Rembulan

Rembulan
Curhat Dong A....


Berkali-kali Juno menarik nafas sepanjang perjalanan, sesekali menguap, tempat Pub yang dituju berada di Jakarta Utara, seperti perjalanan dari ujung ke ujung.


“Maaf yaa A… jadi merepotkan, tapi kalau gak sama kita nanti dia terlunta-lunta disana”


“Aku bakalan merasa bersalah banget” Bulan menatap suaminya lekat. Sekarang ia merasa segar karena sudah tidur 4 jam lebih tadi.


“Hmm… ” Juno hanya menggumam, tanpa melirik sedikit pun juga.


“Cape yah tadi, maaf aku gak bantuin. Tadi aku ngantuk banget”


“Besok aku janji bantu ngangkutin barang kalau perlu”


“Aa tinggal nunjuk-nunjuk aja” Bulan meraih lengan Juno yang tengah menyetir dan memeluk sambil bersandar ke bahu suaminya.


“Beraaat … aku lagi nyetir!” Juno mengibaskan tangannya, merasa ditolak oleh suaminya mata Bulan langsung mendelik kesal.


“Kamu tuh kalau ada maunya aja sama aku manja-manja. Tapi kalau nggak, galaknya minta ampun sama suami!” keluh Juno, yang merasa ada udang dibalik bakwan dengan sikap manja Bulan.


“Aku  cuma mau menjadi teman yang baik ke Anjar seperti Bang Doni sama Aa dulu waktu patah hati”.


“Kalau gak percaya ya sudah gak apa-apa” ucapnya kesal sambil bergeser membelakangi Juno. Melihat sikap Bulan yang berubah 180 derajat, Juno akhirnya mengalah.


“Ya sudah niiih kalau memang pengen meluk tangan aku.. Nihh pegang nih” Juno mengacungkan lengannya ke depan muka Bulan.


“Apaan sih” ucap Bulan masih dengan muka cemberut.


“Inih… katanya pengen meluk tangan… nih boleh dipeluk tapi mesti nempel ke dada yah” ejek Juno. Bulan cemberut, malu tapi mau akhirnya memegang tangan Juno dan memeluknya. Menyandarkan kepala ke bahu Juno sambil menarik nafas panjang.


“Ngomong apa si Doni soal aku?” tanya Juno pelan.


“Banyak” jawab Bulan pendek, terngiang di kepalanya semua cerita Doni tentang suaminya.


“Iya apa aja banyak itu?” seru Juno tidak sabar.


“Sok.. ngomong pake otot lagi digigit sama aku!” Bulan mengarahkan giginya di lengan Juno.


“Ehhh jangan… jangan macam-macam aku lagi nyetir ini” mengeratkan genggaman tangannya di stir mobil khawatir kehilangan keseimbangan.


“Cerita apa aja si Doni aku pengen tahu” ucapnya lagi sambil melirik Bulan yang tampak melamun. Bulan menarik nafas panjang, menundukkan kepala sambil menghirup lengan Juno seakan mencari energi.


“Katanya dia suka ngajak A Juno bolos sekolah… mabal kata anak Bandung mah”


“Trus katanya A Juno pas SMA banyak cewek yang suka tapi cuek aja ternyata udah pacaran sama cewek paling cantik di sekolah”.


Juno tersenyum mendengarnya,


“Terus apalagi?”


“Terus.. Pas diputusin karena Kak Inne nya tekdung duluan, A Juno kaya orang gila diem di terminal”.


“Terusss gak mau makan selama seminggu sampai akhirnya sama Bang Doni disuruh balas dendam sama Inneke dengan cara punya perusahaan sendiri biar nanti Kak Inne nya bakalan ngemis-ngemis pengen balikan sama Aa” ucap Bulan dengan ketus.


“Kirain teh bikin perusahaan sebagai ajang pembuktian sama Papa Bhanu ternyata pembuktian kepada sang mantan… nyesel aku ikut mikirin kemarin” ucap Bulan sambil melepaskan tangan Juno dan kembali duduk berbalik menghadap ke jendela, perasaannya terasa sakit.


“Ehhhh kamu tuh suka ngambil kesimpulan sendiri, gimana sih?”


“Heehh Rembulan.. Siapa yang ngijinin ngelepasin tangan… ini peluk lagi!” Juno menusuk-nusuk punggung Bulan dengan jarinya, hingga Bulan menggeliat kegelian.


“Aishhh jangan pegang-pegang pinggang geli tau!” Bulan menepiskan tangan Juno yang memegang pinggangnya dari belakang.


“Ini peluk lagi tangan akunya… ngantuk nih kalau engga”


“Kamu mau emang aku ngantuk terus bisa-bisa nanti nabrak” ancam Juno


“Ihhhhh… gimana sih gak nyambung banget masa dipegangin tangan bikin gak ngantuk… suka bohong gak pake logika!” sambil bersungut-sungut Bulan kembali meraih lengan Juno dan memeluknya erat.


“Jelas logikanya, pertemuan dua tubuh akan menghasilkan energi panas… energi panas menghasilkan daya… nah daya ini yang membuat aku gak ngantuk”


“Apalagi kalau skin to skin… beuuh manteb dijamin segeerr…. Brrrrrrr” tubuh Juno bergerak seperti menggigil membayangkan skin to skin tadi malam.


“Apaan sih…” Bulan langsung memprotes dengan mencubit pinggang Juno,


“Ehhhh diem tangannya, nanti aja kalau udah di kamar baru boleh gerayapan kalau sekarang sih bahaya”.


Bulan akhirnya diam, pikirannya kembali dipenuhi oleh bayangan Juno yang akan kembali kepada Inneke apabila sudah sukses seperti yang terjadi pada Papa Bhanu dan Mama Nisa. Juno melirik Bulan yang diam termenung kemudian ia tersenyum.


“Kamu pernah bilang kalau aku itu tidak percaya diri sehingga cemburu setiap kamu berdekatan dengan Kevin”


“Ternyata kamu juga sama tidak percaya pada diri sendiri sehingga menganggap aku akan kembali ke Inneke kalau sudah punya perusahaan begitu kan?” tanya Juno, Bulan terdiam perasaannya terasa gamang. Juno menarik nafas panjang.


“Untuk apa aku kembali pada perempuan yang sudah mengkhianati kepercayaan yang sudah aku berikan coba kamu pikir, apakah aku mungkin untuk melakukan itu?” tanya Juno sambil melirik istrinya, Bulan menggelengkan kepala.


“Ok… sekarang pikir dengan logika, dia sudah menikah dan mempunyai anak. Aku juga sudah memiliki istri, apakah mungkin aku meninggalkan istriku yang seksi dan suka menangis ini untuk bersama dengan perempuan yang sudah punya suami dan anak, mungkin nggak?” tanya Juno lagi, kembali Bulan menggelengkan kepala.


“Aku membangun perusahaan dengan mempertaruhkan semua yang aku punya agar bisa menikmati kebahagian bersama perempuan yang sudah pernah mengkhianati, apakah aku sebodoh itu dimata kamu?” tanya Juno sambil tersenyum sinis, Bulan kembali menggeleng sambil cemberut.


“Makanya kalau mendengar cerita itu jangan langsung masuk plek ketiplek ke dalam otak tapi dicerna dulu dipikirkan secara logika!” kecam Juno kesal.


“Pantas saja tadi pas ngobrol sama si Doni kamu langsung pucat, ternyata otaknya mentok mikirin takut ditinggalkan pujaan hati” Juno tertawa senang, Bulan menoleh kesal,


“Ya wajar aja aku mikirin seperti itu, aku kan gak tau pikiran orang”


“A Juno nikah sama aku aja kepaksa gara-gara merasa bersalah Bapak sakit karena liat foto kita”


“Yang namanya perasaan kepaksa itu kan gak full gak kaya suka karena emang niat nikahin”


Bulan menunduk, setelah ia pikir benar juga kalau  sebetulnya ia tidak percaya diri. Juno melirik Bulan dan kemudian menghentikan kendaraan ke pinggir jalan. Ditatapnya perempuan yang duduk disebelahnya yang terlihat kebingungan.


“Kenapa berenti A? Masih sepuluh menit lagi sampai kesana” Bulan melihat kekanan dan kekiri. Tiba-tiba ia ditarik Juno ke dalam pelukannya.


“Eh…”


“Jadi selama ini kamu merasa aku terpaksa menikahi kamu?” tanya Juno sambil menangkup muka Bulan, yang mengangguk lemah.


“Salah… aku bersyukur gara-gara foto itu aku jadi menikah sama kamu”


“Yah gak bersyukur Bapak jadi sakit sih, kalau itu merasa jadi bertanggungjawab”


“Sebelumnya kan aku udah bilang pengen memulai lagi dengan kamu, cuma kamu yang selalu menolak karena sudah gak merasa nyaman sama aku”


“Jadi jangan pernah merasa kalau aku gak pernah menginginkan kamu”.


“Kalau mau jujur malah aku yang merasa kalau kamu sebetulnya yang terpaksa menikah sama aku”


“Hanya karena Bapak sakit kamu terpaksa menerima aku sebagai suami” Juno mendengus kesal.


“Makanya aku sering kesal, kaya seperti laki-laki yang tidak diinginkan”


“Padahal banyak perempuan yang suka sama aku, tapi kamu kayaknya sekarang sudah tidak lagi peduli sama aku”.


“Tadi aja malah memilih barengan sama si Doni, bukannya nemenin aku menata kamar”.


“Laah… Aa ngeliatin gak suka sama yang aku bawa, kalau Bang Doni malah nyuruh aku buat menata barang-barang aku”


“Suka serba salah sama A Juno tuh… aku ngedeket eh dicuekin, aku menjauh dimarahin… gj!” gerutu Bulan sambil menjauhkan tubuh Juno darinya.


“Daripada sakit hati terus makanya aku mendingan jaga jarak sama Aa tuh biar gak ilfil” ucap Bulan sambil bergerak berusaha membelakangi Juno kembali.


“Ahahahahahah… gitu yah… aduh sayaaang… sini sayang ada yang ngambek...hahahaha” Juno melepaskan seatbelt dan menarik Bulan kembali kepelukannya.


“Maaf aku memang belum terbiasa bicara yang manis sama perempuan”


“Kamunya juga suka bikin kesal jadi aku suka gak ngontrol diri” Juno mendekap Bulan erat. Diciuminya rambut Bulan dengan sepenuh hati, menelusuri telinga dan kemudian pipi hingga akhirnya menemukan spot favoritnya, si pillowy yang selalu menjadi tujuan utamanya saat menatap wajah Bulan.


Menumpahkan asa dan memadukan kembali kasih yang selama seharian ini ia coba singkirkan agar bisa fokus menyelesaikan penataan Ruko, yang terdengar hanya decakan bibir yang bertemu dan suara lirih dari Bulan, karena tangan Juno sudah tidak bisa lagi memegang stir mobil.


“A… hmmp… udah ih.. Nanti dilihat orang malu” Bulan berusaha menahan kepala Juno.


“Hmmm...bentar… nanggung“ sekring listrik yang sudah konslet susah dikembalikan kalau seperti ini, untung saja gebrakan dari luar mobil mengagetkan mereka.


“Woooy… ngamar sana ngamar... jangan disini...Bubar-bubar” entah siapa yang menggebrak mobil dari luar tapi langsung membuat Bulan pucat dan mendorong Juno menjauh.


“Udahhh… nanti diteruskan di rumah.. Ayo sekarang kita lanjutin jalannya”


Dengan malas dan lirikan kesal Juno menatap kearah luar, ditatapnya wajah Bulan dengan tatapan penuh asa, memberikan kecupan terakhir sebagai penutup rasa yang membuncah di dadanya.


“Jangan suka mendengarkan perkataan orang tentang aku yang dulu”


“Kamu harus lebih percaya diri, yakin kalau aku memilihmu bukan karena keterpaksaan, tapi karena kamu adalah perempuan yang dipilihkan Allah untuk aku”


“Ingat kamu dulu pernah bilang, perempuan baik akan mendapatkan laki-laki yang baik”


“Aku adalah laki-laki baik yang mendapatkan perempuan terbaik bernama Rembulan”


“Ok?” ucapnya sambil mengusap lembut bibir Bulan dengan jari tangannya.


Bulan mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan suaminya ia merasa kalau semua kegundahan dan keresahan hatinya tidak beralasan.


“Itu sudah bawaan alam bawah sadar, aku sih ngerasa biasa aja. Kamunya aja jangan suka baperan” tungkasnya santai sambil kembali melajukan kendaraan.


“Kebiasaan jelek dipelihara… kalau jadi orang tuh mesti ramah, banyak senyum jangan suka marah-marah kaya Papa Bhanu aja!” ucap Bulan kesal. Juno menarik nafas, disamakan dengan Papanya adalah hal yang paling tidak ia suka walaupun bukan hanya satu dua orang yang mengatakan itu.


“Ya sudah sekarang mau lebih ramah dan banyak senyum, setiap bertemu perempuan cantik akan aku kasih senyuman ramah dan ajak bicara terus biar mereka suka”


“Ehhhhh bukan sama perempuan lain… cukup sama aku aja… enaknya aja!”


“Jangan suka pecicilan sama orang, secukupnya aja. Aku paling gak suka sama laki-laki yang cunihin… ih sebel liatnya juga!” #cunihin(ganjen)


“Hmmm serba salah... jarang senyum disebut bikin ilfill, akunya mau ramah disebut cunihin” Juno menarik nafas panjang sambil tersenyum, berpura-pura bingung dan galau menirukan Bulan sebelumnya.


“Ya udah gak apa-apa jarang senyum sama galak juga, biarpun ilfill  aku ridho… lama-lama juga terbiasa sama sifat Aa” ucapnya cepat.


“Daripada ramah sama perempuan… aku gak suka!” sambungnya sambil menggerutu pelan. Juno tertawa, ditariknya kepala Bulan dan diciumnya dengan gemas.


“Biarpun kamu sering membuat aku kesal tapi kamu juga sering membuat aku jadi pengen ketawa” diakhiri dengan cubitan di pipi Bulan.


“Awwwww… sakit...ihhhh” dipukulnya Juno dengan kesal.


“Kebiasaan menjembel pipi aku, nanti menggelambir” Bulan menggosok-gosok pipinya dengan kesal.


“A… itu di depan.. Pubnya.. Masih buka gitu yah jam 12 an gini” Bulan mengamati tempat yang tampak seperti bangunan tertutup tapi dipenuhi oleh parkiran mobil di depannya.


“Justru semakin malam semakin ramai” mata Juno menyisir mencari tempat parkiran yang sudah banyak terisi penuh.


“Ommm… sini Om kosong” teriak juru parkir sambil melambaikan tangannya.


“Hahahah dipanggil Om indikator muka tua” Bulan tergelak mendengar panggilan juru parkir, yang diledek tampak tenang tidak terganggu.


“Di tempat yang kaya gini, panggilan Om itu kehormatan, terlihat berkelas, punya uang banyak bukan orang kere” Juno menjawab sinis. Mata Bulan langsung membulat sambil bersiap untuk turun.


“Artinya A Juno sering datang ke tempat ginian, ihhh… amit-amit ngapain coba kesini” ucapnya sambil membuka pintu mobil.


“Aku kesini bareng client, bukan cari senang-senang, tapi lebih ke tugas aja” sambilnya sambil berkerut melihat situasi di luar.


“Kamu jangan masuk ke dalam. Tunggu disini!”Juno langsung menarik tangan Bulan hingga tersentak, ucapnya tegas.


“A… tadi orang yang telepon dari hp Anjar itu ke aku, jadi pasti nanti nyarinya aku”


“Trus… ehmmm… aku pengen tau Pub itu isinya kaya gimana?” Bulan menunduk


“Mendingan sama Aa ngeliatnya sekarang, supaya kalau aku ada yang ngajak aku udah ada bayangin mesti gimana”


“Ehh.. awas kamu kalau coba-coba ikut entertain ke tempat seperti ini!” Juno menatap dengan kesal.


“Aku tadi sebetulnya diajakin sama Pak Kevin acara dinner sama klien di Starlight Resto, sama Anjar dan Mbak Icha juga tapi kenapa malah si Anjar nyasar kesini?” Bulan menatap bingung.


“Awas kamu kalau mau diajak pergi sama mereka ketempat seperti ini!”


“Kamu dibelakang aku jangan macam-macam!” Juno berjalan bergegas masuk ke dalam area pub, setelah ia berbicara dengan staf di meja penyambut tamu di depan.


Ternyata ini adalah pub khusus yang memiliki beberapa space tapi tidak dibatasi oleh ruangan tertutup sehingga pengunjung bisa melihat suasana pub dengan bebas.


Ada meja bartender pada beberapa sudut, tempat duduk yang ditata dengan pola simetris sehingga terlihat cozy dan dinamis. Disudut terdapat dance floor yang sedang menyuguhkan atraksi pole dance. Seorang perempuan dengan pakaian minim sedang berdansa di tiang memperlihatkan gerakan yang dinamis namun seksi. Mata Bulan membulat melihat pertunjukkan itu sehingga tidak sadar menabrak laki-laki yang sedang berdiri di dekat pagar pembatas.


“Ahh maaf..maaf…” Bulan tersentak kaget, ia tidak melihat keberadaan laki-laki.


“Gak apa-apa… sans” suara laki-laki itu terdengar berat dan dalam.


“Kamu… “ Juno yang mendengar Bulan mengaduh di belakangnya langsung berbalik dan menarik tangan istrinya.


“Bulan… ini kamu...ahahahhaha” suara laki-laki itu kembali terdengar membuat Bulan menatap kembali.


“Kak Cedrik…” tapi belum sempat ia meneruskan perkataanya, tangannya sudah ditarik Juno menjauh.


“A… tenang itu mah Kakak kelas aku, bukan orang jahat”


“Diem jangan banyak ngomong, katanya si Anjar ada di ruangan dekat toilet disana” rupanya Juno sudah diberitahu tentang keberadaan Anjar. Bulan menatap kebelakang, tapi laki-laki yang pernah dikenalnya dulu sudah tertutup oleh rombongan tamu yang datang.


Saat Bulan masuk ke area yang disebut recreation room, nampak beberapa perempuan yang berpakaian minim tengah duduk-duduk sambil merokok dan beberapa lagi sedang makan. Disudut ruangan Bulan melihat sosok laki-laki yang terbaring dengan posisi meringkuk. Mukanya lebam dan ada bekas darah di dekat hidung dan mulutnya.


‘Ya Allah… Anjarrrr” teriak Bulan sambil memburu sosok laki-laki yang terbujur di sudut ruangan.


“Weeeis.. Haloooow.... mau jemput siapa nih” perempuan yang di ruangan langsung gagal fokus saat melihat Juno yang tampak tidak memperdulikan mereka.


“Yaaah jemput anak gila itu rupanya!”


“Hehhhh Mbak pacarnya… yang namanya Bulan bukan?”


“Tuuuh dia dari tadi teriak-teriak terus sampai ribut sama pengunjung yang lain”


“Gila tuh dia… sampai meluk-meluk cewek orang...ya habislah dihajar” sambung perempuan lain yang ada di ruangan itu.


Bulan tercenung mendengarnya, dilihatnya muka Anjar yang tampak membiru, tergeletak di lantai tanpa ada apapun yang melapisi dinginnya lantai ruangan.


“Anjaar bangun… ayo kita pulang” Bulan menarik tubuh Anjar, tapi sahabatnya itu masih saja memejamkan mata.


“Anjarr.. Bangun!!  Buka matanya. Ayo kita pulang!” air mata Bulan sudah menggenang, muka Anjar sudah babak belur tidak berbentuk.


“A… ini gimana?” ditariknya tubuhnya Anjar tapi masih saja tidak bergerak.


“Kamu tunggu disini, saya panggil security untuk membantu” ucap Juno sambil beranjak keluar cepat.


“Heeh Mbak… itu siapanya? Kakaknya?” perempuan yang sedang merokok di sudut memanggil Bulan.


“Bukan… suami saya” jawab Bulan cepat


“Barang bagus lakunya pasti cepat...hahahaha” celetuk perempuan yang duduk disebelahnya.


“Ya iyalah emangnya elu… barang second masih pengen yang gress, mikir lu!” jawab perempuan yang tadi bertanya.


“Bulan… kenapa kamu disini?” ternyata laki-laki yang dipanggil Cedrik menyusul Bulan masuk ke ruangan yang disebut recreation room.


“Waduuuh ini siapa lagi… bagus semua barangnya” celetuk perempuan yang tengah duduk di pojokan menatap kedatangan Cendrik.


Cedrik yang kaget melihat kumpulan perempuan yang seketika memperhatikan dirinya, ia terlihat bingung untuk bersikap. Ia mendekat ke arah Bulan yang masih berjongkok di depan Anjar.


“Kak… “ baru itu jawaban Bulan saat Juno masuk bersama dua orang security.


“Ohh yang ini teman Bapak, dia sudah bikin ribut tadi Pak, mau dilempar ke luar tapi katanya akan dijemput oleh pacarnya”


“Barang-barangnya ada di front office Pak, diamankan soalnya kalau disini suka hilang ada yang suka iseng ngembatin” ucap seorang security sambil menatap sinis pada perempuan yang tengah duduk disana.


“Apa lu Ucup… main fitnah nyebut kita maling… lu kali suka minta duit sama Tante-tante” teriak perempuan yang tadi berbicara terus.


“Mas tolong dibantu dibawa keluar, saya nanti jemput dimajukan mobilnya ke depan… ayo!” ucap Juno cepat, ditariknya tangan Bulan yang tampak bingung melihat Anjar.


“Bulan.. Kamu….” Cedrik kembali memanggil Bulan. Juno melirik kesal dengan sekali hentakan Bulan sudah terhuyung mengikutinya.


“Kak aku duluan… “ Bulan berteriak sambil mengikuti Juno yang berjalan tanpa melihat kebelakang.


“Sabar-sabar… jangan cepat-cepat… nanti aku jatuh A…” Bulan memeluk tangan Juno dengan kedua tangannya berusaha menenangkan.


Perempuan-perempuan yang di dalam ruangan langsung menggerutu.


“Beuuuuh siapa sih tuh cewek menang banyak… yang satu digebukin, yang satu main tarik aja… ini satu lagi ditinggalin bengong”


Cedrik tersenyum menatap perempuan yang ada disana.


“Dia memang selalu menang banyak dari dulu… banyak meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.


Hadeuuuh siapa lagi atuh ini… yang dua aja belum kelar… udah datang satu lagi. Emang Bulan kaya gimana sih… bikin aku jadi penasaran.


###########################


Hari ini saya kehilangan seorang teman baik yang kebaikan hatinya membuat saya bersedia untuk bersaksi. Orang yang selalu rendah hati, selalu tersenyum, tidak pernah menunjukkan rasa marah yang berlebihan saat temannya mempermainkan atau mengolok-oloknya. Semua itu tidak menjadikan dia menjadi kecil tapi membuat dia berusaha membuktikan kalau dia bisa menjadi laki-laki hebat. Laki-laki yang bisa mengangkat derajat keluarganya sehingga mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetangganya yang tidak mampu mendapatkan kesempatan bekerja dan  hidup lebih sejahtera.


Selamat jalan... maafkan kita semua tidak bisa bertemu lagi seperti janji kita sebulan yang lalu... maafkan kami yang selalu merepotkan tapi belum bisa memberikan apresiasi terbaik.


 "Yaa Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta istri yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka."


Selamat jalan Atif ....


Teman-teman pembaca semua, kehilangan yang saya rasakan pagi ini semakin menyadarkan bahwa kematian adalah rahasia yang dimiliki Allah semata. Tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil olehNya. Yang tidak pernah bertemu tiba-tiba saja mendapatkan kabar telah meninggal, bahkan yang setiap hari bertemu pun tidak mustahil tiba-tiba saja esok hari atau kapanpun akan dipanggil olehNya.


Jangan ragu untuk sekedar menyapa, memberikan salam, memberikan apresiasi, menyatakan rasa rindu, rasa sayang dan rasa cinta pada orang-orang di sekitar kita. Kita syukuri semua anugerah yang diberikan olehNya, sehingga tidak akan ada rasa penyesalan dikemudian hari.


Lupakan semua rasa iri, kecewa, ataupun kemarahan yang kita rasakan pada orang lain, semua energi negatif hanya akan membawa keburukan pada diri kita. Berikan senyuman dan ucapan baik pada orang lain, mengucap syukur atas nikmat yang masih diberikan oleh sang Pencipta, sehingga kita masih bisa menikmati hari ini di dunia.


Terima kasih atas apresiasi teman-teman pembaca semuanya. Tanpa adanya dukungan dari teman-teman semua,  hari-hari saya selama menjalani masa WHF mungkin akan berbeda. Semua perkataan baik ataupun perkataan buruk yang pernah dilontarkan menjadi warna dalam menjadikan hidup ini menjadi berbeda.


Terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam.


ShAnti