
Tidak terasa dua hari kedepan adalah acara pernikahan Afi, besok dia sudah mengambil cuti untuk persiapan menikah. Siang itu adalah hari makan siang terakhir mereka dengan status Afi sebagai seorang gadis.
“Besok kamu acara mau ngapaian aja?” makan siang hari itu memilih menu mie ayam dan mie bakso. Bulan hanya memandang heran pada porsi Afi, Mie Bakso dengan porsi jumbo, masuk ke dalam mulut seperti tidak memakai filter gigi… lep...lep… ditelan dengan cepat tanpa ada rasa panas dan pedas padahal tadi ia melihat Afi menambahkan satu sendok makan sambal ke dalamnya.
“Kamu itu gak panas sama pedes?” Bulan menelan air ludah, terbayang pertarungan di dalam lambung, panas dan pedas melawan asam lambung. .. perfect combination.
“Aku perlu mematikan rasa stress dengan pedas dan panas bakso… otak seperti kehilangan fungsi berpikir rasa…” Afi memasukan potongan besar bakso yang dibubuhi sambal di atasnya sambil nyengir. Bulan hanya bisa menggelengkan kepala dan mencoba menghabiskan mie ayam miliknya, rasanya porsi ia makan seperti porsi untuk anak-anak.
“Aku besok perawatan, trus nyobaiin make up. Kamu besok ikut yah nemenin aku” air mineral botol dingin yang dibeli oleh Bulan ditegak habis setengahnya oleh Afi. Bulan hanya bisa menarik nafas.
“Besok aku ngantor neng, masa iya aku musti ijin dengan alasan nemenin yang mau kawinan, yang ada malah diketawain… orang lain yang nikah lah gw yang cuti… ntar dianggap pengen kawin lagi akunya” Bulan tersenyum sinis, kalau disebut pengen nikah siapa yang gak pengen. Hanya saja belum menemukan jodoh yang tepat.
“Alaaah besok kan Jumat, aku gak pede soal make up. Kalau perawatan aku tinggal selonjoran gitu di kasur… dikuwel kuwel sama orang.. Supaya keliatan kinclong… lah si Nico emang bisa bedain gw kinclong atau engga … yang ada dalam pikirin dia cuma mau nidurin gw aja palingan”
“Warna kulit mau belang atau polkadot gak akan dia pikirin kaleee… yang penting ada lubang yang bisa dimasukin” ucap Afi santai. Bulan langsung melotot, dipukulnya mulut Afi dengan sendok.
“Mulut kamu ya Allah… gak disekolahin… ngomong yang kaya gituan gak di filter… itu kalau kedengaran sama orang gimanaaaa Afiiiiiiii” Bulan celingukan melihat ke kiri dan ke kanan berharap tidak ada orang yang mendengar, untungnya jarak meja terdekat 2 meter dari mereka.
“Lah emang lu pikir laki-laki apa pikirannya kalau malam pertama.. Yah pasti pengen makpppppp..hffffttm……” mulut Afi sudah dibungkam oleh tangan Bulan.
“Kamu kalau ngomongnya gitu terus besok aku gak akan temenin” Afi langsung nyengir… membuat gerakan mengunci mulut dan melempar kunci, Bulan menarik nafas lega. Hidup dengan temannya ini seperti naik roller coster bikin cape jantung.
Akhirnya Bulan memutuskan untuk meminta ijin kerja setengah hari di hari Jumat, kalau yang lain bisa membuat Bridal Party untuk temannya. Life style kekinian yang sering ia lihat di sosial media, tapi dengan hanya sedikitnya teman yang Afi miliki, rasanya sulit terlaksana, masa iya Bridal Party hanya berdua, mengundang orang lain belum tentu Afi suka, serba salah jadinya. Akhirnya ijin menemani di hari Jumat ini menjadi pilihan paling tepat, ia ingin memberikan kenangan terakhir yang bisa ia lakukan untuk sahabatnya.
Acara pernikahan menggunakan dua pakaian adat yaitu Minang dan Palembang sesuai dengan suku asal Mama Nisa dan Papa Bhanu, di acara akad menggunakan baju adat Minang dengan warna burgundy dan kuning, saat melihat pakaiannya terlihat mewah dan elegan. Sedangkan saat pesta menggunakan pakaian adat Palembang sesuai dengan asal dari Papa Bhanu, pakaiannya juga terlihat menarik dan sangat terlihat mewah.
Bulan datang ke tempat MUA yang menjadi pilihan Afi, setelah mendapatkan ijin dari Marissa. Begitu tahu kalau yang menikah itu adalah adiknya Juno, tanpa banyak protes dan pertanyaan, ijin langsung keluar, ternyata istilah KKN ada manfaatnya kalau disaat mepet.
“Alhamdulillah ada Bulan… Afi pawangnya cuma kamu… sama Mama dari kemarin ngajak ribut terus” Mama Nisa tampak terlihat lelah.
“Maaf Ma.. tadi aku beresin kerjaan dulu, tadi udah beres kan perawatannya?” Bulan melihat Afi yang duduk diam di sofa dengan ekspresi cemberut. Mama Nisa menggelengkan kepalanya.
“Ihh tadi susah bangun pas pagi-pagi jadi telat, Mama milih kesini dulu baru perawatan, hadeuuh Mama udah cape ribut terus sama dia…” Mama Nisa melihat ke arah Afi dengan kesal.
“Fi… “ Bulan langsung nge gas suaranya.
“Sebentar Ma… Bulan mau bicara dulu” ditariknya lengan sahabatnya keluar ruangan di kantor MUA.
“Kamu tuh kenapa sih kaya anak kecil… besok kamu udah mau nikah tapi kelakuan malah jadi kolokan gitu” demi sahabatnya ia tadi memilih menggunakan mobil online supaya cepat, tapi malah melihat ekspresi mengesalkan di depannya.
“Mama tuh berisik soalnya… aku juga mikir buat pergi, tapi gak usah ngomong terus gitu… kaya aku gak punya telinga aja”
“Kamu tuh gak bersyukur yah… kamu masih punya Ibu yang nemenin kamu saat nikah, nyari baju, milihin make up, ngingetin kamu buat ini itu…. Kamu mau kaya aku?… hah”
“Aku mah gak punya Ibu Fi…. kalau aku ngebayangin nanti aku nikah… aku suka sedih duluan…”
"Gak bakalan ada yang nemenin nyari baju nikahan, ngobrolin soal make up, nyemangatin aku buat jadi istri yang baik.... kamu tuh beruntung banget tau gak Fi"
Mata Bulan sudah berkaca-kaca, sebetulnya pernikahan Afi membuat dirinya memikirkan tentang pernikahan juga. Ternyata dalam kondisi Bulan yang tidak lagi memiliki Ibu membuatnya merasa tidak lengkap dan tidak yakin untuk memikirkan pernikahan.
Afi hanya diam saat mendengar ucapan Bulan.
“Syukuri dan berterima kasih sama Allah Fi kamu masih punya Ibu yang nemenin kamu, bersikap baik sama Mama Nisa”
“Besok kamu udah lepas dari tanggungjawab mereka sebagai anak… ini hari terakhir”
“Berikan kenangan yang baik sama Mama kamu” Bulan menghentakan tangan Afi menariknya masuk. Dipintu masuk ditatapnya Afi dengan tajam
“Minta maaf sama Mama kamu… ini hari Jumat….hari baik, biasakan minta maaf sama orangtua minimal seminggu sekali, rutinkan di hari Jumat biar ingat… terlepas kamu mikir punya salah atau enggak… jangan nunggu mereka gak ada baru menyesal” ternyata pekerjaan itu gak cuma di kantor, pikir Bulan… ketemu Afi juga bisa dikategorikan pekerjaan. Mengajak kepada kebaikan… mengingatkan kalau salah.
Mama Nisa tengah melihat-lihat foto contoh makeup dari pernikahan yang digarap sebelumnya, saat Afi masuk mukanya terlihat masih gundah. Hari ini ada tiga agenda yang harus diselesaikan. Mengantar Afi untuk perawatan pra pernikahan, menyepakati make up dan memastikan layout gedung pernikahan dengan WO, karena sikap Afi yang malas-malasan tadi pagi, semua rencana harus dimundurkan jadwalnya.
“Mama… maafin Ade jadinya semua terlambat….” Afi menunduk, Mama Nisa menatap Afi heran dan kemudian menatap Bulan yang terlihat serius menatap Afi.
“Eh kenapa … ?” Mama Nisa menatap Afi.
“Iya mustinya ade tadi bangun lebih cepat gak bikin Mama kesel, maafin Ade” Afi memeluk Mama Nisa yang tengah duduk, berdiri di atas lutut dan memeluknya dengan erat. Mama Nisa tersenyum, rupanya saat tadi keluar Bulan membuat Afi berubah mode sikap. Mama Nisa mengacungkan jempol sambil memeluk Afi ke arah Bulan. Ia tersenyum, ada harapan yang muncul hari ini semua agenda bisa diselesaikan.
“Mama seneng kamu berpikir seperti ini, Ade harus lebih dewasa bersikap. Besok kamu udah nikah, udah jadi istri… tanggung jawabnya diserahkan sama Nico”
“Jangan kekanak-kanakan lagi yaaa” Mama Nisa mengusap rambut Afi dengan penuh rasa sayang, yang diusap mengangguk dengan diliputi perasaan segan dan penyesalan.
Bulan menarik nafas, pemandangan di depan membuatnya semakin merasa kehilangan sosok Ibu, ditepisnya perasaan sedih itu, ia tidak ingin terlihat sedih di depan Mama Nisa.
“Bulan nanti bisa nemani Afi ke salon tempat perawatan yah… nanti sekalian sama Bulan ikut perawatan juga supaya Afi ada teman ngobrol. Mama mau ke gedung mengecek kesiapan sama WO udah janjian” Mama Nisa langsung membuat reschedule supaya rencana hari ini selesai dan tenang menjalani hari H.
“Bajunya Bulan juga sudah siap tadi Mama tanyakan sama MUA nya, jadi sekarang sekalian kamu ngepasin kalau ok langsung dibawa saja” Mata Bulan membulat, semua hal ternyata sudah disiapkan oleh Mama Nisa, pantas saja ia tadi diminta datang.
“Makasih Mama… boleh ikutan peluk yahhh…. “ Mama Nisa membuka tangan satunya lagi untuk memeluk Bulan.
“Mama berdoa supaya Bulan juga bisa jadi menantu Mama, tapi kalaupun takdirnya tidak jadi menantu Mama gak apa-apa, karena buat Mama, Bulan itu anak Mama yang ketiga” diciumnya kening Bulan. Afi menyikut badan Bulan.
“Males aku punya sodara kaya dia… hobinya ceramah mulu” bibirnya mencibir kesal. Bulan langsung melotot.
“Kalau gak salah gak akan aku ceramahin… makanya jadi orang jangan cuma otak aja yang pinter, sikap juga musti pinter… Percuma punya IQ tinggi tapi EQ nya rendah…” Afi makin melotot.
“Kata siapa EQ aku rendah… buktinya aku gak baperan orangnya… disuruh minta maaf aku lakuin weeeee” Bulan menggelengkan kepala, kalau sama Afi jangan sampai berdebat orangnya keras kepala, diiyahin aja.
“Iya Afi itu IQ nya ok EQ nya juga ok… paket komplit deh buat Babang Nico” sekalian aja dipuji supaya hilang betenya. Mama Nisa tersenyum lega, untung saja Bulan datang menemani. Akhirnya semua rencana hari itu terlaksana dengan baik.
Bulan menolak menemani Afi tidur di rumahnya, selain merasa tidak nyaman karena banyak keluarga Afi yang datang, ia juga merasa perlu menjaga jarak jangan sampai mengesankan ingin terlihat dekat kembali dengan Juno. Biasanya kalau keluarga besar berkumpul mereka akan bertanya soal pasangan bagi anggota keluarga yang masih single, dan ia tidak ingin menjadi sasaran gunjingan perjodohan dengan Juno, membuatnya merasa tidak nyaman.
“Gembuuuullll….. Banguuuun…”
Pagi-pagi sebelum alarm berbunyi jam lima pagi pesan yang dikirim Afi sudah mendahului.
“Apaaa… ini juga udah bangun… tenang aja aku ntar kesana” Bulan melirik beker di meja sudut di kamarnya, jam 4.30 ternyata Afi sudah bangun.
“Kamu sekarang kesini… kata Mama dimake up ini sama Asisten MUA… udah siap” Bulan menarik nafas, dari kemarin Mama Nisa memaksanya untuk dimake up sebagai bagian paket lengkap untuk anggota keluarga, harapannya kalau tidak menginap ia bisa makeup an sendiri. Kalau dimakeup oleh MUA suka lebih tebal dari biasanya.
“Belum Adzan Subuh bentar lagi… kamu buruan mandi… aku butuh ditemenin.. Takut alisnya ketebelan… ntar aku ngambek malah jadi makeup nya jelek” Kelemahan Afi adalah mengungkapkan ketidaksetujuan dalam suatu hal, cenderung frontal dan tidak bisa memilih kata yang halus, sehingga seringkali membuat orang salah paham.
“Iya… iya… aku mandi, solat langsung cuss berangkat… Tenang Non… jangan lupa Shalat Sunat Hajat dulu yaaah biar lancar acara hari ini… Ganbatte Kudasai” Bulan mengakhiri pesannya, bersiap mandi dan melakukan kewajibannya kepada sang Pencipta.
Ia sampai di rumah Afi jam 5.30 hanya tiga puluh menit karena jalanan masih sepi. Hari Sabtu kebanyakan orang keluar pagi hari untuk bersepeda atau jogging. Dilihatnya deretan kendaraan di rumah Afi, ada 5 mobil tampaknya sebagian keluarga besar sudah datang. Afi memang memiliki rumah yang luas, sehingga bisa menampung banyak orang.
“Assalamualaikum…. “ Bulan mengetuk pintu yang setengah terbuka.
“Waalaikum salam… “ terdengar suara perempuan, dan keluar dari ruang tamu. Perempuan yang mirip dengan Mama Nisa, mungkin yang diceritakan saat acara pertunangan Afi dulu, adiknya Mama Nisa.
“Selamat pagi Tante, saya Bulan temannya Afi, tadi disuruh menemani Afi lagi make up an katanya yah” Bulan salim dan menghampiri perempuan cantik yang memakai baju daster di depan pintu.
“Owh ini Gembulan..Gembulan yang disebut-sebut sama Afi…. masuk Nak… itu Afi protes melulu hadeuuuh kasian MUA nya… Saya Rista adik Mamanya Afi” adiknya Mama Nisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Heheh biasa Afi mah Tante seneng ribut… katanya kalau gak ribut gak asyik” Bulan mengikuti Tante Rista ke dalam, di meja makan tampak dua orang laki-laki muda sedang makan, ternyata Juno dan disebelahnya laki-laki muda yang mirip dengan Juno tapi warna kulitnya lebih gelap dan mukanya lebih ceria dan lebih bersahabat tidak seperti Juno.
Bulan melambaikan tangannya dengan maksud menyapa Juno. Tapi yang membalas bukannya Juno malah laki-laki yang sebelahnya.
“Hai Kaka….” sambil tersenyum lebar, Bulan langsung tertawa lebar, dia tidak menyangka ada laki-laki yang mirip Juno tapi tampilannya lebih hangat dan menyenangkan.
“Heehh…. Sok kenal kamu… temannya Kak Afi.. jangan suka iseng”
“Gembulan sudah sarapan belum… Tante sudah siapkan sarapan… makan dulu baru temani Afi ke atas”
Bulan tersenyum mendengar panggilan Tante Rista kepadanya, pasti ia mendengar dari Afi sehingga disebut Gembulan.
“Gak usah Tante, aku mau langsung ke atas aja, nanti sarapannya setelah urusan sama Afi selesai”
“Ehh nanti malah kelupaan, sarapannya bawa aja ke atas supaya sambil makan sambil nemenin Afi”
“Kata Kak Nisa kamu pawangnya Afi”
“Ini segini cukup nasinya?” Tante Rista langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng.
“Cukup Tante… eh kalau Afi sudah sarapan belum yah?”
“Sekalian aja mau saya suapi supaya nanti beres”
“Tadi udah Tante bawain ke atas sarapannya Afi… kalau Bulan bisa menyuapi makasih banget”
“Ini sarapannya Bulan” Tante Nisa menyodorkan piring yang berisi nasi goreng dan telur dadar kepada Bulan.
“Kak Juno aku ke atas dulu” Bulan pamitan pada Juno yang dari tadi hanya memandangnya tanpa menyapa sepatah katapun. Juno hanya mengangguk tapi yang sebelahnya terlihat penuh semangat untuk menjawab.
“Aku kok gak disapa Kak… padahal aku paling suka sama Kakak Kakak…. Rasanya gimana-gimana gitu loh Kak” Bulan jadi tersenyum teringat lagu yang dinyanyikan Anjar. Ternyata lagu itu lagi hits banget.
“Sayangnya aku gak suka sama Dek Adek… Soalnya keliatan imut gimana-gimana gitu yah Dek” balas Bulan sambil beranjak pergi.
“Ahahahahahah…. Raksa kamu kena batunya… “ Tante Rista tertawa mendengarnya. Dilihatnya Bulan yang naik ke kamar Afi dengan membawa tas, baju yang akan dipakai dan piring nasi.
Di depan kamar Bulan bisa mendengar suara Afi.
“Alisnya jangan ketebelan aku paling gak suka liat perempuan yang alisnya kaya setrikaan nempel di dahi” Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya, ampun deh Afi.
“Sabarr deee, diliat dulu… kamu dari tadi komplain melulu, Mama jadi gak tenang ini di dandaninanya kalau kamu ribut terus” terdengar suara Mama Nisa. Rupanya mereka berdua di dandani di ruangan yang sama.
“Assalamualaikum… “ Bulan mengetuk pintu sambil masuk...dan secara bersamaan keduanya berteriak.
“Gembuuuuul tolongin gueeeeee” Afi seperti mau menangis…
“Alhamdulillaaaaaah…. Mama udah streeesss…” Mama Nisa terlihat baru sepotong di makeup.
“Heheheheh sabar-sabar Ma….saya sudah siapkan obat penawar racun…. Nasi Goreng… Afi kalau laper suka rungsing” Bulan menyimpan pakaian pesta dan tasnya di kasur Afi.
“Ahhh dari tadi sama Mama mau disuapin tapi gak mau…. Rungsing terus” jawab Mama Nisa.
“Mama pindah ruangan aja deh biar Afi saya yang handle…” Mama Nisa langsung mengacungkan jempol. Ia kemudian beranjak pergi.
“Afi kamu ditemani sama Bulan… jangan manja… ingat 3 jam lagi kamu musti udah cantik” Mama Nisa masih saja mengingatkan.
“Iya Mama jangan khawatir… Afi aku bantuin” Bulan menarik nafas.
“Mba … gak apa-apa kan saya sambil suapin mumpung belum ke lipstik” Bulan meminta ijin terlebih dahulu. Perias pengantin yang sedang merias Afi mengangguk setuju, perempuan setengah baya yang tampak sedang menyabarkan diri karena komplainan dari Afi yang tidak berhenti.
“Fi… aku ngeliatin make up sambil nyuapin kamu… Kamu musti percaya sama Mbak MUA supaya hasilnya bagus”
“Nama saya Hanny bukan MUA” perias pengantin tersebut tersenyum disebut Mbak MUA. Asistennya tampak tersenyum lebar.
“Ehh iya Mbak Hanny ijin mau menyuapi Afi” Mbak Hanny mengangguk memberikan persetujuan, daripada di komplain trus lebih baik mencoba berbagai cara agar calon pengantin tidak komplain dengan dijejali makanan di mulutnya.
“Pokoknya aku pengen tampilannya kaya Tika Bravani” akhirnya Afi menyerah.
“Beres … sama Mbak Hanny nanti dibikin duplikatnya… Kamu jadi Tika CDvani deh...Aaaa” Bulan menyuapi Afi dengan satu suapan penuh, ternyata memang sahabatnya lapar, nasi goreng langsung dikunyah cepat.
“Tika CDvani siapa Mbak… kembarannya?” Mbak Hanny mengerutkan kening. Bulan tertawa iseng…
“Bukan Mba… yang edisi aselinya kan Bra vani… kalau yang ini biar aja CD vani… edisi kw soalnya” Bulan tertawa iseng, tapi rupanya Mbak Hanny masih loading, keningnya berkerut. Akhirnya asistennya tidak sabar.
“Mbak… yang satu Bra… satu lagi CD… hadeuuuh saya suapin juga yah Mbak Hanny biar gak loading” Bulan tertawa… ternyata asisten lebih cepat menangkap.
“Oalaaaaah…. Kepikir aja yah Bra sama CD… otakku kok mentok… gak loading” Mbak Hanny tersenyum malu mentertawakan dirinya.
Kalau disuruh memilih diantara satu… memilih pakai Bra atau CD?
Pertanyaan macam apa itu di bulan Puasa… sangat absurd.