Rembulan

Rembulan
Gelombang Cinta yang Menantang Gelombang Tsunami


Setiba di rumah suasana terasa sepi. Walaupun hanya dua minggu pulang ke Bandung rasanya seperti sebulan tidak menginjakkan kaki di rumah Mama.


“Maamaa” Afi langsung berteriak mencari Mama Nisa. Terdengar pintu kamar yang terbuka,  Mama keluar dengan masih memakai mukena.


“Alhamdulillah sudah pada sampai… Bulan… anak Mama gimana sayang sudah sehat?” Mama langsung menyambut Bulan dan memeluknya erat. Mengusap kepala perlahan sambil tersenyum haru.


“Masih suka pusing?” tanyanya lembut. Bulan menggelengkan kepala sambil tersenyum.


“Nggak Ma… Alhamdulillah sehat walafiat.. Kurang tidur ternyata kemarin teh jadi aja vertigo”


“Di Bandung Bulan tidur terus jadi aja bulet kaya tahu…hadeuuh” Bulan tersenyum ketir, dalam waktu dua minggu berat badannya naik satu setengah kilo.


“Nggak ah bulet darimana, makin cantik malahan kata Mama… feeling Mama sih kayanya ini perempuan… Ya Allah alhamdulillah Mama mau punya cucu dua, laki-laki dari Afi perempuan dari Bulan” Mama mengucap syukur sambil menakupkan tangan berdoa.


“Serius Fi… laki-laki? Whahahhaha pantesan kamu gak mau diem” Bulan tertawa senang.


“Iya ya... kayanya mungkin perempuan Ma… soalnya Bulan jadi seneng dandan dan pakai baju girly gitu Ma”


“Girly atau seksi?” tanya Juno perlahan di belakang istrinya, lebih tepatnya menggumam sambil tersenyum sendiri. Bulan yang mendengar ucapan suaminya langsung menoleh sambil melotot. Melihatnya Mama langsung tertawa senang.


“Ahahhahaha Mama senang kalian akur begini”


“Istirahat yaa.. Walaupun sekarang sudah sehat Teteh jangan terbawa nafsu kerja seperti kemarin, ingat sekarang sedang hamil harus bisa menjaga diri untuk kesehatan diri dan bayi”


“Ayo kita makan dulu, dari tadi Mama nungguin kalian supaya bisa makan bareng” Mama kembali ke kamar untuk menyimpan mukena.


Ternyata Mama sudah menyiapkan makan siang yang lengkap. Semua menu tersaji, dari mulai ayam goreng, empal goreng serundeng, rendang, tempe dan tahu goreng, sup iga, tumis sayur, capcay sampai lalapan dengan sambal cumi. Rupanya kepulangan Bulan menjadi momen untuk kumpul keluarga bersama.


“Waaah menu lengkap nih… Mama tahu aja aku maniak daging-dagingan”


“Hadeuuuh ini ada empal goreng pake serundeng kesukaan Papa… bakalan habis dua piring nasi” celoteh Afi langsung membuat semua terdiam. Dimana Papa Bhanu? Seketika suasana terasa kaku.


“Ayo kita makan” ucap Mama seakan tidak merasakan suasana kekakuan di meja makan. Bulan mengambilkan nasi untuk Juno yang kemudian menunjuk ini itu yang diinginkannya. Berbeda dengan Emil yang sibuk menyiapkan makan untuk Afi yang juga sibuk menunjuk ini itu yang diinginkannya. Mama yang melihat aktivitas kedua menantunya hanya bisa menarik napas panjang.


“Ngeliat anak Mama sudah pada menikah dan punya pasangan bikin Mama bahagia, walaupun Mama kadang bingung lihat anak Mama… ini keduanya hobinya modal telunjuk aja” ucap Mama dengan prihatin.


“Untung saja Emil melakukan ini karena sayang sama kamu Afi… makasih yah Emil sudah menyayangi anak Mama yang nengil ini… Afi kamu mesti bersyukur punya suami seperti Emil yang bisa sabar sama kelakuan kamu” Mama tersenyum pada Emil yang hanya mengacungkan jempol tanda merasa senang. Afi yang diberikan ceramah  hanya tertawa nyengir sambil memeluk pinggang Emil yang sedang berdiri.


“Jangan khawatir Emil akan selalu bersyukur punya istri aku, tiap malam aku servis dia….hmmmp” ucap Afi santai, yang langsung disumpal tempe oleh Emil supaya diam. Bulan menikmati suasana kekeluargaan yang ia alami sekarang.


“Kaka, walaupun istri kamu senang melayani suami, tapi kamu jangan manja, harus mau membantu pekerjaan di rumah juga yaa, apalagi sekarang saat istri sedang hamil. Kamu harus peka” rupanya Mama Nisa hapal dengan sifat anaknya yang cenderung lurus tidak sadar lingkungan. Juno hanya mengangguk dan tersenyum samar.


“Papa kemana Ma?” tanya Afi hati-hati.


“Gak tau” cuma itu jawaban Mama, Afi langsung tertawa terkikik melihat ekspresi Mama yang terlihat bete. Emil langsung mencubit paha istrinya. “Aduuuuh… sakit ih” Afi langsung melotot kesal, tapi Emil seperti tidak peduli meneruskan makan siangnya seperti tidak melakukan dosa apa-apa.  Juno yang melihat kelakuan adiknya hanya menggelengkan kepala pasrah. Padahal tadi mereka sudah diwanti-wanti untuk bersikap biasa saja.


“Kenapa? Pengen barengan sama Papa kamu?” tanya Mama dengan muka kesal.


“Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngajak Mama nikah”


“Memangnya Mama amnesia” gerutu Mama.


“Udah ah… Mama jadi gak selera makan” ucap Mama kesal, menyimpan sendok dan garpu dan beranjak dari meja makan. Juno langsung menatap Afi tajam tanpa berbicara sepatah katapun. Afi langsung menunduk menyadari kesalahan.


Sepeninggal Mama semuanya makan tanpa berkata-kata, ingin segera menyelesaikan makan siang hingga bisa masuk ke kamar masing-masing. Afi yang paling akhir menghabiskan makan, sesekali menatap kamar Mama sampai akhirnya air mata keluar dan kemudian membuatnya terisak.


“Maaf… aku gak bermaksud bikin Mama kesal” ucapnya sambil mengusap air mata dengan tangannya. Emil menatapnya dengan tatapan sayang dan kemudian mengusap rambut istrinya perlahan.


“Gak apa-apa Mama cuma perlu waktu untuk bersikap”


“Mama gak marah sama kamu, Mama marahnya sama Papa… kita mesti mengerti itu”


“Kamu mesti lebih berhati-hati, urusan hati itu sensitif, apalagi untuk perempuan seusia Mama”


“Udah gak usah nangis, shalat duhur aja yuk”


“Aku bawain makan siang buat Mama ke kamar” Juno membereskan bekas makan Mama, Bulan bergegas mengambil nampan agar suaminya bisa membawa makan siang Mama ke kamar, mewadahi buah dan minum air hangat untuk mertuanya. Hingga Juno tinggal membawanya ke kamar.


“Makasih… kamu istirahat duluan ke kamar… nanti aku menyusul” ucapnya pada Bulan sambil tersenyum. Bulan mengangguk, ia paham kalau Mama Nisa sedang butuh dukungan dari anak-anaknya.


"Sudah sana kamu istirahat aja" sambil membawa nampan Juno menyuruh adiknya supaya segera beristirahat, kondisi Afi yang sedang hamil membuatnya rentan pada gejolak emosi"


Hampir dua jam Juno di kamar Mama Nisa, Bulan membiarkan suaminya untuk menemani Mama, ia memilih melakukan aktivitas sendiri. Dimulai dari shalat dhuhur, hingga merapikan pakaian di lemari. Pakaiannya dan Juno lumayan berantakan karena lama ditinggalkan. Hingga akhirnya setelah semua rapi Bulan memilih untuk merebahkan diri di tempat tidur. Ahhhhh leganya.


Ia hampir tertidur saat mendengar pintu dibuka, ternyata Juno yang masuk dengan muka mengantuk dan lelah.


“Gimana A? Mama udah tenang?” tanya Bulan tidak sabar, sebenarnya ia ingin menghibur Mama tapi kondisinya tidak memungkinkan. Mama akan lebih mudah terbuka dengan anak-anaknya karena masalah keluarga yang terjadi di masa lalu dan mempengaruhi mereka bertiga.


Juno hanya mengangguk. “Aku shalat dulu… ngantuk banget” ucapnya, Bulan hanya mengangguk. Ia pun merasa lelah, hingga tak berapa lama saat Juno masih di kamar mandi ia pun sudah tertidur dengan lelap.


Tidurnya terganggu saat tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang, hembusan nafas suaminya terasa berat di tengkuknya. “Hmmmmm” suara Juno yang menghirup udara di leher membuatnya geli.


“A… geli jangan nafas di situ” ucapnya sambil menggeliat geli memancing geliatan di pihak lain.


“Capee ah… pengen tidur” Bulan merasa lelah setelah seharian perjalanan antar kota, ia mengerti ada panggilan alam yang sudah mulai berkumandang.


“Biarin aja… asal kamunya jangan gerak-gerak nanti dia juga tidur lagi”


“Aku juga ngantuk cape” balas Juno.


“Mama gimana?” penasaran karena khawatir dengan kondisi Mama Nisa membuatnya kembali bertanya, sambil membalikan tubuhnya berhadapan dengan Juno.


“Udah tidur sama Afi, tadi dia nyusul ke kamar. Masih nangis-nangis aja. Gak bisa dihentikan sama Emil”


“Dia itu antara ketawa sama nangis batasnya tipis, gampang marah gampang nangis”


“Kadang aku suka takut dia bipolar”


“Untung Mama dulu memilih cerai sama Papa kalau nggak kayanya Afi gak akan ketolong” Juno menarik nafas panjang. Bulan mengangguk ia ingat cerita itu dulu dari Afi.


“Makanya tadi dia nangis lagi, mungkin keingetan waktu dulu” jelas Juno suaranya semakin tidak jelas.


“Aku bilang sama Mama supaya jangan dijadikan beban”


“Ikuti saja perasaan Mama”


“Mama mau tetap sendiri, mau kembali sama Papa atau bahkan mau memilih orang lain yang membuat Mama nyaman buat kita anak-anaknya gak masalah”


“Sudah waktunya Mama memilih kebahagian buat sendiri”


“Jangan mengorbankan diri demi keluarga…. Semua orang berhak bahagia”


“Seperti aku bahagia sama kamu”


“Perempuan baik yang bikin aku susah tidur kalau jauh” ucapnya sambil mengecup dahi Bulan perlahan, matanya semakin terasa berat.


“Ughh co cweet banget Abang aku inih” Bulan memeluknya erat.


“Udah tidur jangan ngulet-ngulet terus… warung lagi tutup… istirahat” ucap Bulan sambil memukul celana suaminya.


“Awww… sakit Muneey” teriak Juno sambil meringis.


“Abis gak mau diem, geli kan” keluh Bulan.


“Ya udah tidur-tidur… nanti dia bakalan nunggu kalau warungnya buka aja” Juno mengeratkan pelukan sambil terus memejamkan mata, selama hampir dua jam ia menenangkan dua orang perempuan ternyata menghabiskan energinya. Tidak menunggu hingga lima menit keduanya sudah kembali terlelap.


“Selamat pagiiiii” suara Papa Bhanu kembali terdengar di pintu.


“Waalaikumsalam wr. wb” jawab Afi yang sudah tampak siap untuk berangkat ke kantor. Rupanya Papa menjemput Afi untuk bersama ke kantor.


“Gimana sudah siap untuk ikut rapat dengan direktur yang lain lagi” tanya Papa dengan ceria tidak mempedulikan sindiran Afi dalam menjawab salam, sesekali memandang ke arah dapur, berharap melihat Mama Nisa.


“Siap lah… bahannya udah aku siapkan dari minggu kemarin” jawab Afi santai. Senin ini Afi akan melakukan review akan hasil audit internal.


Bulan yang pertama kali keluar dari dapur agak kaget melihat kehadiran Papa Bhanu.


“Ehh Papa… apa kabar?” tanya Bulan pelan. Ia melirik ke arah dapur, Mama belum tahu kalau Papa datang pagi-pagi. Tapi dengan keributan di ruang tamu, pasti Mama bisa mendengar suara Papa.


“Kabar baik, gimana sekarang kondisi kamu? Udah sehat keliatannya” jawab Papa sambil tersenyum.


“Alhamdulillah Pa sehat, oya salam dari Bapak katanya untuk Papa” Bulan jadi ingat kalau Bapak mengirimkan salam untuk besan yang baru ia temui kemarin.


“Waalaikum salam. Nanti kalau ke Bandung Papa akan mampir ke rumah, supaya bisa bertemu Bapakmu” suara Papa Bhanu terdengar ceria. Sepertinya membawa kabar bahagia.


“Pagi Pa” sapaan Juno membuat Papa menoleh ke belakang.


“Pagi-pagi… wah kamu udah siap juga berangkat kerja?” tanya Papa seperti bingung. Dalam pikiran Papa bekerja sendiri Juno seharusnya lebih santai.


“Aku ada meeting jam sembilan di SCBD”


“Mobil kamu dimana?” tanya Papa, rupanya Papa belum tahu kalau Juno sudah menjual mobilnya.


“Dijual” jawab Juno singkat, menerima piring yang sudah diisi sarapan oleh Bulan.


“Makan Pa… mesti berangkat cepat supaya gak kena macet”


“Kamu pakai apa ke kantor?” tanya Papa dengan dahi berkerut.


“Nanti si Doni jemput, udah di jalan dia” jawab Juno santai. Papa Bhanu masih mengerutkan dahi, sikap cerianya langsung menghilang.


“Kamu butuh modal berapa? Kenapa gak ngomong sama Papa” ucapnya dingin.


“Udah beres kok… biaya produksi sudah aman.. Nanti kalau sudah selesai proyek juga aku bisa beli lagi mobil”


“Santai aja” jawab Juno, menghabiskan sarapan dengan cepat karena waktu sudah semakin sempit, kalau saja tadi setelah shalat subuh tidak meminta jatah ngulet, pasti tidak akan kesiangan karena ketiduran merasa lelah setelah beraktivitas.


“Aku berangkat dulu” mengambil tangan Papa untuk salim, yang tampak bingung dengan sikap Juno, tidak seperti biasanya salim pada Papa. Beberapa hari di Bandung membuatnya memiliki kebiasaan baru akibat berinteraksi dengan Bapak.


“Mama aku berangkat dulu, doakan yah lancar” Juno langsung pamit pada Mama yang baru keluar dari dapur dengan membawa jus.


“Looh gak akan minum jus dulu” ucap Mama terlihat kaget, tidak menyangka Juno akan berangkat pagi-pagi.


“Nanti aja aku minum di kantor, bikin!” ucap Juno sambil mencium kepala Bulan, kemudian setengah berlari ke luar. Mama hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak sulungnya. Sedikitpun tidak melirik kehadiran Papa Bhanu yang sedang duduk di meja makan.


Belum sempat Mama duduk, tiba-tiba Juno sudah masuk lagi.


“Ma… ada Om Teguh tuh di depan bawa tanaman banyak” ucap Juno pendek. Mama mengangguk seperti sudah tahu kalau Pak Teguh akan datang, merapikan kerudung sebentar di kaca wastafel seakan ingin memastikan penampilan sebelum bertemu tamu.


Afi yang tengah makan hanya menunduk penuh, Bulan meliriknya dan mengingatkan dengan menyenggol kaki Afi di bawah meja, ia tahu kalau Afi sedang tertawa karena tubuhnya yang berguncang perlahan.


“Papa mau sarapan? Bulan membuat nasi goreng” tanya Bulan lembut, berusaha menenangkan suasana. Muka Papa Bhanu sudah terlihat siaga, melihat Mama keluar dari ruang tengah.


“Papa gak pernah sarapan pagi” gumam Bhanu muram.


“Mau minum jus yah biar sehat?” tawar Bulan lagi, Papa mengangguk, mengingat kalau jus yang dimeja adalah buatan Mama.


Jus alpukat yang dituangkan di gelas langsung habis dalam beberapa kali tegukan. Bulan tersenyum sambil menunduk tidak ingin membuat keruh suasana.


“Doyan apa haus Pa?” tanya Afi


“Panas ya Pa? Padahal masih pagi… efek pake jas kali Pa?” Afi bertanya dengan muka tanpa dosa. Bulan semakin menundukkan kepalanya menahan tawa. Sesekali menyenggol Afi supaya berhenti menggoda Papa Bhanu.


“Ayo Pa kita berangkat, nanti udara makin panas loh” mengambil tas kerja dan menarik Papa Bhanu berdiri.


“Penasaran kan ada apa di depan… ayo buruan ntar keburu kabur lagi buruannya” Afi menarik Papa Bhanu pergi.


“Fii… gak pamit sama Emil?” tanya Bulan.


“Udahhh berangkat tadi subuh… mau meeting di Bogor dia… Bul gw berangkat yaa” mendorong Papa Bhanu untuk bergegas ke depan. Bulan jadi ikut penasaran ingin melihat suasana di luar. Sebelum sempat keluar, ternyata Papa Bhanu berdiri di depan pintu ruang tamu, rupanya sedang mendengarkan percakapan di teras rumah.


Ternyata Om Teguh membawa kereta dorong yang biasa dipakai untuk mengangkut barang bangunan. Tapi kali ini diisi oleh beraneka ragam tanaman.


“Serius Mas ini untuk saya semua… mahal-mahal ini loh Mas sekarang” Mama Nisa terlihat bersemangat sambil membelai-belai tanaman yang dibawa Om Teguh.


“Serius ini buat Dek Nisa.. soalnya saya udah gak terurus juga… udah kebanyakan”


“Ini saya memperbanyak sendiri loh Dek”


“Athurium ini kalau kita sudah hapal bagaimana mengembangbiakannya mudah tumbuhnya”


“Ini yang kemarin yang banyak dicari Dek”


“Gelombang Cinta”


“Kalau sudah sebesar ini harganya bisa satu juta sampai satu juta setengah untuk pot sebesar ini”


“Masya Allah betul Mas… buat saya… aduh cantik sekali… pantas saja disebut gelombang cinta… soalnya tanamannya bergelombang begini yah Mas… tapi cintanya ada dimana”


“Cintanya ada disini Dek” ucap Om Teguh sambil membuat lambang cinta dengan jarinya, sambil terkekeh sendiri. Mama Nisa langsung cemberut di gombalin sama Om Teguh.


"Apaan sih gak jelas Mas Teguh ini"


Mendengar obrolan absurd di antara Mama dan Om Teguh, Bulan dan Afi hanya bisa tertawa tapi ditahan, berbeda dengan Papa Bhanu yang tampak diam dengan tatapan dingin. Bulan langsung bergidik sendiri, tatapan Papa Bhanu mengingatkannya pada Juno saat marah.


“Nanti akan ada Pameran Anthurium di Kebun Raya Bogor, katanya terbesar seIndonesia Dek”


“Kalau Dek Nisa tertarik nanti kita bersama-sama kesana, teman-teman yang sekompleks juga ada yang mau kesana”


“Wah mau Mas kalau beramai-ramai”


“Iya Mbak Yani sama suaminya yang diujung jalan itu yang memberitahu saya, kita bisa berangkat bersama-sama kalau begitu”


“Kabari aku aja yah sebelumnya Mas supaya bisa siap-siap” percakapan Mama Nisa tampaknya masih berlanjut, sehingga Papa Bhanu masih enggan untuk keluar dari ruang tamu karena masih ingin mendengar.


“Paaa… udah kita mesti berangkat ini, nanti terlambat rapatnya” Afi menarik Papa Bhanu supaya beranjak pergi. Papa menatap Bulan dan menepuknya supaya ikut keluar.


“Kamu temani Mama mu berkebun, jangan dibiarkan capek sendiri” perintahnya pada Bulan, yang langsung disetujui Bulan dengan mengangguk. Siapa yang berani melawan saat muka Papa Bhanu terlihat penuh emosi seperti itu. Berjalan keluar hanya melirik ke arah Mama Nisa yang sama sekali tidak mempedulikannya. Jangan ditanya soal Om Teguh, Papa sama sekali tidak menganggapnya ada.


"Berangkat Mas? Oalah senangnya satu kantor sama anak jadi bisa berangkat bersama-sama" komentar Om Teguh saat melihat Afi yang mendekat.


“Mama aku berangkat kerja” ucap Afi sambil memeluk dan mencium Mama Nisa.


“Om pamit dulu yaaa” ucapnya pada Om Teguh sambil melambaikan tangan.


“Gelombang Cintanya jangan kebanyakan Om… bahaya soalnya bisa memancing datangnya Gelombang Tsunami…hahahahahaha” Afi tertawa terbahak sambil bergegas menuju ke mobil.


Bulan hanya bisa tertawa tertahan. Hari ini ia kebagian tugas menjadi satpam oleh pemilik Gunung Berapi yang sudah siap meledak. Bulan yakin ini kalau pemilik Gelombang Cinta tidak bisa menjaga jarak Gelombang Tsunami akan segera datang akibat ledakan gunung berapi. Ihhhh tatut.