Rembulan

Rembulan
Take Away


Awalnya Bulan berusaha menahan kantuk, saat waktu menunjukkan jam sembilan lebih tiga puluh menit. Juno sempat mengutarakan keinginan untuk pulang malam ini ke Bandung. Tapi akhirnya jam sepuluh matanya sudah tidak bisa dikondisikan. Tidur dengan lelap hingga tidak sadar akan lingkungan sekitar.


Menjelang subuh, Bulan terbangun, suara sholawat dari mesjid samar-samar terdengar. Dilihatnya jam digital yang menempel di meja belajarnya. Ternyata sudah mendekati subuh, jam empat lebih lima menit,  tiga puluh menit lagi adzan subuh. Namun saat ia akan menjejakkan kakinya di lantai, ada sosok tubuh yang sedang tertidur di kasur bawah menyita pandangannya. Siapa? Benny? Bulan memicingkan mata dan melihat dengan seksama.


“Aa?” tanyanya kaget, disentuhnya tubuh laki-laki yang sedang tertidur itu.


“Hmm… apa? Aku masih ngantuk” ucap Juno sambil membalikkan tubuh.


“Kapan pulang? Kok aku gak tau sih” Bulan melorot turun, duduk disamping tubuh suaminya.


“Malem jam duabelas, pake travel terakhir” jawab Juno dengan suara tidak jelas.


“Pake travel? Kenapa gak bawa mobil sendiri? Mogok?” tanya Bulan bingung.


“Hmmmm besok aja ceritanya, aku ngantuk..ahh” Juno mengibaskan tubuhnya tanda tidak ingin diganggu. Bulan cemberut kesal, dari kemarin ia menunggu-nunggu kedatangan suaminya tapi saat sudah datang malah tidak mau diganggu.


“Kenapa gak tidur di atas sama aku?” tanya Bulan kesal, Juno diam tidak menjawab. Bulan semakin kesal, kondisinya sekarang terasa segar.


“A.. kenapa gak mau tidur di atas sama aku?” tanyanya lagi, beberapa malam kemarin Juno selalu merayunya untuk membuat sambungan video live sampai ia pusing sendiri. Tapi saat pulang malah tidak mau berdekatan sama sekali dengannya.


“A.. iiih malah tidur” ucap Bulan kesal.


“Beda kalau udah ketemu mantan mah, gak inget lagi sama istri… otaknya penuh sama mantan”


“Huuh” ucap Bulan, tangan dan kakinya mendorong agar Juno menjauh, kemudian mencoba berdiri untuk turun dari tempat tidur yang ditempati Juno. Belum sempat ia turun menginjak lantai, tangan suaminya sudah menarik sehingga ia terjatuh di kasur dan menimpa suaminya.


“Aduuuh Aa… ih hati-hati, aku tuh lagi hamil”


“Oh iya lupa… maaf-maaf… gak apa-apa kan” Juno langsung mengusap-usap perut Bulan dengan lembut.


“Awas ah mau sholat subuh… bentar lagi adzan” ucap Bulan ketus sambil menyingkirkan tangan Juno dari perutnya.


“Masih lama ah… udah disini”


“Gak mau!” ucap Bulan ketus, merasa tadi diabaikan sehingga membuatnya gampang meradang.


“Aku tuh gak kuat kalau tidur sama kamu tadi malam, kamu tuh tidur baju kemana-mana selimut dilantai… paha melambai-lambai kaya pengen dibelai”


“Kalau aku gak kuat nanti siapa yang mau tanggung jawab kalau ada apa-apa sama anak kita, pasti nanti aku yang disalahin padahal kamu yang memicunya” ucapnya dengan nada serak.


“Tuuuh ini nempel gini aja udah langsung on… arghh” suara Juno terdengar sedih. Bulan langsung tersenyum mendengar alasan Juno.


“Aku tidurnya gak bisa diem makanya mesti pakai training atau piyama panjang supaya gak keliatan kemana-mana”


“Tadi malam panas udaranya jadi aku buka celana trainingnya” jelas Bulan sambil tersenyum, awalnya marah jadi langsung merapat dekat merasakan kehangatan tubuh laki-laki yang sudah dimilikinya.


“Aduuuh kamu jangan menggesek-gesek gini” suara Juno terdengar menderita.


“Hehehehe pengen yah?”


“Aa sekarang ngomongnya puitis terus… paha melambai-lambai kaya pengen dibelai… sekalian diselesaikan dong puisinya.... paha melambai-lambai kaya pengen dibelai... dada terlihat membusung seperti ingin diusung… ahahahha” Bulan semakin semangat untuk menggoda suaminya.


“Kamu tuh gimana siih… aku beneran ini udah gak kuat.. Hampir sebulan ini otak terasa panas… gak bisa berpikir bebas”


“Aduuuuh kenapa ini ngomong jadi makin membekas… seperti daun yang sudah meranggas” Juno tertawa sendiri. Otaknya menjadi lebih puitis tanpa disadari. Bulan tertawa terkekeh senang, semakin merapatkan diri pada tubuh laki-laki yang sudah lama tidak ia dekap. Tangan Juno pun merangkul erat pada tubuh Bulan seperti gurita yang takut kehilangan pegangan.


“A” ucap Bulan dengan suara ragu. Juno masih memeluk tubuhnya erat sambil masih memejamkan mata.


“Eeuum… kata Afi kalau gak bisa Dine In bisa Take Away” ucapnya sambil berbisik pelan seakan takut suaranya terdengar keluar. Juno yang sudah setengah tertidur kembali tersadar karena ucapan Bulan yang tidak jelas konteksnya.


“Maksudnya apa? Masa jam segini kamu makan fast food?” ditatapnya muka Bulan yang terlihat malu-malu. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak melihat muka istrinya dalam keremangan kamar seperti ini.


“Bukaan ihhhhh” Bulan memukul bahu suaminya dengan gemas, ia sebetulnya ragu-ragu untuk mengungkapkan tapi rasa kasih pada suami dan cerita dari Afi membuat pikirannya menjadi berkembang liar tanpa kendali.


“Hehehe sebenarnya aku malu ngomongnya”


“Hmm ini loh.. Kata Afi kalau lagi hamil gini kan harus hati-hati, kemarin dia juga kasusnya sama mesti menjaga kehamilan di trimester pertama, tapi dia sih gak dilarang sama dokter cuma disuruh lebih hati-hati dan mengurangi frekuensi aja” ceritanya pelan.


“Trus”


“Iya… terus ternyata Emil yang khawatir mencedrai bayi katanya soalnya kalau Afi orangnya kan bersemangat gitu jadi dia khawatir terjadi komplikasi”.


“Semangat gimana?” akhirnya Juno tertawa geli sendiri, matanya masih terpejam membayangkan adiknya yang memang tidak mau diam dan grusa grusu.


“Yah aku gak tau atuh… kan malu masa ditanyain… pikir aja sendiri” jawab Bulan sambil cemberut.


“Nah si Afi bilang suami itu layaknya customer harus dilayani saat datang ke gerai. Jadi kalau dia gak bisa Dine In, kita bisa tawarkan Take Away aja” ucap Bulan pelan-pelan sambil menunduk, muka mengernyit menahan perasaan malu. Juno langsung tersenyum senang, ternyata adik sangat pengertian, bisa melihat rasa frustasinya kemarin, saat berjauhan dengan istrinya.


Pantas saja saat tadi sore ia berpamitan pulang dari rumah, Afi dengan santainya berteriak.


"Jangan lupa ntar minta paket fast food sama si Bulan" awalnya ia pikir kalau Afi memintanya membawakan fast food untuk oleh-oleh karena istrinya ngidam, rupanya paket fast food adalah analogi hubungan suami istri. Rasa ngantuknya hilang seketika apalagi melihat muka istrinya yang malu-malu seperti ini jadi terlihat semakin menggemaskan. Membuka matanya lebar dan menyangga kepalanya dengan tangan sambil membelai pipi istrinya lembut.


“Trus Afi ngajarin soal gimana cara take away atau kamu sudah tahu gimana caranya?” tanya Juno dengan suara menggoda. Bulan langsung melengos kesal.


“Enaknya aja emangnya aku cewek apaan sampai tahu takeaway” ucapnya sambil merengut. Juno langsung tertawa senang.


“Kata Afi take away itu ada menunya juga” Bulan menggelengkan kepalanya mencoba mengingat-ingat ide dan pikiran aneh dari sahabatnya itu.


“Oya? aku baru tahu… apa pilihan menunya?” Juno langsung beringsut supaya bisa mendengarkan cerita Bulan jelas, diambilnya bantal dan dilipat supaya lebih nyaman mendengarkan cerita anak kinyis-kinyis menceritakan petualangan cinta.


“Iya hehehe geuleuh juga aku dengarnya”


“Tapi si Afi nyerocos aja,  terus ya sudah aku dengerin aja”


“Jadi kata Afi… Take Away itu ada dua jenis yaitu hidangan pembuka sama hidangan utama” Bulan menutup matanya menahan malu.


“Oya… hahahah apa isi hidangan pembuka?”


“Hmmm baru tahu aku ada hidangan pembuka yang enak dan ngenyangin” Juno kembali mengulum senyum penuh arti.


“Trus kata si Afi tuh yah hidangan pembuka ada 3 paket…ih tuh aneh dasar otaknya miring banget… aku sampai gak tahan ngedengernya”


“Coba A bayangin dia cerita pake video call … jadi aku sambil ngeliatin dia ngomong sambil sesekali meragain ..aduh pokoknya aku pusing liat si Afi” Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gimana katanya paket hidangan pembuka itu” tanya Juno sambil mengulum senyum. Bulan menarik napas panjang seakan mengumpulkan semua keberanian.


“Iya katanya paket satu menggunakan ramuan tangan… handmade ini paling efektif dan cepat… semakin kita sering berlatih menggunakan ramuan handmade maka kita akan semakin mahir membuat hidangan pembuka yang enak dan memuaskan pembeli” Bulan menggerakan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan sambil sesekali memutar-mutarnya. Juno tertawa terkekeh. Semua rasa kantuknya hilang entah kemana.


“Trus paket kedua?”


“Nahhh yang kedua ini menggunakan ramuan raga” Bulan melirik ke arah dada kemudian mengernyit malu. Juno tertawa terbahak.


“Kalau yang paket dua itu cuma bisa kamu lakukan, tapi kalau Afi bakalan susah… hahahaha trus paket ketiga apa?” ucapnya sambil penuh semangat. Bulan menarik nafas.


“Kata Afi yang paket ketiga ini yang mesti hati-hati soalnya kalau gak kuat dia bakalan kebablasan dine in padahal kan gak boleh”


“Jadi hidangan pembuka yang paket tiga ini ehmmmmm tempatnya pake tempat di Dine In” Bulan kembali menunduk.


“Memakai tempat dine in tapi take away… ngerti gak” katanya sambil cemberut dan sesekali melirik Juno.


“Gak ngerti” jawab Juno cepat, berpura-pura bodoh sambil mencoba menahan senyum.


“Ihhh masa gak ngerti sih… pake tempat dine in tapi gak bisa dine in mesti take away” kepalanya menunjuk memberikan arah ke bawah perutnya sambil mengerutkan dahi.


“Gimana caranya dong” Juno berusaha sekuat tenaga menahan tawa, muka Bulan yang polos membuatnya semakin merasa senang.


“Yah gitu deh… susah jelasinnya mesti nonton aja nanti” ucap Bulan. Juno terbelalak kaget.


“Waaah jadi kamu udah nonton juga? kok kamu bisa tahu” tanyanya heran.


“Iya aku kan gak ngerti gimana caranya… si Afi jelasin rehe banget aku sampai gak kuat dengernya. Sampai akhirnya minta dia berhenti jelasin”


“Trus dia ngirimin link video simulasinya… aduh susah banget A., aku ngebukanya… di blokir sama provider Indonesia”


“Aku sampai harus pakai VPN … niat pisan”


“Duh pokoknya penuh perjuangan banget akunya”


“Sampai seniat itu kamu…hati-hati VPN bisa meretas data aku kita”


“Iya aku pakai hp yang jadul trus beli nomor baru trus pakai akun email baru…hihihi niat banget” Bulan terkikik.


“Trus bisa?” tanya Juno penasaran.


“Bisa dong… aku mah kalau yang kaya gini semakin susah semakin pengen tau dan pengen ngulik… pas aku buka astagfirullah itu si Afi itu bisa dapat dari mana yah linknya?” Bulan menggeleng-gelengkan kepala heran.


“Ahhh pokoknya dari video itu aku sampai tahu gimana caranya hidangan pembuka paket satu dua dan tiga cara mainnya kaya gimana…lengkap semua” Bulan menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala.


“Yang paling berat dilakukan menurut aku memang take away yang hidangan utama… parah itu … susah” jelas Bulan sambil memejamkan mata. Juno mengerutkan dahi.


“Oh iya aku lupa ada take away hidangan utama pasti hebat” ucap Juno. Bulan merengut kemudian menutup mukanya.


“Eughh serem liatnya juga, tapi yah kalau Aa emang mau sih nanti aku usahakan” ucapnya pelan.


“Oyaaa… bener nih?” tanya Juno bersemangat, Bulan mengangguk lemah.


“Teeehh… subuh!” terdengar teriakan Bapak dari luar kamar.


“Aa mau ikut Bapak ke mesjid gak?” tanya Bapak. Tadi malam Bapak menunggu Juno datang dijemput oleh Benny.


Juno dan Bulan saling berpandangan. Juno menggelengkan kepala sambil tersenyum getir. Bulan tersenyum kecut kemudian menjawab pertanyaan Bapak.


“Aa kepalanya pusing Pak… masih kurang tidur”


“Mau solat di rumah aja katanya” Juno tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Kepala bawah yang pusing Pak… cuma Bulan yang bisa ngobatinnya” jawabnya pelan, Bulan langsung membekap mulut suaminya, khawatir terdengar oleh Bapak.


“Ohhh… ya udah… Bapak ke masjid aja duluan kalau begitu” terdengar suara Bapak membuka pintu kunci depan.


“Iya A Juno nya mau diurut dulu” jawab Bulan lagi


“Iya… mau diurut sama handmade” jawab Juno pelan pendek sambil tersenyum menggoda. Tangan Bulan yang menutup mulutnya malah diciumi dengan rakus.


“Apaan sih A” Bulan kaget saat tiba-tiba tangan dipindahkan ke bagian tubuh Juno yang bawah.


“Mau take away” bisik Juno.


“Aku cobain yang hidangan pembuka dulu aja… yang paket satu” suaranya terdengar serak sambil mengendus-endus rambut Bulan.


“Solat subuh dulu” Bulan menjauhkan badannya sambil merengut.


“Aahhhh bentar aja… udah gak kuat banget ini” Juno semakin merapatkan tubuhnya.


“Aa iiih itu pintunya belum dikunci juga” ucap Bulan pelan, sambil melirik ke arah pintu.


“Udah dikunci pintunya dari tadi malam… buruan praktekan hasil belajar di VPN nya”


“Salah sendiri tidur pake lingerie kaya gini nyiksa aku semalaman” tangan Juno sudah sulit untuk dikendalikan.


“Mbak ... saya take away yaa… paket satu please”