
Kilau cincin yang terkena sinar lampu ruang kerja Athar begitu terlihat cantik, sebuah cincin dengan desain kusus yang terukir nama Kenanga begitu terlihat manis dan elegan kini melingkar sempurna di jari manis Athar. Ya, sepekan berlalu pasca pesta pertunangannya dengan Kenanga di gelar, tak terasa sepekan sudah mereka bertunangan, pesta pertunangan yang di gelar hanya untuk kerabat dan teman dekat, memang awalnya keluarga Athar ingin menggelar acara yang mewah, namun karena sikap sederhana Kenanga, gadis itu meminta supaya acara bisa di gelar dengan sederhana saja. Alhasil acarapun di gelar untuk orang-orang terdekat saja.
"Semoga lekas sembuh" Athar menyerahkan selembar resep pada pasien terakhirnya hari ini
"Terimakasih dokter" jawab pasien tersebut lalu berlalu dari ruang kerja Athar.
"Akhirnya" Athar menghela nafasnya lega sambil membenarkan posisi letak kacamata berbingkai emas yang di kenakan olehnya.
Sejenak Athar melihat ponsel miliknya, tak ada pesan masuk dari Kenanga, gadis itu memang tidak pernah memberinya kabar saat jam kerja berlangsung, tapi setiap malam pasti Kenanga menghubungi Athar lewat panggilan video untuk bertukar kabar, meski seperti itu tidak dapat mengobati rasa rindu Athar terhadap gadis itu. Sudah empat hari ini memang Kenanga berdinas di luar kota dalam urusan pekerjaan, meski baru empat hari rasanya rindu Athar terhadap Kenanga meletup-letup di dalam dadanya. Entahlah menurut Athar, Kenanga sangat sadis, karena setelah acara pertunangannya di gelar gadis itu malah pergi ke luar kota meski Athar sudah meminta supaya kepergiannya di tunda bahkan Kaka Athira juga bersedia untuk membantu berbicara pada pimpinan perusahaan tempat dimana Kenanga bekerja, tapi sayangnya gadis itu tidak mau menyalahgunakan kekuasaan yang di miliki keluarga Athar.
"Evan, kau hari ini ada acara?"
"Tidak, memang kenapa?" tanya Evan masih fokus meng-input data pasien dalam komputer kerjanya
"Minum kopi bersama, kita sudah lama tidak ngopi bersama"
"Ahh, aku tau, dokter ini pasti kesepian karena tunangan dokter sedang berada di luar kota" jawan Evan terkekeh meledek dokter sekaligus temannya itu
"Sialan kau ini" Athar melemparkan pulpen yang sedang di pegangnya namun Evan dengan cepat menghindarinya
Keduanya kini tertawa bersama, tawa keduanya terdengar renyah dan menggema memenuhi ruang kerja Athar. Begitulah keakraban dua sahabat sekaligus partner kerjanya. Jam kerja pun telah berakhir, Evan dan Athar memutuskan untuk mampir ke kedai kopi sebelum kembali ke rumah masing-masing.
^
Athar dan Evan menikmati secangkir kopi dan sepiring cemilan yang di pesan, keduanya terlihat mengobrol santai menikmati waktu senggang keduanya melepas letih dari rutinitas sehari-hari yang keduanya kerjakan, melayani masyarakat memang terlihat ringan tapi bila di jalankan tentu saja itu tidak seringan yang orang pikirkan.
"Athar..." suara seorang wanita yang tak asing terlihat menyapa Athar
"Dokter Sherin" kali ini Evan yang menimpalinya
Sherin, gadis itu baru saja kembali dari liburannya ke luar negri, namun sayangnya saat dirinya kembali malah mendapati kabar kalau Athar telah bertunangan dengan wanita lain, waktu sebulan benar-benar tak di sangka oleh Sherin kalau Athar malah menemukan wanita lain bahkan keduanya menggelar acara pertunangan dengan begitu cepat, padahal saat Sherin mengajukan cuti sebulan yang lalu dirinya yakin Athar belum memiliki wanita idaman lain, bahkan pertemuan mereka yang terakhir kali saat makan malam juga baik-baik saja.
"Dokter Sherin" jawan Athar
Tak ada jawaban dari mulut Sherin, kedua matanya melirik tajam ke arah Evan yang malah mengangkat kedua alisnya tak mengerti arti tatapan tajam dari Sherin. Sikap tak peka Evan membuat Sherin semakin marah di buatnya.
"Bisakah kau tinggalkan kami berdua?" tanya Sherin dengan suara yang sama sekali tidak ramah
Evan mengerutkan keningnya, merasa kesal akan perkataan Sherin yang seenaknya saja mengusir dirinya serta mengganggu waktu santainya bersama Athar, namun Evan tak memiliki pilihan lain selain berpindah meja dan menghabiskan sisa kopi miliknya.
Setelah kepergian Evan, kini tinggal ada Athar dan Sherin yang duduk saling berhadapan dan terpisahkan oleh meja kayu. Sherin menatap tajam, namun sorot matanya juga terlihat sedih dan sendu. Sebagai wanita tentu saja hatinya sakit saat mendengar pria yang sudah sejak lama dirinya kagumi malah memilih dengan wanita lain.
"Merebutku?" Athar mengerutkan keningnya "Sherin kita ini hanya bersahabat, sejak lama bahkan sejak dulu sampai detik ini aku hanya menganggapmu sahabat dan tidak lebih, jadi jangan katakan kalau tunanganku merebutku dari mu" tegas Athar
"Athar !!" Bentak Sherin, bahkan suara Sherin berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung kedai kopi tersebut
"Sherin pelankan suaramu" pinta Athar
"Sherin, apakah sikapku selama ini tidak bisa membuatmu tahu kalau aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu selain perasaan seorang teman?" Athar menghela nafasnya
"Maaf bila kata-kataku terdengar kasar terhadapmu, tapi semua ini aku lakukan supaya kamu paham dan berhenti menaruh hati padaku. Karena aku sudah memiliki pilihan hidupku sendiri"
"Athar.." air mata Sherin tak bisa di bendung lagi, hatinya semakin terasa sakit
"Sherin pasti di luar sana kau bisa menemukan jodoh yang lebih baik dariku. Aku yakin itu" suara Athar terdengar lugas dan jelas
"Evan, ayo kita pulang" Athar beranjak berdiri dan ingin segera mengakhiri drama Sherin padanya.
^
Athar melemparkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidurnya, tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja. Namun rasa lelahnya seakan lenyap saat dering ponsel panggilan masuk dari Kenanga terdengar oleh Athar, dengan cepat Athar mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana yang di kenakannya kala itu.
"Halo pak dokter" sapa Kenanga dari balik layar ponsel milik Athar, bahkan gadis itu menyuguhkan senyuman hangat yang membuat Athar semakin rindu
"Ternyata tunanganku sangat sibuk hingga melupakanku seharian" Athar mengerucutkan bibirnya dengan manja, membuat Kenanga malah terkekeh di buatnya
"Apa kau baru saja kembali?" Tanya Kenanga sembari melihat pakaian yang Athar kenakan
"Sepulang bekerja aku mampir kedai kopi bersama Evan, jadi aku baru saja kembali"
"Bersama Evan atau bersama...." Kenanga tak melanjutkan lagi perkataannya
"Mana mungkin, tidak mungkin aku bersama wanita lain. Makannya lekaslah kembali, aku sangat merindukanmu"
"Bohong" jawab Kenanga
"Astaga, apa perlu dokter bedah melakukan operasi dan membelah dadaku?" jawab Athar lebay, entahlah Athar suka sekali berkata berlebihan untuk menggoda Kenanga
"Menggelikan" jawab Kenanga dengan ekspresi muntah
Keduanya asik bertukar cerita tentang penatnya hari ini, bahkan Athar terus saja mengeluarkan kata-kata yang menurut Kenanga sangat di rasa menggelikan, bila dekat mungkin Kenanga akan menutup mulut Athar dengan lakban supaya tidak terus menerus mengatakan kata-kata yang menggelikan padanya.