
“Kita makan siang di IKEA… menunya beda disana”
“Udah coba?” selepas membayar barang yang tadi dibeli, Juno mendorong Bulan untuk mengikutinya.
Bulan tampak lebih pendiam, mukanya masih terlihat kesal.
“Kenapa sih? Gara-gara Inneke tadi?” Juno menarik nafas, acara siang ini jadi banyak gangguan karena pertemuan mereka.
“Gak… cape aja… laper kali.. Udah kurang gula suka jadi rungsing perasaan” jawab Bulan pendek.
“Rungsing maksudnya gimana?” tidak semua Bahasa Sunda Juno ingat.
“Kesel… pengen makan… butuh makanan manis … butuh minuman dingin, biar otak adem” Bulan berjalan ke arah mobil Juno… langsung ditarik.
“Jalan kaki aja deket kok .. tuh gedungnya keliatan, nanti susah parkirnya, aku males muter-muter nyari parkiran” ditariknya tangan Bulan untuk mengikuti.
“Panas atuh Bang… mesti pake payung… ntar aku item” Bulan berdiri bertahan di tempat parkir.
“Gak akan item malahan bakalan sehat… ayo jalannya cepat…” ditariknya tangan Bulan agar mengikutinya. Dengan terpaksa Bulan berjalan cepat sambil menutupi mukanya dengan tangan.
“Aisshhh kamu takut banget keliatan item… bagus lagi item tuh eksotis… perempuan terlalu putih itu plain” cuaca hari itu memang lumayan terik, setengah berlari akhirnya mereka sampai ke Mall yang menjual beraneka barang perlengkapan rumah tangga itu.
“Aku paling suka main ke sini, desain furniturenya bikin banyak ide menggambar” Juno tersenyum saat memasuki ruangan Mall.
“Aku belum pernah kesini… bagus-bagus yaa.. Katanya desainnya minimalis tapi fungsional” Bulan mengusap-usap bajunya sambil berkerut
“Bau matahari…” keluhnya, Juno tersenyum
“Mentang-mentang namanya Rembulan… ga suka sama bau matahari… kalau bulan ada baunya gak” mereka langsung masuk ke area cafetaria, karena sudah jam makan siang jadi lumayan ramai.
“Rembulan itu gak ada baunya… “ jawabnya kesal.
“Kak Juno kenapa sekarang jadi banyak ngomong… dulu ngomongnya irit banget” ia menarik nafas, dari tadi merasa diganggu terus oleh Juno.
“Hmmm kenapa yah.. Aneh aku juga..” selanjutnya mereka sibuk memesan makanan yang terlihat minimalis, ekonomis tapi tetap higienis.
“Apa ini?” Bulan melihat pada dessert yang dipesan.
“Vegan ice cream… enak coba aja” Juno memesan banyak makanan, tampilannya memang berbeda.
“Ini bakalan abis? banyak banget” ada 4 hidangan main course dan 2 hidangan desert.
“Abis lah… cuma dikit-dikit kok… sharing aja” ia langsung melahap hidangan pertama.
“Ketemu mantan ternyata menguras energi yah” Bulan tersenyum sambil melirik sinis.
“Mungkin…” jawab Juno santai.
“Kenapa sih sampai pengen bicara khusus sama Kak Juno?” tanya Bulan kesal.
“Kenapa kamu cemburu?” Juno tertawa lebar.
“Aissshhh sorry gak lah… aku udah gak ada rasa sama Kak Juno… kasihan aja sama Pak Kevin, kok kaya gak ngehargain suaminya banget” Bulan menghormati atasannya yang selalu terlihat lurus di kantor.
“Hmmm kayaknya enak dipanggil Abang deh… dipanggil Kakak tuh kaya sama si Afi” Juno malah sibuk membahas soal panggilan.
“Abang tukang bakso…” jawab Bulan malas.
“Hmmm manggil sayang juga boleh” Juno tersenyum menggoda, Bulan langsung melotot.
“Kak Juno kenapa sekarang jadi suka bercanda? Aneh aku tuh… dulu mah asem banget mukanya, ngomong jarang senyum apalagi… kaya yang pararusing ketemu sama aku tuh” setengah hati mau makan juga jadinya pikir Bulan.
Juno tersenyum, menarik nafas dan melirik ke arah Bulan.
“Kenapa kamu gak suka?” diambilnya makanan yang kedua, meatballs dengan sambal
“Gak apa-apa.... cuma aneh aja kaya berubah tiba-tiba”
“Kaya kesambet”
“Aku kemarin liat kamu sama anak laki-laki itu…” Juno melengos kesal.
“Anak laki-laki siapa?” Bulan mengerutkan dahi.
“Waktu tunangan Afii…” kembali dahinya berkerut.
“Ohhh Anjaar… memangnya kenapa sama Anjar asa biasa-biasa aja” Bulan mencoba mengingat-ingat saat Anjar datang ke acara pertunangan.
“Kamu kelihatan bahagia sama dia.. Ketawa-tawa seperti tidak ada beban” ia menarik nafas panjang, rupanya selama Anjar disana Juno memperhatikan.
“Mungkin karena sudah terbiasa, dia anaknya seperti itu, seneng ngeledek, iseng tapi kalau dibawa serius bisa juga. Makanya aku betah di divisi yang sekarang, selain banyak ilmu baru teman-temannya asyik. Pak Kevin dan Mba Icha juga menyenangkan” makanan Bulan tanpa terasa sudah habis, sekarang ia melirik Rice Cheese Bites yang tersisa sebagai main course.
“Makan biar kuat menghadapi aku” Juno mendorong piring makanan itu kedepannya.
“Aku memutuskan buat menjadi orang yang lebih menyenangkan aja sekarang… jadi teman kamu yang menyenangkan kaya dia... “
“Ternyata memang ngetawain kamu tuh bikin bahagia”
Bulan melirik kesal, diambilnya satu bulatan Rice Cheese yang besar.
“Itu sih bahagia di atas penderitaan orang”
“Kamu kenapa bisa bebas membahas perburungan sama laki-laki… gak malu atau sungkan” Juno akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
“Burung?”
“Owh… lah emang kenapa.. Masa musti disebutkan namanya… lebih vulgar” Juno langsung mendelik.
“Aku kan hidup sama dua laki-laki selama bertahun-tahun Bapak sama Benny. Yang ngurusin Benny dari kecil kan aku, dari bayi, disunat sampai sekarang udah berbulu” jawabnya santai, Juno langsung tersedak mendengar Bulan dengan santainya menyebut berbulu. Uhuuuuuk…
“Kamu tuh...beneran ngomong gak di filter” Juno menggelengkan kepala.
“Lah emang kenapa… itukan kenyataan” tidak terasa 3 potong besar rice cheese masuk ke perutnya.
“Kamu juga sekarang bicaranya lebih santai gak malu-malu lagi.. Waktu dulu kaya yang pemalu banget...sekarang jadi gak ada akhlak” diambilnya satu rice cheese sebelum habis oleh Bulan.
“Udah gak ada beban sekarang aku sama Kak Juno… udah selesai perasaannya” jawab Bulan kalem.
“Makanya sama Ka Inne diselesaikan semua urusan” sambungnya dengan muka serius.
“Dia pengen ngomongin apa sih sampai maksa-maksa gitu”
“Gak mikir apa… kalau suaminya tahu dia pengen ketemuan sama Kak Juno dan minta ngehubungin…”
“Dia apa gak mikir aku tuh anak buah suaminya…. Gak mikirin harga diri suaminya di depan anak buahnya…”
‘Sebel aku jadinya… gak respek” Bulan menarik nafas panjang.
“Untung Kak Juno gak nikah sama dia…”
“Yahh gak tau.. Tadi aku udah bilang sudah gak ada yang harus dibicarakan lagi” jawab Juno santai.
“Tapi kayanya dia bakalan penasaran terus sama Kak Juno…” Bulan menarik nafas.
“Kamu gak penasaran sama aku?” goda Juno, Bulan melirik kesal.
“Gak…Kak Juno orangnya bikin ilfil… aku udah mau cari laki-laki yang menghargai aku, sayang sama aku sesayang-sayangnya, laki-laki yang baik”
“Aku cuma meyakini satu hal.. Perempuan yang baik akan mendapatkan Lelaki yang baik juga”
“Jadi aku tinggal harus terus memantas diri menjadi perempuan yang baik buat calon suami aku karena aku yakin dia adalah laki-laki yang baik”
“Kalau Kak Juno sudah merasa menjadi laki-laki yang baik tapi gak berjodoh sama Kak Inne artinya Kak Inne bukan perempuan yang baik untuk Kakak”
“Musti yakin itu” muka Bulan sangat serius berusaha untuk meyakinkannya
Juno tersenyum melihatnya,
“Rame juga mendengar ceramah kamu… lanjutkan nih gw kasih hadiah es krim vegan tapi terusin ceramahnya”
“Terima kasih” Bulan mengangguk dengan takzim, dari tadi dia sungkan meminta es krim karena hanya membeli satu.
“Menurut aku selama Kak Juno bisa menahan godaan, gak masalah bertemu dengan Kak Inne asalnya di tempat yang terbuka sehingga tidak mengundang fitnah”
“Memangnya sama sekali gak pernah ketemu sejak dari dulu?” Bulan tampak penasaran, Juno menggeleng dingin.
“Sama sekali lost contact?” tanya Bulan lagi… Juno mengangguk.
“Kak Juno gak pengen gitu ngobrol sama dia… say Hi… gimana kabarnya kamu… apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang? Apakah kamu pernah merindukan aku… sebagaimana aku selalu merindukanmu” Bulan tertawa-tawa sambil menyendok es krim, Juno mendelik kesal, diambilnya es krim dari tangan Bulan.
“Kamu kira putus dengan cara seperti itu menyenangkan?” Juno mendengus kesal.
“Tiba-tiba saja diputusin kemudian mendengar dia hamil sama orang lain trus menikah” sambungnya sambil menarik nafas.
“Yahh engga lah… pasti nyesek” jawab Bulan.
“Ditinggal pas masih sayang”
“Tapi ehhh kembali lagi ke hukum yang tadi… Dia bukan perempuan yang baik buat Kak Juno… sudah selesai tutup buku”
“Tidak ada lagi alasan yang perlu diperdebatkan”
“Ingat bilang di otak Kak Juno… “aku laki-laki baik akan mendapatkan perempuan yang baik… kamu gak cukup baik buat aku…”
Juno tersenyum melihat ekspresi Bulan yang penuh semangat memberikan petuah.
“Tapi kenapa aku masih putus juga sama kamu? Yang kurang baiknya aku atau kamu?” Juno tersenyum mencoba mengetes kemampuan berpikir Bulan.
Bulan langsung mengerutkan dahi.
“Kak Juno belum menjadi laki-laki yang baik... “ jawab Bulan pendek
“Oww gitu yaaa… jadi aku mesti memantaskan diri dulu yah kalau mau sama kamu” Juno tersenyum menggoda.
“Maksudnya apa?” Bulan cemberut, dari kemarin Juno terus saja seperti ingin menjalin hubungan lagi.
“Untuk bisa bersama dengan seorang Rembulan… aku mesti menjadi laki-laki yang baik.. Soalnya aku ingin mendapatkan seorang perempuan yang baik”
“Ini kok jadi bergeser topiknya jadi ngomongin aku… kita kan lagi ngomongin Kak Inne”
“Intinya kalau mau ketemu Kak Inne bagusnya ditempat umum”
“Trus kalau bisa barengan sama orang lain supaya menghindari fitnah”
“Aku perkirakan dia bakalan terus ngejar-ngejar Kak Juno, jadi supaya selesai...mendingan temuin aja”
“Kalau aku gak mau gimana?” Juno tersenyum menggoda
“Maunya nemuin kamu aja”
“Aku yang gak mau… gak ada berurusan sama laki-laki yang punya masa lalu gak selesai”
“Males banget deh...nanti dibayang-bayangi terus”
“Ok kalau gitu … aku mau ketemu sama Inne tapi ditemenin sama kamu gimana?” tanya Juno santai.
“No way… aku gak mau berurusan sama dia… tadi aja waktu Kak Juno di fitting room, nanyanya gak sopan banget… aku memang adik kelas dia waktu kuliah, tapi sekarang kita sama-sama alumni”
“Nanya gimana?” Juno jadi penasaran, ekspresi Bulan saat memperagakan sesuatu menarik untuk ditonton.
“Ngomong gini!”
“Juno mana?”
“Aku jawab lagi di fitting room”
“Masih lama?
“Sebentar lagi cuma mencoba satu celana”
“Ngapain kamu nungguin disini” Bulan memperagakan dengan muka kesal, Juno berusaha menahan tawa.
“Kak Juno pengen ditunggu”
“Ya udah aku yang tunggu dia sekarang”
“Ngotak gak sih dia… masa mau nungguin laki orang”
“Langsung aja aku jawab…. Ya sudah saya mau nemenin Pak Kevin aja, mungkin beliau butuh bantuan”
“Langsung deh dia keliatan kaget… takut kali aku ngadu sama suaminya… gak mikir banget”
“Kebayang kalau ada si Afi...auto di masukin ke keranjang belanjaan perempuan kaya dia”
“Dia memang seperti itu kalau sudah ada maunya… gak pernah mundur bakalan terus maju apapun konsekuensinya” jelas Juno, ia bersama Inne selama hampir 7 tahun sehingga sangat mengenal karakternya.
“Yah kalau begitu mau gak mau Kak Juno harus bertemu dia… selesaikan dulu semua urusan”
“Mungkin dulu punya hutang….”
“Hutang?
“Iya kali aja dulu Kak Inge minjemin uang, trus Kak Juno lupa bayar, tadi gak enak mau nagih utang ada aku … jadi ngajak ketemuan khusus supaya bisa nagih utangnya bebas”
Juno cuma bisa melongo… kok bisa berpikir kalau dia punya hutang uang, padahal jelas-jelas kalau Inneke masih tertarik untuk bertemu dengannya bukan karena uang. Usaha memantaskan diri untuk perempuan ini betul-betul butuh perjuangan yang berat, perlu ekstra stok kesabaran.