sih, aku kan tadi udah liat semuanya, ada tahi lalat di dada sebelah kanan” ucapnya menggoda.


“Di paha sebelah kiri ada tai lalat juga bagian dalam”


“Ihh… pake disebutin segala, tadi pakai senter kayak inspeksi yah sampai hafal posisi tahi lalat aku ada dimana” gerutu Bulan sambil perlahan berusaha duduk dengan meringis.


“Sakit?” tanya Juno sambil menyusun tumpukan bantal di belakang punggung Bulan yang mengangguk lemah.


“Gak nyaman banget pengen ke toilet, tapi membuka kaki kok kaya ada yang aneh” keluhnya


“Aneh gimana?” Juno mengerutkan dahi.


“Hmmm seperti ada yang "tertinggal” jawab Bulan pelan.


“Tertinggal gimana? Ini udah dimasukin ke dalam kandangnya” Juno tertawa terbahak mendengar jawaban Bulan, duduk disamping tempat tidur dengan sepiring nasi goreng.


“Yah gak tau… pokoknya kaya gitu aja!”


“Pantas saja kalau hubungan intim itu kalau tidak dilakukan dalam kondisi yang sah sebagai suami istri yang dirugikan itu perempuan”


“Coba lihat Aa mah… udah dua kali nyembur kaya yang baik-baik aja sehat bisa hilir mudik”


“Lah aku… ini kaya barang yang belah tapi tidak pecah”


“Gak kebayang kalau ini kejadian sama aku pas aku belum nikah wiiih kayaknya bakalan merasa gak punya nilai jadinya” Bulan terus saja berbicara tanpa memperhatikan perubahan ekspresi wajah Juno.


“Ini nasi goreng siapa?” tanya Bulan, tapi Juno masih terdiam hanya memandang ke arah piring di tangannya, entah apa yang dipikirkannya.


“A… itu buat siapa?” tanya Bulan lagi, Juno baru kemudian seperti tersadar.


“Ehh buat kamu katanya tadi lapar” jawabnya cepat. Bulan menatapnya lekat.


“Kenapa? Jadi ingat mantan?” ucap Bulan telak.


“Apaan sih kamu? Sini makan dulu katanya tadi lapar” Juno segera menyuapkan satu sendok nasi goreng. Bulan menatapnya kesal, sendok berisikan nasi goreng di depan mukanya tidak ia hiraukan.


“Baru merawanin anak orang malah inget mantan!” ucapnya sambil melotot. Juno tertawa melihatnya, disimpannya kembali sendok dan piring di meja samping tempat tidur, dan kemudian menangkup muka Bulan.


“Mau aku cium lagi dan disembur atau mau makan? Pilih?” ditekannya kedua belah pipi Bulan sehingga bibirnya maju kedepan. Bulan berusaha menarik tangan Juno tapi kalah kuat malah membuatnya bergerak kasar sehingga membuatnya meringis sakit.


“Ishhhh….” ia mendesis kesakitan, melihat istrinya seperti itu Juno mengalah dan memilih memeluk Bulan.


“Jangan gampang curiga, kamu tuh dikit-dikit marah” mencoba menenangkan yang tiba-tiba marah dengan pelukan, Juno menarik nafas panjang menelusuri pipi Bulan dan menyentuh lembut bibir yang terasa dingin saat tubuh yang didekapnya terasa panas.


“Kamu agak demam, mesti makan dulu sekarang terus minum obat!” matanya menatap lekat Bulan yang hanya mengangguk lemah.


“Mau dengerin cerita aku gak?” ucap Juno sambil kembali menyendokkan nasi dan mencoba menyuapi Bulan yang akhirnya menerima suapan.


“Tapi jangan ngambek hanya sekedar cerita, mendengarkan masa lalu aku dari versi aku bukan dari versi bos kamu”


“Supaya jangan gampang terprovokasi kalau denger cerita Doni, soalnya dia kalau ngomong suka gak di filter” jelas Juno, dengan malas Bulan mengangguk sambil membuang pandangannya ke samping.


“Ah mukanya kaya yang marah gitu, aku jadi malas ceritanya!” sambung Juno sambil kembali menyuapkan sesendok nasi.


“A Juno makan juga, nanti masuk angin lagi kaya aku!” Bulan menolak suapan dan mengalihkan sendok ke mulut Juno.


“Hmmm enak gini, pantesan si Benny maksa beliin” merasakan nasi goreng, Juno langsung mengunyah dengan semangat.


“Aa-nya aja laper kali, tapi emang nasi goreng Mas Jabrik itu enak, capcaynya juga enak A” Juno tersenyum, Bulan ternyata mudah dialihkan kalau sudah makan.


“Sudah langganan artinya yah?” tanya Juno sambil bergantian menyuapi Bulan dan dirinya sendiri.


“Udah sejak aku SMA kalau gak salah, lumayan kalau malem-malem makanan habis, Bapak suka beliin nasi goreng” ucapnya bersemangat, duduk lebih tegak dan terlihat lebih berenergi.


“Udah ah kenyang!” Bulan menolak suapan dari Juno dan meraih botol obat di meja, menuangkan sendiri ke dalam gelas takar dan meminumnya cepat.


“Kaya bayi aja minum obatnya mesti sirup” ledek Juno, tapi Bulan terlihat tidak peduli, sudah cukup sering ia mendengar ledekan seperti itu.


“Apa lagi yang perlu aku tahu soal kamu?” Selidiknya


“Aku suka ilfil kalau denger orang ngomongin mantan!” jawab Bulan kembali membaringkan tubuh dan berbalik menghadap dinding. Juno menarik nafas panjang, kenapa perempuan di depannya peka sekali kalau dia tiba-tiba teringat Inneke. Disimpannya nasi goreng di meja.


“Habiskan nasinya, kalau besok udah gak enak malah dibuang. Mubazir!” Juno terpengarah bagaimana mungkin sambil berbalik tapi bisa tahu apa yang dilakukannya. Diusapnya bagian belakang kepala Bulan.


“Nggak heran aja, kok kamu bisa tau aku nyimpen nasi goreng… kaya punya mata di belakang kepala” ucapnya sambil membaringkan tubuh di belakang Bulan.


“Mata aku mah banyak, mata kaki, mata hati, mata-mata” jawab Bulan asal.


“Terus bisa tau aku nyimpen piring gimana?” sambil menciumi rambut Bulan


“Yah kedengar lah, mata kan buat ngeliat, telinga buat mendengar, otak buat berpikir”


“Kedengaran piring disimpan di meja kemudian dipikir pasti gak dihabiskan makannya” jawabnya lagi.


“Trus bisa tahu aku mikirin mantan gimana?”  masih dengan menyembunyikan diri di balik rambut Bulan.


“Selalu ngelamun kalau ngomongin soal hamil di luar nikah, padahal aku tadi bicara gak maksud menyindir seseorang, tapi ehhh… langsung baper...payah!” jawab Bulan sambil mengibaskan bagian belakang kepala.


“Jangan nafas di tengkuk iihhh ..geli” tapi Juno tetap saja mendusel disana.


“Mau denger cerita versi aku gak?” tanya Juno lagi.


“Nggak!” jawab Bulan cepat.


“Sombong banget, mentang-mentang gak punya mantan!”.


“Siapa bilang gak punya… situ aja yang gak tau!” tungkas Bulan.


“Kalau gak jadian sih gak dihitung mantan apalagi beda agama” jawab Juno, mendengar jawabannya Bulan seperti terhenyak. Ia tidak pernah menceritakan tentang Cendrik kepada siapapun bahkan kepada Afi. Langsung menoleh ke belakang melihat suaminya.


“Jang… jangan sok tau!” ucapnya panik.


“Hahaha ketauan panik… biasa aja mbak… gak apa-apa kok aku”


“Setiap orang punya masa lalu... “


“Iya…” jawab Bulan pendek


“Aku gak masalah, cuma jangan baper terus… malas lihatnya!”.


“Nggak baper cuma jadi berpikir aja dari kacamata yang berbeda karena sudah mengalaminya sama kamu sekarang”


“Makanya mau denger gak?” tawar Juno lagi.


“Iya udah lah sok cerita… ngomong melulu bikin aku lapar lagi” Bulan akhirnya bangun, sekarang gerakannya lebih santai karena efek obat yang sudah bekerja.


“Sini itu nasi aku habiskan!” mencoba meraih piring nasi goreng kesukaannya.


“Sok cerita… biar gak baper!”.


Juno tetap berbaring sambil menatap langit-langit.


“Dulu aku merasa sakit hati merasa dikhianati, merasa menjadi orang yang paling menderita dan menjadi korban”


“Menyalahkan banyak orang hingga akhirnya mencari alasan kenapa semua ini terjadi”


“Hubungan aku sama Inne bukan sebentar, kita jarang ribut soalnya aku berusaha untuk mengikuti apa keinginan dia”


“Walaupun kadang aku merasa tidak seimbang tapi bisa bertahan”


“Ternyata ujian yang sesungguhnya terjadi saat kita berdua tinggal berjauhan, aku mengira kalau dia bisa memegang komitmen”


“Ternyata aku salah”


“Yang paling menyakitkan adalah dia memutuskan tanpa menjelaskan apapun, tiba-tiba BAMM… putus!”


“Tidak mau bertemu dan kemudian aku dengar dia menikah”


“Aku mendengar dia hamil diluar nikah dari percakapannya dengan ibunya tidak dari dia langsung, semakin yakin setelah Doni cerita soal kelahiran anaknya”


“Awalnya aku merasa dia pengecut karena tidak berani untuk bertemu aku langsung, berterus terang tentang kondisinya”


“Tapi mendengar ucapanmu tadi aku jadi berpikir, mungkin memang dia tidak berani karena rasa malunya terlalu besar untuk bisa menjelaskan padaku” Juno menarik nafas panjang.


Bulan terdiam mendengarnya, ia sendiri tidak bisa membayangkan kalau dirinya yang mengalami itu.


“Yah pasti malu lah, merasa malu sudah menduakan, malu juga karena proses menduakan A Juno dengan Pak Kevin terus membuahkan hasil” sambungnya.


“Tapi menurut aku sih gak akan semata-mata langsung tekdung kalau gak ada proses antara keduanya”


“Memangnya bisa dua orang melakukan ehm-ehm gak pakai proses?”


“Bertatapan langsung bikin hamil?”


“Yah nggak dong… butuh waktu sampai merasa nyaman, senang satu sama lain dan kerelaan dari kedua belah pihak sampai bisa ehm-ehm”.


“A Juno dan Kak Inne kata aku orangnya setipe. Self center, kurang peka dan fokus pada tujuan”


“Mungkin itu sebabnya selama bertahun-tahun cocok”.


“Hmm gitu yah, aku orangnya seperti itu” tanya Juno memiringkan tubuhnya dan menatap istrinya.


“Tapi Pak Kevin itu orangnya ramah dan caring pada orang lain. Mungkin itu sebabnya yang membuat Kak Inne merasa cocok dan nyaman sampai bisa bablas angine” Bulan tersenyum kecut.


“Takdir telah berbicara disini… siapa cepat dia yang dapat… A Juno kurang cepat melakukan aksi jadinya kelewat...hehehehe” Bulan tertawa sendiri kemudian merebahkan diri, hari ini terasa melelahkan. Merasakan menjadi perempuan dalam arti yang sesungguhnya secara fungsi biologis ternyata tidak mudah.


“Kalau aku disuruh memilih melakukan aksi saat dulu atau saat sekarang… aku tetap memilih sekarang” jawab Juno.


“Ya iya atuh milih sekarang… kalau milih melakukan aksi saat pacaran mah namanya Zina…”


‘Dilaknat sama Allah… dirajam kamu A… dicubitin sama aku gak seberapa… dilemparin batu… terus diarak keliling kampung!” ucap Bulan sambil masih membelakangi.


“Hiiii aku takut ngedengernya juga… untung aku selamat, ketemu sama Neng Bulan putrinya Pak Harlan yang suka malu-malu kalau ngeliatin aku dulu” ucap Juno sambil bergegas memeluk Bulan kembali dari belakang.


“Udah ah… jangan meluk-meluk terus!” masih dengan suara ketus.


“Jangan suka marah-marah gitu, aku aja gak marah kamu punya mantan tapi gak bilang-bilang”


“Eh bukan kategori mantan yah soalnya belum pernah jadian” sambung Juno sambil tertawa.


Bulan hanya diam dan tidak bereaksi.


“Kenapa diam jadi betul yah, kamu punya seseorang di masa lalu sebelum sama aku?” tanya Juno cepat.


“Yah wajar aja aku kan hidup sudah dua puluh lima tahun, masa hidup selama itu gak pernah ketemu orang spesial”


“Tapi gak pernah jadian kan?” tanya Juno lagi.


“Suatu hubungan gak mesti dideklarasikan, terkadang cukup disimpan di hati saja”


“Dikunci rapat dan dijadikan kenangan” jawabnya pelan dan sedih.


“Kenapa kok kedengarannya lebih bikin cemburu daripada pemabuk amatir di Ruko?” ulas Juno


“Itu laki-laki yang ketemu di Pub waktu jemput si sontolo yo bukan?” tanya Juno cepat.


“Aku ngantuk ah… udah gak usah bahas masa lalu.. Sudah berlalu!” kilah Bulan sambil menarik selimut ke atas.


“Jangan tidur dulu dong… aku masih pengen ngemil?”.


“Ngemil gimana tadi kan udah makan nasi goreng, jangan ngemil malam-malam nanti gendut”


“Bukan ngemil yang itu” bisik Juno.


“Ngemil-ikin kamu lagi malam ini”


Eaaaaa……………….