Rembulan

Rembulan
Unfinished Business


Dunia terbalik nama sinetron di televisi menjadi kisah yang dialami oleh Bulan dan Juno saat ini, suami ada di rumah dan istri berangkat kerja. Sudah dua hari rutinitas baru dilalui pasangan ini, berangkat ke kantor sang istri diantar oleh suami, tapi kalau pulang Bulan memilih pulang sendiri karena merasa kasian kalau Juno harus bermacet-macet ria di jalan, menghabiskan waktu dan bahan bakar.


“A… gak pengen beli motor gitu? Lebih hemat lagi daripada bawa mobil nganterin akunya” lalu lintas mulai macet, tadi mereka agak kesiangan berangkat, alasannya apalagi kalau bukan yang minta jatah pagi setelah sholat subuh.


“Cuma sebulan kedepan nganterin kamunya. ngapain juga beli motor?, Jakarta panas” jawab Juno sambil menyetir dengan santai, padahal Bulan sudah ketar ketir karena  hampir jam delapan pagi. Walaupun ia sudah mengajukan surat pengunduran diri, tapi komitmen datang tepat waktu tetap ia pegang.


“Ya macet gini kalau pakai motor kan lebih cepat, sudah jam delapan ini” keluh Bulan, hari ini ada agenda rapat pagi. Hari Senin mereka tidak bisa berkumpul karena Kevin dan Marissa ada rapat dengan VP diluar kota.


“Santai aja, kamu kan mau keluar, mau dikasih surat peringatan juga gak ngaruh. Toh mau keluar”


“Eh gak bisa kaya gitu dong A… tetep mesti profesional walaupun mau berhenti juga!” Bulan mendelik kesal.


“Yaaa… baiklah ibu profesional” Juno tersenyum sinis, tapi kemudian dia mengerutkan dahinya menyebut kata ibu jadi menyadari satu hal penting.


“Kamu sejak menikah sudah datang bulan berapa kali?”


Bulan mengerutkan dahi bingung “hmmm dua atau tiga kali yah lupa?”


“Kenapa emang?”


“Gak… rasanya kok udah lama kamu gak datang bulan?” jawab Juno.


“Aku emang suka kadang gak teratur datang bulannya, kadang dua bulan gak sama sekali, kadang dalam sebulan sampai dua kali”


“Kalau stress malah suka jadi sering… aneh”


“Artinya selama menikah sama aku, kamu bahagia dong, gak pernah stress” Juno tersenyum menggoda, Bulan terdiam sambil berpikir.


“Gak tau juga… yang pasti selama menikah aku jadi sering pusing, banyak yang mesti dipikirkan jadi kaya kompleks gitu masalahnya”


“Tapi bukan berarti gak bahagia… pasti bahagia lah… cuma masa penyesuain banyak masalah rupanya…”


“Yah wajarlah… kita kan keitung gak pernah pacaran… tetiba menikah” pikir Bulan sambil menarik napas panjang.


“Enaknya aja gak pacaran kan waktu dulu kita sempat tunangan beberapa bulan” sanggah Juno kesal.


“Yaelah… itu mah gak bisa dihitung pacaran kalee… situ lurus akunya belok gak pernah ada titik temu”


“Yang namanya pacaran orang normal itu ketemu ngobrol dengan hangat, cerita aktivitas ngapain, ngasih kado atau hadiah, telepon nanyain kabar”


“Gak usah aku kasih tau juga udah pengalaman kalee sama mantan”


“Aku aja bisa bedain, masa yang berpengalaman kagak?” dengus Bulan kesal, Juno langsung terdiam.


“Beresin tuh urusan sama Mantan biar semuanya bisa memulai dengan hati lapang!”


“Asal ingat jangan keterusan… mesti bisa membedakan kalau sekarang A Juno udah nikah sama aku… INGAT ITU!”


“Keperawanan aku diambil sama A Juno… kudu tanggungjawab sampai akhir” ucap Bulan tegas.


“Hahahahaha kok yang dipermasalahkan soal keperawanan… kalau menikah itu konteksnya mesti bertanggung jawab sebagai suami, bukan sebagai orang yang mengambil keperawanan… kamu tuh suka aneh pola pikirnya”


Bulan terdiam sambil berpikir, kemudian ia melihat Juno dengan lekat.


“Maksud aku tuh… nikah sama aku banyak keuntungan yang diperoleh, masih perawan itu penting, gak matre, mandiri gak tergantung sama suami, terus apalagi yah?”


“Solehah… hobinya ngingetin solat dan mengaji, bisa masak makanan yang aku suka, terus yang penting bisa diajak main di kasur...hehehhe” Juno mencubit pipi Bulan.


“Pipi kamu makin sini makin tebel aja, enak buat dijembilnya”


“Sakiiit, enaknya aja memangnya pipi aku bayi masih lentur” Bulan menggosok-gosok pipinya yang merah karena cubitan Juno.


“Nanti pulang jam berapa?”


“Seperti biasa, gak usah dijemput, aku pulang pake busway trus disambung pake ojek online” mereka sudah sampai di kantor Bulan, perjalanan tidak terasa panjang kalau dihabiskan sambil berbicara dan berdebat seperti biasa yang mereka lakukan.


“Jangan lupa nanti siang Samson kasih makan makanan basah, mumpung ada Aa di rumah, Samson ada yang ngurus” mendengar itu Juno mendengus kesal.


“Enaknya aja mentang-mentang aku dirumah dianggap gak ada kerjaan sampai disuruh ngurus kucing segala”


“Aku sibuk, gak akan sempat ngurusin kucing” Juno melengos kesal.


“Hehehehe uyug uyug kyopta banget kalau udah ngambek gini.... Anggap aja latihan ngurus bayi… dimulai dari kucing dulu”


“Aku pamit yaa… assalamualaikum…”


Bulan meraih tangan Juno untuk pamit dan beranjak turun dari mobil. Sampai Bulan masuk ke dalam gedung Juno terus melihatnya sampai akhirnya menghilang dari pandangan. Sepulang dari Bandung, hubungan mereka terus membaik, mencoba saling mengerti dan memberikan dukungan satu sama lain. Ia merasa bersyukur menikah dengan perempuan itu, memiliki keluarga yang hangat dan menerimanya dengan tangan terbuka. Ia merasa bisa berperan dan memiliki kontribusi di keluarga Bulan, kehadirannya selalu disambut dengan baik, pendapatnya selalu diminta sebagai dasar pertimbangan dalam berbagai aktivitas di rumah Bulan walaupun pada hal yang kecil, tapi selalu di apresiasi.


Seperti saat pulang kemarin, tiba-tiba saja Bapak memintanya untuk membuat gambar untuk kandang ayam dan burung. Di halaman belakang, Bapak ingin membuat kandang ayam yang lebih luas sehingga ayam kesayangannya bisa bergerak lebih leluasa tapi tidak mengotori halaman belakang. Selama dua hari dihabiskan untuk membuat gambar sampai membuat hitungan untuk ukuran teknis. Untung saja dia sudah menumpahkan semua amunisi di hotel, kalau tidak, bisa-bisa dicap sebagai menantu durhaka karena akan mengunci diri terus bersama Bulan di kamar.


Juno memikirkan ucapan Bulan untuk menyelesaikan urusan dengan Inneke, walaupun sebetulnya ia merasa tidak penting untuk melakukan kontak dengannya lagi tapi ia tidak mau kalau kemudian Inneke  terus merasa memiliki unfinished business dengannya. Pertemuan antara Bulan dan Inneke yang terjadi tanpa sepengetahuannya, membuatnya berpikir ulang bahwa mungkin memang sebaiknya ia harus berbicara langsung dengan perempuan yang pernah lama mengisi hatinya.


Juno akhirnya memarkirkan mobilnya di parkiran kantor Bulan, mencoba mencari-cari kembali pesan yang dikirimkan oleh Inneke yang tidak pernah ia simpan nomornya. Ternyata sangat mudah, Inneke masih suka memajang foto dirinya lengkap dengan atribut nama Bank tempat ia bekerja. Ia baru menyadari kalau foto yang dipakai sebagai profil picture berbeda dengan foto yang dulu pernah ia simpan.


Juno tersenyum, bodoh pikirnya, tentu saja akan berbeda. Sudah lebih dari lima tahun tidak mungkin seseorang akan memasang foto yang sama. Lama ia berpikir untuk mengirimkan pesan, pesan terakhir yang ia dapatkan dari Inneke adalah soal pertikaiannya dengan Kevin.


“Apa kabar… kalau ada waktu, kita atur waktu untuk bertemu”


Hanya itu pesan yang dikirimkan Juno, ia tidak bisa memikirkan kata yang panjang untuk menyapa perempuan yang pernah mengisi hatinya itu. Untuk mengirimkan pesan saja ia merasa seperti membuka kembali luka lama yang sudah ia kubur.


Tidak butuh sampai lima menit, Inneke langsung meneleponnya. Juno sudah bisa memperkirakan, sampai sekarang sifatnya tidak berubah, selalu bergerak cepat disaat ada kesempatan.


“Assalamualaikum…. “ Juno tersenyum sendiri, bergaul dengan Bulan menjadikannya lebih terpola dalam beribadah dan lebih islami. Ia harus mengganti sholat yang terlewat karena ketiduran, melakukan sholat sunat sebagai penambah pahala agar timbangan dosa tidak lebih banyak, sampai keharusan untuk menyuapkan makanan dan minuman dengan tangan kanan dan selalu dikomentari kalau minum sambil berdiri. Dan sekarang ia jadi terbiasa untuk mengucapkan salam menerima dan memulai percakapan dalam telepon.


“Je… waalaikumsalam” terdengar suara Inneke yang tercekat mendengar pembuka salam darinya.


“Terima kasih kamu sudah membalas pesan aku”


“Kapan kita bisa ketemu?”


Suara perempuan itu masih sama, hanya sekarang terdengar seperti penuh dengan harapan.


“Aku sekarang sudah free, masih belum ada schedule yang harus aku ikuti”


“Kamu saja yang tentukan waktunya, tapi jangan malam hari, kalau bisa siang”


“Oke… aku akan cari waktunya”


"Nanti aku kabari…. Terima kasih kamu mau terima telepon aku” suara Inneke terdengar seperti terharu.


“Ya… sampai ketemu nanti, aku matikan, ada yang menungguku”


“Assalamualaikum” tanpa menunggu jawaban dari Inneke,  Juno mematikan telepon, ia tersenyum sinis, sebetulnya tidak ada yang menunggunya sekarang. Hanya ada Samson si kucing mata satu yang tiba-tiba menjadi makhluk manja dan mengejar-ngejar kakinya karena tidak ada teman di Ruko.


Juno menghela nafas panjang, ia harus menyiapkan mental untuk kembali berdamai dengan masa lalunya, masa lalu yang sudah ia kubur dan mencoba untuk lupakan.