
Selama tiga hari terakhir, kesibukan Bulan sangat padat, mulai dari menyeleksi perawat yang akan mengecek kondisi kesehatan Bapak saat ia tinggalkan, membuat jadwal fisioterapi, membuat list menu makanan yang bisa dimakan Bapak serta membuat janji dengan orang yang membantu Bapak saat Benny tidak ada. Untung saja ada menantu si Ema yang kebetulan sedang mencari pekerjaan dan ternyata sering membantu Bapak membelikan makanan untuk ayam dan burung sehingga Bapak sudah kenal dengannya.
Hal yang membuat Bulan pusing adalah membengkaknya biaya pengeluaran yang harus ia siapkan agar semua backup system dapat berjalan. Biaya perawat kunjung, fisioterapi setiap minggu, dan asisten khusus yang membantu Bapak. Ia harus segera kembali bekerja agar bisa memenuhi semua kebutuhan ini. Tidak mungkin ia membicarakan semua permasalahan ini dengan Juno, sudah terlalu banyak hutang budi yang ia rasakan pada laki-laki itu.
“De… Teteh musti ke Jakarta dulu”
“Sudah lebih dari sepuluh hari Teteh di Bandung, kalau terlalu lama nanti kena surat peringatan”
“Ade harus bantu jaga Bapak begitu selesai sekolah”
Begitu banyak pesan yang diberikan Bulan kepada Benny saat akan pergi dari rumah, Bapak mendorong Bulan untuk kembali bekerja ke Jakarta, bersikeras kalau sekarang kondisinya sudah lebih baik dan akan rajin minum obat serta terapi. Proses pemulihan Bapak termasuk cepat, walaupun masih terlihat menyeret kaki dan tangan belum berfungsi normal tapi sudah bisa beraktivitas.
Hal yangingin Bulan pastikan untuk bisa dilakukan oleh Bapak adalah kemampuan Bapak untuk memenuhi kebutuhan primer seperti makan, minum dan buang air. Saat kembali ke rumah yang dilakukannya pertama kali adalah merubah kloset dari jongkok menjadi kloset duduk, dan menambah semprotan untuk kloset, sehingga Bapak mudah untuk membasuh diri. Pasti perlu pembiasaan dari kloset jongkok ke kloset duduk tapi mau bagaimana lagi ini adalah fasilitas yang akan memudahkan Bapak kedepan.
Untungnya tangan kanan Bapak masih berfungsi normal, sehingga untuk kegiatan makan dan minum tidak menjadi masalah. Bulan tidak lupa mengatur alarm untuk jadwal minum obat di hp Bapak sehingga tidak terlupa, memastikan sirkulasi udara di kamar sehingga oksigen dapat keluar masuk dengan baik. Untungnya Mang Udin menantu Ema bisa bekerja cepat sehingga perbaikan-perbaikan kecil di rumah dapat dilakukan.
Satu hal penting yang terlewat dari perhatian Bulan adalah handphone miliknya. Setelah dibawa ke pusat servis ternyata rusak sistem kelistrikannya sehingga sama sekali tidak bisa melakukan pengisian baterai. Ada beberapa spare part yang harus diganti hingga akhirnya Benny memilih membawa pulang hp yang rusak karena biayanya sama dengan membeli handphone baru.
Membeli handphone baru untuk saat ini tidak menjadi prioritas karena banyaknya keperluan yang harus ia siapkan, Bulan baru menyadari arti penting dari alat komunikasi itu, saat ia telah mulai berangkat ke Jakarta dan duduk di mobil travel. Ia baru ingat belum mengabari Juno kalau ia sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta, terbayang kalau suaminya menelepon ke Hp Bapak dan diberitahu kalau ia pergi ke Jakarta tanpa memberitahu Juno terlebih dahulu. Mudah-mudahan saja semua orang bisa mengerti, hanya itu yang bisa harapkan saat ini.
Ia baru sampai di Jakarta jam 11 malam, untunglah daerah Setiabudi selalu ramai dengan aktivitas, penjual nasi uduk pun masih ramai yang datang membeli. Berjalan kaki menyusuri suasana Jakarta di malam hari ternyata menyenangkan juga. Biasanya kalau pulang dari Bandung, ia memilih menggunakan ojek online tapi karena tidak ada hp maka harus turun sebelum di pool travel dan berjalan sedikit menuju kost-an.
Badan Bulan terasa lelah, menyiapkan semua keperluan Bapak dan merawat Bapak hingga bisa beraktivitas sendiri ternyata menguras tenaga dan pikirannya. Dalam sehari terkadang ia hanya tidur empat jam kurang. Kekhawatiran kalau Bapak mengalami kesulitan saat ia tinggalkan menjadi beban terbesarnya. Ia tidak ingin membebani Benny yang sedang menyiapkan ujian nasional. Semuanya harus berjalan dengan baik walaupun ia tinggalkan ke Jakarta.
Tidak butuh lama untuk Bulan bisa tertidur, kurang tidur selama berhari-hari ditambah dengan banyaknya pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan membuat tidurnya sangat nyenyak, hingga ia baru terbangun jam 8 kurang.
“Teteeeeeh” terdengar suara perempuan jelas sekali di telinganya
“Teteeh berangkat sekarang ayooo jangan lama-lama makannya” suara Ibu, ia memang selalu lama kalau sarapan, makanan dikunyah lama sambil nonton TV. Film kartun kesukaanya tampak jelas di matanya Tom and Jerry, ia masih tertawa-tawa sampai suara itu terdengar lebih keras lagi.
“Teteh!” teriakan yang terakhir membangunkan Bulan dari tidur lelapnya, kaget melihat kamar sudah mulai terang, dan udara mulai hangat, ia tidak menghidupkan AC hanya kipas angin saja. Ibu ternyata walaupun sudah meninggal masih bisa membangunnya dengan cepat.
“Ya Allah udah jam 8” melompat dari tempat tidur dan menyambar handuk, melupakan aturan kalau bangun tidur harus duduk 3 menit dan baru beraktivitas. Terlalu memalukan rasanya kalau harus datang terlambat setelah izin mengambil cuti selama lebih dari sepuluh hari. Terlambat seperti ini tidak mungkin menggunakan transportasi umum, memanggil gojek online juga tidak mungkin karena tidak ada hape, kalau seperti ini baru terasa kalau manusia sudah tidak bisa terlepas dari alat bantu itu. Untung saja ojeg pangkalan masih bertahan mangkal di ujung jalan, walaupun lebih mahal dari harga biasanya tapi tetap menjadi solusi praktis.
Tiba di kantor jam delapan tigapuluh menit, sebelum masuk ke gedung ada rasa enggan dan tidak nyaman yang dirasakan Bulan. Apa yang harus ia katakan saat bertemu Anjar? Harus bersikap bagaimana? Saat ini ia tidak membawa buah tangan apapun yang bisa mengalihkan perhatian atau jadi bahan percakapan kalau mereka bertemu. Kemarin fokus perhatiannya hanya menyiapkan Bapak sehingga tidak berpikir untuk membeli oleh-oleh makanan untuk ke kantor.
Lampu ruangan sudah hidup artinya sudah ada yang datang, biasanya Anjar yang paling dulu datang.
“Assalamualaikum..” perlahan Bulan membuka pintu kantor, rasanya seperti berbulan-bulan ia meninggalkannya.
Belum sempat mengumpulkan nyawa tepat di depan pintu Anjar berdiri tampak kaget melihatnya masuk, memegang gelas kopi seperti akan pergi keluar. Mukanya tampak datar, tidak menjawab hanya menatap Bulan dengan lekat.
“Eh Anjar udah datang… Selamat Pagi… Long time no see” mencoba berbasa basi sekedar menutupi rasa gugup. Yang ditanya hanya diam dan kemudian membuka pintu lebih lebar dan keluar dari ruangan. Bulan menarik nafas panjang, ia sudah memperkirakan akan seperti ini, tapi tetap saja terasa menyakitkan. Menyimpan tas dan dokumen yang dulu dibawanya pulang. Untungnya semua pekerjaan bisa dilakukan dengan jarak jauh, beberapa pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sudah ia kirimkan lewat email.
Mencoba bersikap seperti biasa, saat sebelum ia mengambil cuti dan tragedi kedatangan Anjar ke rumah sakit. Membuat kopi dan merapikan dokumen yang ada di tempat arsip sambil menunggu kedatangan Marissa dan Kevin. Hari ini ia tidak sempat sarapan, perutnya sudah mulai terasa perih, harus segera diisi oleh makanan sebelum beraktivitas. Mudah-mudahan saja ia masih memiliki persediaan biskuit. Tapi dasar nasib, sebelum sempat membuka kemasan biskuit Marissa keburu datang.
“Bulaan… eh kamu sudah masuk? Gimana kondisi Bapak kamu sudah bisa ditinggal?” Marissa menghampiri Bulan, dahinya langsung berkerut.
“Kamu kok jadi kurus gitu, cape yah? Kenapa maksain langsung kerja mestinya istirahat dulu”
“Ehehehe keliatan emang Mbak… hehehe gak apa-apa deh bagus aja gak usah diet” Bulan hanya bisa nyengir.
“Bapak alhamdulillah sudah membaik, sudah empat hari di rumah Mbak”
“Sudah bisa ke toilet sendiri dan makan sendiri, aku kemarin gak bisa langsung ngantor Mbak, soalnya musti nyiapin kondisi rumah dulu supaya bisa mengakomodir kondisi Bapak”
“Melatih Bapak makan dan minum, untungnya tangan kanan kondisinya bagus, hanya tangan kiri saja yang bermasalah”
“Kalau kelamaan di Bandung aku takut nanti dipecat lagi, disangka udah gak butuh kerjaan” Bulan tersenyum lemah.
“Yah syukurlah kalau sudah bisa ditinggal, kita juga sebetulnya repot banget kamu gak ada, mana si Anjar jadi bawaannya emosi gak stabil sejak kamu kawin”
Mendengar ucapan Marissa, Bulan hanya bisa menunduk,
“Kamu ternyata akhirnya kawin sama Juno? Kirain sama siapa… soalnya kata Anjar terakhir dia telepon sama kamu, malah diminta ngelamar ke Bapaknya.”
“Terus kenapa tiba-tiba jadi kawin sama si Juno?”
Bulan tersenyum lesu, bingung juga mau menjelaskannya.
“Udah jodohnya kali Mbak, mau gimana lagi… semuanya sudah dituliskan di Lauh Mahfudz” jawab Bulan singkat.
“Iya sih… cuma masalahnya si Anjar sekarang jadi kacau” Marissa mengusap kepalanya sambil beranjak menuju mejanya. Bulan menunduk bingung, bersamaan dengan Kevin yang masuk ke ruangan.
“Sudah datang kamu” ucapnya pendek, sambil melihat kearah Bulan.
“Gimana kondisinya?” menatap Bulan lekat, pasti menanyakan Bapak pikir Bulan
“Alhamdulillah Pak operasinya berhasil, sudah bisa mulai beraktivitas sedikit-sedikit di rumah” lapor Bulan, berdiri dan menghampiri meja Kevin.
“Maaf kemarin saya agak lama cutinya Pak, soalnya harus menyiapkan kondisi Bapak dulu” mencoba tersenyum optimis di depan Kevin, yang kembali meliriknya.
“Gak apa-apa… Family come first” jawabnya sambil tersenyum hangat menenangkan.
“Hmmm… apakah ada hal yang bisa dibantu? Soal apapun itu” Kevin seperti ragu-ragu menanyakannya, Bulan mencondongkan kepalanya kedepan seakan meminta penjelasan.
“Soal apa Pak?” tanyanya
“Hmmm apa saja, hmmm biaya rumah sakit mungkin atau apapun itu, kita siap bantu jangan ragu-ragu untuk bercerita” agak terbata dan ragu untuk mengatakannya seakan takut Bulan tersinggung.
“Owh… iya alhamdulillah Pak ternyata bisa di cover oleh BPJS, tapi karena terlambat dalam mendaftarkan jadi harus memakai dana talangan dulu baru nanti diganti”
Kevin mengangguk-angguk sambil tersenyum,
"Syukurlah"
“Oya...Selamat juga… katanya sudah menikah” ucapnya tanpa melepas pandangan dari Bulan, yang ditatap terlihat gugup.
“Ehh iya maaf, tidak sempat memberitahukan pada Bapak dan Mbak Icha secara resmi, maklum menikahnya mendadak Pak” Bulan tampak salah tingkah.
“Ya tidak apa-apa, semua orang memiliki pilihan masing-masing dalam menentukan jalan hidupnya” ucapan Kevin membuat Bulan mengerutkan dahi, tapi ia merasa malu untuk bertanya lebih jauh.
“Insya allah saya akan mengejar ketertinggalan dalam pekerjaan, Pak Kevin dan Mbak Icha mohon bantuannya” ucap Bulan sambil menundukan kepala dan badannya, takzim kepada kedua atasannya.
“Ok… Bulan sudah datang, artinya kayu bakar kita sudah ditambah kembali, minggu ini kita bisa mulai bekerja efektif yah” Kevin membawa berkas dokumen ke meja.
“Wah sudah ada coffe lagi sekarang, seminggu kebelakang saya kangen kopi bikinan Bulan” ia langsung menuangkan kopi ke cangkir miliknya.
“Maaf saya gak sempat membawa makanan Bandung, tadi malam pulang ke Jakartanya gak sempat beli oleh-oleh dulu” Bulan merasa bersalah karena tidak membawa cemilan untuk teman minum kopi.
“Lu udah balik lagi ke kantor aja gw udah bersyukur Rembulan, gak usah mikir yang berat-berat deh” hibur Marissa sambil ikut menuangkan kopi.
“Si Anjar mana jam segini masih belum datang juga?” Marissa mengerutkan dahi kesal.
“Tadi sudah datang, tapi keluar dulu, mungkin ke pantry soalnya membawa gelas” jelas Bulan, merapikan meja dan menyiapkan diri untuk rapat.
“Waaah udah ketemu sama kamu tadi?” Marissa membelalakan matanya
“Ngomong apa dia?” mukanya tampak penasaran.
“Gak bicara apa-apa Mbak, langsung saja keluar. Mungkin buru-buru” Bulan mencoba tersenyum maklum, ia tidak menjelaskan kepada Marissa akan sikap Anjar yang dingin saat melihatnya, akan tidak bermanfaat. Pengalaman kemarin membuatnya menjadi lebih hati-hati dalam berbicara.
“Darimana lu Njar… dapat harta jarahan darimana lagi” Marissa langsung mencomot Brownies yang dibawa Anjar. Kevin tampak asyik membaca dokumen sambil memilih beberapa bahan untuk didiskusikan.
“Biasa lah” nadanya penuh percaya diri seperti biasa.
“Dikasih sama cewe-cewe yang selalu kasih perhatian sama aku”
“Cuma kalau yang ini bisa dipegang omongannya” ucapnya sambil tersenyum sinis. Bulan menarik nafas, ia mengerti kalau Anjar bermaksud menyindir dirinya, ia perlu waktu untuk bicara dengan Anjar tapi tidak di forum umum seperti ini.
“Maksudny apa lu ngomong kaya gitu?” Marissa mengerutkan dahi, ia juga mengerti kalau Anjar menyindir Bulan.
“Gak usah diperjelas deh, yang nyadar pasti ngerti” ucapnya sambil kembali mengambil kue dengan santai. Bulan mencoba tidak terprovokasi, walaupun ia lapar tapi mengambil kue yang dibawa Anjar rasanya terlalu memalukan, lebih baik ia membawa biskuit yang ia simpan di laci supaya bisa mengisi perutnya.
Disimpannya beberapa biskuit di meja, disebelah kue yang dibawa Anjar.
“Mbak Icha… Pak Kevin saya lupa punya biskuit juga” lega pikir Bulan ia bisa mengisi perutnya sekarang. Tapi baru satu gigitan biskuitnya masuk ke dalam mulut, Anjay Suranjay kembali memprovokasi.
“Kenapa gak mau makan kue yang gw bawa?” tatapnya dengan sinis pada Bulan
“Biasanya lu paling suka kalau gw bawain makanan, takut gw pelet atau gw santet?”
“Tenang aja gw tau diri kok… kalau gak punya modal buat deketin cewe gak usah nyoba-nyoba ngajak kawin”
“Bakalan dilempar dan dilupakan” ucapnya sinis.
Bulan hanya bisa menarik nafas panjang, ingin rasanya melemparkan kue yang ia makan pada Anjar tapi masih menjaga sikap di depan Kevin.
“Maksudnya apa si Njar… hal pribadi jangan dibawa-bawa dalam forum umum dong” Bulan menatap Anjar tajam, ia tahu harus berbicara dengan Anjar tapi tidak di depan orang banyak.
“Makanya gw gak suka ada romance di kantor tuh kaya gini” Marissa menatap keduanya dengan muka kesal.
“Pasti bakalan ada yang bikin ruwet kaya gini. Pas lagi cinta-cintanya sih bakalan berbunga-bunga indah kaya di taman. Semua kerjaan lancar jaya”
“Sekalinya kena tikungan… bubar jalan deh semuanya. Kerjaan ancurrrrr dah semuanya” Marissa membanting dokumen di meja rapat. Bulan terhenyak, ia tidak menyangka kalau hubungannya bersama Anjar berdampak pada pekerjaan di kantor.
Kevin menarik nafas panjang, melihat kearah Bulan dan Anjar.
“Tampaknya kita belum kondusif untuk rapat internal. Bulan kamu ke meja saya saja sekarang, saya koordinasikan beberapa pekerjaan hari kedepan” Kevin berdiri dan meninggalkan meja rapat. Marissa mengikuti dan kembali ke mejanya, Bulan merasakan ketidaknyaman dengan suasana itu. Ia berdiri dan mengambil agenda kerjanya, sebelum ia melangkah pergi, Anjar sudah berdiri terlebih dahulu sambil menggeser kursinya dengan keras sehingga membentur meja.
“Braak” Bulan terlonjak kaget, ia menatap Anjar dengan heran, perasaan kesal, sedih, dan marah bercampur menjadi satu, tapi saat matanya bertatapan dengan Anjar, ia terhenyak ternyata mata Anjar yang selalu ceria, hangat dan lucu telah hilang. Yang tampak adalah tatapan marah, kecewa dan sedih, membayang dari raut mukanya yang dulu selalu tersenyum
“Anjaar! Behave!” teriak Kevin dari mejanya sambil menatap kesal.
Anjar hanya menatap Bulan dengan kesal kemudian keluar dari ruangan. Bulan menatapnya dengan bingung, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana, apakah harus mengejar Anjar dan membujuknya, sampai sefatal itukah kesalahannya pada sahabatnya itu. Baginya Anjar adalah sahabat apakah salah kalau selama ini ia menganggapnya sahabat.
“Anjar!” teriak Marissa, bergegas keluar menyusulnya. Bulan menatap mereka berdua seperti menonton drama, kenapa hidupnya seperti menjadi drama sinetron ikan terbang di TV. Apakah dia menjadi tokoh pemeran utama yang menangis terus dan dianiaya oleh pemeran pembantu. Mengapa tidak ada pemeran utama yang hidup bahagia dari awal hingga akhir, gemar membantu peran pembantu sehingga semuanya bahagia.
“Bulan!” suara Kevin memecah perhatiannya dari pikiran tentang Anjar.
“Jangan terlalu dipikirkan tentang Anjar, dia cuma perlu waktu” sambungnya
“Duduk!” ucapnya lagi menarikan kursi di meja kerja Kevin, dengan muka penuh kebingungan Bulan duduk di depan Kevin yang berdiri bersender di meja kerja di depannya.
“Bagaimana kondisi kamu sehat?” Bulan hanya mengangguk lemah, perutnya sudah mulai terasa melilit, tadi hanya sempat menggigit biskuit satu gigitan saja, terpotong oleh drama Anjar
“Aku minta kamu sabar menghadapi Anjar, dia lagi mengalami patah hati kamu tinggal menikah” Kevin tersenyum memandang Bulan yang melotot kaget mendengar ucapannya.
“Pat… patah hati sama sayah?” Bulan mengulangi ucapan Kevin. Ia menggelengkan kepala.
“Kita gak ada hubungan apa-apa Pak… betul! Selama ini kami berteman akrab, saya banyak dibantu Anjar dalam memahami pekerjaan di divisi ini, saya juga membantu pekerjaan dia supaya selesai dengan baik”
“Kami tidak pernah ada hubungan asmara atau pacaran atau apapun itu” jelas Bulan sambil menggerakkan tangannya seakan ingin memastikan bahwa itu tidak mungkin.
“Untuk kamu mungkin tidak”
“Tapi untuk Anjar iya” jelas Kevin pendek.
“Anjar memang seperti itu gayanya, baik pada semua perempuan dan bersikap seperti mereka itu spesial untuk dia, tujuannya yah seperti yang tadi kita lihat..” Kevin menunjukkan piring kue yang dibawa Anjar.
“Supaya dia mudah mendapatkan akses untuk keinginan dia, semua cewek dia kadali, dan bodohnya cewek-cewek itu mau dikadali….hahahahhaha” Kevin tertawa sambil kembali duduk di mejanya.
“Sampai akhirnya dia kena batunya… Kekadalannya mentok di kamu, mungkin karma dari semua yang telah ia lakukan” Kevin tersenyum sinis. Bulan masih terlihat bingung, ia masih berusaha mencerna maksud ucapan Kevin.
“Saya dan Anjar hanya teman baik Pak… kami saling membantu satu sama lain, kita berdua itu team work… gak ada apa-apa”
“Anjar bersikap seperti itu mungkin karena salah paham Pak”
“Saya kemarin memang salah meminta tolong pada Anjar soal meminta ijin menikahi saya pada Bapak”
“Itu saya lakukan karena Bapak saya terus meminta saya menikah, beliau khawatir karena akan operasi takut saya nanti hidup sendiri Pak, karena saya waktu itu belum punya pasangan yang tetap”
“Yah kamu mungkin minta tolong pada dia dalam kapasitas sebagai teman” jawab Kevin
“Tapi saat Anjar menyadari kamu akan menikah dengan orang lain, dia baru sadar kalau selama ini dia sangat tergantung sama kamu”
“Saya tidak tahu apa yang terjadi selama di Bandung, yang jelas dia sampai tidak bisa pulang menyetir kembali ke Jakarta, dia cuma telepon teriak-teriak dan menangis”
“Saya sampai harus mengirim supir untuk membawanya pulang”
“Kalau kamu mau tahu, selama tiga hari dia tidak masuk kerja,” Bulan terhenyak. Selama ini ia selalu ingin tahu apa yang terjadi pada Anjar setelah keributan yang terjadi di rumah sakit.
“Sebetulnya apa yang terjadi kemarin di Bandung?” Kevin menarik nafas panjang, muka Bulan sudah tampak pucat dan terlihat syok. Tapi ia perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Dan kenapa akhirnya kamu menikah dengan dia” sambungnya lagi. Bulan menatap Kevin dengan tatapan yang sulit dijelaskan, selama ini ia selalu menjaga jarak dengan atasannya itu. Selain dari Juno yang selalu saja marah kalau ia berada di dekatnya, ia juga merasa tidak nyaman kalau terlalu dekat dengan atasan laki-laki terutama karena laki-laki itu adalah suami dari Inneke.
“Anjar datang setelah kami melakukan akad nikah di rumah sakit Pak, tiba-tiba saja dia datang dan memaksa untuk berbicara dengan Bapak. Saya mencoba melarangnya, tapi dia malah memaksa sampai kemudian Bapak kaget”
“Dia dipaksa keluar dari kamar rawat karena terus membuat keributan sampai akhirnya berkelahi dengan Kak Juno” suara Bulan terdengar samar seperti berbisik, mengingat kejadian itu seperti menyayat kembali luka yang sudah mulai tertutup.
“Bapak melihat perkelahian kemudian anfal, saya juga tidak tahu bagaimana kejadian selanjutnya karena saya jatuh pingsan” mata Bulan berkaca-kaca, ia menarik nafas panjang.
“Akibatnya operasi Bapak kemudian dipercepat, untungnya Bapak bisa diselamatkan” Bulan mengangkat kepala sambil tersenyum sedih.
“Maaf kalau saya membawa masalah di divisi ini, saya sama sekali tidak bermaksud membuat kekacauan Pak” ucapnya sambil menyusut air mata dipipinya. Kevin menyodorkan sapu tangannya kepada Bulan yang langsung ditolaknya.
“Gak usah Pak… gak apa-apa, air mata saya sudah habis cuma tinggal sedikit, kemarin sudah keseringan nangis” ucapnya lagi sambil terus menyusut air mata yang malah terus mengucur, sedih rasanya melihat Anjar seperti itu dan pangkal kekacauan ini akibat dari ucapannya sendiri.
“Pakai sapu tangan saya, tissue sudah habis, Marissa selalu lupa minta ke bagian dapur” ditariknya tangan Bulan untuk menerima sapu tangannya.
“Terima kasih Pak, nanti saya ganti” ucap Bulan sambil mengusap sisa air mata.
“Saya baru tahu kejadiannya seperti itu, yah kamu harus paham kalau Anjar sifatnya agak kekanak-kanakan. Butuh waktu untuk dia menerima kalau kamu sudah menikah dengan orang lain” Kevin tampak tercenung.
“Oya… kalau boleh tahu, kenapa kamu menikah dengan Juno?” tatapnya tajam. Bulan tergagap. Apakah ia harus menceritakan juga kalau pernikahannya dengan Juno karena insiden foto atau membuat alibi kalau mereka adalah pasangan yang saling mencintai tapi di dimensi lain alias berbohong. Tatapan Kevin membuatnya sulit berpikir jernih.
“Kenapa kamu menikah dengan Juno?”
“Euh… anu… karena…..”
Karena apa hayooooo, ada yang tahu jawaban Bulan?