
“Mas Bhanu maksudnya apa?” bisik Mama Nisa menatap Papa Bhanu yang tengah menandatangani buku nikah. Bhanu hanya melirik dan tersenyum, di depan mereka Rahmat memandang mereka lekat.
Rahmat memandang Bhanu kembali dengan tatapan sinis, kemudian berkata pada Mama Nisa. “Jangan khawatir Nis… surat legalnya sudah ditandatangani dan disahkan oleh notaris” ucap Rahmat tegas. Mama Nisa menatap Rahmat dengan pandangan tidak percaya.
“Sttt… sudah jangan ribut malu sama orang lain, nanti ketahuan kalau aku sudah miskin” bisik Bhanu.
“Perusahaan Senggala Corp itu bisa ada karena dulu aku ingin menjadi pria yang memiliki kemampuan untuk menghidupi kamu”
“Jadi adanya Senggala Corp memang karena seorang Khaerunnissa… sudah sewajarnya kalau kamu yang menjadi pemilik perusahaan”
“Aku cuma orang yang jadi ditugaskan untuk mengelolanya saja”
“Jangan pecat aku ya Nis… karena sekarang hidup aku akan sangat bergantung sama kamu” Bhanu tersenyum dengan lebar.
Keduanya tampak lebih tenang, hingga saat Mama Nisa mencium tangan Papa Bhanu dan dicium keningnya, terlihat bahwa mereka berdua memang masih saling mencintai satu sama lain.
“Tsaaaah…. kenapa gw malu lihat Mama sama Papa ciuman gitu” ucap Afi pada Juno yang langsung disenggol oleh kakaknya.
“Diam kalian berisik terus dari tadi” ucap Oma kesal di sela-sela menghapus air mata yang terus mengalir.
Selanjutnya semua orang sibuk memberikan selamat kepada mempelai baru rasa lama ini. Ternyata banyak yang datang juga walaupun terbatas hanya untuk keluarga dan sahabat dekat saja. Keluarga Papa Bhanu yang menyusul hadir adalah Tante Esty dan keluarganya, sehingga suasana menjadi semakin semarak.
Bulan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bapak dan Benny, semenjak kepulangannya ke Bandung kemarin waktunya habis tersita untuk mempersiapkan acara pengajian dan pernikahan Mama Nisa. Bapak tidak mempermasalahkan hal tersebut, baginya berita kalau Bulan akan menetap di Bandung sudah menjadi hal yang menggembirakan. Bisa dekat dengan cucu dan putri kesayangannya menjadi suatu impian yang menjadi nyata.
Juno mendampingi Bapak dan Benny sikapnya tampak tegang sesekali dahinya berkerut seakan mengkhawatirkan sesuatu.
“A… ada apa? khawatir soal Mama?” Bulan melihat ke arah Juno yang tampak tidak tenang.
“Gak… gak ada apa-apa” ucap Juno sambil memandang Benny penuh arti, yang dipandang malah tersenyum ditahan.
“Aman Bang aman, jangan khawatir sama Teteh” ucapnya sambil tersenyum penuh arti. Juno mengangguk hingga akhirnya meninggalkan mereka berdua.
“Aman kenapa Ben? memangnya Bapak kemarin sakit terus gak bilang-bilang sama aku yah” ucap Bulan kesal sambil menatap Benny.
“Nggak… Bang Juno khawatir kalau Teteh terlalu capek, apalagi acaranya sampai malam kan”
“Habis selesai acara ini kita langsung pulang ya Teh, supaya Bapak juga gak terlalu capek” ucap Benny.
“Trus nanti sore pengumuman jalur undangan, doakan Ade lulus” ucap Benny sendu.
“Owh Ya Allah teteh sampai lupa, udah tenang aja jangan khawatir walaupun gak lulus juga bukan berarti ade gak bagus tapi memang persaingannya tinggi”
“Masih banyak cara untuk masuk perguruan tinggi, ada ujian SBMPTN, ada jalur mandiri trus masih banyak kok swasta yang bagus”
“Jangan khawatir teteh udah punya simpanan buat kuliah kamu, yang penting adenya belajar yang rajin aja”
“Gak ah.. kalau gak lulus tahun ini ade mau belajar lagi buat ujian tahun depan” ucap Benny dengan penuh tekad. Akhirnya pagi itu mereka bertiga habiskan untuk mendiskusikan rencana kuliah Benny. Hingga akhirnya Juno kembali memaksa Bulan untuk pulang kembali ke hotel, karena sebagian tamu sudah pulang untuk bersiap menghadiri acara malam harinya.
Sepulang mengantar Bapak dan Benny, di perjalanan tiba-tiba Bulan ingat hal yang ia lewatkan.
“A… aku lupa.. Anjar sama Mbak Icha dan Pak Kevin gak kita undang” ucapnya dengan muka penuh penyesalan.
“Yah walaupun mereka gak kenal sama Papa dan Mama tapi kan ini acara syukuran keluarga semuanya, jadi pengen aja mengundang mereka ke acara keluarga kita” ucap Bulan dengan penuh harap.
“Kalau aku mengundang mereka sekarang gimana? yah walaupun mepet mudah-mudahan aja mereka ada waktu dan gak ada acara. Toh Bandung Jakarta cuma dua jam kalau lancar” jelas Bulan lagi. Juno terlihat mengerutkan dahi.
“Ya… terserah kamu” ucapnya dengan muka datar.
“Hmmm Kak Cedrik boleh aku undang gak?” tanya Bulan lagi dengan penuh harap.
“Semua mantan saja kamu undang” ucap Juno kesal. Bulan hanya bisa cemberut sambil mendelik kesal.
“Dia sahabat bukan mantan” jelasnya sambil memandang keluar jendela.
“Kalau gak beda agama pasti kamu sudah pacaran sama dia” balas Juno
“Jangan suka berandai-andai sama hal yang tidak terjadi, ngapain juga mikirin itu… aneh”
“Aku juga gak akan ngelarang A Juno mau ngundang Mbak Inne… sok aja bagus malahan biar nyadar kalau A Juno udah nikah sama aku… gak berhalusinasi terus dianya” balas Bulan kesal. Juno langsung menangkupkan tangannya ke mulut Bulan yang langsung ditepis kesal.
“Apaan sih” ucapnya kesal.
“Kamu kalau ngomongin Ingge suka manyun bibirnya, jadi aku suka gemes liatnya. Bahaya kalau lagi nyetir gini” jawab Juno sambil tertawa.
“Lebay” balas Bulan, yang langsung dibalas dengan tawa oleh Juno.
“Hahahhaha… ya undang saja semua orang yang ingin kamu undang aku bilang juga. Cedrik, Anjar, Pak Kevin… aku gak khawatir… kamu udah tekdung gini gak akan bisa kemana-mana pasti bakalan nyariin bapaknya bayi terus… butuh ndusel-ndusel terus tiap malam… badan aku udah kaya aroma terapi aja…hehehhe” ucap Juno sambil terkekeh, setiap malam Bulan pasti akan minta dipeluk dan diusap-usap supaya bisa tidur sehingga kalau Juno keluar kota, keluhannya pasti tidak bisa tidur.
“Aseeekk… aku kirim pesan yah sama mereka”
“Kalau aku ngundang Pak Kevin dengan sendirinya Mbak Inne juga hadir kan… Yessss… mengundang teman sekaligus memukul balik mantan…hahahhahahha” ucap Bulan, Juno hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat sikap istrinya.
“Sudaaah” ucap Bulan puas, saat ia selesai mengirimkan pesan langsung kepada orang-orang yang pernah dekat dengan dirinya itu. Tak lama langsung ada jawaban dari pesannya.
“Siap… tega banget sih baru sekarang ingetnya dan mengundang aku” jawab Anjar
"Masih mending inget diundang aja kamu mesti bersyukur, soalnya kamu suka jadi biang kerok kalau dipesta-pesta nikahan. Awas nanti behave yah jangan sampai aku dimarahin A Juno gegara ngundang kamu" balas Bulan.
Balasan dari Cedrik langsung to the point “Ok… aku usahakan nanti sama Katrin” itu jawaban dari Cedrik.
Sedangkan Marissa lama baru menjawab pesan dari Bulan.
“Akhirnya gw ada yang ngundang juga, si Juno gak ngundang gw padahal gw temannya dia”
“Makasih yaaa Bulan… aku usahakan datang soalnya mendadak banget nih”
Bulan tersenyum puas, mereka adalah orang-orang yang memberikan warna dalam kehidupannya, walaupun hanya bertemu sesaat Anjar, Marissa dan Kevin membuatnya tidak bisa melupakan kehidupan selama bekerja bersama mereka. Tak lama kemudian ada jawaban dari Kevin.
“Congrats… aku bahagia mendengarnya. Aku usahakan datang… Elma rindu berat sama guru ngajinya” tulisan Kevin membuat Bulan tersenyum senang, sambil mengusap perutnya berdoa semoga bisa mendapatkan anak yang cantik dan cerdas seperti Elma karena anaknya juga perempuan.
“Alhamdulillah A… pada respon positif”
“Mbak Icha malahan kaya yang bersyukur diundang sama aku soalnya dia gak diundang katanya sama A Juno padahal dia yang jadi temannya Aa” jelas Bulan, Juno hanya mengangkat alis mendengar ucap istrinya itu.
"Dia kan bukan sahabat aku buat apa ngundang dia, aku cuma ngundang teman-teman dekat aku saja” jawabnya pendek.
“Kamu istirahat dulu sekarang di hotel, karena acara di hotel sudah di handle oleh WO jadi kita bisa santai”
“Nanti katanya ada perias yang akan menata pakaian dan makeup”
“Afi nanti gabung sama kamu sore di hotel”
“Ngapain juga pakai perias… Mama juga tadi gak mau pake perias waktu akad”
“Make up sendiri aja ah” protes Bulan.
“Beda dong ini kan acara malam di hotel… jadi makeup dan bajunya beda”
“Sudah diikuti saja, Mama sudah menyiapkan kok… periasnya juga pasti yang bagus gak akan aneh-aneh”
Bulan mengangguk, mau tidak mau ia harus mengikuti keinginan dari suaminya, acara ini diadakan oleh Keluarga Rachmadi jadi standarnya tentu saja akan berbeda dengan dirinya yang terbiasa sederhana. Tamu yang hadir pun adalah tamu dari keluarga yang secara status sosial dan ekonominya berbeda dengan keluarganya. Bulan baru menyadari bahwa saat ia menikah itu memang bukan hanya dengan Juno saja ia harus menyesuaikan diri tapi dengan keluarga pasangan karena pernikahan adalah menyatukan dua keluarga yang pasti memiliki budaya yang berbeda.
Akhirnya Bulan memilih untuk makan siang di hotel, semenjak hamil ia mudah merasa lelah. Padahal dulu aktivitasnya seperti tidak pernah berhenti. Untung saja suaminya selalu mengingatkan untuk mengambil waktu rehat diantara banyak kegiatan seperti kemarin karena terkadang saat beraktivitas ia tidak merasa lelah sama sekali. Juno langsung pergi setelah mengantarnya ke kamar, memilih makan siang diluar karena banyak yang harus ia selesaikan katanya.
Tidak terasa Bulan tertidur di kamar hotel sampai ia mendengar bel kamar berbunyi berkali-kali. Ini bukan petugas hotel, karena bunyinya berulang-ulang tidak berhenti. Sangat jelas kalau orang yang memijitnya tidak sabaran.
“Mbuuuuul…. lu tidur atau pingsyan?” suara teriakan terdengar dari luar kamar. Bulan menarik nafas panjang, sudah jelas nyonya muda dari Keluarga Rachmadi… Afianti.
“Bentaaaar… sabar atuh… berisik ihhhh jangan mijitin bel terus” teriak Bulan kesal, kepalanya terasa pusing karena mendadak bangun.
“Fiii… jangan gitu… kepala aku jadi pusing ini” keluh Bulan kesal saat membuka pintu.
“Aku udah lima menit yang lalu ngetok-ngetok pintu… kalau lima menit lagi kamu gak bangun… aku sama petugas hotel mau dobrak” ucap Afi memandang Bulan lekat.
“Masa sih” ucap Bulan lemas, di belakang Afi tampak petugas hotel membawa banyak barang.
“Apaan itu banyak banget barang bawaan kamu? mau nginep di hotel malam ini?” tanya Bulan sambil bersandar di sofa, nyawanya belum berkumpul semua.
“Iya malam ini aku nginep di hotel soalnya acara kan sampai malam juga… suka pengen langsung rebahan”
“Itu baju kamu yang buat pesta nanti malam”
“Aku dirias disini aja barengan sama kamu biar ada temen” ucapnya sambil kembali merebahkan diri di tempat tidur.
“Acara mulai jam tujuh kan jadi kita mesti dirias sekitar jam lima” jelas Afi.
“Hah… lama amat diriasnya… gak mau ah mau shalat magrib dulu”
“Nanti udah di make up kena air wudhu luntur make up nya… kalau wudhu dari awal nanti takutnya batal lagi” bantah Bulan.
“Jama dong jama saja” kilah Afi. Bulan mengerutkan dahi…”Hmmm memangnya ribet bajunya?” tanya Bulan bingung.
“Tuh lihat saja sendiri” ucap Afi menunjuk kotak pakaian yang tadi dibawakan oleh petugas hotel.
Saat Bulan membuka kotak yang dimaksud, matanya langsung membulat.
“Afiii ini baju apa bagus banget… Ya Allah bahannya halus banget jatuh gini… aduuh ini bordirannya juga benang emas dan batunya swarovski yah?” Bulan memandang kagum pakaian yang dipegangnya.
‘Selera Mama jangan dilawan, hadeeuuhh ngebayangin Mama jadi Bos aku seketika merinding disko” ucapnya sambil menepuk dahi.
“Dirumah aja udah perfeksionis, kebayang kalau datang ke kantor sekarang”
“Afi biasakan pergi ke kantor tepat waktu!”
“Time is money!” ucap Afi dengan sambil mencak-mencak menunjuk jam di tangannya. Seketika Bulan tertawa melihat kelakuan temannya. Ia pun tidak menyangka kalau Papa Bhanu sampai sebucin itu pada Mama Nisa.
“Hebat banget Mama memang, bisa membolak balikkan kedudukan… from zero to hero” ucap Afi sambil menggelengkan kepala kagum.
“Aku sih sebenarnya gak peduli mau Mama atau Papa yang punya perusahaan”
“Yang penting sekarang sudah utuh kembali”
“Gak kebayang bakalan kaya gini, lu tahu kan dulu waktu gw mau kawin sampai ngemis-ngemis minta Papa datang untuk acara lamaran”
“Pas waktu itu si Jamet datang beuh aku langsung putus asa sebenarnya. Tapi alhamdulillah sekarang aku bersyukur banget” Afi memeluk erat bantal yang ditidurinya seakan menumpahkan semua kelegaan. Bulan tersenyum melihatnya, untuknya Afi memang bukan sekedar adik ipar, ia telah lebih dahulu menjadi sahabat baiknya semenjak kuliah. Banyak suka duka yang mereka alami bersama.
“Dah sana buruan mandi, shalat dulu trus kita perawatan muka dulu biar kinclong”
“Mama udah booking perawatan buat kita berdua… kayanya biar dia gak diganggu sama Papa…hahahhaha”
“Udah tua juga masih aja modus pengen berduaan… emangnya gw gak tahu” gerutu Afi.
“Ahahahahahaha… dasar kamu anak durjana… bukannya mendukung malah protes”
“Siap-siap punya adik bayi aja Fi… lu bungsu gak jadi…hahahahha” ucap Bulan dengan puas.
“Idiiiih kasian lagi Mama, udah mau menikmati hidup dikasih tanggung jawab lagi”
“Gak deh… bukannya aku gak mau punya bayi tapi aku pengen Mama menikmati masa tuanya sama Papa”
“Bisa menikmati waktu berdua, punya hobi bersama… sudah cukup kesedihan Mama… sekarang adalah masa Happy Timeeee” teriak Afi tiba-tiba berdiri di atas tempat tidur sambil berteriak. Bulan sampai melonjak kaget dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Fi baju kamu modelnya gimana coba lihat” Bulan membuka kotak baju Afi yang langsung ditahan oleh temannya itu.
“Eiiits jangan lihat nanti lu jealous lagi… baju gw pasti lebih bagus… secara gw kan princess” ucapnya sombong sambil mengedip-ngedipkan mata. Bulan langsung mencibir.
“Princess Sableng kamu tuh” ucap Bulan kesal.
“Udah buruan shalat dulu, aku udah tadi… kamar perawatan spa dan body treatment udah nungguin dari tadi.. ntar keburu diambil sama orang”
“Fii itu perawatannya udah dibayar belum? kalau belum mending kita nyari yang diluar aja lebih murah lagi” protes Bulan.
“Udah lu jangan protes, udah jadi cucu menantu konglomerat… gaya hidup melarat kudu dilupakan” Afi menggiring Bulan masuk ke kamar mandi hingga segera menutup pintunya.
“Hadeuuh nyaris aja” ucapnya sambil menghela nafas.
“Banyak protes banyak omong lu tuh Bulan… mau dikasih kebahagian masih aja mikir hidup hemat… susah emang gak bisa jadi crazy rich sih elu” gerutu Afi.
“Kalau mau jadi crazy rich jangan harta Fi… tapi amal soleh… crazy rich iman baru bangga” balas Bulan dari kamar mandi.
“Dieeem udah buruan wudhu… gak sah nanti kalau ngomong mulu”