
Hari ini adalah kesepakatan final antara Bhrata Design Corp dengan Two Tower Company sebagai kontraktor yang akan menjalin kerjasama antara dua perusahaan. Dua perempuan yang menjadi ujung tombak tampak berjalan dengan penuh percaya diri duo Solehah dan Solehun yang tampak unik tampil dengan gayanya masing-masing.
Untuk mengimbangi penampilan Sarah yang tomboy dan simple akhirnya Bulan merubah gaya berpakaian tidak menggunakan gamis, memakai pashmina dengan gaya pilihannya celana kain berwarna putih kemeja biru asimetris dan sepatu pantofel andalannya sehingga memudahkannya untuk bergerak.
“Mbak Sarah kaya mau maju ke medan perang aja pake sepatu boots” Bulan melirik sepatu yang dikenakan Sarah.
“Fashion… susah emang kalau ngobrol sama anak kampung”
“Taunya sepatu boots cuma buat ke sawah doang”
“Ahahahahahah… aku gak pernah liat petani ke sawah pakai sepatu boots lagiii”
“Petani mah gak pake sepatu nyeker mba...ribet pake sepatu mah”
“Mungkin yaa kalau petani modern” Bulan tertawa senang sambil memeluk tangan Sarah erat.
“Ishhh apaan sih kamu sok akrab banget” Sarah mengibaskan tangannya sambil cemberut.
“Aku tuh suka banget sama Mbak Sarah… mirip sama Samson… garing diluar tapi renyah dan lembut di dalam… ahahahaha” tidak mau melepaskan pelukannya dari tangan Sarah sampai mereka masuk ke dalam restoran.
“Waaah siapa nih… sampai pangling… weeeis ada yang merubah penampilan… sampai pangling” teriak salah seorang laki-laki yang menunggu di dalam restoran. Ternyata tim dari kontraktor sudah datang terlebih dahulu. Berbeda dengan penampilan saat di kantor proyek ternyata saat meeting resmi di restoran penampilan mereka berubah 180 derajat tampak rapi dan tercium wangi.
“Yang pangling ini Mas dan Abang-abang ini sampai kaget saya… tak kirain salah masuk Restoran… kenapa ada shooting sinetron Ganteng-Ganteng tapi Buaya disini” balas Bulan dengan santai.
“Whahahahahah bisa aja nih si Eneng… jadi makin gemes abang” suasana langsung ramai saat mereka bergabung di meja restoran dalam ruang VIP yang telah disewa untuk pertemuan hari itu.
Mengikuti apa yang dikatakan oleh Sarah untuk tidak memperlihatkan ekspresi terintimidasi akhirnya Bulan berusaha untuk bisa mengimbangi permainan. Membalas semua perkataan dengan candaan dan lebih banyak tersenyum dan berusaha memberikan data informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan kerjasama yang akan dijalankan ke depan.
Hanya ada satu orang laki-laki yang tampak diam dan tidak banyak berbicara seperti yang lain. Ia hanya memberikan beberapa pertanyaan terkait kesepakatan yang dibuat, hingga mereka harus membuat beberapa revisi karena dianggap tidak win win solution bagi kedua perusahaan.
“Aku kira poin yang lain sudah cukup” ucap laki-laki itu. Suaranya tampak menguasai semua percakapan yang terjadi di ruangan itu.
“Jadi deal nih Mas Ray?” ucap Sarah cepat sambil tersenyum senang, terbayang bonus yang akan dia dapatkan kalau berhasil memenangkan proyek ini.
‘Deal” jawabnya.
“Sippo”
“Mau tanda tangan sekarang atau nanti saja?” tanya Sarah lagi.
“Sambil nunggu makan malam saya akan minta staf yang dikantor untuk print out dan tanda tangan langsung” sambungnya lagi.
“Ok.. No Problem” jawab Ray
“Mbak… mau diprint sama siapa?” bisik Bulan, ia tidak membawa printer di mobil.
“Suruh si Doni lah… biar dia ada kerjaan!” jawab Sarah santai.
“Tinggal kirim email trus dia datang kesini”
Bulan mengangguk setuju, proyek ini dikembangkan oleh dua perusahaan yang skalanya masih kecil jadi tidak menuntut persiapan dan surat kesepakatan kerja yang berbelit. Cukup tandatangan dari masing-masing owner dan mereka bisa mulai bekerja.
“Sudah menikah?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Ray. Bulan langsung gelagapan tatapan Ray jelas mengarah padanya tapi dia tidak mau terlihat geer.
“Mbak itu ditanya?” ucap Bulan sambil memandang Sarah yang sibuk mengirimkan email.
“Gak nanya sama gw tapi sama elu… dia temen gw pasti udah tau gw belum kawin, lagian dia gak akan mungkin ngajak kawin sama gw” jawab Sarah dingin. Bulan langsung tersenyum kecut, dari kemarin laki-laki yang ada di depannya itu memang tidak banyak bicara seperti yang lain hanya menatapnya sesekali.
“Hahahahahha Mas Ray ternyata seleranya berubah sekarang sama cewe berjilbab”
“Yang kemarin belahan dadanya sampai ke perut gimana dong Ray… buat gw aja yaaaa” teriak laki-laki yang ada di ruangan. Bulan ikut tersenyum mendengarnya, dan kemudian pura-pura melupakan pertanyaan Ray tadi. Mencoba terlihat sibuk menata dokumen yang tadi sudah disiapkan untuk dipresentasikan tapi kemudian tidak jadi karena mereka sudah mencapai kesepakatan.
“Kok gak jawab?”
“Sudah menikah? Atau sudah punya calon?” tanya Ray lagi. Bulan menggelengkan kepala sambil tersenyum kecut.
“Ehhehehe saya sudah men…aaawww” tiba-tiba saja Sarah menginjak kakinya keras. Bulan langsung melotot kesal, apalagi maksudnya Sarah dengan menghalanginya bicara.
“Dia udah punya pujaan hati jadi lu jangan kepikiran nyalip di tikungan” ucap Sarah santai, Bulan mengerutkan dahi kenapa Sarah tidak menyebutkan kalau dia sudah menikah. Sarah tampak menuliskan pesan di hp. Ternyata itu dikirimkan pada Bulan.
“Lu jangan ngaku udah kawin dulu… ntar tungguin kalau udah tandatangan kontrak”
Mata Bulan langsung melotot, benar perkataan Doni kalau ia dijadikan penglaris.
“Saya suddd… awww… Mbak apaan sih dari tadi iiihh” ucap Bulan kesal.
“Udah lu solat gih sanah… udah maghrib loh… ntar pas udah beres sholat makan malam sudah siap” Sarah mendorong Bulan untuk keluar dari meja pertemuan. Bulan menatap Sarah dengan kesal, ia tidak bisa protes sembarangan bisa-bisa proyek di depan mata gagal total.
“Ya aku sholat dulu aja kalau begitu gantian. Saya tinggal dulu Mas” Bulan kemudian pamit. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, muncul kekhawatiran kalau ia dijadikan alat untuk melancarkan Sarah dalam mendapatkan proyek. Yah walaupun proyek ini untuk perusahaan suaminya juga, tapi rasanya tidak etis kalau mereka seperti tidak jujur walaupun tidak berhubungan dengan proyek itu langsung.
Sebelum sholat akhirnya Bulan mengirimkan pesan pada Juno.
“A… kalau bisa nanti kesini jemput aku”
“Gak enak disangka masih single, aku lupa gak pakai cincin nikah”
Hanya itu bunyi pesan dari Bulan, ia tidak berani menjelaskan kalau Sarah melarangnya untuk menjelaskan status pernikahannya. Bisa jadi itu hanya prasangkanya saja, ia tidak ingin hubungan antara Juno dan Sarah jadi tidak baik, tapi ia juga tidak menginginkan ketidakjujuran dalam suatu kesepakatan kerjasama.
Saat ia kembali ke ruangan makan ternyata Doni belum datang juga, hidangan makan malam sudah tersaji sehingga sebagian dari staf kontraktor sudah mulai makan dengan suasana ramai. Hanya yang duduk di meja Ray yang masih belum memulai makan malam. Ada dua orang staf laki-laki yang tampaknya menjadi orang kepercayaannya.
“Mbak mau gantian sholat Maghrib dulu… sini aku terusin ngedit kontraknya” ucap Bulan.
“Udah beres kok si Doni on the way kesini” jawab Sarah santai. Tatapan dari Ray membuatnya jadi semakin salah tingkah.
“Ya sudah aku sholat maghrib dulu” ucap Sarah tiba-tiba. Bulan langsung pucat, kalau Sarah sholat itu berarti dia akan duduk berdekatan dengan Ray.
“Hmmm nggak tunggu Bang Doni datang dulu Mbak? … takut nanti ada yang mesti dipastikan” tangan Bulan menahan Sarah agar tidak pergi meninggalkannya, tapi langsung ditepis Sarah.
“Nanti waktu maghribnya habis” jawabnya sambil tersenyum. Bulan melotot sambil berkomat kamit plisss...plisss ucapnya tapi Sarah seperti tidak peduli berjalan santai meninggalkan Bulan dengan kebingungannya.
“Sudah lama bekerja dengan Sarah?” tanya Ray lagi.
“Hmm baru dua bulanan, kebetulan kita tinggal bareng juga” sambung Bulan mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
“Oya tinggal bareng di apartemen?” Ray tampak semakin tertarik.
“Nggak kita tinggal di Ruko” jawab Bulan santai.
“Ruko?” Ray tampak kaget, Bulan langsung menyadari kesalahannya.
“Heheheh iya Mas supaya bisa menghemat biaya hidup”
“Ikut aja sama suami segimana diajaknya” ah peduli setan, jangan sampai orang salah paham pikirnya.
“Suami? Sudah menikah?” tanya Ray kaget
“Iya Mas sudah… sudah 4 bulanan… pengantin baru aku hehehehe” Bulan tampak tertawa memecah kekakuan dari ekspresi Ray.
“Hah…. salah kali Mbak Sarah maksudnya dia masih single bukan aku Mas”
“Kalau stafnya Mas Ray masih pada single yaah…” tanya Bulan ramah, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Gak cuma stafnya yang single bosnya juga masih single Mbak… available” celetuk salah seorang staf sambil tertawa melihat ke arah Ray.
“Ohhh.. Mas Ray juga masih single” ucap Bulan semangat, tiba-tiba ia membayangkan Indri yang masih belum punya pendamping.
“BULAN!” suara menggelegar tiba-tiba saja terdengar di sampingnya. Bulan langsung terlonjak kaget.
“Ya Allah… Aa bikin kaget” Bulan mengusap-usap dadanya.
“Alhamdulillah sudah sampai dari tadi aku tungguin” ucapnya santai, tidak mempedulikan pandangan kesal Juno kepadanya.
“Ada yang ngebut sampai ngacir khawatir kalau istrinya ada yang godain...eh yang dikhawatirkan malah asik ngemodus” sindir Doni.
“Ehh Bang Doni suka manas-manasin aja. Mas Ray ini Pak Juno pemilik Bhrata Desain Corp”
“Ini Pak Donny Atid Sanjaya” sambung Bulan sambil tertawa nyengir, ingat sindiran Sarah tentang Doni tadi malam.
“Raymond” jawab Ray pendek sambil memandang Juno dengan tatapan tajam.
“Mbak Sarahnya lagi sholat Maghrib dari tadi lama banget” keluh Bulan.
“Bang kontraknya sudah dibawa?” tanya Bulan, Doni hanya mengangguk.
“Kalau yang mau tanda tangan kontrak siapa?” tanya Ray dengan berkerut, Juno datang dengan pakaian yang kelewat santai hanya memakai kaos polo dan celana jeans tidak seperti akan bertemu dengan klien. Sedangkan Doni tampak lelah dan lusuh, tampak seperti sudah berhari-hari tidak tidur.
“Ini Mas.. A Juno… eh Pak Juno… nama lengkapnya Bhrata Juno Aditya. Sama dengan nama perusahaannya” Bulan memandang Juno dengan tatapan bangga dan meraih lengan suaminya yang masih masuk ke dalam saku celana.
“Salaman dulu atuh kalau ketemu sama calon klien… Ini Mas Ray pemilik Kontraktor Two Tower loh A”
Mata Ray menatap tangan Bulan yang mendekap lengan Juno erat. Dari tadi Bulan menjaga jarak dengannya tapi dengan laki-laki yang baru datang, ia langsung menempel.
“Terima kasih atas kepercayaannya pada perusahaan kami… semoga kita dapat bekerjasama ke depan” Juno mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan. Ray masih memandang ke arah Bulan dan kemudian menyambut uluran tangan Juno dengan perlahan.
“Ya… semoga saja” jawabnya pendek.
“Banyak stafnya di perusahaan?” tanyanya
“Kamu baru mulai.. Hanya berempat...kedepan mudah-mudahan bisa berkembang lagi”
“Baru dua project tahun ini, kalau kita jadi bekerja sama” ucap Juno.
“Kalau Bulan sebagai apa?” tanya Ray sambil memandang Bulan lekat.
“Sebagai istri saya” jawab Juno pendek. Doni langsung tersenyum sambil melengos, sejak Bulan mengirimkan pesan dan kemudian melihat Bulan duduk bersama sekelompok laki-laki membuat Juno langsung bersikap siaga satu.
“Ohh pantas” hanya itu jawaban Ray. Pantas saja pikirnya dari tadi langsung nempel.
“Ehhh lu juga datang Jun… gimana bisa dilanjut tanda tangan kontraknya Ray?” Sarah yang baru datang langsung peka melihat muka Ray yang dingin.
“Ehhh gimana-gimana ini ada pembicaraan apa… aku ketinggalan berita apa?” Sarah langsung was-was.
“Pak Ray baru tahu kalau Neng Rembulan ini istrinya Pak Bhrata” jelas Doni, Sarah langsung mengangkat alisnya sambil tersenyum kecut pada Ray.
“Hehehe Rembulan Ray… bukan Bulan… kamu kan nanyanya Bulan” kilah Sarah sambil tertawa-tawa.
“Baik mari kita mulai saja kesepakatannya” potong Raymond, rupanya ia tidak nyaman kalau pembicaraan pribadinya dengan Sarah tentang Bulan diungkap di forum umum.
Akhirnya kesepakatan antar dua perusahaan berjalan dengan lancar, kedewasaan Raymond tampak saat mereka berdua berbicara tentang proyek yang akan berjalan. Rupanya keduanya memiliki minat yang sama dalam mengembangkan rumah tipe industrial untuk kalangan menengah ke bawah.
“Untung aja Mas Ray gak marah tadi waktu tahu aku udah menikah” Bulan berbisik pada Sarah sambil cemberut.
“Mbak Sarah tega banget sih… aku dijadikan penglaris proyek” dicubitnya lengan Sarah dengan kesal.
“Kalau perlu… aku bisa jual nenek aku buat penglaris suatu proyek”
“Sayang dia sudah peot jadi gak ada yang suka lagi sama dia” Sarah tertawa licik.
“Astagfirullah mbak… nyebut-nyebut sampai segitunya pengen dapat uang!” Bulan menggelengkan kepalanya heran.
“Jangan khawatir begitu udah laku terjual… ntar ditebus lagi” sambungnya. Bulan langsung melotot dia tidak mengerti pola pikir Sarah.
“Mbakkk iiih emang barang gadaian!” seru Bulan kesal.
“Ahahahahha… emang gw orang gila apa… lu tuh dasar otak naif” Sarah menoyor kepala Bulan.
“Si Ray aku alihkan perhatiannya sama kamu supaya gak terjerat cewek gak bener”
“Semenjak nanyain elu waktu dulu, dia langsung mutusin cewek yang suka morotin dia”
“Dia kayanya beneran ngebet sama elu sampai nanya-nanya soal elu terus”
“Yahhh demi niatan baik itu Bul… akhirnya dia terlepas dari jerat perempuan malam itu”
“Gw kasih aja foto-foto elu ke dia….hahahahaha maaf yaaah… anggap aja lu foto model.. Dijadikan model sampul kalender”
“WHAT!”
“Mbak lu gila yah… ngirimin foto aku sama dia?!”
“Foto yang mana?” Bulan langsung panik.
“Foto lu sama si Samson… gw gak gila ngirim foto yang seksi… cuma yah belum pakai kerudung soalnya kan lu tiba-tiba aja pake kerudungnya tadi”
"Foto cewek rumahan... seneng banget dia"
“Sorry yah” Sarah tersenyum santai.
“Mbak aduuuuh… gimana kalau A Juno tahu nanti dia marah” Bulan langsung gelisah.
“Kita lihat aja sekarang, mumpung dia lagi ngobrol sama si Ray” Sarah tersenyum licik. Ia mengambil handphone nya dan melakukan panggilan.
“Ehhh telepon siapa Mbak” bisik Bulan sambil menatap bingung.
“Si Ray… foto kamu dijadikan profil hp dia… gimana coba reaksi si Juno kalau ngeliat Hp si Ray hidup dan ada foto kamu disana….hahahahahha” Sarah tertawa senang. Mata Bulan langsung melotot melihatnya.
“Mbaaak gilaaa kamu… woooong edaaaaan!!” teriak Bulan kesal sambil berusaha mengambil handphone Sarah untuk mematikannya. Tapi terlambat nada panggilan sudah masuk.
‘BULAAAAAAAAN” teriakan itu membuat Bulan ingin masuk ke kolong meja.
“Mbaaak Lu Gw End!”
Hadeuuuh…. Untung udah ditandatangani coba kebayang kalau belum… bisa gagal perjanjian kerjanya. Sarah iseng pisan.