
Juno PoV
Kalau saja jarak Surabaya Jakarta itu seperti Bandung - Jakarta, kurasa aku akan pulang malam ini. Melihat mukanya yang sedih dan kesal karena merasa terganggu oleh Marissa dan Inge membuatku merasa bersalah. Dia terkadang terlalu sopan untuk bersikap kasar pada orang lain, mungkin budaya orang Sunda seperti itu cenderung suka mengalah dan tidak mau bertikai.
Sepanjang perjalanan menuju halte busway dia bercerita panjang lebar tentang kegiatannya hari ini. Sesekali berhenti membeli makanan di pinggir jalan.
“Apaan sih kamu itu beli buah potong di jalan?” bisa kulihat dia mengunyah buah sambil berjalan.
“Bersih kok.. Si abangnya pakai kotak kaca terus ngambilnya pake garpu”
“Enak lagi makan buah pake cabe bubuk kaya gini, jadi inget waktu SD… hihihi” dia nyengir tertawa sendiri, perempuan ini tadi nangis-nangis kesal sekarang cengengesan cuma karena jajanan buah di pinggir jalan.
Sepanjang jalan seperti mendengarkan radio yang tidak pernah kehabisan bahan materi siaran. Mulai dari mengomentari penumpang busway sampai lampu jalan yang sekarang terasa lebih semarak karena menjelang hari kemerdekaan. Dia hanya berhenti berbicara saat masuk ke busway.
“Sebentar lagi aku mau masuk ke bus.. Matiin aja yah aku malu ngomong di dalam bus nanti mengganggu orang”
“Jangaan… aku sendirian di kantor klien ini… males banget pulang ke hotel gak ada meja yang besar”
“Ya udah sekarang Aa yang ngomong aku yang dengerin.. Dari tadi aku terus yang ngomong”
“Aku masuk busway A”.
Akhirnya selama hampir lima belas menit aku harus terus bicara. Rekor terpanjang berbicara di telepon setelah beberapa tahun belakangan ini. Terakhir berbicara panjang di telepon saat masih pacaran dengan Ingge… Ingge untuk apa pula tadi dia mengirimkan foto Bulan dengan laki-laki itu. Apa maksudnya? Dan kenapa aku tadi langsung saja mengirim foto itu pada Bulan hanya semakin membuatnya merasa terpojok.
Baru kali ini aku merasa tidak fokus dalam bekerja, lucu kalau ingat kejadian siang tadi. Benar-benar diluar dugaan kalau dia mau melakukan itu, benar-benar polos. Kenapa jadi seperti ketagihan untuk mengganggu dia yah… ada kebahagian yang berbeda yang bisa kurasakan saat melihat dia melakukan apa yang aku mau. Mukanya tuh antara terpaksa dan pasrah untuk melakukannya sambil diiringi dengan ekspresi bingung...hahahahaha.
Ting ...ting… Pesan lagi dari Ingge
“Aku tadi udah minta maaf sama Bulan soal ngirimin foto dia ke kamu. Gak ada maksud apa-apa kok, cuma ngeliatin kalau dia akrab sama anak aku dan staf di kantor”.
Kenapa dia terus menerus mengirim pesan sekarang? Apa maunya dia?.
“Aku tadi bilang sama dia kalau aku mau bicara sama kamu”
“Dia kasih izin”.
Apa lagi maksudnya dengan kasih izin. Siapa juga yang bicara lagi dengan dia? Semuanya sudah selesai!.
Berulang kali menghubungi Bulan tapi tidak diangkat, tadi terakhir panggilan saat dia masuk ke kost-an. Lega rasanya mendengar dia sudah ada di kost-an dengan selamat, baru terpikir untuk melakukan panggilan telepon seperti ini kalau sekiranya aku tidak sibuk.
Masa jam setengah sepuluh dia sudah tidur? Sudah tiga kali aku coba telepon masih saja tidak diangkat. Mengesalkan!.
Tuluit ...tuluit… tuluit… panggilan video dari Afi… ada apa tumben anak itu dengan video malam-malam, ada masalahkah di rumah?
“Halo Fi.. ada apa?” tampak Afi sedang duduk di sofa dengan Nico.. anak itu mau pamer kemesraan rupanya.
“Kesepian yah Bang...hahahahahah” kurang ajar malah ngetawain.
“Diam … aku lagi pusing banyak kerjaan. Pengen balik gw!”
“Balik lah masa istri dianggurin terus… ntar keburu ada yang nyamber rugi lu Kak” Afi membalikkan camera video. Aku langsung kaget, siapa itu yang duduk di karpet dekat kaki Mama.
“Bulan ke rumah? Sama siapa? Tadi waktu aku telepon dia masih di kost-an” perempuan itu tampaknya tidak mendengar kalau aku dan Afi sedang video call, dia asyik main gitar sedangkan Mama asyik nonton tv.
“Aku tadi disuruh jemput Bulan waktu Mama tau Kakak ada di Surabaya”.
“Kata Mama selama Kakak di Surabaya, Bulan mesti tinggal di rumah, jadi besok berangkat dan pulang barengan sama aku”.
“Bagus lah… aku gak kepikir kesana”.
“Pantesan aku telepon ke hp-nya dia gak diangkat terus, ternyata lagi sama Mama” dasar begitu ketemu Mama lupa sama telepon, gak inget sama laki sendiri.
“Coba deketin De… aku mau lihat dia lagi ngapain”
“Seet deh ada yang bucin pengen liat istri… hahahahaha” menyebalkan memang punya adik satu ini. Ku lihat Afi bergerak mendekati Bulan dan Mama, dia asyik bermain gitar sambil melihat ke laptop.
“Apaa?” Mama melihat ke hp rupanya heran melihat Afi tiba-tiba datang. Kudengar Afi berbisik
“Ada yang kangen” Afi membalikan kamera bisa kulihat Mama tersenyum, kulambaikan tangan Mama cuma tersenyum saja dan kembali menonton. Sementara yang sedang bermain gitar tampak asyik sampai tidak sadar sedang divideokan
“Jreng… jreng… Oh ado ado jang ganggu … yang itu sa punya jang ganggu…” lagu apa itu seperti lagu Indonesia Timur.
“Kopi cari yang lain sudah"
"Tra usah jadi pengganggu”
“So su stay dengan dia dari lama
“Jang ko datang toki dengan ko pu drama"
“Sio tabe sayang ko tabuang”
“Ahahahahah siapa yang ganggu Mbak?... ahahaha baru ditinggalin dua hari juga udah galau digangguin” Afi selalu mengganggu, padahal aku senang melihat dia sibuk sendiri tanpa sadar diawasi.
Dia memandang Afi heran sambil bergantian ke hp yang mengarah padanya.
“Apa?” dia memakai piyama kaos panjang dengan motif bunga-bunga kecil, jadi seperti anak kecil dengan rambut yang diikat memakai tusukan kayu.
“Aku telepon ke hp… kamu ke kamar sekarang!” dia mengangguk patuh, baguslah makin kesini perempuan ini makin patuh kalau diminta melakukan sesuatu.
“Jangan dulu ke kamar, Mama masih kangen sama Bulan, nanti Kakak telepon aja jam sepuluh kalau Mama udah mau tidur” Mama menahan Bulan pergi.
“A.. nanti aja aku telepon, aku temenin Mama dulu” eehh baru aja aku puji udah langsung terpatahkan.
“Ya sudah, aku pulang aja ke hotel sekarang. Nanti kalau aku sudah sampai hotel aku telepon” lebih baik pulang sekarang, badan sudah mulai terasa lelah.
Sesampainya di hotel, yang kubutuhkan adalah segera mandi, supaya nanti bisa video call lagi dengan kondisi segar.
Ternyata memang menyegarkan, langsung sholat dan mengambil hp yang sudah aku charge agar tidak mengganggu proses video call.
Ternyata malah masuk banyak pesan dari Ingge.
“J.. aku ingin minta maaf soal dulu meninggalkan kamu”
“Aku tahu kalau aku gak berhak untuk minta maaf sekarang”
“Tapi setelah bertahun-tahun perasaan bersalah gak pernah hilang dari hati aku”
“Maafin aku gak pernah bermaksud seperti ini”
“Kamu tetap ada di hati aku”
“Kamu gak pernah hilang”
“Aku harap kamu bisa memaafkan aku”
Untuk apa dia mengirim pesan seperti ini lagi, sudah lama berlalu. Hanya membuka luka lama yang sudah aku coba kubur dan mulai kulupakan. Ternyata pesannya belum selesai.
“J… aku tahu aku egois… seperti kamu bilang dulu”
“Aku baru sadar sekarang dulu kamu sering mengalah demi aku”
“Aku bahkan jarang mikirin perasaan kamu, maafin aku yang dulu yah J”
“Sekarang semua rencanaku udah berhasil aku capai”
“Tapi aku ngerasa hampa… gak berarti”
“Dulu biasanya kamu suka nyemangatin aku J buat maju terus”
“Cuma sekarang aku udah mulai capek”
Aku juga sudah capek Ingge, sudah capek dengan semua rasa sakit yang kamu tinggalkan dulu. Aku sudah mau melangkah dan melupakan itu semua.
“Halow A… udah di hotel? Gimana kamar mandinya kinclong gak?”
“Ada bathtub gak? Tau gak kekurangan kamar mandi Aa itu gak ada bathtub nya”
“Aku mau cobain kaya di cerita-cerita novel loh pulang dari kerja berendam dengan aroma terapi”
“Hahahahaha kerasa jadi orang kaya”
“Artinya Aa masih kurang kaya soalnya kamar mandinya ga ada bathtub”
Perempuan ini pikirannya kadang susah dimengerti, cara dia menyampaikan pikiran selalu polos tanpa filter.
“Bathtub itu menghabiskan air, kalau kamu mau berendam tinggal ke kolam renang”. Baru ditinggal sebentar udah banyak maunya perempuan ini.
Jadi pengen tau jawabannya,
“Yah… aku kan pengen nyobain pake bikini two piece.. Norak banget sih gw kaya orang kampung… padahal orang kampung kan suka nyemplung di empang....hihihihihi”
Kulirik pesan dari Ingge, ada lagi beberapa kiriman pesan yang belum sempat kubaca, melihat pesan dari dia hanya memunculkan perasaan tidak bahagia. Kuhapus saja semua pesan yang ia kirimkan, untuk apa memikirkan perasaan yang sudah lama berlalu. Lebih baik membaca pesan anak kampung yang pengen pakai bikini.
“Yah nanti kalau kita bulan madu… kita cari private beach kamu boleh pakai bikini”
Tiba-tiba saja terpikir, kenapa aku malah berkirim pesan bukankan sekarang saat yang tepat untuk minta Vitamin B. Ahahahahahahaha…. salah dia sendiri pengen pakai bikini, aku juga kan pengen… pengen Vitamin B-ikini :)
##########################
Yang pengen dengerin Bulan nyanyi supaya Inneke jangan ganggu, langsung cusss ke IG... O adho adho jang ganggu... jang suka protes kalau lagunya kekinian... ikut halusinasi aja yaaa hehehehe... Terima kasih for wonderful weekend... Selamat hari Senin... Tetap semangat untuk berkarya dan memberikan terbaik untuk nusa dan bangsa. Jangan kalah sama Corona.... KITA BISA ....
Lope lope Sekebon Orang
ShAnti