Rembulan

Rembulan
Hamil?


Bulan memandang orang yang hilir mudik di dalam Mall, begitu turun dari mobil, ia bergegas jalan memasuki area Mall tanpa menoleh ke belakang. Tidak ingin menambah beban Doni yang sudah meluangkan waktu dari pagi untuk menemaninya menyelesaikan semua kelengkapan proposal.


Nafasnya terasa sesak. Dari tadi perasaannya masih campur aduk, ada rasa semangat karena bisa memenuhi semua persyaratan dengan baik, tapi ada juga perasaan lelah, sedih dan putus asa yang tiba-tiba saja menjeratnya pagi ini. Mencoba mengalihkan pikiran agar tidak overthinking dengan membawa kantong belanja dan mulai menelusuri rak-rak keperluan harian. Tapi entah kenapa semuanya seperti tidak menarik, seperti barang-barang kosong yang tidak bermakna.


Perutnya terasa sakit lagi, keringat dingin mulai terasa di punggungnya. Akhirnya Bulan memutuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan. Ada cafe kecil di sudut Mall terlihat sepi tidak banyak orang disana, ia merasa butuh minuman hangat untuk bisa memulihkan energinya.


Secangkir coklat hangat dan sepotong cake dengan taburan kacang dan krim langsung menarik perhatiannya. Disebrangnya tampak sepasang manusia tengah asyik bercengkrama. Perempuan dengan penuh semangat bercerita disertai gerak tubuh yang ekspresif, laki-lakinya sesekali menanggapi dengan senyuman tertahan. Bulan termenung terakhir dia keluar dengan Juno kemarin adalah saat makan sepulang dari kantor Cedrik untuk mengantarkan dokumen. Betapa hanya dalam hitungan hari kondisi mereka berubah 180 derajat.


Kemudian perhatian Bulan teralihkan pada pengunjung yang baru masuk, seorang perempuan setengah baya bersama remaja perempuan. Tampaknya mereka berdua sudah selesai belanja, itu terlihat dari banyaknya kantong belanjaan yang ditenteng mereka berdua. Ibu dan anak perempuan yang terlihat akrab, si ibu dengan sabarnya mendengarkan permintaan anak perempuannya yang berubah-ubah hingga akhirnya sang ibu yang memutuskan untuk memilihkan menu supaya cepat. Walaupun pada mulanya protes tapi anak perempuan kemudian menerima sambil bergelayut manja pada ibunya. Entah kenapa perasaan Bulan malah jadi semakin sedih melihatnya.


“Ibu… kenapa aku sekarang lebih merasa butuh ibu daripada waktu dulu” air mata Bulan mulai menggenang dan mengalir tanpa dirasa, kacamata hitam yang dipakainya terasa berkabut.


“Ibu aku mesti gimana?” Bulan semakin ingin menangis. Akhirnya ia memilih duduk membelakangi counter dan menghadap ke arah jendela. Diambilnya tisu dan kemudian menyusut air mata yang mengalir deras di mukanya. Ia tidak ingin menarik perhatian orang, ini adalah tempat umum terlalu memalukan sampai terlihat tengah menangis sendiri.


“Afi…” hanya satu orang yang bisa ia hubungi saat ini. Terdengar nada sambung saat Bulan mencoba menelefonnya. “Tuuuuuut……tuuuuuut”


“Yoww sis… how are you” suara Afi terdengar ceria.


“Fi… tolongin aku, temani kesini please… tapi jangan bilang sama siapa-siapa” suara Bulan terdengar tersenggal menahan tangisan.


“Ehhh dimana lu… kenapa lu Bul” Afi langsung terdengar panik. Bulan hanya bilang lokasi cafe dan Mall tempat ia berada. Tanpa banyak bertanya Afi langsung menutup telepon tapi belum lima menit telepon Bulan kemudian berdering.


“Aku lagion the waysama supirnya Papa”


“Kamu sama siapa disana?”


“Kenapa kamu? Ada yang jahat sama kamu haaah? Siapa?” rupanya sahabatnya itu tidak tahan untuk tidak bertanya.


“Afi kamu lagi dimana?” mendengar suara sahabatnya perasaan Bulan terasa membaik.


“Tadi dikantor Papa. Sekarang aku bantuin beresin keuangan di kantor Papa… aku udah berenti kerja di KAP”


“Cape kerja buat orang”


“Kalau kerja di kantor Papa kan gimana pengennya aku…hehehehehhe” suara Afi terdengar renyah di telinga Bulan hingga membuatnya ikut tertawa.


“Aku kangen banget sama kamu” suara Bulan kembali sendu dan tersendat.


“Lu kenapa?” Afi menarik nafas panjang, jarang-jarang Bulan terdengar putus asa seperti ini.


“Aku bingung mesti gimana, kepala aku sampai pusing Fi…” keluh Bulan.


“Bentar lagi gw sampai… lu jangan kemana-mana”


“Lu ribut yah sama Kak Juno? Soalnya tadi malem dia tidur dirumah sendiri”


“Dia bilang lu lagi balik ke Bandung… sialan nipu dia” umpat Afi kesal.


Bulan termenung, rupanya tadi malam saat tidak pulang, suaminya memilih tidur di rumah orangtuanya. Bulan tersenyum kesal “Enak sekali… pulang ke rumah orangtua disaat dirinya untuk pulang pun harus seijin suami… rasanya dunia terasa tidak adil” Bulan menyusut air matanya.


Tidak mungkin rasanya dengan kondisi sekarang ia pulang ke Bandung, pasti saat bertemu Bapak ia akan menangis dan itu berarti menambah beban pikiran Bapak. Bulan tidak ingin menambah beban pikiran Bapak, khawatir nanti malah membuatnya jadi kembali sakit. Bulan tersenyum miris, ternyata memang ia tidak memiliki siapa-siapa, temannya sangat terbatas hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dihubungi.


Tidak sampai tigapuluh menit Afi sudah datang dengan tergopoh-gopoh, perutnya sudah terlihat menonjol apalagi ia mengenakan dress pendek dan celana legging.


“Aduuuh kamu bikin aku stress” Afi duduk sampai seperti terengah, Bulan tersenyum melihatnya.


“Banyak gaya amat lu pake kacamata item” ucapnya sambil tersenyum meledek. Bulan membuka dan langsung membuat Afi kaget.


“Ehh buset kenapa lu kaya gini amat”


Butuh waktu sampai setengah jam untuk Bulan menceritakan kejadian tadi malam, sambil sesekali berhenti supaya bisa bercerita tanpa menangis. Afi sama sekali tidak memotong hanya mengerutkan dahi sambil sesekali makan dan minum pesanan Bulan yang ada di meja sampai akhirnya semuanya habis.


“Hufft gedeg gw ngedengernya.... jadi butuh makan!” ucap Afi sambil menarik nafas panjang. Bulan menatap minuman cokelat dan cake kacang yang dipesannya sudah habis dimakan Afi, lah yang tadi dia habiskan memangnya bukan makanan pikirnya.


“Pantes aja kemarin Kakak minta mencairkan deposito sama Mama”


“Mas.. ice lemon tea, salmon lemon butter garlic sauce, Fish and chips samaa…. Eh itu aja dulu”


“Sorry ibu hamil butuh banyak energi buat ngedengerin susahnya kehidupan pernikahan” Afi memang terlihat lebih berisi daripada terakhir bertemu.


“Mencairkan deposito gimana?” tanya Bulan bingung.


“Yaa kita berdua punya deposito yang menjamin kehidupan walaupun Papa sama Mama berpisah”


“Ngeselin emang si Kaka, beli barang gak ngomong-ngomong… bareng sama kuntilanak lagi”


“Kebayang deh kalau Nico ngelakuin kaya gitu sama aku…hmmm kayanya…kayanya aku bakalan talak dia langsung” jawab Afi cepat. Bulan terhenyak kaget.


“Emang perempuan bisa menjatuhkan talak Fi?... yang jatuhin talak mah laki-laki”


“Perempuan sih bisa minta cerai kalau sekiranya laki-laki tidak memenuhi kewajibannya atau ingkar pada janji yang diucapkan waktu ijab kabul dulu”


“Lagian kamu main ngomong cerai aja… gak boleh Fi… jangan suka berpikir pendek seperti itu” jelas Bulan dengan sabar, Afi hanya menganggukan kepala setuju dan kemudian melirik Bulan dengan kesal.


“Kenapa malah gw yang dinasehati elu… lah kan yang bermasalah elu sama kakak gw” sanggah Afi. Bulan akhirnya tertawa lepas.


“Ahahahaha iya yah… nasehatin orang lebih gampang ternyata… padahal aku kan yang lagi punya masalahnya”


“Bener deh Fi… punya temen kaya kamu tuh kaya one stop shopping”


“Ehhh bener juga… kalau lagi pusing mendingan kita shopping aja… gw mau beli celana hamil, celana jeans gw udah pada gak muat”


“Tau gak Bul… sekarang dada gw naik dua nomor ukurannya, gak tau gegara hamil atau gara-gara sering dimainin si Nico” Bulan langsung menutup mulut Afi yang memakai mesin otomatis sehingga tidak pernah memakai kopling antara satu percakapan normal ke percakapan tabu. Ibu yang membawa anak perempuan yang duduk di dekat mereka hanya memandang dengan tatapan lekat seakan ingin memastikan kalau dua perempuan yang ada di hadapannya adalah perempuan baik-baik.


“Fi… ngomong di filter dong… hadeuuh itu ada anak kecil gimana sih” protes Bulan kesal.


“Ahahaha gw seneng kita nikahnya deketan jadi bisa ngomongin yang asoy asoy gak pakai rooming” seakan tidak memperdulikan ucapan Bulan, Afi masih terus saja berbicara hal diluar konteks. Ternyata itu semua membuat Bulan melupakan semua kesedihan dan permasalahan yang ia rasakan sejak kemarin.


Juno PoV


Pikiran tiba-tiba saja seperti buntu dan tidak bisa berpikir jernih, begitu tahu kalau Bulan tidak pulang ke Bandung, tidak ada di rumah Mama dan terakhir Doni mengantarnya di Mall sepulang dari mengantarkan berkas proposal.


Dimana dia? Selama hampir enam bulan menikah dengannya aku tahu kalau dia tidak banyak memiliki teman di Jakarta. Paling hanya teman-teman di kantor lama. Atau… apa dia bertemu dengan Anjar… tapi mana mungkin sama semalam ini. Aku pikir dia tidak akan sebodoh itu bersama dengan laki-laki lain hingga larut malam… Tapi apa mungkin dia ingin balas dendam karena aku kemarin bersama Inneke?


Pikiran-pikiran buruk terus mendera hingga membuat kepalaku pusing dan semakin kesal. DImana perempuan itu? Apa yang dipikirkannya sampai meninggalkan rumah hingga larut malam seperti ini.


“Ohhhh mungkin ke kost an yang lama?” tiba-tiba saja terpikir mungkin kembali bertemu dengan teman kostnya yang lama Mbak Yanti dan Mas Arif. Tapi sudah lebih dari tiga bulan sejak semua barang di kostan dipindahkan. Pasti sudah ada yang menempati kamar kost itu, jadi tidak mungkin kesana. Tapi apa salahnya daripada menanyakan kesana, daripada bertanya pada Anjar akan lebih memalukan, menanyakan istri sendiri pada teman laki-lakinya.


Sampai di kostan sudah hampir jam sebelas malam lebih, pasti penghuni sudah pada tertidur, tidak mungkin aku mengetuk kamar Mas Arif semalam ini. Tapi kalau tidak salah kamar penjaga kost-an ada di pinggir paviliun, mudah-mudahan saja belum tidur.


Ternyata memang belum tidur, lampu kamarnya masih menyala dan terdengar lagu dangdut dari kamar. Artinya Pak Daan masih bangun, entah kenapa nama penjaga kostan itu langsung muncul di otakku.


Kuketuk pintu itu perlahan khawatir membuat gaduh pada penghuni kost yang lain.


“Ehhh Mas… kaget saya… ada apa?” muka Pak Daan seperti kaget melihatku, apakah itu berarti Bulan tidak ada disini.


“Maaf Pak mengganggu malam-malam. Tadi istri saya minta dijemput, cuma hp nya keburu mati” entah kenapa tiba-tiba saja muncul ide itu dipikiranku.


“Neng Bulan?”


“Gak ada Mas… waduh kemana dong… ini sudah malam kasian kalau malam-malam sendirian” muka Pak Daan jadi terlihat panik.


“Iya Pak saya juga jadi bingung ini” memang aku benar-benar bingung.


“Ahhh liat di google atuh sedang ada dimana… katanya kan sekarang bisa ditanya sama google” dengan muka penuh semangat Pak Daan mengingatkan aku pada hal yang aku lupakan tadi. Bukankah aku sudah menginstal aplikasi yang bisa melacak posisi dia, kenapa tidak terpikir sama sekali.


“Eh tapi hpnya mati yah… jadi gak bisa ketahuan” Pak Daan kembali terlihat bingung padahal dia telah memberikan pencerahan buat manusia yang tiba-tiba bodoh ini.


“Gak apa-apa Pak… saya mau cari kayanya ada di temannya” ucapku cepat, aku ingin segera ke mobil melihat di handphone untuk melihat posisi dia ada dimana.


“Dirumah!?” mataku rasanya ingin copot melihat posisi Bulan berada sekarang, sudah lima jam ternyata dia di rumah dan Afi bilang kalau dia tidak ada disana. Pasti dia melindungi Bulan karena mereka berdua bersahabat… dasar! Punya adik bukannya membela kakaknya malah lebih memilih teman.


Jam dua belas kurang aku sampai di rumah, pintu tentu saja sudah dikunci. Untung aku selalu menyimpan kunci cadangan rumah menyatu dengan mobil sehingga bisa langsung masuk. Ternyata belum pada tidur, Mama tampak sedang berbicara dengan Afi di depan TV. Mereka seperti yang kaget melihat aku datang.


“Assalamualaikum” aku langsung menuju ke kamar, Bulan pasti ada di kamar. Tapi ternyata kosong.


“Dimana Bulan?” tanyaku pada Afi dengan kesal. Ia sudah berani berbohong tadi.


“Kenapa tanya sama aku… datang-datang nanyain istri sendiri”


“Gak salah” mukanya ketus menyebalkan.


“Aku tahu dia disini”


“Sudah berani berbohong pada kakak kamu yah”


“Memangnya Kakak gak suka berbohong… nuduh sama orang berbohong gak taunya sendirinya yang berbohong”  Dia memang paling pintar bersilat lidah dari kecil, selalu saja membalikan omongan orang.


“Dimana Bulan?” tanyaku lagi.


“Maa Bulan dimana? Aku lihat di aplikasi kalau dia ada dirumah dari jam tujuh malam tadi”


Mama malah menatapku tajam, dari tatapan Mama aku bisa tahu kalau Bulan memang ada di rumah.


“Dia di kamar Mama yah?!”


“Kenapa dia mematikan handphone? Dia gak bilang pergi dari rumah”


“Bikin aku pusing nyari-nyari dia semalaman” beranjak ke tangga. Kamar mama ada di atas bersebelahan dengan kamar Afi.


“Jangan ganggu dia Kak” ucap Mama keras. Aku berhenti dan menoleh, kenapa Mama bersuara keras seperti itu.


“Aku cuma mau memastikan” jawabku dengan kesal dan kembali menaiki tangga.


“Biarkan Bulan istirahat… seharian dia sudah menangis terus” tapi aku tidak peduli dan melanjutkan naik tangga.


“Jangan ganggu dia butuh istirahat”


“Bulan Hamil!”


Ha...Hamil? Langkahku langsung berhenti dan menatap Mama dengan tatapan tidak percaya. BULAN HAMIL?


##############################


Efek kebanyakan B Complex