
“Weiiis gw kira mobil jasa angkut yang datang ternyata mobil si cinta yang datang” celoteh Doni menyambut kedatangan Bulan saat menurunkan barang yang dibawanya dari kost-an.
“Eh Bang Doni… udah lama Bang?” sambut Bulan, teman suaminya ini selalu terlihat ceria dan tanpa beban.
“Hari ini gw dipaksa ikutan izin gak masuk kerja, belum jadi bos udah maksa-maksa. Ampun banget deh laki lu itu” gerutu Doni sambil membantu menurunkan barang-barang dari mobil.
“Kamu cuma bawa ini aja?” Doni tampak bingung hanya 3 kantong besar dan 2 dus kecil berisi buku-buku.
“Masih ada televisi, lemari pendingin dan beberapa kotak keperluan harian, cuma aku gak yakin perlu gak?”
“Takut gak sesuai sama yang punya rumah” jawab Bulan. Ia belum mendiskusikan soal rencana pengisian rumah dengan Juno, selera Juno yang terlihat berkelas membuatnya khawatir salah dalam mengambil tindakan.
“Lah kan elu nyonya rumahnya” Doni menggelengkan kepala heran.
“Aku nyonya rumah yang belum bersertifikat Bang… belum diakui oleh pihak asesornya” jelas Bulan, selama ini ia hanya menata ruangan kamar berdasarkan kefungsian tidak mempertimbangkan soal estetika karena biasanya nilai estetika memiliki dampak pada harga yang harus dibayar untuk memenuhi itu.
“Kamu kok bisa cepat pulang?” Juno tampak kaget melihat Bulan yang sudah datang dengan membawa dua kotak berisikan buku.
“Iya tadi aku izin pulang lebih cepat, soalnya semua ada meeting di luar dengan klien, kebetulan bukan project aku” Bulan menyerahkan dus buku kepada Juno, tangannya sudah terasa sakit membawanya.
“Untuk apa membawa buku sebanyak ini? Memangnya masih kamu baca? Kalau hanya sebagai bahan bacaan dan sudah selesai dibaca lebih baik kamu jual ke toko buku bekas online atau berikan pada adik kelas. Soalnya sering buku itu hanya jadi tempat penampungan debu tapi tidak memiliki fungsi bahan bacaan lagi” jelas Juno cepat, Bulan hanya bengong mendengarnya. Itu adalah buku yang ia beli dari toko buku luar negeri, walaupun sudah tidak dibaca karena sudah paham isinya tapi untuk membuang buku itu ia merasa sayang.
“Tapi aku kan masih perlu walaupun jarang dibaca lagi” jawab Bulan pelan.
“Ya sudah sini aku bawa lagi aja mau disimpan di kost-an nanti aku bawa ke Bandung” Bulan meraih dus buku miliknya dari tangan Juno, mukanya terlihat kesal dan kecewa.
“Elu tuh Dul… buku cuma segitu aja dipermasalahkan, paling juga cuma makan dua rak buku gak bikin penuh ruangan”. Doni memandang kesal temannya.
“Lah aku kan gak melarang cuma nanya buat apa bawa buku banyak-banyak”.
“Ya sudah… gitu aja marah, aku cuma nanya” dengus Juno kesal, dibawanya dus buku ke lantai dua tanpa memperdulikan ekspresi Bulan yang terlihat kecewa. Ia kemudian kembali melihat isi dari tiga tas besar yang dibawanya. Sejak tadi ia sudah bingung apakah harus membawa barang dari kost-an nya ke Ruko karena setahunya Ruko masih kosong belum ada interior di dalamnya.
“Lah… kenapa neng Bulan malah bengong disini?” Doni kembali menghampiri Bulan yang duduk termenung di pintu keluar.
“Hmm aku bingung Bang… barang-barang aku kan random banget, kayanya gak cocok kalau dipadukan sama barang-barang A Juno”
“Daripada nanti disuruh dibuang mendingan aku bawa lagi ke kost-an aku aja yah?!” Bulan tampak berpikir keras.
“Aishhh ngapaian juga dibawa lagi ke kost-an lama, udah masukin ke kamar gw aja. Lagian gak akan bisa sering nginep di sini”.
“Mamih gak bisa ditinggalin sama anak kesayangan, palingan sekali-kali aja”.
“Udah sini barang-barang kamu ditata di kamar atas, kosong kok gak ada isinya. Belum ada modal buat beli barang” Doni meraih dua tas besar yang tergeletak di dekat pintu masuk Ruko.
“Seriusan Bang gak apa-apa?” tanya Bulan dengan antusias.
“Gak apa-apa barangnya aja tapi yang ada di kamar gw, elunya jangan. Ntar gw digorok sama si Dul” sambung Doni sambil tersenyum lebar.
“Hahahahha ya iya atuh Bang masa aku ikutan nginep juga” Bulan tampak bersemangat mengikuti Doni dari belakang naik ke lantai dua. Tampak beberapa pekerja yang sedang memasang instalasi interior.
“Widih langsung kerja banyak gini” Bulan memandang kagum, Juno terlihat serius mengamati beberapa orang pekerja. Ia hanya melirik Bulan dan Doni dan kembali memberikan instruksi kepada para pekerja.
“Kamar Bang Doni memangnya gak ditata juga?” Bulan melongok ke kamar Doni.
“Ini kamar cadangan aja, gak jadi prioritas. Cuma sebagai tempat istirahat kalau gw lelah”
“Kamar utama ditempati kalian, trus ada kamar kerja Juno sama kamar ini” jelas Doni.
“Gih… kamu tata aja sesuai keinginan kamu, tuh ada rak buku, meja kecil dua. Simpan semua barang-barang kamu disini jangan ragu-ragu”.
“Makasih banyak yah Bang”. Bulan tersenyum senang.
“Heheheh sebagai imbalannya boleh gak aku punya permintaan?” Doni tersenyum malu-malu.
“Boleh-boleh Bang… kalau aku bisa penuhin nanti aku lakukan” jawab Bulan dengan antusias, ia merasa sangat terbantu oleh kehadiran Doni yang selalu menyambutnya dengan baik dan hangat sehingga membuat merasa tidak canggung di tempat baru.
“Hmmm boleh gak aku dipanggilnya Aa aja jangan Abang… lebih terasa gimana gitu yah” Doni tersenyum malu, Bulan langsung tertawa mendengarnya.
“Hehehe A Juno malah gak suka dulu dipanggil Aa malahan pengen dipanggil Abang” jelas Bulan.
“Ya udah gantian aja … kamu manggil Juno Abang trus kalau ke gw manggilnya Aa, gimana?” tawar Doni dengan penuh semangat.
“Hmmm gimana yah hehe udah biasa manggil Aa ke A Juno nya sekarang nanti aku ta..” belum sempat Bulan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara Juno membentak.
“Gak bisa… apa-apaan lu main ngatur-ngatur panggilan istri gw!”
“Lu cari bini sendiri kalau pengen dipanggil khusus!”
“Ngapain lagi kamu bebenah kamar si Doni?, kamar kita disana!” Juno menarik tangan Bulan keluar dengan cepat. Bulan memang belum sempat melihat bagaimana penataan kamar utama, ia sudah terlanjur senang sudah bisa menyimpan barang kesayangan tanpa harus mengembalikan ke kost-an lama.
Ternyata walaupun tidak didesain secara khusus, kemampuan Juno dalam memanfaatkan furniture yang tersisa di gudang betul-betul mumpuni. Kamar tertata dengan apik dan berkelas. Setiap sudut ruangan dimanfaatkan dengan baik tanpa meninggalkan kesan elegan dan berkelas.
“Wuaah bagus banget A… jagoan memang” Bulan mengacungkan kedua tangannya memberikan pengakuan atas kemampuan Juno yang tampak tidak ambil pusing dengan pujian istrinya. Bulan menarik nafas panjang, kalau sudah tampak serasi dan indah seperti ini ia merasa tidak enak harus menambah isi kamar dengan barang-barang miliknya yang tidak sesuai dengan tema.
Lampu belajar dengan karakter Bugs Bunny, buku-buku pajak dan audit keuangan miliknya yang tebal-tebal, rak kecil berisi make up, cermin rias zoom, foto keluarga dan banyak barang miliknya yang ia bawa. Bulan ingat perkataan Juno bahwa semakin banyak barang yang tidak dipakai dalam kamar maka kamar tersebut akan sulit untuk ditata dan rapi. Baginya berantakan sedikit tidak apa asalkan memberikan rasa nyaman.
Perlahan Bulan keluar dari kamar, Juno tidak menyadari atau mungkin tidak memperhatikan karena fokus pada pemasangan wall paper. Dilihatnya kamar yang kedua rupanya ini yang menjadi ruang kerja Juno penuh dengan perlengkapan gambar dan meja kerja. Ada sofa dengan tiga dudukan dan coffe table di sudutnya, kaca rias yang menjadi hiasan terpasang dengan megahnya. Ternyata dalam waktu satu hari sudah bisa ditata dengan baik, perlahan Bulan kembali ke kamar Doni, di tengoknya sahabat suaminya tengah menata barang-barangnya disana.
“Gimana dikasih ceramah sama suami lu, sabar aja emang kaya gitu sifatnya dia, gampang marah… aku sih udah biasa” ucap Doni sambil tersenyum kecut.
“Kok Abang sabar sama A Juno?” ucap Bulan sambil duduk di pintu kamar, ia tidak mau kalau Juno marah-marah lagi, badannya sudah mulai terasa lelah. Bersender pada daun pintu sambil menatap kesibukan para pekerja yang berlalu lalang.
“Dia anaknya baik, cuma ngomongnya aja yang suka kasar, belakangan aja sih jadi kaya gitu. Dulu sih enggak”.
“Kalau kamu tahu, dulu tuh dia yang nguliahin gw sampai beres S1”.
“Dia tahu kalau keluarga Abangmu ini gak akan mungkin nguliahin”.
“Bang Doni memangnya bukan teman kuliah A Juno?” tiba-tiba saja Bulan tertarik tentang bagaimana karakter suaminya itu.
“Bukanlah, gw teman SMA nya, anak yang suka ngajakin dia bolos loncat pagar sekolah, hahahahha”
“Bedanya dia walaupun bandel tapi tetep pinter, makanya dapetin cewe paling cantik di sekolah” ucap Doni sambil tersenyum mengenang masa lalunya.
“Kak Inneke yah?” Bulan tersenyum tipis.
“Eh kok lu tau? Pernah ketemu lu sama dia?” mata Doni membulat.
“Pernah, sering malahan” jawab Bulan lambat kemudian menarik nafas.
“Dia kan kakak kelas aku waktu kuliah dulu” jelasnya murung.
“Lah dunia memang tak selebar daun jendela” Doni menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lah gak apa-apa sering ketemu juga sekarang sih, kan masing-masing juga udah pada kawin, dia udah kawin trus sekarang si Dul kan udah kawin sama elu” Doni tampak mencoba menenangkan Bulan yang tampak terganggu.
“Mereka pacaran dari SMA yah Bang… lama banget sampai kuliah”
“”Iya si Dul mah tipe orang setia, pada waktu SMA banyak tuh cewek demen sama dia, tapi ternyata dia pacaran sama si Inne pantes aja nolak yang lain”
“Lu tau kan kenapa dia sampai putus sama si Inne gegara dia tekdung duluan sama temannya” bisik Doni sambil menatap ke arah Juno yang masih sibuk dengan pekerja.
“Iya tau Bang… aku malah dikasih tau sama suaminya Kak Inne, Pak Kevin kan dia bosku di kantor” jelas Bulan, mata Doni langsung membulat.
“Bujubuneng pantesan si Dul kagak tenang kalau lu ngantor, dari tadi ngeliatin jam mulu nanya kira-kira lu pulang jam berapa. Seriusan lu sekantor sama lakinya si Inne?” ekspresi kekagetan Doni membuat Bulan tertawa.
“Hihihihi iya Bang… orangnya baik, ganteng juga cocok lah kalau jadi suami Kak Inne” jelas Bulan.
“Eh buset lu jangan ngomong gitu depan si Dul, muji-muji lakinya si Inne, saingan berat soalnya” mata Doni tampak awas mengamati Juno yang sesekali melihat ke arah mereka berdua.
“Masih merasa menjadi saingan yah Bang… padahal udah punya suami” ucap Bulan sendu, Doni langsung tersadar.
“Ehh.. bukan maksud gw tetep aja gak enak gitu, bukan saingan tapi apa yah… duh gw jadi salah ngomong nih” Doni tampak merasa bersalah, menggaruk-garuk kepalanya bingung.
“Hehehe gak apa-apa Bang, aku udah biasa kok, Kak Inne memang cantik, pinter dan terkenal dulu di kampus, wajar kalau A Juno susah lupa” jelas Bulan.
“Dulu waktu dia diputusin sama si Inne gegara hamil duluan, dia kaya orang kesambet”
“Udah malem jam berapa yah kira-kira jam sebelas malam pas gw nyampe sana”
“Dia lagi ngeringkuk aja di bangku terminal kaya orang yang dibuang”
“Seminggu tau gak lu … dia diem di rumah gw”
“Gw sampai mesti nelponin rumahnya ngasih tau sama Tante Nisa kalau si Juno lagi di Jakarta lagi ada proyek kerjaan. Padahal doski lagi patah hati hahahahhahaha” baru kali ini Doni bisa menceritakan keadaan Juno kepada orang lain, ekspresi Bulan yang terlihat santai dan biasa saja membuatnya nyaman bercerita.
“Oya… untung ada Bang Doni yah… kalau nggak bakalan terlunta-lunta di terminal”.
“Iyalah kalau gak ada gw kayaknya dia bakalan jadi orang gila, lu bayangin Bul.. hampir selama seminggu itu dia hampir dikatakan gak makan, udah kaya mau mati aja”
“Gw mesti maksa dia makan roti biar gak mati” ucap Doni dengan berapi-api.
“Terus bisa sadar gimana ceritanya?”
“Yah gw bilang aja rugi banget lu kalau sekarang mati sedangkan si Inne senang-senang sama laki-laki lain. Lu mesti liatin kalau lu bisa jadi orang hebat tanpa si Inne, gw jamin ntar si Inne bakalan ngemis-ngemis minta balikan sama elu!”.
“Dulu duit laki lu itu gak sebanyak sekarang neng… dia musti bantuin kuliah gw, trus gak mau nerima duit dari Bapaknya yang kawin lagi itu, dia kerja sampingan bikin gambar di konsultan”.
“Jadi yah.. gak bermobil kayak yang jadi lakinya si Inne, gw denger sih lakinya itu anak orang kaya punya perusahaan sendiri” jelas Doni, Bulan mengangguk-anggukan kepalanya, kalau melihat sikap tubuh Kevin memang terlihat sudah kaya sejak lahir.
“Makanya si Dul pengen punya perusahaan pengen ngebuktiin kalau dia juga bisa punya perusahaan bisa ngalahin lakinya si Inne” jelas Doni dengan bersemangat, Bulan tersenyum kecut. Rupanya pikirannya selama ini salah, ia menyangka kalau Juno ingin punya perusahaan untuk membuktikan pada Papa Bhanu, rupanya bukan itu alasan utamanya.
“Bulan… jangan ngobrol terus pesan makan malam untuk yang bekerja, sebentar lagi magrib supaya jam 7 mereka sudah bisa makan” teriakan Juno menyadarkan Bulan dari lamunannya.
“Gw yang pesan aja, sekalian mau keluar beli minum” Doni beranjak keluar dari kamar.
“Si Bulan biarin istirahat di kamar gw, kamar lu masih kotor”
“Gw langsung pulang ntar habis nganterin makan malam”
Juno hanya menatap Bulan lekat, terlihat memang muka istrinya yang terlihat pucat kuyu.
“Kenapa kamu? Tadi siang makan gak?” Juno langsung curiga akan kebiasaan Bulan yang menunda makan.
“Makan A… cape aja ngantuk, tadi malam kan aku kurang tidur jadi terasa lemas ngantuk sekarang” jelas Bulan.
“Ya sudah kamu tidur saja di kamar Doni, kamar utama masih pasang instalasi lampu dulu”.
“Iya aku mau sholat magrib dulu aja, trus pengen rebahan sebentar” ucap Bulan lesu, cerita Doni membuatnya merasa tidak nyaman dan sedih. Ada kekhawatiran yang tidak bisa ia ungkapkan setelah mendengar cerita masa lalu Juno.
Juno mengangguk, lebih baik Bulan istirahat di kamar Doni yang sudah tertata rapi, ternyata walaupun tidak memiliki tema khusus tapi kamarnya jadi terlihat nyaman setelah diisi barang yang dibawa dari kost-an.
“Ya sudah kamu istirahat saja. Aku tutup pintunya supaya gak berisik” ucap Juno sambil menutup pintu perlahan. Bulan mengangguk dan merebahkan tubuhnya di kasur, rupanya ia hanya merupakan bagian dari rencana Juno untuk membalaskan dendamnya pada Inneke. Pantas saja Juno tidak pernah mau menjawab pesan dari Inneke rupanya usahanya untuk membalas dendam belum tercapai sempurna.
Juno masih baru merintis, belum mencapai kesuksesan yang bisa menjadi puncak balas dendam. Tapi Bulan merasakan bahwa walaupun Juno belum mencapai puncak keberhasilannya, Inneke sudah menunjukkan sikap yang posesif pada Juno, mengirimkan pesan pada suaminya, mengirimkan foto dirinya dengan Anjar sampai pada meminta ijin untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Juno. Bukankah itu menjadi tanda kalau perempuan itu merasa menyesal meninggalkan Juno?.
“Ahh.. aku gak tau… aku pusing mikirannya” pikiran Bulan menjadi kalut, tadi malam ia sudah hampir tidak perawan, ia bingung harus bersikap bagaimana kalau menolak suami artinya ia menjadi istri yang tidak berbakti. Kalaupun ia mempertahankan keperawanannya sampai ia merasa yakin sejauh mana pikiran dan perasaan Juno kepadanya itu akan sulit dilakukan. Terutama dengan sikap Juno yang sudah sangat posesif dan jelas-jelas menginginkan hubungan intim.
Lagipula mana ada orang yang akan percaya kalau dia masih perawan kalau nanti Juno ingin kembali pada Inneke dan meninggalkan dirinya, predikat janda yang akan disandangnya sudah pasti akan dibarengi dengan asumsi kalau orang yang sudah berumah tangga pasti sudah pernah berhubungan intim. Jadi mau tidak mau ia harus menyiapkan diri untuk melakukan itu dengan suaminya.
Pikiran-pikiran yang tidak jelas memenuhi kepala Bulan sampai ia jatuh tertidur, kurang tidur semalaman setelah harus memenuhi hasrat Juno membuatnya tidur dengan nyenyak hingga melewatkan waktu magrib. Saat Juno mencoba membangunkannya pun ia tidak bergeming.
“Hahahaha tidur yang kaya gini ini, bakalan gak sadar diapa-apain juga” Doni menengok dari balik pintu saat mendengar Juno yang berusaha membangunkan Bulan.
“Emang, gw grayamin juga waktu dulu dia gak sadar” tanpa sadar Juno menceritakan kelakuannya dulu.
“Buset deh… tega amat lu sama gw cerita yang gituan” Doni langsung melengos pergi, Juno tersenyum senang. Ekspresi Bulan yang lelah, membuatnya tidak tega untuk memaksanya bangun. Akhirnya Juno memilih untuk menutup pintu dan membiarkan Bulan hingga bangun sendiri.
Jam sebelas malam, Bulan mendengar teleponnya berdering masuk ke dalam mimpinya tapi tidak bisa dihentikan, hingga akhirnya dia terbangun, dengan mata terpicing ia menatap layar handphone.
‘Anjar?, ngapain dia telepon malam kepijit kali” Bulan mematikan handphone dan kembali memejamkan mata, tapi kemudian handphonenya kembali berdering, dengan enggan dipijitnya tombol hijau.
“Halooow assalamualaikum.. Njar kenapa telepon malam-malam?” dengan suara serak Bulan mencoba menjawab telepon, perlahan matanya tampak mulai terbuka.
“Haaah ini siapa?…. Apa? dimana? “ Bulan langsung terduduk. Tangannya mengusap mukanya supaya bisa cepat sadar.
“Kondisinya sekarang gimana Mas?” suaranya terdengar cemas. Ia mendengarkan telepon dengan seksama.
“Iya… iya saya kesana sekarang… tolong dibantu yah Mas jangan sampai dia kenapa-napa”
“Mas… tolong share lock tempatnya dimana supaya saya bisa cepat sampai” ucapnya sambil beranjak turun dari tempat tidur dengan tergesa.
Saat Bulan membuka pintu kamar, suasana Ruko sudah sepi, Bulan terhenyak ia lupa kalau sekarang ia sudah pindah dan tadi tertidur di Ruko. Ruangan tampak telah rapi, tapi masih ada alat-alat pertukangan di sudut dan tangga besi yang tinggi dan besar yang dipergunakan oleh para pekerja untuk merapikan Ruko.
“Aa…. ada dimana?” teriak Bulan panik, tiba-tiba terbayang kalau dia sendirian di Ruko.
“Aa….” teriaknya lagi. Telinganya mendengar suara dari lantai bawah, siapa itu pikirnya bagaimana kalau orang lain.
“Aa ada dmanaaaaaa?” teriaknya lagi, ia paling takut kalau berada sendirian di ruangan asing. Tiba-tiba bayangan kalau ia sendirian dan dibawah adalah orang lain terlintas di benaknya, segera ia kembali ke kamar Doni dan mengunci pintu.
Diambilnya telepon dan segera menyambungkan telepon dengan Juno.
Tuuuut….tuuuuut….tuuuuut.
“Ya halo kenapa kamu telep..” belum selesai Juno bicara, Bulan sudah berteriak dengan parau
“Aa ada dimanaaa? Aku panggil-panggil gak ada….. Aku takuuut” teriak Bulan kesal.
“Aku dilantai bawah… tadi yang teriak-teriak itu kamu? Aku pakai headset jadi gak kedengaran… Sini turun kamu belum makan” panggilan telepon dimatikan Juno, Bulan segera membuka pintu dan bergegas turun.
“Aa… anterin aku sekarang” diujung tangga ia bisa melihat Juno sedang mengatur posisi meja.
“Anterin kemana… kamu ngigau yah? Ini sudah jam sebelas malam” Juno tampak bingung melihat Bulan yang memasang sepatu.
“Anjar… barusan aku ditelepon sama seseorang pakai telepon dia, orangnya gak kenal. Dia bilang kalau Anjar dipukuli di Pub… dia mabuk terus ribut sama orang”
“Orang itu yang kerja di Pub… katanya dia sampai bonyok… temenin aku A… kasian dia!” Bulan menatap Juno dengan penuh harap. Juno mendengus kesal.
“Malas aku cape… biarin aja lah dia sampai pagi di sana … besok kalau sudah sadar dari mabuknya dia bakalan inget sendiri!” jawabnya kemudian terus menata kembali meja kerja. Bulan menarik nafas panjang, memang sulit meminta Juno untuk bisa berempati pada Anjar mereka mempunyai sejarah yang tidak menyenangkan waktu pernikahan dulu.
“Ya sudah minta tolong Pak Kevin aja, mudah-mudahan dia bisa ketemuan di sana”
“Duh tapi gak enak yah atau sama Mbak Icha aja yah…. Tapi masa ke Pub datang gak sama laki-laki aku kan takut belum pernah ketempat yang gituan” Bulan nyerocos sendiri tanpa memperdulikan Juno yang menatapnya kesal.
“Bulan….heeeeh Bulan kamu denger gak omongan aku?” teriak Juno.
“Jangan ngurusin laki-laki itu… dia bukan anak kecil lagi… dia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Salah sendiri dia mabuk makanya dipukuli!” Juno menarik tangan Bulan dengan kasar saat Bulan beranjak menuju pintu.
“Anjar tuh gak punya teman yang membantu dia sekarang. Mustinya Aa tuh bisa mengerti perasaan Anjar… Aa dulu pernah merasakan ada dalam posisinya sekarang” jawab Bulan kesal.
“Tadi Bang Doni cerita kalau Aa udah kaya preman tidur di terminal waktu diputusin sama Kak Inne”.
“Gak makan selama seminggu.. Sudah sampai kaya mau mati”
“Untung ada Bang Doni yang nemenin… kalau Anjar siapa yang nemenin sekarang gak adaaa… sekarang Anjar kaya gitu gara-gara siapa… gara-gara akuuuuu”.
“Aku seharusnya gak bergantung sama Anjar waktu putus sama Aa dulu”
“Mestinya aku gak membuat dia merasa nyaman sama aku yang mana akhirnya aku balik lagi sama Aa”
“Salaaaah aku tuh salaaah… “ ucapnya dengan penuh penyesalan, air mata mengalir perlahan di pipinya.
“Please izinkan aku mau pergi kesana… cuma aku sahabatnya yang dia miliki sekarang” ucapnya tegas, ditepiskan tangan Juno yang menggenggam erat tangannya. Tapi genggaman tangan Juno tidak terlepas malah semakin erat.
“Aku antar… tunggu sebentar” ucapnya pelan.
“Duduk dulu kamu, minum supaya tenang… aku ambil kunci” ditariknya tangan Bulan dan didudukan di sofa yang masih ditutupi plastik.
“Tunggu disini… kita pergi sama-sama”
Babang Juno emang the best, singa kalau udah dikasih airmata ternyata luluh juga...