Rembulan

Rembulan
Focus Ghibah Discussion


Sepanjang perjalanan akhirnya Bulan memilih untuk diam, sikap Juno yang tidak bersahabat membuatnya memilih untuk menjaga jarak. Ia sadar kalau suaminya pasti syok mendengar berita tentang perusahaan Papanya. Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukkan jam 10 lebih, tanpa banyak bicara Juno langsung ke meja kerjanya. Selama perjalanan tak satu kata pun keluar dari mulutnya.


Setelah mandi Bulan membuatkan pasta untuk Juno, minuman jeruk hangat dan menghampiri suaminya, ia tahu kalau Juno belum makan apapun malam ini.


“Makan dulu A… tadi kan gak sempat makan malam” ucapnya yang hanya menerima anggukan karena Juno sedang menerima telepon. Terdengar suara ketukan di pintu depan Ruko, siapa yang datang bertamu malam-malam begini pikir Bulan.


“Malam Non Bulan… ini saya diminta Bapak mengantarkan makan malamnya, tadi kan belum sempat dimakan waktu di hotel” seorang pria tua yang tampak tersenyum dengan lebar di depan pintu. Mukanya terasa sangat familiar.


“Makasih… Bapak ayahnya Indri?” tanya Bulan


“Hahahaha iyah baru bertemu sekarang yaah, terima kasih yaa sudah mengajari Indri tentang keuangan. Katanya Non Bulan pintar banget”


“Hehehehehe lebih pintar lagi Afi Pakkk… Bapak mau masuk dulu?” tawaran Bulan itu langsung ditolak oleh Pak Martoyo karena sudah malam. Rupanya Bhanu ingat kalau saat makan malam tadi Bulan harus berhenti karena Juno memaksanya pulang.


“Papa ngirimin makanan A” seru Bulan senang, siapa yang tidak senang, aneka makanan yang jarang ia makan dikirimkan langsung.


“Iya Ma… Baik”


“Aku mengerti”


“Terserah Mama saja”


“Ya waalaikumsalam”


Juno mengakhiri telepon saat Bulan mendekat. Rupanya sedari tadi suaminya sedang menerima telepon dari Mama Nisa.


“Telepon dari Mama? Mama sehat kan?” tiba-tiba saja Bulan teringat kalau sudah hampir dua bulan mereka belum menengok Mama Nisa.


“Sehat” jawab Juno pendek.


“A… mau makan pasta aja atau makanan kiriman Papa?” Bulan tampak bersemangat hingga tidak memperhatikan raut muka Juno yang tampak murung.


“A… mau nggak?” Bulan menoleh dan barulah tampak kalau suaminya terlihat melamun.


“Kenapa? Ada masalah dengan Mama?” Bulan menatap suaminya lekat, muncul kekhawatiran dalam hatinya.


“Siapa yang kirim makanan?” tanya Juno yang malah menanyakan makanan yang tampak terhidang banyak di meja.


“Papa! Mungkin karena ingat aku tadi makannya belum selesai” jelas Bulan, Juno langsung mendengus.


“Pria tua itu sekarang benar-benar menyesal rupanya” senyuman sinis terpampang di wajahnya. Bulan langsung memukul pundaknya.


“Gak boleh begitu sama orangtua, biarpun kesalahannya banyak kita harus bisa berbesar hati”


“Marah boleh tapi jangan mengolok-oloknya”


“Aku kira Papa sudah menyadari kesalahannya”


“Iya dia sadar karena tidak ada yang bisa menolongnya sekarang selain kita” Juno menatap makanan yang terhidang di meja rapat.


“Tadi dia telepon Mama, kata Mama tiba-tiba saja Papa minta maaf”


“Dia minta tolong agar mengijinkan kamu untuk membantu Papa”


“Haaah serius Papa bicara sama Mama?”


“Daebaaak…. Sampai minta maaf segala? Datang langsung gitu ke rumah?” Bulan langsung bersemangat, semua hal yang berhubungan dengan ghibah selalu membuat semangat naik berkali lipat.


“Tidak… hanya lewat telepon”


“Terlalu malu mungkin dia kalau bertemu langsung”


“Yaah Papa gak gentle banget sih… minta maaf lewat telepon” Bulan langsung cemberut.


“Tapi yah lumayan lah untuk langkah awal mah… sudah ada kemajuan” sambungnya.


“Tadi Mama bilang supaya mengizinkan kamu untuk membantu Papa karena kondisinya yang darurat”


“Sampai separah apa memangnya?” tanya Juno.


“Kaya lintah yang menempel gitu”


“Kasian banget liat Papa”


“Eh A tau gak … kalau selama ini ternyata keluarga Papa itu udah gak harmonis” muka ghibah Bulan langsung memancar terang. Juno yang pada mulanya cemberut terlihat mengerutkan dahi. Menyadari perubahan muka suaminya Bulan tersenyum, rupanya umpan sudah mulai dimakan oleh ikan. Bulan sengaja diam menunggu reaksi Juno selanjutnya.


“Trus?” akhirnya Juno tidak tahan.


“Iya aku dapat info dari Indri… hihihhi sambil kerja kita gibahin Papa” Bulan tertawa senang sambil mengambil makanan dari kemasan yang dikirim  dari hotel.


“Trus” Juno mulai tidak sabar.


“Sambil dimakan atuh pastanya, atau mau makanan dari hotel?” bujuk Bulan. Juno menggeleng, ia langsung meraih pasta yang terhidang di meja dan menyantapnya, Bulan tersenyum senang. Suaminya benar-benar seperti anak kecil yang perlu untuk dibujuk makan dan harus dialihkan perhatiannya sehingga tidak sadar.


“Iya ternyata itu Bu Jamet punya selingkuhan! Jreng..jreng baru tahu kan akang hihihihi” Bulan menyuapkan satu suapan besar dimsum ke mulutnya.


Juno yang tengah makan langsung berhenti dan menatap Bulan dengan tatapan tidak mengerti.


“Selingkuhan bagaimana? Bukankah mereka berdua yang selingkuh” Juno mengerutkan dahi, mulutnya langsung terbuka saat disuapi dimsum oleh Bulan.


“Iyaa ternyata MJ itu aku sebut aja itu yah singkatan dari Mbak Jamet… punya cemcem-an selama selingkuh sama Papa itu... selingkuh dari selingkuhan....hahahha pusing dehh” jelas Bulan, kening Juno semakin berkerut.


“Cem Cem-an bagaimana? Kamu tuh kalau ngomong yang jelas gimana sih… loncat sana loncat sini bikin aku pusing” Juno menggelengkan kepala saat Bulan kembali menyuapkan dimsum ke mulutnya, gagal rupanya kalau merasa kesal pikir Bulan.


“Cemcem-an itu semacam pacar rahasia hihihihi”


“A Juno tahu gak siapa pacar rahasianya?” Juno menggelengkan kepala, upaya terakhir masih dilakukan Bulan dengan menyuapkan kembali dimsum terakhir ke mulut Juno dan berhasil.


“Ternyata kepala bagian keuangannya itu pacarnya MJ...hebat gak tuh?!”


“Daaaan tebak berita yang paling mengerikan seantero jagad raya buat Papa” ucap Bulan berapi-api sambil menyodorkan air minum pada suaminya.


“Ternyataaaa…..” Bulan melirik ke kiri dan ke kanan sambil mencondongkan badannya.


“Anak yang selama ini disangka Papa sebagai anaknya dari MJ… dia adalah anak dari si pacarnya MJ”


“Gilaaaa bener…. Beranian tuh si MJ… hamil sama orang minta dinikahi sama Papa”


“Ckckckckkc wuarbiazaaaaa…”


“Enak-enakan sama orang… minta tanggung jawab sama yang lain”


“Kok bisa yaaaah… aku gak ngerti… main sama orang yang berbeda” Bulan mengerutkan dahinya


“Apa gak pernah ketuker gitu namanya…”


“Kebayang kalau salah sebut… lagi asyik-asyiknya malah nyebut “Ayo Bang lanjutkan” padahal biasa memanggilnya Mas….ahahahhaha” Bulan tertawa terkekeh sendirian.


Cubitan di pipi langsung menghentikan tawanya, dan berubah menjadi jeritan.


“Aaawwwww saaakiiit…” teriak Bulan.


“Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu!” teriak Juno sambil menarik Bulan berdiri.


“Saaakiit iiih” Bulan berteriak keras.


“Aku mah gak berpikir kaya gitu.. Tapi itu mikirin si MJ apa gak salah sebut pas sama lagi Papa malah nyebut si cemceman-an”


“Tidak usah membahas perempuan itu”


“Aku gak peduli dengan perempuan itu… kalau sekarang dia diselingkuhi itu adalah pembalasan atas pengkhianatan yang Papa lakukan dulu pada Mama” ucap Juno tegas.


“Iyaa… iyaa… udah atuh jangan marah sama aku… mendingan kita lanjutkan ghibah yuk… eh bukan ghibah tapi FGD”


“Focus Group Discussion?” tanya Juno heran.


“Bukan Focus Ghibah Discussion… hehehe” Bulan kembali terkekeh. Juno melengos kesal, istilah Bulan selalu saja out of the box. Walaupun ia ingin tertawa terpaksa ia tahan karena merasa gengsi. Tapi mendengar kalau Papanya mendapatkan balasan atas segala kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu membuat perasaannya bercampur menjadi satu, antara kasian, tidak peduli, merasa puas dan kesal bercampur menjadi satu. Ternyata darah lebih kental dari air itu benar adanya, sulit untuk memalingkan diri dari orang yang pernah dekat dengan kita walaupun pernah melakukan kesalahan yang menyakitkan hati.