
Juno POV
“Aa” suara panggilan dari perempuan yang beberapa hari ini ingin kudengar langsung, membuat perasaanku seperti membuncah ternyata dia benar-benar datang menjemputku ke Bandara. Memakai baju baru karena aku belum pernah melihatnya memakai baju itu. Cantik! Cuma itu kata yang pantas diucapkan.
“Gimana sehat?” pelukan dan ciuman di dahi langsung aku sematkan. Mukanya tampak berseri melihat kedatanganku, apa ini? Kenapa memakai make up seperti ini.
“Habis darimana kok sampai pakai makeup lengkap begini” warna lipstiknya bukan lagi memakai warna bibir, agak sedikit pink dengan efek glossy. Matanya jadi terlihat semakin membesar karena diberi efek garis tambahan hitam dan pewarna coklat di kelompak mata. Tapi yang paling membuat terlihat berbeda hari ini, dia memakai blush on sehingga pipinya terlihat merona kemerahan.
“Bagus gak? Hihihihi aku gak ada kerjaan jadi nyobain tutorial make up”
“Kata Bapak sih bagus… si Benny yang nyebelin bilang aku niru gaya selebgram”
“Dasar wong ndeso” gerutunya, membuat bibirnya mengerucut, hufff kalau bukan di tempat umum ingin kulu mat habis.
“Bagus” jawabku daripada disebut wong deso. Padahal sebetulnya ingin melarangnya memakai make up seperti ini karena akan menarik perhatian orang, terbukti beberapa laki-laki langsung terlihat melirik.
“Sendirian menjemput kesini?” aku melihat ke sekitar tidak nampak Benny ataupun Bapak.
“Iya sendirian aja, tadi aku dianterin Benny, trus dia langsung bimbel” ucapnya sambil menggandeng dengan manja, hmmmmm tumben nih pengen gandeng-gandengan seperti ini di depan umum.
“Bosen abisnya dirumah terus, makanya pengen jemput ke Bandara” ucapnya sambil terus jalan.
“Tadi berangkat dari hotel gak kepagian?”
“Dikasih makan apa tadi dipesawat? Roti atau nasi?” tanyanya, sudah kembali pada mode bertanya terus tidak butuh jawaban.
“Nasi tapi sedikit hanya mengganjal” jawabku.
“Tadi naik motor sama Benny? Kedepan jangan dibonceng naik motor lagi bahaya” minggu kemarin waktu diantar Benny ke Pasteur rasanya seperti mau copot jantung, nyalip sana sini seperti spiderman.
“Mau cobain bubur ayam yang terkenal di Bandung?, enak loh A… dekat kok dari sini” mukanya tampak bersemangat, seolah tidak mempedulikan laranganku soal naik motor… ahhh memangnya kapan dia mau mendengar kalau dilarang.
“Ya boleh”
“Naik angkot aja… nanti kelewatan” ucapnya penuh semangat dan menarik tanganku ke arah jalan.
“Haaah naik angkot” kaget yang pasti. Sudah lama sekali tidak pernah naik transportasi umum. Waktu kuliah rasanya pernah merasakan satu atau dua kali bersama teman-teman itupun karena beramai-ramai. Kalau sendiri aku lebih memilih membawa kendaraan sendiri karena lebih nyaman dan tidak terlalu banyak bertemu orang.
“Jalan dikit yah A… gak apa-apa kan?” dia berjalan dengan penuh semangat, aku ikuti saja, sudah lama tidak pernah berjalan berdua begini. Lagipula udara di kota Bandung masih terasa sejuk walau sudah jam sembilan pagi.
“Hihihi kesampaian juga jalan kaki barengan kaya gini, kaya orang pacaran” ucapnya sambil tertawa senang, menggenggam tanganku erat. Ternyata mudah sekali menyenangkan perempuan ini.
Dia menghentikan angkot dan menanyakan pada supir angkot apakah akan melewati tempat bubur ayam yang direkomendasikannya tadi. Ternyata ia sendiri tidak hafal harus naik angkot yang mana.
“Kita pakai taksi saja” tolakku, membawa koper walaupun kecil rasanya merepotkan kalau naik angkot.
“Nanggung lagi kalau naik taksi dekat tempat makannya” ia menolak sambil cemberut, duuh susah ditawar kalau sudah cemberut gini, yah daripada nanti bad mood seharian mendingan diikuti saja maunya sekarang.
“Nih angkot yang ini kata Mamangnya tadi” dia langsung menghentikan angkot dan memastikan lagi arah tujuannya pada supir ternyata benar sekarang. Untung saja hanya terisi dua penumpang di belakang jadi tidak berdesakan dengan koper yang kubawa.
“Bayar berapa?” tanyaku sambil mengeluarkan dompet setelah berpayah-payah masuk dengan menunduk sambil mendorong koper masuk. Ruang angkotan kota memang tidak dipersiapkan untuk tinggi badan orang Indonesia yang di atas rata-rata.
“Tenang aja… gak akan lebih dari lima ribu seorang, kalau jaraknya dekat gini palingan tiga ribu. Kalau orang dewasa empat ribuan lah. Kita perkirakan saja lima ribu” ucapnya sambil tersenyum sambil melirik ke arah depan.
“Hihihihi mimpi apa aku… naik angkot sama Aa” ucapnya sambil memegang-megang tanganku.
“Aku dulu suka pengen naik angkot sama pacar, seperti apa rasanya duduk deket-deketan gini” bisiknya sambil menggeser supaya bisa menempel erat. Aku cuma tersenyum malu mendengarnya. Untung penumpang yang paling dekat duduk di ujung dekat supir, mudah-mudahan saja tidak mendengar ucapannya.
“Jadi kaya gini rasanya duduk sama pacar deketan… ihhh ya ampun tau gitu aku dulu punya pacar” ucapnya lagi masih dengan muka penuh senyum. Langsung aku jitak dahinya.
“Aduuuuh sakit Aa” mukanya langsung merengut kesal.
“Kalau kamu dulu suka duduk dekat-dekat laki-laki seperti ini, aku gak yakin kamu bakalan masih perawan pas nikah” bisikku di telinganya.
“Enaknya aja… emangnya aku perempuan apaan” dia langsung melotot kesal.
“Iyalah… kalau sudah pernah duduk nempel, nanti pengen pegangan, pegang tangan, nanti naik pegang paha, trus naik lagi pegang yang lainnya”
“Aa kali yang suka gitu sama mantan” ucapnya sambil kemudian duduk membelakangi dengan muka kesal. Ehhh malah nuduh lagi.
“Aku tuh pacaran sehat, pegang-pegang dikit sih wajar namanya anak muda”
"Lah buktinya dia MBA... gak akan jauh pastinya sama Aa juga gitu" ucapnya kesal.
“Gak usah pegang-pegang” dia langsung menepiskan tanganku.
“Dijamin gak cuma pegangan tangan kalau pacarannya lama” loh kok jadi menganalisa hubungan aku sama si Ingge.
Ehhh kok malah terus ngambek sih…
“Udah sampai belum?” tanyaku, kalau sudah mode ngambek seperti ini harus dialihkan perhatian. "Katanya dekat kok belum sampai juga?".
“Tau ah” jawabnya masih kesal.
“Neng bade ka Bubur Pajajaran kan? Tuh tinggal nyebrang” untung saja supir angkotnya cerdas memberi tahu lokasi.
“Gak jadi ah … jadi gak mood makannya juga” ehhhh… kok ngambeknya malah jadi berlanjut begini.
“Ahhh gimana sih… berhenti Pak… Kita turun” kalau sudah begini harus keluar sifat otoriter sebagai kepala keluarga.
“AYO TURUN AKU MAU MAKAN” sedikit memberikan tekanan pada suara membuatnya langsung turun masih dengan muka cemberut. Hilang semua keceriaan tadi.
“Ini pak” aku berikan uang sepuluh ribu, benar saja Bapak Angkotnya langsung mengambil uang kembalian.
“Gak usah dikembalikan Pak.. buat Bapak saja” ucapku sambil menarik tangannya untuk berjalan.
“Hati-hati kita nyebrang” kugenggam erat tangannya, tidak ada zebra cross ataupun jembatan penyebrangan, membuatku harus ekstra hati-hati menggandeng tangannya dan membawa koper di tangan satunya lagi.
Rupanya banyak pembeli yang sedang menikmati bubur ayam padahal sudah hampir jam sepuluh pagi. Akhirnya ada dua bangku kosong, bersebelahan dengan beberapa perempuan yang tampaknya juga sedang menikmati sarapan.
Belum sempat aku duduk, mataku bertatapan dengan perempuan yang memakai sweater hitam yang menatapku dengan berbinar. Ahhh… shiit, kenapa bertemu lagi dengan perempuan itu lagi. Perempuan yang selama hampir dua jam perjalanan tadi di pesawat terus saja mengajakku bicara.