
Athar memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah berdinding kayu dengan aksen model klasik. Ya, saat ini Athar tengah melihat dari kejauhan rumah Kenanga yang baru. Sungguh, takdir begitu mendukungnya hingga dirinya kini bisa kembali mengetahui dimana Kenanga tinggal. Berkat menggantikan Adrian praktek, kini dirinya menjadi tahu alamat baru tempat tinggal Kenanga bersama kedua orang tuanya dari rekam medis Kenanga. Entah alasan apa yang membuat Kenanga dan keluarganya memilih pindah rumah dari rumah yang sudah mereka tempati sekian lama. Tapi apapun alasannya Athar tetap bersyukur bisa berjumpa lagi dengan Kenanga. Meski banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala Athar, mengapa yang menjadi penanggung jawab Kenanga sebagai pasien adalah ayahnya? Kemanakah Riko? Mengapa bukan Riko yang menjadi penanggung jawab? Bukankah seharusnya yang menjadi penanggung jawab harusnya suaminya?. Entahlah, Athar sangat penasaran.
Mata Athar menyipit, tatkala melihat Kenanga berjalan keluar pagar rumahnya, tak sia-sia Athar sedari tadi menunggu di dalam mobil, akhirnya penantiannya tak sia-sia, kini dirinya mendapat kesempatan berbicara dengan Kenanga. Semoga saja Kenanga memberinya kesempatan untuknya berbicara. Wajah Kenanga terlihat sedikit pucat, tubuhnya juga saat ini menjadi kurus, mungkin karena penyakit yang Kenanga idap saat ini, gagal ginjal akut pasti sangat membuat Kenanga tertekan. Kenanga terlihat berjalan perlahan meninggalkan rumahnya. Athar pun dengan segera turun dari mobil, dan dengan langkah pelan Athar mulai mengikuti langkah kaki Kenanga, ternyata Kenanga menuju taman komplek rumahnya yang terletak tidaklah jauh. Suasana sore hari terlihat tidak terlalu ramai di taman tersebut. Kenanga terlihat duduk di salah satu kursi dekat danau, tatapan Kenanga terlihat kosong,. dari kejauhan Athar masih memperhatikan Kenanga dengan seksama. Meski tanpa bertanya, Athar paham bila Kenanga saat ini sedang memiliki beban berat dalam pikirannya.
Dengan perlahan Athar berjalan mendekat ke arah Kenanga sedang duduk saat ini. Saat tepat berdiri di samping Kenanga, Athar menghela nafasnya panjang.
"Rembulanku..." ucap Athar perlahan
Dengan refleks ternyata Kenanga langsung menoleh. Athar pun terlihat cukup terkejut, ternyata Kenanga masih mengingat dengan baik panggilan kusus darinya. Kenanga terlihat mengedipkan beberapa kali matanyaz berharap dirinya salah melihat saat ini, berharap dirinya hanyalah bermimpi. Tapi sayangnya ini bukan mimpi, Athar mendekat dan kini telah duduk di sampingnya, membuat Kenanga langsung berdiri dan hendak meninggalkan Athar. Tapi sayangnya, tangan kokoh Athar langsung meraih tangan Kenanga.
"Wait ..." ucap Athar sembari berdiri mensejajarkan diri dengan Kenanga.
Kenanga berusaha melepaskan tangan Athar dari tangannya, tapi sayangnya Athar tak mau melepaskannya.
"Kenanga, aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu?"
Tak ada jawaban, senyap. Kenanga tak membuka mulutnya barang sedikit saja. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit. Hidupnya kini sudah tak seperti dulu lagi. Athar pria yang baik, tak selayaknya masih mencari dirinya yang sudah memiliki banyak salah di masa lalu. Dan dengan kondisi kesehatannya saat ini, akan sangat tidak layak Athar masih terus mengharapkan dirinya.
"Athar, bisakah kau jangan terus mencariku dan berusaha berbicara denganku? Tak bisakah kau hidup dengan kehidupanmu tanpa aku" Kenanga menghempas tangan Athar dengan kasar. Wanita itu berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, dengan cepat Kenanga berlalu dari hadapan Athar.
Langkah kaki Kenanga seketika terhenti. Wanita itu terlihat memejamkan matany, berusaha mengatur nafasnya. Tapi saya ngnya hatinya terasa sangat sakit mendengar jawaban Athar hingga tak terasa air mata Kenanga mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
"Kenanga !!! Bisakah aku kembalikan waktu? bisakah aku mengulang masa lalu denganmu? bisakah aku kembali memelukmu? mencintai dirimu seutuhnya bukan hanya sekadar mencintai bayangmu??" pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Athar, hingga Athar berjalan mendekat ke arah Kenanga dan menarik tubuh gadis itu hingga kini keduanya berhadapan. Kedua mata Athar terkejut tatkala melihat Kenanga menangis. Apakah pertanyaannya menyakiti perasaan Kenanga.
Athar mundur satu langkah menjauh dari Kenanga. Hatinya juga terasa sakit saat melihat air mata Kenanga. Mengapa sedari dulu dirinya selalu saja membuat Kenanga sakit hati, membuat Kenanga menangis.
"Maafkan aku..." ucap Athar dengan suara bergetar.
"Pergilah Athar, jangan terus berdiri di masa lalu. Bukalah lembaran baru Athar. Kisah kita hanya ada di masa lalu, tapi kau hidup di masa kini. Jadi, jangan terus mengingatku. Aku sangat mencintaimu, tapi itu dulu. Saat ini semuanya telah berakhir dan berbeda. Jadi, aku mohon, tataplah masa depanmu, rangkailah impianmu" ucap Kenanga
Athar menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak segala perkataan Kenanga. Dirinya benar-benar tidak bisa menghapuskan Kenanga dari hidupnya.
"Aku tidak bisa Kenanga. Meskipun semua orang mengatakan aku bodoh, karena aku mencintai istri orang,atau bahkan masih mengharapkan bisa memilikimu setalah semua yang terjadi, berharap Tuhan memberi mukjizat" Athar kembali melangkah ke depan dan langsung menarik Kenanga kedalam dekapannya.
Kenanga diam dalam dekapan Athar menumpahkan air matanya yang mengalir dengan sangat deras. Sungguh Kenanga tak menyangka akan memiliki kesempatan memeluk Athar setelah semua yang terjadi di masa lalu. Keduanya terhanyut dengan suasana yang ada, meski Kenanga tahu kalau ini adalah sebuah kesalahan, tapi bisakah hanya sebentar saja dirinya bisa merasakan kenyamanan bersama dengan Athar????