Rembulan

Rembulan
Mencoba menjelaskan


Athar duduk dengan gelisah di kursi kerjanya, pikirannya benar-benar tidak bisa konsentrasi penuh bahkan kacau balau sekali sejak tadi pagi insiden bersama mamanya. Saat Athar mengantarkan Kenanga pulang, gadis itu terlihat diam saja dan tidak mengatakan apapun, Athar yakin kalau Kenanga juga pasti acuh tak acuh bahkan tidak peduli dengan dirinya. Menikah? Menikah dengan Kenanga rasanya akan sulit pasti, gadis itu tentu saja tidak akan mau.


"Astaga.." Athar mendesah frustasi sambil mengacak-acak rambutnya dengan kesal


"Ada apa dok?" Evan mengalihkan pandangan matanya dari depan layar komputer


Siang ini tidak terlalu banyak pasien dan tidak seperti biasanya yang selalu penuh sesak di depan ruang kerja Athar berjajar orang-orang yang menunggu ingin bertemu dan berkonsultasi dengan dirinya. Athar mendesahkan nafasnya berat. Dia memilih diam daripada menjawab pertanyaan dari Evan asistennya.


Evan yang tak mendapati jawaban pun menghembuskan nafasnya ke udara sambil mengangkat kedua bahunya.


Athar membenarkan letak kacamata berbingkai emas yang dirinya kenakan. Situasinya saat ini rumit, mama nya adalah orang yang memiliki pendirian kuat, jikapun Athar mencoba kembali menjelaskan dan membujuk mamanya rasanya pasti kegagalan presentasenya akan jauh lebih besar daripada keberhasilannya. Athar melihat ke arah jam dinding di ruang kerjanya, masih ada setengah jam lagi waktu prakteknya, rasanya Athar ingin segera berakhir jam prakteknya dan ingin ke rumah mamanya, setidaknya dirinya akan mencoba menjelaskan kepada mamanya.


^


Athar membuka pintu rumah keduanya, rumah yang memiliki banyak kenanga manis keluarganya terasa sangat sepi, di rumah sebesar ini hanya di huni oleh mama, papa, serta beberapa asisten rumah tangga dan tiga orang satpam. Kakaknya, Athira semenjak menikah juga sudah mandiri dan hidup di rumahnya yang terletak kurang lebih 5Km dari rumah kedua orang tuanya.


"Ma..." Athar menyapa Mamanya yang terlihat duduk di meja makan sendirian.


Tak ada jawaban dari mama Vina, hanya ada lirikan sinis dari wanita yang sudah melahirkan Athar ke dunia ini. Vina memang sengaja ingin menekan Athar supaya putra bungsunya cepat menikah. Sebenarnya Vina tidak bisa marah berlama-lama dengan putra bungsunya, tapi demi misinya Vina harus kuat menahan dan tetap berpura-pura marah meski Vina tahu kalau putranya tidak mungkin melakukan hal di luar batas kewajaran norma yang ada.


"Mama masih marah?" Athar menarik kursi dan duduk tepat di samping mamanya


"Ma..."


"Athar, apa kau sudah membuat keputusan?" suara Mama Vina penuh ketegasan


"Ma dengarkan Athar, Kenanga tidak mungkin dan tidak akan mau menikah dengan Athar. Kenanga tidak memiliki perasaan apapun dengan Athar, ini kali kedua kami bertemu ma, jadi soal menikah itu hal mustahil ma" Athar berucap dengan tatapan sendu


Tak ada jawaban, Mama Vina tak bergeming, kedua matanya menatap tajam putranya yang kini duduk tepat di sampingnya.


"Semalam Kenanga mengalami musibah dan hampir di lecehkan oleh seorang pria dan dia pingsan, maka dari itu Athar membawanya pulang ke rumah Athar ma, karena jika Athar mengantarkan dia pulang mama Kenanga bisa shock dan kembali masuk rumah sakit"


Penjelasan Athar panjang lebar, namun tidak ada jawaban apapun dari wanita yang sudah Athar jadikan cinta pertama olehnya. Mamanya masih tak mau membuka mulutnya sama sekali.


"Ma...." ucap Athar sendu, dirinya benar-benar sedih bila mamanya mendiamkan dirinya seperti ini.


"Athar mama tidak memberimu banyak pilihan. Pikirkanlah jalan apa yang hendak kamu pilih" tegas Mama Vina beranjak dari kursi meja makan.


Papa akan segera pulang dari luar kota, dan mama hanya memberinya waktu satu minggu untuk menentukan pilihanmu.


"Apa kau sudah mencoba berbicara dengannya? Apa kau sudah pernah mengajaknya menikah?"


Kali ini pertanyaan mama Vina ampuh membuat Athar bungkam, memang Athar belum pernah mengajak Kenanga menikah, kalaupun Athar mengajak pasti akan sia-sia, penolakan dari Kenanga pasti jauh lebih jelas daripada dirinya di terima.


"Menikah? mengajak menikah? gadis mana yang perlu papa lamar?" suara Papa Zanaka terlihat heboh


Seketika Athar dan Mama Vina langsung mengalihkan pandangan matanya, keduanya terkejut saat melihat papanya berdiri tidak jauh dari mereka berdua.


"Kenapa kalian diam? Jadi gadis mana yang harus papa pinangkan untuk putra bungsu papa?" Papa Zanaka terdengar sangat antusias


"Akhirnya ada gadis yang mampu menggoyahkan pendirian dari Athar juga. Papa sangat senang" imbuhnya.


"Papa.." sapa Athar memaksakan senyum di bibirnya


"Jadi kapan papa harus melamar gadis itu? mengapa kau belum pernah mengajaknya menemui papa dan mama?" Papa Zanaka terlihat bersemangat menghampiri putra bungsunya


"Apa mama sudah bertemu dengannya?" kali kni pertanyaan papa Zanaka di arahkan kepada istrinya


"Begitulah"


"Athar... Kenapa kau hanya mengenalkannya pada mama?"


"Papa kan baru saja kembali dari luar kota, lebih baik papa berganti pakaian dan beristirahat" Mama Vina mengalihkan pembicaraan dan mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar.


Awalnya Papa Zanaka menolak ajakan istrinya, rasanya dirinya ingin berbincang-bincang dengan putra bungsunya mengenai berbagai banyak hal termasuk gadis yang akan di nikahi oleh putranya, tapi istrinya memaksa hingga papa Zanaka mau tak mau harus menurut apa kata istrinya.


Setelah kedua orang tuanya lenyap di balik pintu kamar yang tertutup, kini tinggal Athar seorang diri duduk di meja makan dengan memasang wajah masam, situasinya semakin rumit saat ini terlebih lagi papanya malah mendengar kata-kata yang hanya ekornya saja tanpa tahu kepalanya.


"Menyebalkan sekali" Gumam Athar dengan mengacak rambutnya yang sudah tertata rapi


Dengan begitu kesal Athar mengambil sebuah apel merah yang terletak di atas meja, dengan kekuatan penuh Athar menggigit apel tersebut, kunyahannya pun terlihat kasar seolah mewakilkan perasaannya yang kesal saat ini. Athar tidak menyangka kalau niatnya menolong Kenanga malah berbuntut panjang. Meski tak bisa di pungkiri Athar mengagumi Kenanga, tapi untuk menikah? Athar tidak mau jikalau pun Kenanga mau itu hanya karena dasar terpaksa atas masalah yang saat ini terjadi. Athar hanya ingin menikah atas dasar perasaan kasih sayang, karena menikah hanya untuk satu kali dan bukan untuk permainan atau keterpaksaan semata.


"Apa aku harus mencoba berbicara dengan Kenanga?" pikir Athar dalam benaknya


"Tidak-tidak.. aku tidak mungkin membawa Kenanga ke dalam masalah ini. Tapi aku harus apa?" Athar dengan kesal melemparkan buah apel yang sudah tinggal setengah ke sembarang arah.


"Shit..."