Rembulan

Rembulan
Heart to Heart


Juno PoV


“Yakin gitu ngambil keperawanannya aku? Memangnya pikiran dan perasaan Aa sudah full gitu sama aku?”


“Ini adalah pusaka yang aku jaga dengan baik untuk laki-laki yang mau menjadi imam aku dunia dan akhirat”


“Bukan hanya sekedar untuk kesenangan nafsu saja… “


“Punya konsekuensi dan tanggung jawab kedepannya”


“Mengambil keperawanan aku artinya udah yakin memilih aku bukan orang lain, soalnya aku gak akan ngasih kalau Aa masih berpikir pada orang lain”.


Tidak pernah menyangka pikiran perempuan ini sampai kesana. Aku hanya berpikir saat dia menjadi istriku artinya aku berhak untuk melakukan hubungan suami istri. Apakah letak kehormatan perempuan hanya pada soal keperawanan? Matanya nyalang menatapku, sedari tadi kesadaranku sudah pulih semenjak melihatnya berganti pakaian.


“Bagaimana kalau perempuan yang hilang keperawanan karena diperkosa atau karena kecelakaan, apakah dia tidak memiliki kehormatan lagi?” tanyaku, aneh-aneh saja pikirannya.


“Keperawanan bukan soal hilangnya selaput dara tapi penyerahan nilai kesucian diri kepada seseorang”


“By the way bisa gak ngobrolnya jangan sambil menindih aku? Bukan apa-apa berat A…”


“Trus itu yang dibawah gerak-gerak terus”


Bahasanya selalu saja to the point, apa karena terlalu banyak bergaul dengan Afi sampaikan mereka berdua seperti tidak malu untuk mengatakannya. Akhirnya bergeser berbaring disampingnya tapi masih mendekap tubuhnya yang hangat.


“Atuh geser dikit jangan nempel begini engap” dia berusaha mendorongku untuk menjauh tapi tentu saja tidak mungkin, kapan lagi bisa menempel seperti ini.


“Kasurnya kecil kalau kejauhan nanti aku jatuh”


“Lagipula kamu jangan banyak protes pilih mana ditindih atau seperti sekarang?” perempuan ini harus diancam kalau mau diam.


“Iya-iya… udah gini aja, tapi geser dikit atuh aku gak bisa nafas kalau terlalu nempel. Ini sakit punggungnya kena pinggir tempat tidur” akhirnya aku renggangkan sedikit pelukan tapi masih terasa dadanya menempel… hangat.


“Lanjutkan soal tadi keperawanan bukan soal hilangnya selaput dara” obrolan yang menarik untuk mengukur pemikiran dia tentang hubungan laki-laki dan perempuan.


“Iya artinya pada saat seseorang menyerahkan keperawanannya kepada seseorang itu berarti ia telah mempercayakan dirinya kepada laki-laki tersebut”.


“Dia merasa bahwa laki-laki itu layak di percaya untuk memegang kepercayaan dia” ucapnya lagi.


“Kamu percaya gak sama aku?” hahahhaha akhirnya ada juga kesempatan untuk memojokkan dia.


“Aku… aku…..” dia terlihat bingung menjawabnya, lama terdiam dan kemudian menatap mataku lekat.


“Aku percaya kalau Aa percaya sama aku dan Aa akan percaya sama aku kalau Aa sendiri sudah percaya diri”


“Haah gimana maksudnya?” malam-malam begini kaya dikasih psikotes.


“Aku akan percaya kalau Aa sudah percaya sama aku” dia menjelaskan dengan perlahan,


‘Terus… ”


“Aa akan percaya sama aku kalau Aa sudah yakin kalau Aa itu adalah pasangan yang terbaik buat aku” ucapannya membuat aku jadi berpikir, untung saja tadi sempat tertidur jadi otak lebih segar.


“Jadi maksud kamu aku belum yakin kalau aku itu orang terbaik buat kamu?”


“Itu maksudnya aku gak percaya diri dong”


“Bukankah sudah seharusnya kamu merasa beruntung mendapatkan aku?” enaknya saja menyebut aku tidak percaya diri. Perempuan-perempuan yang dikantor semuanya ingin punya kesempatan untuk pergi keluar denganku.


“Hmmm mungkin aa merasa seperti itu, tapi sebetulnya gak yakin merasa cukup berharga sehingga selalu merasa marah dan emosinya jadi tidak stabil kalau aku bersama dengan laki-laki lain”.


“Setiap aku bersama Pak Kevin selalu saja marah tidak terkendali”.


“Setiap aku membahas segala hal tentang Anjar selalu terlihat insecure”.


“Orang yang pencemburu tidak jelas dan emosional dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan menunjukan kalau orang tersebut tidak memiliki kepercayaan diri, kalau dirinya lebih hebat dari laki-laki yang dicemburuinya itu”.


“Jadi kalau ada orang yang cemburunya berlebihan kita harus mencari tahu kenapa dia gak percaya diri”.


“Aku tidak merasa cemburu berlebihan… masih dalam kondisi wajar… lagi pula siapa yang cemburu… aku kira wajar saja kalau suami tidak menyukai laki-laki yang berlaku berlebihan pada istrinya” enaknya saja menyebut aku cemburu tanda tidak percaya diri, memangnya apa lebihnya si brengsek Kevin dan Anjar itu.


“Kalau aku pikir sih wajar kalau Aa merasa tidak percaya diri sama Pak Kevin soalnya dulu Pak Kevin pernah merebut kekasih di masa lalu” perempuan ini seenaknya saja, hatiku langsung terasa panas.


“KAMU BISA DIAM GAK SIH… AKU TIDAK MERASA SI KEVIN BRENG SEK ITU LEBIH DARI AKU!” langsung aku lu mat habis bibirnya supaya berhenti bicara.


“Hummmmmpppp” biar saja dia menggap-menggap kehabisan nafas.


“Hmmmm amp..amppun… ampp..amppun A…” dia memukul-mukul dadaku.


“Waaahwaaa…. Uhuuukk” dia terlihat tersenggal-senggal… puas melihat dia kelimpungan setelah tadi menghina aku seenaknya saja.


“Aa… ih… kalau nyium itu yang lembut jangan kasar-kasar… AKU GAK SUKA!” mendorong mukaku dengan kasar dan membalikan tubuhnya, hmmm langsung ngambek gitu aja.


“Salah kamu sendiri menghina aku menyebut gak percaya diri” aku mendengus kesal.


“Aku kan bukan menghina tapi lagi diskusi… dasar sumbu pendek mikir tuh pakai kepala atas bukan kepala bawah” …. Ahahahahahha apa itu kepala atas dan kepala bawah kaya yang pernah lihat aja.


“Maksudnya apaa kepala atas sama kepala bawah emangnya pernah liat...” jadi pengen ketawa.


“Mikir pake kepala bawah itu gak bisa mencerna pakai logika tapi semua permasalahan diselesaikan dengan se x kaya barusan. Males aku ngomongnya” rupanya dia marah beneran.


“Ya sudah sini balik lagi, aku pakai kepala atas gak akan pakai kepala bawah lagi” aku tarik pundaknya supaya berbalik.


“Gak mau… males nanti kecolongan lagi” beuuuh ngambeknya beneran ini.


“Lanjutin cerita soal tadi aku gak percaya diri tadi” kepaksa harus pura-pura gak percaya diri daripada dia gak mau ngomong.


“Iya Aa mesti yakin kalau Pak Kevin gak akan mungkin merebut aku”


“Yakin akan kelebihan diri daripada dia”


“Mesti yakin kalau segala yang dimiliki oleh seorang Juno itu lebih dari laki-laki bernama Kevin di mata aku”


“Kalau gitu menurut kamu kelebihan aku dibandingkan dia apa?” tanyaku penasaran.


“Tuhhh kan gak tau kelebihan diri sendiri dibandingkan sama Pak Kevin” dia melirik sambil tersenyum mengejek.


“Iya aku gak tau kan dari kacamata kamu tadi dibilangnya”


“Coba aku mau dengar biar percaya diri” ehh… dia malah diam.


“Ngebalik sini biar yakin… katanya menurut pandangan mata kamu, jadi matanya mesti ngeliat ke aku dong” kutarik lagi pundaknya untuk berbalik, sekarang dia menuruti permintaanku.


“Tapi awas jangan nyium bibir lagi.. Aku gak suka kaya tadi”


“Iya janji gak akan nyium bibir lagi… tapi ceritakan kelebihan aku daripada dia” gak usah nyium bibir tapi bisa nyium yang lain kan… hahaha anak ini otaknya masih polos.


“Hmmm apa yah?” kurang ajar banget, seperti yang bingung. Artinya dia merasa kalau si Kevin itu punya banyak kelebihan daripada aku.


“Coba agak jauhan dikit jangan mepet kaya gini biar aku bisa berpikir objektif” dia mendorongku untuk menjauh… ok aku ikuti.


“Hmmm.. umur.. A Juno lebih muda dari Pak Kevin… itu yang jelas terlihat, dia kelihatan lebih bapak-bapak” ya iyalah jelas itu sih gak usah diomongin lagi, aneh dasar. Dia menatap lama.


“A Juno mukanya keren” dia senyum senyum ditahan, jadi pengen nyium sebenernya tapi aku tahan, jadi ingin tahu komentar dia.


“Pak Kevin juga ganteng sih untuk ukuran bos-bos yang dikantor tapi Aa tuh gimana yah keliatannya cool banget” dia menutup mulutnya sambil tersenyum malu, jadi betul-betul ingin mencium dia.


“Peluk boleh yaaah kalau gak boleh cium… aku jadi seneng ngedengernya” kepaksa deh meluk dia erat, lumayan hangat beuud dadanya.


“Udah atuh engap… mau diterusin gak nih” terpaksa aku lepaskan pelukan demi mendengar puja puji dari fangirl. Aku mengangguk dengan senang.


“Trus walaupun keliatan mukanya galak bin ngeselin tapi hatinya baik” dia menyebutkan itu dengan lirih, pasti gara-gara bantuan operasi untuk Bapak.


“Gak ragu-ragu buat ngebantu aku, Bapak sama Benny”


“Aku ngerasa punya seseorang yang bisa aku dan Benny andalkan disaat Bapak sakit”


“Waktu Aa pulang duluan ke Jakarta dulu waktu Bapak habis dioperasi, tiba-tiba aja aku ngerasa kehilangan banget. Padahal biasanya gak pernah seperti itu, jadi buat aku Aa tuh spesial gak bisa digantikan sama orang lain”.


“Jadi jangan suka marah kalau aku bareng sama Pak Kevin”.


“Karena walaupun dia ganteng, baik dan perhatian sama aku, tetep aja gak akan bisa menggantikan posisi Aa… tidak semudah itu Ferguso” siapa lagi Ferguso?


“Hmmm begitukah?”


“Bagaimana kalau ditinggal jauh kaya kemarin ke Surabaya sampai berhari-hari?”


“Atau sampai berbulan-bulan?”


“Yah gak akan berubah, asal A Juno tetap bisa aku percaya aja”.


“Aku juga masih gak percaya diri kalau ketemu sama Kak Inne soalnya Aa seperti menghindar tidak bisa menghadapi dia”.


“Kenapa aku membolehkan dia untuk mengontak soalnya aku mesti yakin kalau Aa itu bisa dipercaya”.


“Ehh… ini malah menghapus pesan-pesannya dia… jadi aku gak percaya sama Aa” eitsss.. Dia ngebalik lagi.. Hadeuuh.


“Jangan gitu dong Muneey … aku kan menghapus pesan dia soalnya aku pusing bacanya… dia nulis minta maaflah, tetap di hatilah trus apalagi yah?… membuat aku merasakan lagi sakit hati yang dulu” dia mungkin tidak pernah merasakan sedihnya ditinggalkan kekasih secara tiba-tiba.


“Itu artinya masih ngaruh… masih kasian… masih gak melupakan” euuuh ini perempuan bikin greget.


“Gak lah… sudah melupakan, sudah membuat batasan yang jelas” ucapku sambil memeluknya dari belakang.


“Mungkin seperti kamu sama Anjar, kamu juga kan gak bisa langsung menghapus dia dalam kehidupan kamu… kamu akan selalu kasian kalau melihat dia kan? Selalu merasa bersalah ninggalin dia tiba-tiba… itu kan yang kamu bilang?” dia diam saat aku jelaskan itu.


“Iya.. sih” jawabnya pelan.


"Tapi kamu kan tidak akan tertarik menjadikan Anjar sebagai kekasih" tanyaku, dia langsung menggeleng.


“Nah sama… walaupun Ingge sudah tidak ada dalam hidup aku, aku gak bisa pura-pura dia gak pernah ada. Aku pasti akan mengingat dia sebagai bagian hidup aku di masa lalu. Tapi yah gak berarti apa-apa sekarang”.


“Tapi gimana kalau dia minta balikan sama Aa..hayooh… mau gimana?” dia berbalik matanya terlihat memandangku lekat.


“Gimana yah… hmmm sebentar aku pikirin dulu” kapan lagi bisa godain dia.


“Ehh pakai mikir segala… kalau beneran udah dilupain,  gak usah pake mikir langsung tegas menjawab… No Way!” ucapnya berapi-api.


“Memangnya aku gak akan move on kalau ditinggalin Aa… beuuh aku mah gak akan pake lama, gak kayak situ sampai bertahun-tahun baru nikah… aku mah mau langsung nikah lagi… begitu ada yang lamar aku bakalan nikah lagi… mumpung jadi janda kembang”.


“Sakit hati sama laki-laki… obatnya sama laki-laki lagi… gak akan inget sama yang namanya Juno Surono… lupa hilang dalam ingatan.... gak berbekas….AMNESIA!” sekarang matanya yang berapi-api.


“Gak boleh nyium bibir yah?” tanyaku sambil tersenyum… bibirnya mengerucut kesal, kepalanya menggeleng dan membuang pandangan.


“Tapi boleh kan kalau cium dada….hahahahahha”.. Otewe unboxing…. Permisi... pusaka leluhur sudah siap menembus Kahayangan.


“Aaaaaaaaah….. Aa….hmmmmmppppp”....... Jangan ribut deterjen...eh Mas Arif ntar bangun lagi, malam Jumat nih.