
Benny tampak terkapar di sofa, kurang tidur dari semalaman kemarin sehingga tertidur dengan pulas walaupun di sofa.
“Bey… bangun!” Bulan mengguncang-guncang bahu Benny.
“Uhhh… bentar, masih ngantuk” jawabnya pelan.
“Makan dulu terus pulang aja, besok kamu pagi-pagi kesini bawa Ema” Bulan membuka bekal makan malam untuk Benny, ayam goreng siap saji yang tadi dibelikan Juno.
“Aduuuh aku laper banget…” Benny langsung bangun dan menghampiri meja kecil di sudut kamar.
“Bapak bangun? Bapak mau ayam yah, sama teteh disuapin, kan besok Bapak mau lihat teteh nikah jadi musti makan yang banyak biar sehat” Bulan menghampiri Bapak yang tampak memperhatikannya dengan lekat, terlihat mencoba tersenyum.
“Bapak seneng teteh mau nikah?” tanya Bulan perlahan, Bapak tampak berusaha mengangguk.
“Iya besok teteh nikah, nanti setelah lihat teteh nikah Bapak dioperasi yah, supaya bisa bicara lagi sama bisa bergerak lagi seperti dulu” Bulan mengusap-usap lengan Bapak.
“Bapak mah kuatan, pasti kembali sembuh lagi… kasian Pak,.. si Jago sendirian di rumah gak ada Bapak teh” Bapak terlihat tersenyum mendengar cerita Jago.
“Tadi teteh pulang ngambil persyaratan buat nikah, liat Jago sehat, burung-burungnya Bapak juga sehat… makan yah biar sehat” Bapak mengangguk kuat sekarang. Perlahan Bulan menyuapi Bapak yang terlihat senang. Pintu terbuka dan Juno masuk bersama Mama Nisa, Afi, dan Nico.
“Eh ada Nico…”
“Maaf yaa Nico, Afi-nya diculik dua malam ke Bandung” Bulan tersenyum sedih melihat keduanya.
“Gak apa-apa, aku kan sekarang kesini sekalian mau honeymoon” Nico menaikan alisnya sambil tersenyum mesum, Bulan jadi tertawa melihatnya karena Afi terlihat lurus saja tidak terlihat malu.
“Iya atuh syukur jadi kesempatan untuk honeymoon” tidak terasa Bapak bisa menghabiskan paha ayam bagian dalamnya, memang ini ayam goreng kesukaan Bapak.
“Wahh bagus makannya, nanti besok Bapak musti puasa jadi sekarang dikenyang-kenyangin makannya” Mama Nisa tersenyum senang melihatnya, Bapak tersenyum sambil mengangguk.
“Noo.. nikaaaah” tatapan Bapak beralih pada Juno yang langsung mendekat.
“Iya Pak… besok Juno menikah dengan Bulan. Bapak jangan khawatir, sekarang istirahat dulu biar besok segar” Juno menepuk tangan Bapak pelan, Bapak kembali mengangguk.
“Bulan, teteh perias yang kemarin ternyata besok gak bisa ke Bandung karena sudah ada yang booking duluan ke Bekasi. Gimana yah kamu dandan besok?” Mama Nisa terlihat bingung.
“Gak apa-apa Ma, besok kan akad nya juga di rumah sakit, bukan di gedung dan gak akan ada yang melihat, Bulan mau dandan sendiri aja”
“Jangan khawatir Ma..” Bulan tersenyum menenangkan.
“Mama rasanya gimana yah, gak merasa maksimal” Mama Nisa menunduk terlihat resah.
“Jangan khawatir Ma, pakaian, perhiasan, dan semua aksesoris pernikahan kan bukan yang menjadi syarat utama dalam pernikahan. Yang jadi syarat utamanya adalah mempelai laki-laki dan perempuan, wali nikah, saksi dua orang dan beragama islam… itu sudah cukup”
“Bulan sudah sangat berterima kasih Mama Nisa, Kak Juno, Afi, dan Nico bisa membantu sehingga Bapak bisa tenang untuk nanti dioperasi”
“Oh iya kalau Papa Bhanu gimana Ma?” Bulan teringat pada Papa Bhanu yang selalu menjadi aliran garis keras.
“Owhhhh…. Hmmm…” Mama terlihat bingung dan menatap Juno seakan meminta bantuan.
“Papa nanti akan menyusul, tidak mungkin diberitahu dan datang mendadak, kondisinya nanti akan menyulitkan” ucap Juno dingin, Bulan tidak memperpanjang pembicaraan, ia tahu kalau komunikasi dalam keluarga Juno berbeda dan sulit untuk masuk terlalu dalam.
“Bulan malam ini tidur sama Mama di hotel yah biar besok segar”
“Enggak Ma… mau nemani Bapak saja, Benny saya suruh pulang tidur di rumah, besok bawa Ema yang sudah merawat Bulan sama Benny dari kecil”
“Bulan bisa tidur di sofa” ia menunjuk sofa yang sudah dilengkapi selimut tipis yang ia bawa dari rumah.
“Yah sudah kalau begitu, kita istirahat saja sekarang. Kasian Bapak jadi gak bisa istirahat kalau ngobrol terus disini”
Malam itu Bulan menghabiskan waktu menemani Bapak di kamar rawat. Malam terakhir sebagai anak Bapak.
“Bapak mau Bulan ceritakan dongeng yang suka ibu bacakan waktu Bulan masih kecil ga?” Bapa tersenyum dan mengangguk.
“Tadi Bulan mimpi ketemu Ibu, Bapak tau gak Ibu pake baju kebaya putih yang di laundry sama Bapak?” Bulan tersenyum sedih mengambil tangan Bapak diusapkan pada pipinya.
“Baju itu baju nikahan Ibu yah Pak” airmata tanpa terasa menetes perlahan.
“Besok ibu juga nemenin Bulan nikah loh Pak”
“Bapak tau… Ibu keliatan cantik pakai baju itu, makanya besok Bulan mau pakai baju ibu untuk nikah” Bapak menggerakan tangan mengusap air mata di pipi Bulan, perlahan air mata juga mengalir dari mata Bapak.
“Bapak… Bulan pengen Bapak tau kalau Bulan gak melakukan apapun sama Kak Juno”
“Kak Juno cuma numpang tidur karena udah pusing semalaman kerja sampai merasa pusing katanya…. Sroookss”
“Bulan gak tega ngusir orang yang tidur kecapekan… Sumpah demi Allah teteh gak ngapa-ngapain sama Kak Juno”
“Teteh malahan nyuci selimut, beberes kamar aja”
“Salah teteh malah difoto… jadi orang nyangka yang enggak-enggak”
“Tapi jangan khawatir, sesuai keinginan Bapak besok Teteh akan nikah sama Kak Juno”
“Kak Juno orangnya baik, walaupun suka gampang marah dan kadang pikirannya gak ketebak sama teteh”
“Tapi teteh percaya kalau teteh akan menikah sama laki-laki yang baik”
“Teteh kan perempuan yang baik yah Pak?” Bulan memandang Bapak dengan lekat yang langsung mengangguk mengiyakan.
“Teteh kan anak Pak Harlan… yang paling TOP BGT ….hehhehe” Bulan tertawa diantara airmata di pipinya.
“Doakan teteh supaya bisa jadi istri yang baik”
“Tapi Bapak harus sehat yah… harus berjuang supaya sembuh lagi” Bapak mengangguk kuat.
“Biar nanti Bapak bisa gendong cucu, tangan Bapak mesti sembuh lagi, mesti kuat”
“Biar kaya Mas Jawa yang jualan baso itu loh Pak, suka ngegendong anaknya pake aisan kain sinjang…. Heheheh kayanya Bapak lucu kalau gendong pakai kain sinjang” Bapak ikut tertawa, walau belum simetris tapi ini adalah kali pertama Bapak tertawa selama sakit.
“Udah sekarang Bapak tidur yah, sebelum tidur kita gosok gigi dulu yah” menyiapkan Bapak untuk tidur supaya nyaman, malam ini Bulan merasakan ketenangan yang tidak dirasakan sebelumnya. Muncul optimisme kalau semua akan membaik, Bapak akan sembuh dan kembali seperti sedia kala. Soal pernikahan besok Bulan tidak terlalu memikirkan, baginya apa yang terjadi pada dirinya hanyalah mengikuti suratan takdir saja, semua sudah diatur di Lauhul Mahfudz
“Neng… neng gera gugah” tiba-tiba ada suara Ema, Bulan membuka mata setengah bingung, rasanya ia tidur di rumah sakit kenapa ada suara si Ema.
“Emaaa?” tanya Bulan sambil duduk, terlihat cantik memakai gamis dan kerudung blink-blink.
“Jam berapa ini meni sudah cantik?”
“Dari jam 4 ade di bangunin coba, disuruh siap-siap… kacida si Ema mah” Benny terlihat duduk selonjoran di lantai.
“Teteh bangun ah… ade mau tidur lagi, ade udah sholat” Benny merebahkan dirinya di sofa.
“Bapa.. Geningan tos gugah.. Bade dipangdamelkeun kopi ku ema?” Bulan langsung melirik kesal.
(Bapak sudah bangun ternyata… mau dibuatkan kopi sama Ema?)
“Bapak teh stroke Emaaa, teu kenging ngaleueut kopi… omat”
“Muhun atuh wios… Ema bade beberes weh supados engke kinclong” ia langsung membereskan barang-barang yang di meja sudut. Bulan hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat semangat si Ema.
Seusai solat subuh dan membantu Bapak sholat, handphone nya berbunyi.
“Assalamualaikum teh…” suara Mama Nisa, sekarang Mama juga memanggilnya teteh, Bulan jadi tersenyum
“Waalaikumsalam… ya Ma ada apa?”
“Barusan Pak Sugandi Kepala KUA telepon, katanya penghulu sudah siap dari jam 9.30 jadi jam 9 kita harus sudah siap di kamar”
“Mama konfirmasi sama dokter Samuel untuk akad nikahnya karena nanti akan butuh meja dan kursi, katanya sekarang jam 7 akan disiapkan oleh OB di rumah sakit”
“Terus percaya gak teh ternyata yang jadi saksi dari pihak perempuan Kepala Rumah Sakit… hebat banget yaa dokter Samuel”
“Hah… serius Mah.. aduh gimana aku gak nyiapin apa-apa” Bulan langsung bingung.
“Jangan khawatir itu urusan Mama, saksi dari Juno itu Om nya jadi semuanya beres”
“Sekarang Bulan sarapan dulu trus ke kamar Mamah buat rias yah, jangan terlalu seadanya kamu harus berbeda jangan terlalu pucat, kemarin Mama udah beli make up sebagai barang seserahan juga. Dipakai aja sekarang supaya manfaat”
“Ya Allah Mama sampai beli seserahan juga” Bulan kaget, pantas saja Mama dan Afi lama perginya
“Ya iyalah masa Juno nikah gak ngasih barang seserahan, biarpun nanti cuma ngasih Mas Kawin pas nikah, barang seserahan disimpan di kamar hotel aja”
“Ayo cepat sekarang kamu sarapan, yang ngurusin setting tempat di sana nanti sama Juno dan Nico aja”
“Udah yah Mama tungguin, kamar Mama di 305” Mama menutup telepon dengan cepat tanpa berbasa-basi, Bulan tersenyum rasa bersalah karena sudah mengirimkan foto kepada Bapak membuat Mama berusaha melakukan yang terbaik untuk Bulan.
Setelah sarapan di kafetaria, ia kemudian bergegas pergi ke hotel, sudah jam 7 pagi lagi. Sedangkan tadi katanya penghulu akan memulai acara akad dari jam 9.30. Mungkin harus persiapan dulu.
Depan Lobby ia bertemu dengan Juno, sudah rapi memakai kemeja putih dilinting dan membawa jas masih digantung pada cover pelindung jas.
“Assalamualaikum Kak…” agak kaku tapi Bulan memaksakan untuk salim, Juno sedikit tertegun sampai kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bulan.
“Aku mau ke kamar Mama, disuruh rias sedikit biar gak pucat katanya” bertemu dengan calon suami sebelum pernikahan rasanya aneh, disaat yang lain menjalani pingitan supaya terlihat manglingi.
“Ya… “ cuma itu jawaban Juno, akhirnya Bulan sudah terbiasa mendengarnya.
“Ya sudah sana” ucapnya sambil berlalu, Bulan hanya menarik nafas, masih lebih baik nikah sama kulkas daripada nikah sama cowok pecicilan pikirnya.
Saat akan masuk lift, terdengar suara yang ia kenal.
“Jangan cepet-cepet jalannya, masih sakit inihhh” itu kan suara Afi, ditengoknya arah suara ternyata benar Afi dan Nico berjalan bergandengan. Muka Afi terlihat kesal dan cemberut sedangkan Nico seperti biasanya hanya cengengesan dan penuh kesabaran.
“Makanya kalau aku bilang udah jangan diterusin itu berenti… jangan dipaksain” Afi masih ngomel-ngomel jalannya seperti penguin. Bulan menunduk berusaha menahan tawa.
“Nanggung yang, udah keburu masuk…” Nico menggaruk-garuk kepalanya seperti merasa bersalah.
“Iya kalau sudah masuk langsung keluarin aja, apa susahnya sih” Bulang menggelengkan kepala, ya ampun Afi di tempat umum ngebahas gituan.
“Afiiii…. “ setengah teriak tapi berusaha berbisik.
“Bul… lu udah datang… duh gimana nih gue gak bisa bergerak cepat”
“Gara-gara dia nih… main jeblos aja gak pakai aba-aba” Bulan semakin menunduk menahan tawa, Nico terlihat salah tingkah.
“Ya udah kamu barengan Bulan aja, aku mau ke rumah sakit nyusul Bang Juno” Nico langsung kabur, begitu melihat Bulan.
“Bulaaan… tolongin gw….” Afi merangkul tangan Bulan sambil merengek.
“Kenapaaa?” Bulan menahan senyum melihat ekspresi Afi.
“Ini segitiga bermudanya sakit… “
“Kalau nonton di film kaya yang enak yah, tapi kenapa gw malah sakit… boro-boro enak”
“Gw musti gimana?” Afi memandang Bulan dengan lemas.
Diseretnya sahabatnya masuk ke lift sebelum ada orang masuk, gak kebayang kalau mendengar omongan Afi.
“Yah mana aku tahu Fi… aku kan belum pernah gituan”
“Kurang pemanasan kali… aku baca katanya kalau mau ML musti pemanasan dulu” Bulan mengingat-ingat artikel kesehatan yang suka ia baca.
“Ibaratnya olahraga kan sebelum mulai kita musti stretching dulu, biar otot-ototnya gak kaget, nah kan bercinta juga masuk kategori olahraga yah… olahraga malam… hahahahhaa” Bulan mentertawakan dirinya sendiri.
“Gak lucu… gw kan udah sering pemanasan sama si Nico ngapain lagi pemanasan. Si Nico lagi gak pake ba-bu langsung maen tancep aja” Bulan memejamkan mata, khawatir pikirannya jadi melayang kemana-mana.
“Fi lu ngomong di filter napa? Aku kan belum pernah ngalamin kaya gitu, pikiran aku jadi ternodai begini”
“Alaaah bentar lagi juga lu sama Kak Juno bakalan “maen” tungguin aja, kita balapan siapa yang bakalan punya anak duluan” gayanya mulai keliatan nengil, tampaknya sakit disegitiga bermuda sudah berkurang.
“Kamu duluan aja deh… aku masih perlu penyesuaian sama Kak Juno” jawab Bulan pendek, sambil menggandeng Afi menuju kamar Mama Nisa.
“Gw yakin Kaka model “kuat” soalnya kalau olahraga bulutangkis dia gak gampang cape, main basket juga gitu… si Nico udah terkapar dia sih masih on aja terus”
Mata Bulan membulat mendengarnya, dicubitnya tangan Afi dengan keras.
“Kamu tuh yah… jangan suka nakut-nakutin… aku belum pernah ngapa-ngapain sama laki-laki. Ciuman juga belum… gak kaya kamu mesum melulu” kesal juga lama-lama Bulan mendengarnya, dilihatnya kamar 305, kamar Mama Nisa. Diketuknya perlahan tapi disambung oleh Afi dengan ketukan keras.
“Mamaaaa… ini aku sama Bulan…” dok...dok...dok. Tak lama pintu langsung terbuka, Mama masih mengenakan mukena.
“Mama baru beres sholat Duha… ayo cepat, sudah jam 7.30 …” pintu terbuka dengan lebar, Mata Bulan kembali membuat banyak sekali barang di kamar.
“Ya Allah… kamar Mama penuh gini” ucap Bulan
“Iya ini barang seserahan kamu…. Hehehe kemarin Mama seneng banget bisa belanja banyak tapi punya alasan… mudah-mudahan kamu suka”
“Aaaaa… barang seserahan?” ada lebih dari sepuluh kotak yang menupuk dan beberapa kantong kertas.
“Mas kawinnya sudah Mama siapkan dalam wadah khusus… liat deh cantik kan” Mama memperlihatkan sebuah kotak yang berbeda warnanya dengan yang lain.
Ada set perhiasan dan peralatan sholat yang dikemas dengan cantik.
“Biarpun kita menikah dengan kondisi darurat tapi kamu harus mendapatkan hak yang terbaik dari seorang perempuan” Mama Nisa memeluk Bulan dengan erat.
“Makasih yaa sudah mau jadi menantu Mama… akhirnya impian Mama tercapai”
Terkadang banyak orang mengira kalau pernikahan terjadi antara dua pribadi saja, tapi sebetulnya pernikahan adalah proses menyatukan sepasang manusia dan keluarganya.
*****************************
Masih belum ae akadnya... maafkan :)