
Juno PoV
Sudah dua hari ini Bulan sibuk dengan dokumen keuangan yang ia bawa waktu itu, malahan tadi pagi ada lagi tambahan dokumen yang dikirim dengan menggunakan paket, hampir satu dus besar.
“Ini dokumen apa?” tanyaku saat membantu membawa kertas dokumen ke lantai atas.
“Hmmm…. Ini mereka udah bertahun-tahun gak pernah bikin laporan keuangan, sedangkan transaksinya banyak” aneh juga sebetulnya masa sudah memiliki banyak transaksi tapi tidak memiliki staf bagian keuangan sendiri. Akhirnya ku ambil dokumen yang tergeletak di meja perusahaan apa sih sampai laporan keuangan pun harus dibantu oleh pihak luar.
“Ehhhh kok dibawa” dia langsung panik berusaha mengambil kertas dokumen yang ditangan. Semakin aneh, ada sesuatu yang ia sembunyikan tidak seperti biasanya dia bersikap rahasia seperti ini.
“Diam!” satu bentakan langsung membuatnya berhenti bergerak menarik tanganku, mulutnya langsung cemberut. Ada banyak dokumen keuangan di meja, transaksinya bukan transaksi dalam negeri kalau aku lihat tapi banyak melibatkan perusahaan luar dengan jumlah transaksi yang besar.
Beberapa transaksi ditandai oleh Bulan, semakin banyak dokumen yang aku lihat aku semakin yakin kalau ini bukan perusahaan kecil.
“Kamu memeriksa perusahaan apa?”
“Ini bukan perusahaan kecil”
“Nilai transaksinya sampai ratusan juta bahkan ada yang USD dan beberapa transaksi dilakukan dengan perusahaan asing”.
Dia menunduk dan menarik nafas panjang kemudian mengambil kertas dokumen dari tanganku.
“Perusahaan milik teman aku A”
“Dia mencari kebocoran dalam perusahaannya, gak bisa melibatkan staf internal di perusahaan”
“Makanya dia melibatkan aku”.
“Siapa si Cedrik itu?”
“Aa… ya Allah meni gak percaya sama aku… bukan Kak Cedrik dibilangin juga ihh!” mukanya terlihat kesal.
“Kamu beberapa kali terima telepon seperti takut kedengaran orang sampai menjauhi aku, terus sembunyi-sembunyi”.
“Waktu terima telepon gegara harus berahasia aku jadi kebawa mode silent gitu… soalnya orangnya teleponnya bisik-bisik”
“Coba Aa kalau ada yang telepon bisik-bisik masa iya kita jadi mau teriak-teriak”
“Laki-laki?” tanyaku kesal, membayangkan laki-laki berbisik-bisik aneh rasanya.
“Perempuan A… ihhh Aa tuh orangnya cemburuan atau posesif sih…”
“Mana aku lihat nomornya?” aku langsung meminta handphone, mukanya cemberut sambil memberikan.
“Tuh ini nomor Kak Cedrik… ini yang terakhir waktu dia kontak aku lihat tanggalnya udah lama kan?!”
“Setelah itu dia gak pernah kontak atau aku gak pernah telepon dia”.
“Mana nomor teman kamu yang suka telepon bisik-bisik itu?” ada beberapa nomor kontak yang di history, tanggung terlihat posesif di mata dia peduli amat.
“Ini… yang namanya Indri… ampun deh Aa… sampai segitunya” dia kelihatan kesal, tapi aku sudah tidak peduli. Langsung aku pijit tombol hijau untuk menelepon.
“Ya Allah kenapa di telepon?” dia langsung panik.
Setelah hampir empat kali berdering nada panggilan akhirnya diangkat.
“Halo… assalamualaikum teh?” betul suara perempuan dan berbicara seperti berbisik, aku dekatkan handphone ke mulutnya dan menyuruh Bulan untuk bicara, dia langsung melotot bingung harus bicara apa, aku menyuruhnya bicara.
“Waalaikumsalam Indri, ehhhh… maaf teteh tiba-tiba telepon lagi sibuk yah?”
“Mau ngasih tau aja kalau datanya sudah cukup jadi Indri gak usah ngirim lagi dokumen tambahan”
“Makasih yah ndri”
“Assalamualaikum”
Mata dia sudah melotot kesal dan… aaaaarghhhh cubitan dia sudah keburu melintir di perutku.
“Malu-maluin aku ih… kesel aku tuh sama Aa” tangannya harus aku pegang supaya tidak makin melintir di perut.
“Ampun-ampun… aku cuma mau ngecek aja… bisa aja kamu tulis Indri padahal sebenernya Indro” banyak cerita orang menyembunyikan nama selingkuhan dengan merubahnya di kontak hp.
“Aa tuh suudzon terus sama aku…”
“Kesel aku tuh sama Aa” kalau sudah marah dia suka gak mau dipegang sama sekali, mengibaskan tangan yang memegang pundaknya.
“Sudah berapa kali aku bilang, aku tuh bukan tipe perempuan yang gampang pindah ke lain hati”
“Apalagi kalau udah nikah”
“Mau jelek, mau menyebalkan ataupun bikin ifill kita mesti bisa menerima pasangan kita”
“Apa kamu menyebut aku jelek?” langsung aku piting lehernya.
“Jelek, nyebelin, suka marah-marah, tiap malam minta jatah, manja kalau makan mesti dialasin, tau kaya gini sifatnya aku gak akan naksir dulu…. Aduuuuh sakiiit ihhhh” bibirnya terus merepet kalau sudah mengomel.
“Lepasin iiiih… jangan suka miting-miting ginih… gak jauh ntar ujung-ujungnya Aa mah suka ke kasur”
“Siapa bilang mau ke kasur, aku mau cobain di kamar mandi” bisikku di telinganya, mumpung siang-siang gak ada yang ganggu. Langsung aku angkat badannya, makin kesini badannya makin terasa berat.
“Aa… iiiih nyebelin”
“Kalau malu tuh jangan suka jadi mesum… minta maaf sama aku bukannya maksa ngajar ber cinta” dia teriak-teriak tapi malah bikin aku jadi gemas, sampai masuk ke kamar mandi bibirnya tidak berhenti mengomel.
Hal terbaik yang terjadi selama bertahun-tahun adalah menikah dengan Rembulan, bagi dia semua ketidakberuntungan yang aku alami adalah hal yang biasa. Semua sikap murung dan sifat mudah marahku tidak membuatnya terbebani, makin kesini dia seperti tidak peduli dengan sikapku yang lebih banyak diam.
Terkadang dia akan berbicara sendiri, bertanya dan menjawab sendiri kalau aku tidak menjawab pertanyaannya. Sampai akhirnya aku menjawab karena lama-lama pusing juga mendengarnya berbicara terus. Hiburan yang menyenangkan dengan bekerja di rumah adalah bisa kapanpun untuk menyentuhnya. Seperti siang ini hiburan dari kepenatan bekerja membuat desain gambar di laptop adalah menyentuhnya. Kalau bekerja di kantor tidak mungkin bisa seperti ini, benar-benar anugerah terindah yang pernah kumiliki.
“Braak ….Braaak….”
“Woooooy…. Kurang ajar… siang-siang di kamar mandi lu bikin anak” suara teriakan Doni di luar membuyarkan konsentrasiku. Berengsek… mau apa anak itu datang siang-siang ke kantor. Mengganggu saja.
“Aa… udah nanti aja diterusin… malu kedengaran sama Bang Doni”
“Tanggung” jawabku.
Beberapa kali gedoran di pintu tidak aku pedulikan sampaikan semuanya tuntas terselesaikan. Muka Bulan tampak merah perpaduan antara udara panas di kamar mandi dan aktivitas panas yang dilakukan kami berdua. Mendekap erat tubuhnya seakan tidak ingin melepaskan tubuh perempuan ini dalam waktu yang lama.
“A… gerah ihhh udah atuh” suara lirihnya menyadarkan aku.
“Kamu tau gak… salah satu hal yang membuat aku tetap bisa bertahan memulai bekerja di rumah itu kamu”
“Bisa ketemu kamu tiap hari, ngedenger suara berisik kamu sampai bisa kaya gini anytime anywhere itu kaya dimasukin ke dunia yang berbeda”
“Aku gak pernah membayangkan atau berimaginasi akan mengalami hal kaya gini”
“Aku juga A… gak kebayang ngalamin yang kaya gini”
“Dalam bayangan aku digombalin kaya gini itu settingnya candle light dinner pake baju yang bagus”
“Bukan di kamar mandi, Aa gak pake celana, aku bajunya nyingsat kemana-mana”
“A lain kali kalau mau bikin pengakuan tempatnya yang agak bagusan dikit trus pakai baju yang rapi lah biar berkesan gitu”
Dan lagi-lagi perempuan ini selalu saja membuat suasana romantis menjadi berantakan, kucium bibirnya dengan penuh gemas dan penuh perasaan syukur, dan memeluknya sekali lagi.
“Terima kasih sudah mau bersama aku dalam kondisi yang paling rendah… mau berjuang terus barengan aku kan?”
“Iya mau… tapi aku mau berjuangnya pakai baju… Aa juga pake celana”
Kalau diteruskan berbicara dengan perempuan ini, memang tidak akan pernah ada akhirnya.
“Hahahah ya sudah kamu langsung mandi saja sana, nanti aku ambilkan handuk” aku segera keluar, Doni harus kubawa ke lantai bawah supaya tidak mengolok-olok Bulan lagi kalau nanti keluar dari kamar mandi.
“Ada apa lu, gak akan dicari sama Arvian kalau kesini?” membawa handuk yang dijemur di rak atas, dan memberikannya pada Rembulan
“Kenapa? Gak suka gw datang? Lu tiap hari kelakuan kaya gini sama si Bulan? Kasian gw sama dia kaya disekap buat menuhin napsu elu” mukanya terlihat kesal, aku tahu sebetulnya dia merasa kesal karena melihat kebebasan yang aku miliki.
“Nggak… kaget aja, tadi gw lagi nanggung soalnya… hahahahaha”
Sampai jam empat akhirnya kami bertiga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Aku dan Doni mensinkronkan antara desain dan biaya sedangkan Bulan kembali pada dokumen keuangannya. Sampaikan tiba-tiba saja dia turun dengan pakaian yang siap untuk pergi.
“A… aku mau ketemu sama teman aku yang tadi bentar”
“Urgent ini, sudah ketemu bukti-bukti penyelewengannya, aku mau menyamakan hasilnya sama dia dan ketemu sama bosnya”.
“Aku gak sempat masak makan malam, masih ada sisa makan siang tadi tapi kalau Aa bosen beli aja yah sama Bang Doni”
Mukanya terlihat serius dan penuh keyakinan, aku jadi kasihan kalau harus melarangnya.
“Ini sudah jam empat lebih sayang, apa gak bisa besok aja?”
“Justru karena sekarang sudah lewat jam kantor jadinya malah tidak mencurigakan, kalau keluar saat jam kantor malah nanti orang curiga”
“Jangan khawatir aku udah biasa kok jalan malam hari”
“Nanti kalau terlalu malam sama Aa dijemput”
Melihat keyakinan dan keinginannya yang kuat akhirnya aku ijinkan, jangan sampai omongan Doni jadi terbukti kalau dia aku sekap untuk memenuhi kebutuhan. Aku harus memberikan kepercayaan padanya.
“Ok boleh tapi handphone nya harus selalu hidup” jangan sampai kejadian dulu terulang kembali.
“Coba aku cek dulu” kuminta handphonenya, dan tanpa ia sadari aku memperbaharui aplikasi pelacak yang sudah diinstal semenjak dulu aku memberikan handphone ini padanya.
“Okidoki… doakan lancar dan bisa dianggap selesai” mencium tanganku dengan penuh takzim dan penuh pengabdian, membuatku merasa tersanjung sebagai laki-laki yang dihormati.
“Aku salim juga ah sama Bang Doni, sebagai senior di kantor… salam hormat Bang” kalau saja tadi acara pembenihan tidak dilakukan, pasti aku merasa kesal melihatnya dekat dengan Doni. Tapi semakin kesini aku menjadi semakin yakin kalau dia hanya memilihku dan bukan yang lain.
“Abang doakan supaya adek sukses yaaah” tumben si Doni gak gangguin Bulan lagi, dia sekarang lebih kalem dan jarang mengganggunya, hanya saja tatapan Doni terkadang menggangguku, tatapan laki-laki yang menyukai perempuan. Hanya saja keyakinanku pada Doni menutupi semua perasaan curiga yang muncul.
Perasaanku semakin malam semakin tidak karuan, sudah jam tujuh malam tapi masih belum ada tanda-tanda kalau Bulan akan pulang, rupanya perasaan tidak nyaman itu dia rasakan juga, tiba-tiba saja telepon.
“A… ini masih menyamakan data… aku masih di restoran”
“Kalau jam sembilan belum selesai, nanti aku dijemput yah, aku share loc-nya nanti” dan telepon langsung dia matikan tanpa menunggu jawaban dariku.
Ini sudah tidak beres sudah terlalu malam, pekerjaan masih bisa diselesaikan esok hari. Aku kembali memeriksa aplikasi lacak jejak yang terhubung pada hpnya Bulan, terakhir tadi di restoran di PIM, tapi kenapa dia sekarang malah ada di Hotel Intercontinental, aku mencoba memastikan dengan keluar dari aplikasi, khawatir eror tapi ternyata saat masuk kembali lokasinya masih sama, dia ada di hotel itu.
“What… dia ada di hotel?!” apa dia tidak berpikir bertemu di hotel dengan klien terlalu aneh dan mengganggu menurutku. Kuambil jaket yang tersampir di kursi.
“Don gw mau jemput dulu si Bulan, lu mau nunggu disini beresin kerjaan atau mau balik sekarang terserah elu”
“Laah lu mau kemana jemput si Bulan? Gw ikut deh… sekalian beli makan… laper gw”
“Si Bulan ada dimana?”
“Hotel Grand Intercontinental” jawabku kesal.
"Haaah… itu meeting atau meet up… hahahahhahaha”
“Mampus lu… dia tadi emangnya mau kerja disana?”
“Nggak tadi dia awalnya di PIM, tapi pas gw cek barusan ternyata dia udah pindah lokasi”
“Gilaaa bener tuh anak, udah tau punya laki posesif tapi masih aja main api” si Doni bukannya nenangin pikiran tapi malah bikin aku jadi tambah kesal.
“Lu jangan ngomong macam-macam Don… daripada bikin gw tambah kesel mendingan lu jaga Ruko aja”
“Ogaaah ntar gw berduaan sama si Sarah, takut gw mah diserang si Sarah yang kalap gegara kebanyakan dengerin lu berdua”.
“Ya udah kalau mau ikut jangan banyak bacoot bikin gw makin pusing” kepala rasanya mau pecah, akhirnya aku putuskan untuk meneleponnya, apakah dia akan jujur.
Dua kali deringan belum dia angkat, tiga kali, empat kali sampai akhirnya masuk pada voice mail.
“Bereng sek” aku hanya bisa memukul stir untuk mengalihkan energi kesal yang kurasakan.
“Sabaaar… ingat jangan esmosi… santai Bro.. di Intercontinental itu kan ada Restoran nya bagus, terkenal makanannya enak..”
“Kali aja si mantan pengen ngajak Canddle Light Dinner sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan istri lu" tiba-tiba saja teringat ucapan dia tadi siang yang ingin digombali di tempat yang bagus dengan pakaian yang bagus.
“Diam bisa gak sih lu… eneg gw dengerin lu ngomong”
“Hahahahha ternyata punya bini itu selain ada senengnya ada susahnya juga”
“Hidup gw masih banyak masalah… kalau gini ceritanya gw malas nikah sekarang-sekarang”
Aku tidak menanggapi omongan si Doni, cuma bisa narik nafas panjang supaya oksigen bisa masuk ke kepala.
Begitu sampai ke hotel, aku langsung menuju area restoran.
“Mau Dinner untuk berapa orang Pak” seorang waiters cantik menunggu di pintu masuk restoran.
“Istri saya sedang meeting disini bisa di cek dulu di table berapa dia sekarang?” tanyaku, jangan sampai apa yang kupikirkan terbukti…. Please kamu harus ada di sini Bulan.
“Atas nama siapa reservasinya Pak?” dia mencari list nama pengunjung restoran.
“Rembulan”
Dia mengerutkan dahi, ada yang tidak beres ini.
“Tidak ada tamu yang bernama Rembulan Pak disini, mungkin reserve atas nama tamu yang lain”.
“Maaf bisa saya lihat ke area Restoran sebentar?” pengunjung restoran tidak terlalu banyak, dan ku kira aku bisa melihatnya ke dalam, karena interiornya yang terbuka.
“Dia gak ada disini” tiba-tiba saja Doni menyela, rupanya selama aku berbicara dengan waiters dia sudah berkeliling di luar area restoran.
“Yakin lu?” tanyaku keras, perasaaanku semakin tidak karuan, kembali ku cek lokasinya lewat GPS dia benar-benar masih ada di hotel.
Akhirnya kutinggalkan area restoran dan kembali menuju lobby. Jalan terakhir adalah meneleponnya lagi menanyakan dimana posisinya sekarang.
Dua kali deringan, tiga kali dan emp… akhirnya dia mengangkatnya.
“Haloo A .. maaf tadi aku sholat, trus kelupaan mau telepon Aa balik”
“Sebentar lagi aku mau pulang kok, Aa gak usah jemput kasian cape”
“DIKAMAR BERAPA KAMU?”
“Eh…. kamar apa? Gimana kok” dia terdengar kaget.
“KAMU DI KAMAR BERAPA SEKARANG” hampir saja aku tidak bisa menekan suaraku, beberapa orang tampak memperhatikan, tapi kemudian bersikap tidak peduli.
“A..a..aku …”dia langsung gugup,
“Aa tahu aku ada dimana?” masih berani dia bertanya.
“Aku sekarang sudah di hotel, tadi aku cek ke restoran kamu tidak ada di sana, artinya kamu ada di kamar”
“SEBUTKAN NOMOR KAMARNYA SEKARANG ATAU AKU PANGGIL POLISI”
“Astagfirullah A… jangan lebay… aku di kamar 709.. Aku turun sekarang”
“KAMU DIAM DISITU… JANGAN COBA-COBA BERPIKIR UNTUK TURUN” mematikan telepon tanpa menunggu jawabannya, kemudian aku menuju meja resepsionis. Doni mengikutiku dari belakang dengan diam, sekarang dia pun sudah tidak ada keinginan untuk mengolok-olok.
“Istri saya barusan telepon, dia kondisinya sakit ada di kamar 709… bisa antar saya ke atas?” hanya alasan yang masuk akal yang bisa membuatku naik ke kamar hotel. Hanya pengunjung hotel yang memiliki kartu akses yang bisa menggunakan lift.
Tanpa banyak bicara, resepsionis memanggil security untuk mengawalku naik.
“Cerdas banget lu Doel”
Aku tidak menjawab, mencoba menghemat energi, menyiapkan mental untuk menghadapi skenario terburuk