
"Kau tidak takut aku akan menerkammu tengah malam nanti? Aku pria normal, Kenanga?" Athar mendekatkan tubuhnya ke arah Kenanga, bahkan kini jarak keduanya sangatlah dekat, hingga hangat nafas Athar bisa Kenanga rasakan dan menerpa kulit wajahnya.
Wajah Kenanga berubah menjadi merah padam, bahkan tubuhnya terasa kaku sulit sekali untuk bergerak, perkataannya telah membuatnya mati gaya di depan pria yang baru di kenalnya beberapa hari ini, sungguh Kenanga merutuki kebodohannya sendiri.
Athar semakin mendekatkan tubuhnya membuat Kenanga semakin memundurkan badannya namun sialnya terbentur pintu mobil yang tertutup rapat, Athar semakin mendekatkan wajahnya, mengamati wajah Kenanga dengan seksama, gadis di hadapannya ini sangat cantik meski tanpa polesan make up, terlebih lagi bola matanya yang kecoklatan dan bibirnya yang berwarna merah muda membuat Athar semakin menaruh kagum padanya, kini keduanya saling melempar pandangan, bahkan Kenanga juga dapat melihat wajah Athar dengan begitu jelas, wajahnya yang tirus dan imut, bibirnya yang terbelah tengah membuat Kenanga menelan salivanya dengan susah payah.
"Jangan lupa pakai Seat belth" Athar tersenyum jahil sambil tangannya menarik seat belth dan memasangkan di tubuh Kenanga
Kenangan mengerjapkan matanya beberapa kali tersadar akan pikiran kotornya terhadap Athar, namun berbeda dengan Athar yang malah sudah menjalankan mobilnya kembali dan terkekeh pelan.
^
Tidak butuh waktu lama, mobil Athar kini sudah terparkir di samping lapangan luas, hiruk pikuk pedagang makanan, dan pernak-pernik di pasar malam membuat Athar teringat kembali masa kecilnya bersama Athira, Kakak perempuan satu-satunya.
Dulu saat masih kecil, Papa Zanaka sering kali mengajak mereka berdua ke pasar malam, maklum bisnis keluarga mereka belum semaju seperti sekarang ini, jadi papanya masih banyak memiliki waktu luang untuk mengajak kedua anaknya jalan-jalan.
"Dokter, ayo kita mencoba semua wahana di pasar malam ini" suara Kenanga begitu bersemangat, seolah kesedihan kini tak lagi membelenggu hati dan perasaannya
"Memangnya kau berani?" ledek Athar
"Dokter meremehkan aku?" Kenanga melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari menatap tajam ke arah Athar
"Kita naik itu" Kenanga menunjuk ke arah wahana bianglala, sudah lama dirinya tidak naik wahana tersebut
"Siapa takut" Athar menaik-turunkan alisnya kemudian menarik tangan Kenanga menuju loket tiket
Athar membeli dua tiket untuk dirinya dan Kenanga, setelah membeli tiket Athar mengajak Kenanga segera naik Bianglala. Keduanya duduk di dalam satu bianglala, dan mesin bianglala-pun mulai berputar, awalnya berputar dengan normal, bahkan Kenanga sangat terlihat senang memandangi Lembang dari atas bianglala. Begitu pula dengan Athar, pria itu tak henti memperhatikan Kenanga yang duduk di hadapannya dengan tersenyum lebar. Entah sudah berapa kali berputar, tiba-tiba saja mesin bianglala berhenti membuat Kenanga panik.
"Ahh, ada apa ini" Kenanga melihat ke bawah sana karena posisi bianglala yang dirinya tempati saat ini berada di puncak
"Dokter, bagaimana ini?" tanya Kenanga panik
"Tidak apa-apa, jangan panik. Hal seperti ini biasa terjadi" jawab Athar santai, bahkan Athar terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana
"Tapi Dokter..." Suara Kenanga tertahan sesaat setelah Bianglala malah sepertinya bergerak dengan tak pasti membuat Kenanga tersungkur ke arah Athar
"Kau ini.." Athar dengan sigap menahan tubuh Kenanga supaya tidak terbentur besi bianglala
"Jangan panik, katanya pemberani?" Athar bergeser duduknya dan memposisikan diri di samping Kenanga
Kenanga hanya terdiam, wajahnya sudah pucat pasi menahan rasa takut yang menyebar di sekujur tubuhnya. Athar yang sadar akan hal itu pun langsung menghela nafasnya panjang.
"Kenanga, percaya padaku. Semuanya akan baik-baik saja" Athar berucap dengan begitu pasti membuat Kenanga sedikit berkurang rasa takutnya.
"Atur nafasmu, Tarik nafas panjang dan hembuskan" imbuh Athar dan di lakukan oleh Kenanga dengan patuh, setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Kenanga sedikit merasa tenang dan benar saja apa yang Athar katakan, Bianglala kembali bergerak dengan normal.
Kenanga begitu bernafas lega saat wahana yang sempat rusak kini bisa berputar dengan normal kembali. Setelah berputar beberapa kali, akhirnya Bianglala berhenti dan Athar beserta Kenanga turun dari wahana tersebut.
Kenanga begitu senang menikmati suasana pasar malam, bahkan Kenanga seakan terhanyut dan melupakan masalah hidupnya.
Kenanga dan Athar berjalan saling bersampingan layaknya sudah kenal begitu lama, rambut Kenanga yang di kucir kuda bergerak ke kanan dan kiri mengikuti gerak tubuh Kenanga, kedua mata Kenanga sejenak melirik ke arah stand yang menjajakan jajaran boneka beserta aksesoris wanita. Namun Kenanga hanya bisa melihatnya saja karena dirinya tidak mungkin membeli karena dompet dan semua uangnya tidak Kenanga bawa, dan tertinggal di villa milik Athar.
Athar yang melihat Kenanga melirik ke arah stand yang baru saja di lewati tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, membuat Kenanga juga ikut berhenti dan melirik ke arah Athar.
"Ada apa Dokter?" tanya Kenanga
"Bisakah kau membantuku membelikan hadiah untuk keponakanku, anak dari kakak perempuanku" tanya Athar sembari menunjuk ke arah Stand berisi jajaran boneka dan aksesoris perempuan
"Memangnya Keponakan dokter umur berapa?" tanya Kenanga menaikkan kedua alisnya
"Lima tahun" Athar berjalan mendahului Kenanga ke arah Stand tersebut
"Keponakanku sangat cerewet namun mudah sedih, meskipun dia kecil, dia pandai berpura-pura kuat di depan orang tuanya bila menemui masalah dengan teman bermainnya. Menurutmu dia akan suka boneka yang mana?" tanya Athar sambil sibuk mengamati jajaran boneka yang berbentuk dengan banyak sekali variasi
"Yang ini" Kenanga menunjuk boneka bulan sabit yang tersenyum lebar
Athar langsung mengalihkan pandangan matanya mengikuti arah telunjuk Kenanga, bibirnya terlihat manyun seolah sedang mempertimbangkan apa yang Kenanga pilihkan.
"Bulan, Atau Rembulan, karakter yang sangat cocok dengan keponakan dokter, Rembulan meski di tengah gelapnya langit dia tetap menyinari langit, bahkan sinar rembulan membawa Bintang ikut bersinar, tak hanya itu, Rembulan juga memberi keindahan di tengah kegelapan malam, yang artinya boneka dengan karakter bulan sabit adalah sebuah doa supaya keponakan dokter bisa seperti rembulan yang terus bersinar meski gelapnya permasalah terus saja menerpa" jelas Kenanga
"Oke" Athar langsung setuju dan mengambil dua boneka bulan sabit sekaligus
"Memangnya Keponakan dokter ada dua?" tanya Kenanga bingung saat Athar mengambil dua boneka sekaligus, namun Athar terlihat cuek dan tak menjawab pertanyaan dari Kenanga, kini Athar beralih melihat ke arah jajaran aksesoris perempuan yang tertata begitu rapih
"Menyebalkan" Gerutu Kenanga sambil mengekor gerak tubuh Athar
"Kau pilihkan untuk kakak perempuanku, dia orangnya jarang sekali berdandan dan sibuk kebahagiaan orang lain di atas perasaannya sendiri, bahkan meskipun dia perempuan, dia pantang menangis di depan mama dan papa"
Kenanga mengerutkan alisnya, lagi dan lagi karakter kakak perempuan Athar sedikit mirip dengannya, sebuah kebetulan atau sebuah pertanda ? Entahlah, Kenanga tidak mau berpikir terlalu jauh. Kini mata Kenanga mulai menelisik meneliti satu demi satu aksesoris yang cocok untuk karakter kakak dari dokter Athar dan pilihan Kenanga jatuh pada sebuah jepit rambut berbentuk pita dengan hiasan kristal dan mutiara plastik, terlihat sederhana tapi tetap elegan untuk di kenakan, dan untuk kedua kalinya pula Athar langsung setuju dan membeli dua pasang sekaligus.
Setelah membeli boneka Bulan sabit dan jepit rambut, Kenanga mengajak Athar untuk berkeliling dan memainkan semua permainan di pasar malam ini. Satu demi satu wahana mereka coba, bahkan Kenanga tak hentinya tersenyum kegirangan saat selesai menaiki sebuah wahana, tak hanya wahana Athar juga mengajak Kenanga untuk menikmati jagung bakar hangat sambil berkeliling pasar malam.
Hingga pada wahana terakhir yang belum mereka coba yaitu wahana berbentuk perahu yang biasa orang sebut dengan wahana Kora-Kora.
"Dokter, wahana terakhir" seru Kenanga dengan begitu semangat
"No.." Athar langsung menarik tangan Kenanga sebelum gadis itu mendatangi loket tiket
"Kenanga? Dokter takut?" sindir Kenanga
"Bukan begitu, kau ini perempuan dan wahana itu bergerak layaknya roller coaster tanpa pengaman, akan sangat berbahaya Kenanga. Aku tidak mau mengambil resiko" tegas Athar
"Pokoknya aku mau naik Kora-Kora" Kenanga mengerucutkan bibirnya dan matanya menyipit menatap tajam ke arah Athar yang kini berdiri di hadapannya membawa keresek berisi boneka, tak hanya itu permen kapas milik Kenanga yang sudah termakan setengah pun tak luput berada di tangan kokoh Athar
"Big No" Tegas Athar
"Pokoknya iya" teriak Kenanga dengan begitu kesal hingga volume nada bicaranya pun berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung yang melewati mereka berdua
Athar tersenyum kaku kepada beberapa pengunjung yang melihat ke arah mereka berdua, bahkan tak sedikit dari para gadis yang membicarakan Athar yang sudah seperti pengasuh Kenanga.
"Please" Kenanga mengatupkan tangannya
"Kenanga dengarkan aku" Athar menurunkan nada bicaranya lebih lembut dari sebelumnya, berharap caranya akan berhasil membujuk Kenanga
"Kalau kau ingin wahana lebih ekstream dari Kora-Kora, Aku bisa mengajakmu ke Dufan, kau bisa bebas memilih wahana, di sana Safety jadi aku tidak perlu kawatir" seru Athar
"Dokter, aku mohon" Kini mata Kenanga kembali berkaca-kaca, entah mengapa Kenanga malah bersikap manja kepada Athar layaknya anak kecil kepada orang tuanya
Athar menghela nafasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan, sungguh Athar tak bisa menolak permintaan dari Kenanga, entah mengapa gadis di hadapannya ini mampu meluluhkan pendiriannya, mampu membuat Athar mengalah. Akhirnya Athar pun menganggukkan kepalanya dan menyetujui permintaan dari Kenanga.
"Ahhhhhh" Kenanga berteriak saat Kora-Kora melaju dan bergoyang semakin tinggi
"Ahhhhhh, Aku bisa tanpamu" Teriak Kenanga kembali, Athar hanya bisa melihat Kenanga dan terus mengawasi gadis itu supaya tangannya terus berpegangan
"Lupakan Mantan!!!"
"Lanjutkan Hidup"
"Bersemangatlah" teriak Kenanga di akhir ucapannya
Kini Kenanga tersenyum lebar, semua beban di hatinya seakan lepas dan hilang, mulai detik ini Kenanga tidak akan kembali bersedih hanya demi Riko. Senyum di bibir Kenanga membuat Athar lega, mudah-mudahan Kenanga akan melupakan kesedihannya dan kembali menjalani kehidupannya yang normal.
"Oh aku melupakan sesuatu" Ucap Kenanga seraya menatap ke arah Athar yang duduk tepat di sampingnya
"Dokter Athar, Terimakasih , Terimakasih, dan Terimakasih sudah menghiburku" Teriak Kenanga kembali kemudian kembali menatap ke arah Athar dan melebarkan senyumnya dengan begitu riang.