
Athar menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah kediaman kedua orang tua Kenanga, dengan tergesa-gesa Athar turun dari mobilnya.
Athar menekan tombol bel beberapa kali namun sama sekali tidak da jawaban. Athar kembali melihat ke arah ponselnya yang masih menghubungkan dengan panggilan telefon Kenanga.
"Halo, Kenanga?? Jawab aku please" suara Athar semakin di buat panik saat Kenanga sama sekali tak menjawab panggilannya.
Athar mencoba mendorong handle pintu dan ternyata tidak di kunci. Tanpa menunggu lama Athar membuka pintu, namun sayangnya pintu tersebut tak bisa terbuka lebar dan seperti terhalang oleh sesuatu. Perlahan Athar mencoba masuk dari celah pintu yang cukup sempit, hingga akhirnya Athar berhasil masuk dan begitu terkejut saat mendapati Kenanga tergolek di balik pintu, pantas saja pintu tersebut tidak bisa di buka dengan lebar.
"Kenanga? Kenanga bangun" Athar meraih kepala Kenanga dan menepuk perlahan pipi Kenanga berharap wanita itu mau membuka matanya, namun Kenanga tak kunjung membuka matanya hingga mengharuskan Athar membopong Kenanga dan mengangkatnya lantas membawanya masuk ke dalam kamar Kenanga yang terletak bersebelahan dengan ruang tamu.
Perlahan Athar meletakkan Kenanga di atas tempat tidur, baru setelah itu Athar berlari keluar rumah untuk mengambil peralatan medis miliknya yang di simpan di dalam mobil. Tak butuh waktu lama Athar udah kembali masuk ke dalam kamar milik Kenanga, dan mula melakukan pemeriksaan kondisi Kenanga. Setelah di rasa tidak ada yang menghawatirkan, Athar melepaskan stetoskop dari daun telinganya dan menyimpannya kembali di dalam tasnya, kemudian Athar mengeluarkan minyak angin untuk di oleskan di bawah hidung Kenanga. Namun Athar di buat mengerutkan dahi saat baru menyadari kalau mata Kenanga terlihat sembab bahkan beberapa tetes air mata yang belum kering juga terlihat membasahi pipinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Athar dalam hatinya.
Kenanga mengerjapkan matanya saat mencium aroma minyak angin, namun Kenanga tak berani membuka matanya dan malah menjerit histeris.
"Pergi !! Jangan kembali !! Aku membencimu" teriak Kenanga histeris
"Kenanga,Kenanga, tenanglah. Ini aku Athar"
"Pergi !!! Kau pembohong" teriak Kenanga hendak beranjak dari tempat tidur dengan kedua mata yang terpejam.
"Sayang..." suara Athar terdengar sangat lembut, kedua tangannya meraih tangan Kenanga dan menahan wanita itu supaya tidak turun dari atas tempat tidur.
Hangat sentuhan tangan Athar serta suara Athar yang lembut membuat Kenanga sedikit tenang. Setelah melihat Kenanga sedikit tenang Athar melepaskan tangan Kenanga perlahan.
"Buka matamu. Lihat, ini aku" pinta Athar perlahan, dan di turuti oleh Kenanga.
Perlahan Kenanga mengumpulkan keberaniannya dan membuka kedua matanya sedikit demi sedikit, dan benar ternyata yang saat ini berada di hadapannya adalah Athar. Tak berpikir panjang, Kenanga langsung menghambur memeluk Athar dengan erat, seakan dekapan pria itu benar-benar membuat Kenanga merasa aman. Athar sedikit terkejut saat Kenanga memeluknya lebih dulu bahkan dengan begitu eratnya. Namun setelah sepersekian detik, Athar pun membalas pelukan Kenanga, sebelah tangannya perlahan membelai lembut rambut Kenanga. Tak ada teriakan histeros dari Kenanga, namun Athar tau saat ini Kenanga tengah menangis dalam dekapannya. Entah apa yang membuat gadis itu menangis Athar tidak tau,tapi yang pasti untuk saat ini Athar tidak akan menanyakannya pada Kenanga, membiarkan Kenanga menenangkan diri terlebih dahulu.
"A-aku malu" ucap Kenanga di sela isak tangis tang dia tahan.
"Ada aku di sini, jangan pikirkan apapun. Biarkan aku yang akan menyelesaikannya" Athar memberikan kecupan di puncak kepala Kenanga, membuat Kenanga semakin mengeratkan pelukannya terhadap Athar.
Athar terdiam, mencoba mencerna apa yang Kenanga bicarakan, apa hubungannya dengan malu?
"A-aku takut" imbuh Kenanga lirih
"Aku akan menjagamu"
Kali ini jawaban Athar membuat Kenanga melonggarkan pelukannya, dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata, Kenanga memberanikan diri menatap Athar yang juga sedang menatapnya.
"Ada aku yang akan menjagamu, saat ini dan seterusnya" Athar menyelipkan anak rambut Kenanga di balik daun telinga gadis itu
Athar terdiam, perlahan Athar dapat menebak apa yang terjadi pada Kenanga, mungkin gadis itu mengalami trauma masa lalu yang cukup berat, dan besar kemungkinan Kenanga baru saja bertemu dengan masa lalunya yang menorehkan mendalam padanya.
"Kenapa diam saja?" Bentak Kenanga
"Sayang..." jawab Athar lembut
"Aku tidak akan pernah melakukan apa yang pernah dia lakukan padamu. Kau bisa memegang janjiku. Aku berjanji atas nama Tuhan dan Mama ku" imbuh Athar
Tak ada jawaban dari Kenanga, namun jawaban Athar membuat Kenanga sedikit tenang dan kembali memeluk Athar.
^
Setelah hampir satu jam lamanya Athar berusaha menenangkan Kenanga yang histeris, akhirnya usahanya membuahkan hasil, kini Kenanga sudah terlelap dalam tidurnya. Namun kedua tangan gadis itu masih memeluk tubuh Athar yang kini duduk di tepi ranjang sambil sibuk memberikan usapan di kepala Kenanga.
Sudah malam, Athar tidak mungkin menginap di sini, di rumah ini tidak ada siapapun kecuali dirinya dan Kenanga. Perlahan Athar mencoba menjauhkan tangan Kenanga yang kini memegang erat lengan tangannya. Namun belum sempat terlepas secara sempurna, Kenanga kembali memeluk erat tangan Athar.
"Jangan pergi" rancaunya dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Kenanga.. Aku harus pulang" ucap Athar lirih
"Tidak boleh" sepertinya Kenanga masih setengah sadar dan belum tidur sepenuhnya
"Tapi aku harus pulang, aku tidak mungkin..."
"Kau bohong !!! Kau bilang tidak akan pergi ? tidak akan meninggalkanku" kali ini kedua mata Kenanga terbuka secara utuh.
"Pembohong!!!" Bentak Kenanga sembari merubah posisi tidurnya memunggungi Athar.
Athar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Bukan Athar tidak mau menginap serta menemani Kenanga, tapi Athar takut tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Namun Athar akhirnya di buat mengalah saat Kenanga kembali terisak menangis di balik selimut tebal yang membalut tubuhnya.
"Jangan menangis lagi, Maafkan aku" Athar membaringkan tubuhnya tepat di samping Kenanga, bahkan memberikan pelukan hangat untuk Kenanga.
Namun Kenanga masih tak mau menjawab perkataan Athar dan memilih diam dan menangis di balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya
"Kau masih marah? Aku janji akan selalu menjagamu" Athar semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau janji??" Kenanga merubah posisi tidurnya, kini Kenanga dan Athar saling berhadapan satu sama lain.
Athar menganggukkan kepalanya dengan mantap sebagai jawaban dari pertanyaan Kenanga, namun kedua matanya di buat gagal fokus saat melihat bibir Kenanga yang di rasa sangat menggiurkan di mata Athar. Athar mencoba mengendalikan dirinya meski di rasa udara di dalam kamar Kenanga terasa menjadi panas di tubuhnya. Kenanga yang tak menyadari perubahan ekspresi Athar, malah kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu, memeluknya dengan erat seakan pelukan Athar sangat nyaman dan aman untuknya. Sementara Athar saat ini sedang bertarung dengan pikiran liar yang mengisi hampir seluruh otaknya.