Rembulan

Rembulan
Love YourSelf


Kevin PoV


Melihat anak itu memilih naik ojek online membuat aku merasa kehilangan sesuatu yang dulu rasanya menjadi bagian dari diriku. Semakin lama aku terseret pada suatu gaya hidup yang sebetulnya tidak menjadi bagian dari jati diri.


Ganti mobil minimal lima tahun sekali, kalau tidak bisa membeli mobil sekelas MPV rasanya tidak menjadi bagian dari komunitas kelas elit di perusahaan. Belum lagi Inne akan mengomel soal kebutuhan untuk tampil selalu menjadi yang terbaik agar keluarga bisa melihat capaian terbaik yang bisa kami raih.


Semenjak pernikahan dengan Inne karena hamil Elma semuanya tidak pernah kembali lagi normal. Kekecewaan Mama terutama karena harus menikah karena kehamilan diluar pernikahan seperti mencoreng nama keluarga yang selalu diagungkan.


Bagi keluarga menjadi suatu pukulan besar karena anak yang selama ini menjadi kebanggaan karena capaian prestasi di sekolah dan akan menjadi penerus perusahaan keluarga melanggar norma sehingga menjadi anak yang tidak diharapkan kehadirannya pada acara keluarga. Sepintar dan secantik apapun Elma selalu tampak gurat kesedihan dan kekecewaan saat melihatnya. Hingga akhirnya aku harus memilih untuk keluar dari perusahaan untuk menunjukkan bahwa aku bisa menunjukkan capaian yang terbaik walaupun tidak bekerja di perusahaan keluarga.


Ucapan Bulan tadi seperti menohok semua arti kebahagian yang menurutku menjadi tujuan hidup selama ini. Membuatku berpikir apakah semua kemewahan dan capaian ini sebagai kenikmatan dunia semata yang semu adanya. Kenapa kenikmatan dunia ini tidak terasa lagi membahagiakan aku dalam menjalaninya.


Melihat perempuan itu memilih naik ojek online tapi dengan muka yang tersenyum bahagia karena bisa pulang lebih cepat untuk membantu suami pindahan dari rumah ke Ruko. Ruko… terbayang olehku tempat tinggal macam apa yang bisa memberikan kenyamanan dengan bentuk kotak kaku dan terbatas fasilitasnya.


Tapi kembali membuatku termenung dengan menyebut kalau rumah bukan soal bentuk bangunan, bukan soal besar kecil, bukan soal gaya minimalis atau konvensional. Tapi rumah adalah tempat kita pulang dimana kita merasakan ketenangan bersama orang-orang yang kita cintai. Tapi kenapa walaupun sekarang sudah bisa membeli rumah di cluster khusus dan pengamanan yang ketat dan masuk kategori mewah terasa kosong dan hampa.


Hanya ada Elma yang datang menyambutnya, Inne selalu pulang paling akhir karena harus memastikan semua transaksi dan kegiatan operasional telah dituntaskan dengan baik di cabang. Datang dengan kondisi lelah dan lebih sering emosional membuatku memilih untuk menjauh daripada bertengkar karena hal kecil. Kehidupan se x terasa menjadi hambar lebih pada pemenuhan kebutuhan dan kewajiban antara suami dan istri.


Dulu Inne penuh dengan energi kehidupan, semangat untuk menjadi yang terbaik, tertawa akan semua lelucon kecil yang aku lontarkan. Bersama dengannya membuatku merasa menemukan sumber energi yang aku butuhkan saat harus survive untuk menunjukkan prestasi terbaik di perusahaan.


Pertama kali bertemu dengannya saat membuat perjanjian pinjaman dari Bank untuk perusahaan. Papa tidak bisa hadir karena kondisi kesehatan yang memburuk karena glukoma. Waktu itu Inne masih menjadi staf di bagian kredit, dia sudah terlihat outstanding dibandingkan rekan kerjanya. Penampilannya yang cantik dan kemampuan berkomunikasi yang baik langsung membuatku terpesona.


Awal mula memang ia selalu menjaga jarak tapi aku bisa melihat kalau dia tertarik untuk mencoba mengenalku lebih jauh. Sampai akhirnya luluh untuk mau dijemput kalau pulang kantor dan pergi berdua disaat waktu senggang. Dia tidak pernah cerita kalau saat itu dia sudah memiliki teman dekat, dan memang tidak pernah terlihat bersama untuk datang menjemputnya atau apapun itu.


Sampai akhirnya kesalahan yang dibuat gara-gara acara party bareng teman-teman di club. Sudah lama sebetulnya tidak pernah berkumpul dengan teman-teman di club, anak-anak teman keluarga yang suka hang out. Saat itu aku tengah keluar dengan Inne dan bertemu mereka di restoran. Melihat aku membawa Inne mereka mengajak untuk berkumpul bareng dengan teman-teman dan pasangannya di Club. Sebetulnya aku sudah malas untuk pergi, tapi Inne dengan segala keingintahuannya mengajak untuk ikut serta.


Dan sudah diperkirakan kalau minuman alkohol, anggur dan cocktail akan dihidangkan karena Justin yang berulang tahun. Dia memang terkenal royal diantara semua anak-anak Club mungkin karena ingin menjaga nama julukan Crazy Rich Semarang. Keluarganya menjadi pemilik kuliner dan oleh-oleh yang terkenal di Semarang.


“Please Kevin aku mau cobain… Please gak banyak aku janji.. Aku cuma pengen tahu” itu kata-kata yang diucapkan Inne saat mereka menawarkan cocktail dan anggur. Awalnya aku menolak tapi muka Inne yang memohon dengan cantik dan lucunya membuatkan membiarkannya untuk mencoba, seharusnya memang waktu itu aku tidak membiarkannya mencoba…. Huft… bayangan keliaran malam itu jadi membekas dalam ingatan.


Semuanya jadi diluar kendali dan berakhir dengan hubungan yang intim yang sama-sama diinginkan dan penuh dengan gairah. Tidak ada penyesalan saat itu, malah ada keinginan untuk terus bersama dan melakukannya lagi dan lagi, sampai akhirnya Inne hamil. Bagiku tidak menjadi masalah, aku menyukai dia dan aku tahu kalau dia menyukaiku juga. Aku tahu kalau aku adalah yang pertama melakukan hubungan intim dengannya, yang tidak aku tahu kalau selama ini aku bukanlah pria yang pertama mengisi hatinya.


Ada laki-laki yang kemudian dia tangisi karena harus ditinggalkan, ada laki-laki yang ia tangisi karena rasa bersalah. Aku tidak pernah bertemu dengannya, yang kutahu hanya fotonya yang disimpan pada sebuah kotak yang disembunyikan di lemari pakaiannya.


Inne tidak pernah tahu kalau aku tau dia masih menyimpan semua kenangannya tentang laki-laki itu. Tidak sengaja sebetulnya, saat aku harus mengeluarkan barang-barang di lemari karena pohon tetangga menimpa atap sehingga membuat air hujan masuk. Semua foto dan kenangan dari laki-laki itu dia simpan dengan baik, laki-laki yang baru aku temui saat dia menjemput Bulan.


Kalau saja foto itu aku lihat di waktu dulu, mungkin aku tidak akan mengenalinya. Tapi ternyata Inne masih suka membuka dan melihat semua kenangannya bersama laki-laki itu walaupun sudah hampir lima tahun berlalu. Aku melihatnya menangis di kamar Elma sambil menatap foto-foto itu, saat itulah aku melempar semua barang-barang itu keluar. Untuk apa menangisi sesuatu yang sudah ia tinggalkan? Kenapa dia masih menangisi orang yang sudah tidak ada dihadapannya?. Apakah semua yang sudah aku lakukan tidak memiliki nilai dimatanya?.


Ternyata keingintahuanku seperti terjawab, saat Bulan dengan ringannya memperkenalkan tunangannya aku terhenyak. Mengapa merasa kenal dengan dia, tidak perlu waktu lama sampai aku menyadari bahwa ternyata laki-laki yang foto-fotonya dalam kotak kenangan Inne adalah laki-laki yang sama yang dikenalkan Bulan sebagai tunangannya. Juno… what a joke dunia memang hanya selebar daun kelor.


Rupanya dia sudah move on, sudah menemukan perempuan pengganti pacarnya yang hilang, perempuan yang sebetulnya menarik perhatianku sejak pertama karena kemampuannya untuk bisa dekat dengan Elma. Aku tidak menyangka kalau laki-laki itu akan bertunangan dengan Bulan karena mereka berdua adalah tipe perempuan yang berbeda.


Inne selalu berusaha untuk terlihat sempurna, pakaian, make up, sikap dan karir yang terbaik yang bisa ia capai. Tidak ada laki-laki yang tidak mengatakan kalau dia tidak cantik. Hanya saja tidak ada kehangatan hati, tidak ada perasaan damai saat bersama Inne. Seperti selalu harus berada di arena pertempuran untuk berkompetisi dan harus selalu menjadi pemenang.


Bulan… hmmm perempuan itu, apa yah...seperti diciptakan untuk mencari dan menciptakan kebahagian bagi orang yang ada di dekatnya. Berusaha melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ada di dekatnya, tidak ada keinginan untuk menjadi pemenang hanya ingin membuat dunia berputar sehingga semuanya menjadi baik-baik saja, baginya menjadi support sistem adalah sebuah kebahagiaan. Dan ternyata bagi Anjar ia bukanlah support system dia sudah menjadi pusat kehidupan sehingga saat Bulan menikah, Anjar adalah orang yang paling terpukul selain Inne.


Inne yah… dia terpukul saat aku ceritakan kalau pada akhirnya laki-laki yang ia tangisi itu sudah melupakannya dan menikah dengan Bulan. Selama seminggu matanya selalu sembab di pagi hari, sampai akhirnya batas kesabaranku habis.


“Mau sampai kapan kamu menangisi laki-laki itu?”


“Mestinya kamu malu!”


“Aku sudah muak dengan muka sedih yang kamu perlihatkan setiap hari!”


“Kamu harus sadar, kamu sudah menjadi ibu, paling tidak jadilah ibu yang baik buat anak kita kalau kamu tidak bisa menjadi istri yang baik buat aku”


“Aku memang perempuan yang buruk”.


“Tidak pernah bisa menjadi perempuan yang diakui oleh keluargamu”.


“Tidak pernah bisa memenuhi keinginanmu untuk menjadi istri yang bisa melayani suami di rumah dengan baik, mestinya kamu tau itu waktu dulu kita menikah”.


“Mungkin kalau bukan karena Elma kamu tidak akan pernah menikah denganku”.


“Aku tidak lagi merasakan kebahagiaan bersama dengan kamu”.


“Aku merasa ada yang salah... selalu menghantui hati aku”.


“Mestinya… mestinya dulu aku tidak pernah berhubungan dengan kamu….. ”


Mestinya memang kita tidak usah menikah… semua pengorbanan yang aku lakukan tidak akan pernah membuatnya merasa cukup, semua capaian yang aku upayakan untuknya tidak pernah membuatnya bahagia, yang ia bisa lakukan hanya menyalahkah ketidakbahagiannya pada orang lain, perempuan egois yang terlalu mencintai dirinya sendiri.