
"Terimakasih, senang bekerja sama dengan anda" Athar menjabat tangan rekan bisnisnya.
Ya, baru saja Athar menyelesaikan meeting dengan rekan bisnis kakaknya yang menurut Athar menyebalkan, bagaimana tidak menyebalkan kalau pria itu semaunya sendiri merubah tempat meeting bahkan memindahkannya ke Jakarta, jika bukan karena rekan bisnis lama keluarganya, maka Athar lebih baik menghentikan kerjasama mereka berdua. Meski sedikit kesal, toh semuanya juga sudah selesai. Bahkan Athar malah melihat bakat terpendam dari Kenanga, ternyata Kenanga cocok di jadikan sekretaris, meski sikapnya cenderung pendiam saat bertemu dengan orang baru, tapi saat di jadikan sekertaris oleh Athar nyatanya Kenanga bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan menurut Athar, Kenanga bisa Melobi kliennya kali ini. Karena awalnya klien Athar juga sebenernya ingin mengurangi anggaran dana proyek kerja sama perusahaan mereka berdua. Namun berkat usaha Kenanga akhirnya semua itu tidak terjadi.
Setelah urusan meeting terselesaikan dengan baik, Kenanga dan Athar memutuskan untuk kembali ke kamar mereka, tubuh mereka terasa sangat lengket karena keringat yang lumayan membasahi kulit mereka. Cuaca ibukota sedikit tidak bersahabat dengan mereka yang berasal dari kota sejuk seperti kota Bandung. Athar hanya memesan satu kamar meski sebenarnya Kenanga sudah menolaknya dan meminta memesan dua kamar tapi entah mengapa Athar merasa tidak tenang kalau Kenanga tidur seorang diri. Meski memesan satu kamar Athar juga sudah berjanji kalau tidak akan terjadi sesuatu hal yang belum waktunya mereka lakukan. Karena minggu depan juga mereka akan sah menjadi seorang suami dan istri.
Athar terlebih dahulu membersihkan diri, sementara Kenanga memilihkan pakaian untuk Athar dari dalam koper, tidak banyak pakaian yang Athar bawa, karena memang hanya satu malam mereka akan menginap disini. Kurang dari satu jam, Athar kini sudah keluar menggunakan handuk kimono yang menutupi tubuh polosnya.
"Sayang, bersihkan dirimu, baru setelah itu kita turu untuk makan malam. Aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua"
Kenanga malah diam mematung di posisinya, kedua matanya di buat terpesona dengan wajah Athar, belum lagi dada Athar yang terlihat kekar, tetesan air dari rambut Athar yang basah membuat pria itu terlihat sangat seksi dan mempesona di penglihatan Kenanga. Ini kali pertama Kenanga melihat Athar berpakaian seperti ini. Biasanya Kenanga selalu melihat Athar lengkap dengan pakaian dokternya atau akhir-akhir ini Kenanga melihat Athar dengan pakaian kantornya, tapi malam ini Kenanga benar-benar di buat takjub dengan ciptaan Tuhan.
"Apa kau terpesona dengan ketampananku?" Athar menarik pinggang Kenanga hingga kini tubuh Kenanga menempel dengan tubuhnya dan tak memiliki jarak sedikitpun.
"A-ahh" Kenanga terkejut bukan main dan tersadar dari lamunannya.
"Dokter ini bicara apa? Lepaskan, aku harus segera mandi" Kenanga meloloskan diri dari Athar dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Athar hanya tersenyum melihat Kenanga yang berlari ke arah kamar mandi dengan wajah yang merona. Athar. Sungguh tingkah Kenanga membuatnya sangat gemas.
^
Athar terlebih dahulu turun menuju Restoran hotel ini. Dirinya ingin mengambil bouquet bunga lili yang sudah bodyguardnya belikan. Athar ingin membelikan bunga Lili sebagai tanda terimakasih atas Kenanga yang sudah membantu dirinya. Benar saja saat Athar sampai di restoran, kedua bodyguardnya sudah menunggunya di sana. Setelah mengambil bunga lili tersebut, Athar meminta bodyguardnya untuk pergi, karena Athar tidak mau makan malamnya dengan Kenanga akan terganggu oleh kehadiran bodyguardnya.
Athar duduk menunggu di meja yang sudah dirinya pesan, tangannya memegang bunga lili namun Athar di kejutkan saat melihat seseorang yang datang menghampirinya.
"Tuan Athar Zanaka" sapa Riko tersenyum ke arah Athar
Athar mengerutkan alisnya, mencoba mengingat pria yang saat ini berdiri tepat di hadapan dirinya hanya terhalangi oleh meja saja. Riko menarik satu alisnya dan tersenyum sinis saat Athar tak mengenalinya. Memang pengusaha sementara di hadapannya ini sungguh tidak pantas menyandang nama Zanaka di belakangnya.
"Tuan Athar pasti lupa dengan saya, perkenalkan saya Riko Artadija. Kau masih ingat?"
Athar terpaksa tersenyum dan beranjak berdiri dari duduknya. Athar kembali ingat pria di hadapannya ini. Pria yang pernah bertemu dengan dirinya saat makan siang dengan kakaknya beberapa tahun lalu. Pria yang menurut Athar arogan, ambisius dan juga sombong.
"Selamat malam tuan Riko. Apa kabar?" Athar menjabat tangan Riko meski sebenarnya Athar enggan berurusan dengan orang asing sepertu Riko
"Baik tentu saja sangat baik" Riko membalas jabat tangan Athar
"Saya kebetulan ada urusan pekerjaan tadi sore. Dan sekarang saya sedang menunggu kekasih saya untuk makan malam bersama"
"Oh.." Riko membulatkan bibirnya.
Kedua matanya mengamati wajah Athar, serta gaya berbusana Athar. Menurut Riko gaya pakaian Athar sangat terkesan biasa untuk kelas pebisnis, ya walaupun hanya makan malam saja. Dan lagi, Riko juga penasaran seperti apa kekasih dari salah satu pewaris Zanaka Group. Karena memang selama ini anak bungsu dari Zanaka Group jarang sekali terekspos di media. Kehidupan pribadinya pun sangat tertutup rapat dan tidak pernah muncul di akun media gosip manapun.
"Oh ya, Tuan Riko sendiri ada keperluan apa?"
"Saya juga baru tiba berlibur dari luar negri, dan singgah menginap di sini"
"Oh.. pasti dengan istri anda" jawab Athar karena memang setau Athar beberapa tahun lalu dirinya mendengar dari kakaknya, Athira, kalau Riko akan menikah
Jawaban Athar membuat Riko bungkam. Pria itu kembali mengingat Kenanga. Gadis yang sudah dirinya tinggalkan di hari pernikahan mereka, dan kesalahan itulah yang membuat Riko menyesal hingga sekarang. Bahkan Riko juga berusaha untuk memperbaiki masa lalunya bersama dengan Kenanga, meski tak hal tersebut tidaklah mudah. Karena Kenanga terus saja menghindari dirinya. Tapi Riko tak akan menyerah. Waktu masih tersisa satu minggu lagi sebelum Kenanga menikah. Dan waktu seminggu ini akan Riko pergunakan dengan baik supaya Kenanga kembali lagi ke dalam dekapannya. Sebenarnya Riko juga sangat penasaran calon suami dari Kenanga seperti apa. Karena yang Riko dengan dari Kenanga, Calon suaminya hanyalah pelayan masyarakat biasa.
Sementara Kenanga terlihat merapihkan pakaiannya kembali saat keluar dari lift, Kenanga ingin memastikan kalau pakaiannya sudah rapih. Dirinya tak mau membuat Athar malu. Dengan langkah ringan Kenanga berjalan memasuki restoran hotel, kedua matanya menangkap sosok Athar yang sedang berbicara dengan pria berjas yang saat ini memunggungi dirinya.
Kenanga dengan ragu-ragu berjalan mendekat ke arah Athar. Setau Kenanga Athar tak memiliki janji lagi dengan rekan kerjanya jadi mungkin saja Athar sedang mengobrol dengan teman lamanya.
Athar yang melihat kedatangan Kenanga menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum manis menyambut kedatangan Kenanga "Sayang ..."
Kenanga pun membalas senyuman Athar dan berjalan melangkah mendekat ke arah Athar, namun seketika kakinya terasa kaku saat melihat pria yang mengobrol bersama Athar membalikkan badan. Tubuh Kenanga terasa mati rasa tak bisa di gerakkan. Untuk apa dirinya kembali di pertemukan dengan pria yang sama sekali tak di inginkan untuk bertemu.
Begitupula dengan Riko, dirinya sama terkejutnya dengan Kenanga, tak di sangka kalau kekasih dari Athar Zanaka adalah Kenanga, wanita yang Riko masih harapkan dan masih di cintai olehnya. Sungguh situasi yang sangat Riko tak inginkan. Dirinya merasa kesal mengapa segala yang dirinya inginkan harus di ambil oleh keluarga Zanaka?.
"Tidak, kali ini aku tidak akan kalah" pikir Riko
.
.
.
.
.