Rembulan

Rembulan
Nyaman Sekali


YANG PUASA HARAP BACA SETELAH MAGRIB YA😁


Pelukan Athar seakan obat yang benar-benar ampuh membuat Kenanga tenang, gadis itu saat ini tidur dengan lelap dalam dekapan Athar, keduanya masih saling berpelukan. Tangan Athar tak henti membelai lembut rambut Kenanga yang di rasa begitu halus dan harum. Sejenak Athar melirik ke arah jam kecil yang terletak di meja samping tempat tidur Kenanga, tepat pukul 02.00 pagi, namun mata Athar masih terjaga tak dapat terpejam sama sekali, pikiran liarnya masih menari-nari dalam benaknya.


"Kenanga, kau membuatku gila" gumam Athar sembari mengeratkan kembali pelukannya.


Ini kali pertama Athar tidur satu ranjang bersama Kenanga, sebagai pria normal yang sudah waktunya menikah tentu saja Athar merasakan gairah dalam dirinya yang tersulut saat sedekat ini bersama Kenanga. Tapi di lain sisi, Athar tidak mau melakukannya saat ini di saat belum ada ikatan pernikahan di antara mereka berdua.


Athar yang sedang sibuk dengan pikirannya tiba-tiba di buat terkejut saat mendengar isak tangis dari Kenanga. Entah apa yang Kenanga mimpikan saat itu, yang jelas gadis itu terisak dalam dekapan Athar, bahkan Athar melihat dengan jelas air mata yang mengalir dari sudut matanya.


"Bukan salahku, bukan" rancaunya dalam keadaan tidur


"Kenanga? Sayang?" Athar mengusap lembut pipi Kenanga, mencoba membangunkan gadis itu dari mimpi buruknya, namun Kenanga malah semakin terisak


"Aku tidak tau apapun, aku tidak melakukan apapun" ucapnya di sela tangisannya.


"Sayang? Kenanga, bangun sayang" Athar menepuk perlahan pipi Kenanga namun tidak menyakiti wanita itu sama sekali.


Kenanga membuka matanya dengan nafas tang terengah-engah, mimpinya sangat mengerikan membuatnya sangat takut. Pertemuannya bersama Riko membawa mimpi buruknya yang sudah dua pekan terakhir menghilang menjadi kembali lagi. Pria itu dulu seperti anugerah dalam hidup Kenanga, namun saat ini bertemu dengan pria itu serasa seperti kutukan buruk bagi Kenanga.


"Are you oke?" Athar mengusap air mata Kenanga yang membasahi pipinya menggunakan ibu jari tangannya, tatapan hangat dan penuh rasa kawatir terpancar dengan begitu nyata dari kedua bola mata Athar


"I'm fine" Kenanga beranjak duduk dari tidurnya, membuat Athar juga ikut duduk di samping Kenanga


"Ayo minum dulu" Athar mengambil segelas air yang tersedia di meja samping tempat tidur dan menyerahkannya kepada Kenanga.


Kenanga mengambil alih gelas berisi air putih yang di berikan oleh Athar kepadanya. Setelah meminumnya sedikit Kenanga menyerahkan kembali gelas tersebut pada Athar.


"Terimakasih" ucap Kenanga menyandarkan kepalanya di bahu Athar. Kehadiran Athar membuatnya kini bisa menyandarkan dirinya dan memiliki tempat saat dirinya merasa sedih seperti sekarang ini


"Untuk apa?" Kenanga kembali mengusap mesra pipi Kenanga.


"Terimakasih telah menjagaku, memberikan bahumu untukku bersandar saat aku sedih"


"Kau ini bicara apa hm? itu semua sudah sepantasnya yang aku lakukan" Athar menjauhkan tangannya dari pipi Kenanga dan beralih memegang tangan Kenanga dengan begitu erat, kini jari-jemari mereka saling bertaut satu sama lain.


"Dokter Athar?" Kenanga duduk tegap dan menatap Athar yang kini duduk di hadapannya


"Apa kau menginginkan sesuatu?" namun gelengan kepala Kenanga membuat Athar mengangkat kedua alisnya ke atas


Kenanga menghela nafasnya panjang "Setelah dokter mengantarkan aku kembali ke rumah, mantan calon suamiku datang"


Athar masih diam gak merespon, dia membiarkan Kenanga untuk menyelesaikan ceritanya, keluh kesahnya dan Athar akan mendengarkan dengan baik karena menurut Athar seorang yang memiliki masalah dan membaginya ceritanya itu hanya butuh di dengarkan supaya perasaannya lebih lega.


"Kepergianku ke Surabaya bukan tanpa alasan, setelah acara pernikahanku gagal, Aku di bully oleh teman-teman semasa sekolah. Ya, memang aku dengannya adalah teman sekolah, bahkan kami sudah menjalin hubungan sejak kami SMA dulu. Bullyan dari teman-temanku sebuah toxic yang membuatku akhirnya menjadi depresi. Dan saat aku sudah mulai merasakan depresi aku memutuskan untuk hidup jauh dari mama dan papa, aku tidak mau membuat mereka sedih dengan keadaanku saat itu" Kenanga menghela nafasnya sebelum melanjutkan kembali cerita masa lalunya


"Tidak apa-apa, aku yakin Rembulanku pasti bisa kembali bangkit"


"Tapi usahakan seakan di hancurkan sekejap mata saat dia kembali datang kemari" Kenanga membuka matanya dan menatap sendu Athar


"Tidak akan aku biarkan itu terjadi, sekarang kau memiliki aku" Athar menarik Kenanga kedalam dekapannya.


Senyum lega terbit dari bibir Kenanga, Athar benar-benar memberikan rasa nyaman untuknya.


"Tentu saja, sekarang aku sudah memiliki dokter pribadi yang bisa merawatku kapanpun dan dimanapun" Kenanga membalas pelukan Athar


"Jadi mulai sekarang, jika terjadi sesuatu hal padamu kau harus menceritakan padaku" Athar melepaskan pelukannya dan menarik hidung Kenanga dengan begitu gemas


"Siap pak dokter" Kenanga menjawab dengan tersenyum, akhirnya senyuman manis Kenanga dapat Athar lihat kembali.


"Tersenyumlah, karena senyumanmu sangat manis"


"Apa sekarang kau sedang merayuku?" timpal Kenanga menyipitkan kedua matanya


Sementara Athar hanya terkekeh, entahlah yang pasti dirinya sangat senang bisa kembali melihat Kenanga tersenyum seperti itu, meski Athar tau Kenanga masih takut namun gadis itu pasti saat ini sedang berusaha menguasai rasa takutnya sendiri supaya bisa melupakan semua tang telah terjadi.


"Ya sudah, sekarang tidurlah. Hari masih malam" Athar membenarkan letak bantal dan meminta Kenanga untuk kembali berbaring


"Tidak mau" tolak Kenanga


"Memang kesayanganku mau apa hm?" Athar kembali menarik hidung Kenanga dengan gemas, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya dengan manja.


"Aku mau..." Kenanga tersenyum misterius membuat Athar mengerutkan keningnya penuh tanya


Kenanga menggeser duduknya semakin mendekat ke arah Athar, membuat Athar semakin bingung. Namun tidak dengan Kenanga, entah apa yang sudah merasuki otak Kenanga saat ini tapi tiba-tiba Kenanga menginginkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan dari pria manapun.


"Kau mau apa?" tanya Athar bingung


"Aku mau..." Kenanga memainkan kancing pakaian yang di kenakan oleh Athar, membuat pria itu merasa sangat panas, pikiran liarnya yang sudah susah payah Athar redam kini harus tersulut kembali


"Kenanga.." Athar menahan tangan Kenanga yang memainkan kancing pakaiannya.


"Tapi aku mau.." Kenanga menatap penuh harap kepada Athar, bahkan tangan Kenanga kini melingkar sempurna di leher Athar, membuat Athar sangat merasa gerah dan panas saat ini.


Tanpa banyak bicara lagi, Kenanga mendekatkan wajahnya mendekat ke arah Athar, kedua matanya terpejam dan dengan memejamkan matanya Kenanga menempelkan bibirnya di bibir Athar, ini kali pertama Kenanga berciuman, hanya menempelkan bibirnya saja tanpa ada kegiatan apapun, karena yang Kenanga tau adalah seperti itu.


Kenanga hendak menjauhkan bibirnya dari bibir Athar, namun sialnya Athar tak ingin kehilangan momen, tangan kokohnya menahan tengkuk leher Kenanga, dan bibir Athar malai menyesap bibir Kenanga dengan begitu lembut, ********** dengan penuh perasaan, karena Athar ingin memberikan kesan baik pada ciuman pertamanya bersama Kenanga. Sementara Kenanga mencoba mengimbangi ciuman Athar meski sangat kaku dan amatir, ciuman Athar semakin menuntut lebih, bahkan kini Athar perlahan mendorong tubuh Kenanga untuk berbaring di atas ranjang, menindih wanita itu dan memberikan ciuman yang intens serta usapan lembut di pipi Kenanga.