Rembulan

Rembulan
Ora Kesusu atau Ora Et Labora


Jam enam pagi Bulan sudah sibuk membuat nasi goreng di dapur kost-an. Juno duduk di teras taman kost-an sambil memegang laptop, ada kopi dan tentu saja sebatang rokok.


“Jangan ngerokok dulu atuh kalau pagi-pagi, sarapan dulu” protes Bulan. Baru kali ini ia melihat kebiasaan suaminya saat bangun tidur.


Pintu kamar kost-an sebelah terbuka, keluar Mas Arif dengan muka kusut masih nampak mengantuk.


“Ndak malem… ndak pagi kalian berdua ribut terus… angel wes angel” Mas Arif keluar sambil menggerutu, diikuti Mbak Yanti yang tersenyum saat melihat Bulan.


“Sudah Mas… lah wong pengantin baru wajar toh!” Mbak Yanti menghampiri Bulan yang masih sibuk membuat dadar telur.


“Mas-mu itu malam jadi keringetan ngedenger ada teriak sama ngejerit”


“Aa… aaaaah… Arggggg Aa….. Aduuuuuh Aa….” Mba Yanti menirukan teriakan yang mereka dengar semalam.


Bulan hanya bisa cemberut sambil tersenyum malu, ia tidak tahu kalau teriakannya sampai sekeras itu.


“Masalahnya Mas Arif gak bisa ngapa-ngapain wong lagi puasa sampai sebulan kedepan gak boleh nengok ke dalam, bahaya sama bayinya masih lemah” jelas Mbak Yanti sambil tertawa-tawa.


“Kamu tuh Dek… kalau sama perawan itu ora kesusu… alon-alon” Mas Arif menepuk pundak Juno yang hanya diam saja sambil tersenyum kecut.


“Gak kesusu gimana Mas dari tadi malam nyasarnya ke su su terus” sanggah Bulan polos.


“Whaahahahahhaha….” Mbak Yanti langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Juno semakin menundukkan kepalanya seakan ingin masuk ke dalam layar laptop di depannya.


“Maksud Mas Arif ora kesusu itu jangan cepat-cepat Dek… soal nyasarnya ke su su itu sudah bisa dipastikan...hahahhahaha” Mas Arif tampak menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Bulan dan istrinya.


“Model-model kaya istrimu itu yah Dek.. bakalan susah kaya si Mbak mu itu”


“Butuh sebulan Mas mu itu baru bisa menembus benteng pertahanan”


“Aku tuh yah… napsu udah di ubun-ubun dia liat ke aku koyo yang liat genderuwo”


“Mbakmu itu kalau di kamar lari sana, lari sini…. lempar ini, lempar itu… “ Mas Arif tampak termenung mengenang masa lalunya.


“Aku juga digigit ini Mas” tiba-tiba Juno berbicara sambil memperlihatkan gigitan di bahunya.


“Ndak kena cakaran?” Mas Arif tampak prihatin,


“Ada mas di punggung, bekas dicubit keras banget… terasa pedih pas mandi tadi” Juno mengadukan bekas cubitan di pinggangnya.


“Waah ini sama kaya aku dulu Dek..” Mas Arif menghela nafas panjang melihatnya.


Bulan menunduk malu sambil cemberut melihat ke arah Juno, ia membawa dua piring nasi goreng.


“Pake ngadu segala sama Mas Arif, tadi sama aku gak ngomong apa-apa Mas” ia menyodorkan nasi goreng kepada Juno dan Mas Arif.


“Sarapan Mas… biar kuat” Bulan melirik Juno dengan kesal.


“Weeeh aku kebagian nasi goreng neng Bulan yang legend… enak iki” Mas Arif langsung mengambil dan menyantapnya.


“Aku kasih tau yah Dek biar gak usah nungguin sebulan kaya aku”


“Jadi caranya itu musti dikenalin dulu sama bojo mu itu”


“Mereka itu memang seperti Singa beraninya cuma mengaum aja”


“Padahal gak tau apa-apa soal dalaman laki-laki”


“Mbak mu itu saudaranya laki-laki semua, jadi sudah biasa kalau ngeliat laki-laki pake celana kolor atau tidur sembarangan”


“Tapi kalau soal gituan dia itu… weeeeh blas ora weruh”


Mbak Yanti tersenyum sinis mendengar petuah Mas Arif kepada Juno.


“Lah bagus toh Mas kalau aku gak tau apa-apa artinya aku masih ori.. Bukan kw kw an” sambil menunggu jatah nasi gorengnya dibuatkan oleh Bulan.


“Iya ndak apa-apa… bagus itu… jadinya kita yang mesti ngajarin mereka” Mas Arif mengacungkan jempolnya pada Mbak Yanti yang ditanggapi dengan cibiran olehnya.


“Tak kasih tau yah Dek. Mereka itu mesti dikasih pengetahuan dulu anggota tubuh laki-laki biar ndak kaget”


“Mereka mesti tau kalau yang kecil itu bisa besar dan bisa nyembur” Mas Arif menceritakan dengan gaya seperti wayang orang dengan gerak tubuh yang dramatis.


Bulan yang ikut menyimak cerita Mas Arif sampai menunduk malu mendengarnya. Semalaman dia menjerit ngeri karena kaget melihat adanya penampakan si kecil yang membesar.


“Aku itu ngurusi adik-adikku dari kecil sering mandiin juga jadi udah biasa sama punyanya laki-laki” sambung Mbak Yanti


“Lah pas nikah kok punya Mas Arif jadi beda… wajar toh mas aku jadi kaget” Mbak Yanti tertawa-tawa mengingat masa lalu.


“Sama Mbak… aku juga yang ngurus Benny waktu disunat, ngasih perban, pakai betadine… jadi kaget juga” Bulan menunduk malu.


“Hahahaha… lah sama kan.. Pantesan tadi malam sampai jerit-jerit… Mas mu sampai gak bisa tidur… terpaksa Mbak pakai jalan belakang biar Masmu bisa tidur” jelas Mbak Yanti dengan santai. Bulan kembali menunduk, dua hari ini pendidikan tentang se x didapatkannya berdasarkan pengalaman.


“Jadi ora kesusu dek… mengku ae..iso kok..le wis guyub.… suka kangen mereka” Mas Arif nampak terlihat jumawa seperti sudah memenangkan medan pertempuran.


“Tadi malam bisa tembus ndak?” kembali bertanya dengan santainya kepada Juno yang tampak jengah untuk menjawab.


“Gak mas… keluar diluar, saya keburu dipukuli sama digigit… sakit katanya” keluh Juno dengan muka kuyu.


“Aa gak akan ke kantor?” Bulan membawa nasi goreng untuknya dan Mbak Yanti yang sedang mandi sehingga disimpannya di meja. Ia membawa nasi miliknya ke kamar sambil melihat ke arah Juno yang masih santai dengan pakaian rumah.


“Hari ini aku mau beresin perlengkapan di ruko jadi izin gak masuk kantor” menutup laptop dan mengikuti Bulan masuk ke kamar.


“Aku antar kamu ke kantor, sekalian mau ngambil barang-barang di rumah supaya bisa ditata ulang di ruko” menyimpan laptop di kasur dan berbalik langsung memeluk Bulan.


“Aa… ih.. Mau apa lagi aku mau siap-siap ke kantor” Bulan terlonjak kaget.


“Tadi kata Mas Arif, mesti sering dibiasakan, kenal sama anggota tubuh”


“Nah kayak gini kan itu kenalan biar kamu gak kaget kalau dipeluk bisa balas meluk”


“Dicium bisa balas cium” ucapnya santai.


“Iya nanti kenalannya kalau udah malam, sekarang aku mau siap-siap ke kantor dulu”


“Belum sempat sarapan bisi keburu telat, sarapannya mau dibekal aja”


“Hmmm gak bisa ambil izin gak ngantor sekarang, badan kamu tuh anget banget sih” mata Juno terpejam membayangkan semalam, sungguh pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan selamanya.


“Muneey… please ijin sehari saja… aku pengen seharian tiduran di kamar sama kamu” muka Juno terlihat memelas.


“Aduuh ini aku masih sakit… trus kan mau beres-beres Ruko… mendingan kita beresin Ruko supaya nanti gak ada yang denger kalau malam-malam” terpaksa Bulan mencari alasan yang paling masuk akal. Kemarin sudah banyak agenda yang harus diselesaikan hari ini bersama Kevin sehingga tidak mungkin meminta ijin mendadak.


“Perasaan tadi malam aku gak maksa-maksa banget, waktu kamu teriak-teriak aku langsung berhenti” Juno mendengus kesal.


“Atuda Aa gak bisa dibilangin… tadi malam aku udah dibolak balik kaya ikan di penggorengan” Bulan cemberut sambil mendorong Juno menjauh, yang di dorong tidak bergeming masih enak saja memeluk dengan erat.


“Ternyata menikah itu bikin ketagihan… kalau tau kaya gini ceritanya sudah dari dulu aku menikah” Juno menggoyang-goyangkan tubuh Bulan ke kiri dan kekanan seperti garpu tala.


“Boro-boro nikah, waktu dulu ngomong aja irit sama aku, nyebelin!” Bulan mendorong tubuh Juno agar menjauh, ingatan masa lalu saat bertunangan dengan Juno masih membekas di pikirannya.


“Hmmmm gak apa-apa yang penting akhirnya sekarang kita bersama” pelukannya tidak berkurang erat. Seakan tidak rela melepaskan Bulan untuk bersiap ke kantor.


“A.. please aku mesti ke kantor sekarang, aku mesti professional, kemarin sudah banyak agenda pekerjaan yang harus aku selesaikan” akhirnya Bulan memeluk Juno untuk menenangkan.


“Hmmm muneey… “ bisik Juno ke telinga Bulan, seketika bulu halus di tubuhnya meremang. Sepanjang malam hanya ucapan muneey… ohhhh muneeey…. Ahhhh muneey …. Yang terdengar di telinga Bulan.


“Aa...iiihh…” Bulan langsung menarik tubuhnya, diusap-usap lengan atas sambil menatap Juno dengan cemberut. Juno tersenyum melihat muka Bulan yang memerah, rupanya tubuh perempuan sudah memberikan respon positif.


“Nanti di kantor jangan membayangkan aku yah… kalau kamu gak kuat langsung pulang saja, jangan ditahan-tahan” bisiknya lagi di telinga Bulan.


“Aa…..aaaahh” Bulan berlari ke kamar mandi, kalau ia tidak segera melepaskan diri dari pelukan Juno ia tidak yakin akan bisa bertahan.


Terdengar tawa Juno saat ia berada di kamar mandi, mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas, dadanya terasa berdebar keras. Bulan memandang wajahnya di cermin terlihat kemerahan dengan tatapan matanya sayu.


“Arghhh kenapa aku jadi hor ny beginih” dia terduduk, membayangkan kejadian semalam. Ia sama sekali tidak berkutik, badannya terasa lemas , cuma bisa mengeluh, mendesah, memekik dan menjerit. Ternyata melepas keperawanan tidak semudah seperti dalam cerita novel.


Semalam akhirnya ia menyerah dan menangis sambil memukul-mukul tubuh Juno, yang kemudian mengalah dan menuntaskan hasratnya dengan memeluknya erat. Bulan menatap kaca cermin, leher dan dadanya masih membekas warna kemerahan. Ia harus menutupi di area bagian leher, semoga saja tidak bertemu dengan Afi sehingga tidak mendengar ejekan dari temannya itu.


“Ayo katanya mau ke kantor” terdengar suara Juno dari luar kamar mandi


“Tapi Aa jangan ngapa-ngapain lagi… aku beneran banyak tugas yang mesti diselesaikan” jawab Bulan bingung.


“Gak akan sayang… ayo cepat ini bekalnya sudah aku masukan ke dalam kotak bekal. Kamu bisa makan di mobil” mendengar itu Bulan langsung membuka pintu. Rupanya Juno sudah berganti pakaian dengan kaos dan jeans, terlihat santai tapi rapi.


Juno tersenyum memandang Bulan yang keluar dengan malu-malu.


“Ayo cepat nanti terlambat. Kalau terlambat nanti malah kerjanya ngelembur lagi. Aku mau siapkan kamar di Ruko biar kita gak ada yang ganggu” ucapnya sambil tersenyum penuh arti.


Sambil menunduk Bulan membawa pakaian kerja dari lemari dan menuju ke kamar mandi.


“Eitss mau ganti baju dimana? Disini saja… aku udah lihat semuanya tadi malam, sekarang harus dibiasakan tidak memakai baju di depan suami jadi gak canggung lagi”


“Ayo ganti pakaiannya disini… janji gak akan aku apa-apakan cuma nonton aja” ucapnya sambil tersenyum kemudian duduk disisi tempat tidur.


“Aku malu ahhh… di kamar mandi aja” tungkas Bulan.


“Ganti baju disini atau gak aku ijinkan berangkat ke kantor!” jawab Juno tegas. Bulan menarik nafas panjang, dengan enggan dan cemberut ia membuka baju rumahnya, sesekali ia melirik Juno yang menatapnya lekat sambil tersenyum.


“Jangan senyum-senyum gitu iiih…” Bulan melirik dengan kesal.


“Aku benar-benar menyesal baru menikah sekarang… kamu tau gak rasanya semua beban di pikiran itu lepas dan gak menghimpit di otak gara-gara semalam”


“Euuuhm gak sabar nanti malam….” ucapnya sambil mengerutkan semua jari-jarinya seakan ingin meremas sesuatu”


“Ingat A… kata Mas Arif… ora kesusu” ucap Bulan sambil tersenyum lucu mengingat percakapan tadi.


“Beda kasus… kalau aku mau ora et labora” jawab Juno, Bulan mengerutkan dahinya sambil mengambil tas dan bekal makan.


“Apa artinya?” sambil menatap Juno


“Artinya bekerja dan berdoa… aku akan berusaha keras bekerja semalam penuh dan berdoa supaya bisa tembus malam ini tanpa air mata” ucapnya dengan tatapan penuh determinasi.


Enyak sok gimana Juno aja… mau ora kesusu atau ora et labora juga yang penting jangan ada air mata aja.