
Bulan PoV
Akhirnya Bapak diperbolehkan pulang setelah berada di kamar rawat inap selama 5 hari. Kondisi Bapak terus membaik pasca operasi, badannya sudah bisa bergerak walaupun kaku, bicaranya juga lancar dan jelas. Operasi yang sukses kata dokter Dinny, aku sangat berterima kasih juga pada dokter Samuel yang selalu datang ke kamar untuk mengecek perkembangan Bapak.
“Ok boleh pulang!” itu adalah kata yang paling menyenangkan untuk didengar selama berhari-hari di RS. Kalau diperbolehkan ingin rasanya memeluk semua orang yang berada di ruangan, saking senangnya. Untung saja semua perlengkapan Bapak sudah aku rapikan dan siapkan untuk pulang, Benny sedang ujian sekolah jadi aku harus menyiapkannya semuanya sendiri. Bapak kembali tidur setelah tadi berbincang sebentar dengan dokter Samuel. Aku tinggal membereskan urusan keuangan di bagian administrasi Rumah Sakit. Mumpung Bapak tidur aku bisa membereskan masalah administrasi dulu.
Berita gembira kedua adalah semua biaya perawatan Bapak ditanggung sepenuhnya oleh BPJS hanya saja karena awal mulanya Bapak tidak mendaftar dengan menggunakan layanan ini menjadikan proses pengembalian dana memakan waktu. Walaupun kecewa tidak bisa langsung mengembalikan uang Kak Juno lebih cepat tapi paling tidak cepat atau lambat hutang peminjaman uang bisa diselesaikan.
Sulit mengubah panggilan pada Kak Juno. Selain terlalu mendadak, Aku sudah biasa memanggilnya Kakak, setelah insiden panggilan BiBi yang membuatnya murka, aku jadi berpikir panjang untuk nama panggilannya. Akhirnya untuk sementara waktu aku mencoba memanggilnya Aa, rasanya lebih lunak daripada memanggil Abang seperti Benny.
Orang Korea juga membedakan panggilan kepada kakak laki-laki oleh adik perempuan dan laki-lakinya. Kalau perempuan memanggil oppa maka adik laki-laki akan memanggil hyung, Terasa lebih lunak dan luwes jadinya. Baru saja dalam hati dibicarakan yang bersangkutan sudah telepon, eh ternyata video call, tumben siang-siang video call. Sabtu Minggu kemarin akhirnya Kak Juno gak jadi pulang ke Bandung karena pekerjaan yang menumpuk.
Sebelum ku angkat mencari tempat sepi yang bisa berbicara dengan nyaman.
“Assalamualaikum A…”
“Waalaikumsalam… dimana kamu?” suaranya kaya komandan peleton lagi introgasi anak buah.
“Di rumah sakit lah dimana lagi!”
“A, Bapak udah boleh pulang, aku barusan udah beresin masalah administrasinya. Alhamdulillah semuanya dicover sama BPJS cuma karena pendaftaran awalnya Benny gak pakai BPJS jadi pengembalian dananya butuh waktu”.
“Jadi maaf uang Aa belum bisa dikembalikan langsung sekarang” malu sebetulnya mengatakan ini tapi mau bagaimana lagi.
“Ya gak apa-apa, yang penting Bapak sudah sehat dan bisa pulang itu yang terpenting”.
“Kamu gak makan lagi yaah? Muka kamu lesu begitu” matanya langsung menatap tajam. Duh gegara tadi pagi gak sempat pakai eyeliner jadi terlihat pucat.
“Enggak… makan kok.. Ini gak makeup-an aja, terus udah siang jadi agak panas, tadi ngantrinya lama mengurus administrasinya” aku mencoba mengusap-usap dan mencubit pipi supaya terlihat segar.
“Harus bisa menjaga kesehatan kalau lagi ngurus yang sakit, jangan nanti malah kebawa sakit” malah muka Kak Juno yang terlihat kusam.
“A Juno kurang tidur?” ia terdiam terdengar suara perempuan di ruangannya. Ia malah terlihat kesal dan semakin terlihat lelah, tampaknya ia benar-benar sibuk.
“Bulan… aku mau ada meeting lagi. Ingat kamu jangan sampai sakit lagi!”.
“Obat yang harus diminum kemarin sudah habis?” aku mengangguk saja
“Masih suka merasa sesak gak?” aku menggelengkan kepala, dia tampak mengangguk puas.
“Aku usahakan minggu ini ke Bandung, kamu jaga diri baik-baik. Aku pamit. Assalamualaikum” menatapku sebentar dan langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku, ampun deh… sibuk bener si Abang.
Untungnya sekarang sangat mudah mendapatkan transportasi mobil dengan aplikasi online jadi tidak tergantung pada orang lain. Rasanya seperti mimpi memindahkan Bapak dari kursi roda ke mobil online dan memasukan barang-barang ke dalam mobil berjalan dengan cepat dan lancar gak pakai ribet. Tidak lupa memberikan tanda kasih sayang pada Satpam yang membantu dengan cekatan. Walaupun berusaha menolak, aku bilang ini adalah bagian dari doa kami, supaya Bapak sehat dan selamat sampai di rumah, kalau diterima artinya membantu kami dalam doa.
Aku selalu ingat cerita ibu waktu kecil dulu. Ibu selalu saja memberi uang pada orang yang bertemu di jalan kalau ibu mau pergi dengan aku. Terkadang memberi kepada pengemis yang kebetulan bertemu, seringkali memberi pada tukang balon yang sering aku beli, tukang cuanki, tukang cilok atau bahkan mamang sampah yang suka mengangkut sampai di kompleks sebelah.
Ketika aku tanya kenapa ibu suka memberi mereka uang tapi gak mengambil makanan yang mereka jual, ibu bilang gini:
“Rembulan!” aku ingat kalau ibu mau memberi tahu hal yang penting pasti memanggil nama lengkap.
“Kalau nanti kamu sudah besar dan bekerja. Kamu akan punya uang sendiri, tidak lagi meminta jajan dari Ibu sama Bapak”.
“Kamu harus ingat untuk membagi uang kamu pada orang lain yang tidak mampu dan membutuhkan bantuan”.
“Kalau dihari itu kamu ada keinginan atau mau melakukan suatu hal yang penting, sebelum kamu pergi usahakan memberi sedekah pada orang yang tidak mampu”
“Ketika kamu memberi sedekah, kamu berdoa agar sedekah yang kamu berikan menjadi jalan kemudahan dan kelancaran untuk semua kegiatan yang akan kamu lakukan”.
“Kaya sekarang yah Bu? kita mau belanja ke Pasar Baru, jadi ibu minta doa dari tukang Balon tadi?” aku ingat waktu itu Ibu mengajak aku belanja kain untuk kemeja kerja Bapak.
“Iyaa, supaya dijalan kita selamat, di Pasar Baru gak ketemu copet, Ibu bisa beli bahan kain yang bagus dan murah, sehingga baju Bapak nanti bisa dipakai kerja” jawab Ibu.
Ah ibu kalau saja ibu lebih lama tinggal di dunia, pasti banyak yang Bulan bisa pelajari dari Ibu. Sampai sekarang Bulan hanya bisa belajar masak dari youtube, bikin kue dari instagram, belajar agama dari buku. Ibu… Bulan kangen sama Ibu.
“Teeeh…. Teteeeh” terdengar suara Bapak memanggil dari kamar.
“Yaaaa…” langsung berlari, khawatir Bapak jatuh, ternyata Bapak sudah bangun. Tadi setelah sampai ke rumah, Bapak langsung ingin tidur, rupanya masih belum recovery mungkin efek dari obat.
“Kefala Bapa hatalll” Bapak sekarang bicara sudah lancar tapi jadi agak cadel sedikit.
“Ohhh efek dari digunduli kali Pak sama bekas jaitan”
“Teteh kasih salep aja yah?” Bapak mengangguk-angguk. Muka Bapak terlihat lucu karena pitak sebagian.
“Besok teteh cukurin yah rambut yang lainnya biar gak keliatan botak sebelah” sambil mengoleskan salep seperti yang disarankan dokter. Jahitan sudah tampak mengering tapi masih ditutup perban. Minggu depan harus kontrol lagi sama dokter Samuel dan dokter Dinny.
“Bapak sekarang jadi Boksi… Botak di sisi” godaku, Bapak langsung tersenyum, sekarang sudah bisa senyum normal dan simetris lagi.
“Tapi bapa masi takep kan teeth” heuuuh dasar Bapak masih aja mau ditaksir disebut cakep.
“Wiiih Bapak mah sampai aki-aki juga bakalan ganteng terus gak ada yang ngalahin” ucapku sambil mengacungkan jempol.
“Takepan mana sama si Aa Juno?” Bapak ampun deh masih pengen dibandingin sama yang muda.
“Cakepan Bapak tetep” jawabku pasti.
“Boong teteh mah… atuh jelas takepan si Aa… kalau takepan Bapa moal dikasih kemalin nikah” ehh ternyata Bapak masih ingat kejadian sebelum operasi.
“Bapak masih inget waktu teteh nikah?” tanyaku hati-hati.
“Inget… Ade yang ijab kabul sama si Aa… Bapa sedih liat ade, anak bapa udah bisa gantiin Bapa” ehh Bapak malah nangis.
“Teteh musti hormat dan nurut sama si Aa yah!”
“Sekalang tanggungjawab Bapa udah pindah ke si Aa, teteh halus nulut sama Aa” aku mengangguk-angguk
“Musti ijin sama suami kalau mau kemana-mana”
“Lidonya suami itu lido Allah teh” aku mengangguk sambil nyeletuk “Kiraiin Ridho Rhoma.. ” Bapak langsung melotot.
“Bapa ngomong selius” haduh salah nyeletuk pas Bapak lagi ngasih nasehat.
“Ehhh iya-iya maaf… iya teteh tau kok musti hormat dan patuh sama suami”
“Tapi kadang-kadang A Juno suka galak sama teteh… ngomongnya suka marah-marah aja!”
“Teteh kan jadi kesel, salah ngomong dikit suka ngebentak, kalau ada maunya teteh musti langsung nurut gak dengerin dulu pikiran teteh” akhirnya bisa mengadukan kelakuan A Juno sama Bapak, tapi Bapak malah senyum… ih ngeselin.
“Pikilannya suami kamu udah penuh teh… dia pengen teteh ngelakuin itu supaya semuanya selesai”
“Coba Bapa tanya apa yang bikin si Aa marah sama kamu?” aku jadi mikir, masa iya mau nyeritain soal panggilan Abi pasti Bapak nanti emosi juga. Ah soal dipaksa diem di kamar aja.
“Itu waktu Bapak habis dioperasi teteh dipaksa disuruh tidur di hotel” padahal di hotel juga gak bisa tidur soalnya tempat tidurnya cuma satu, dia enak aja tidur sendiri lelap.
“Yah wajal teh soalnya kan teteh butuh istilahat… teteh halus selalu belpikil baik sama suami”
“Jangan mikil yang jelek… diantala semua laki-laki yang ada di dunia, teteh halus membela suami teteh paling utama” Bapak mengusap-usap tangan aku, mencoba mengingatkan tanpa membuatku merasa dinasehati.
“Iya Pak…”
Bapak terus memberikan aku nasihat pernikahan, walaupun bicaranya cadel tapi alhamdulillah jelas dan lancar. Dokter Dinny memberikan pesan untuk terus melatih Bapak bicara dan berpikir agar kembali normal seperti sediakala. Akhirnya, sore ini dipenuhi oleh nasihat Bapak akan pernikahan, bagaimana seharusnya seorang istri bertindak kepada suami.
Ada yang menarik yang diceritakan Bapak tentang ibu, ternyata Ibu adalah istri yang bisa berganti wujud sesuai dengan keinginan Bapak. Katanya Ibu bisa berubah wujud dari istri, jadi pacar, jadi teman, jadi Emaknya Bapak bahkan ibu bisa jadi tetangga perempuan yang suka godain Bapak kalau lama di kantor gak pulang-pulang. Hahahahah… hebat bener ibu.
Kata Bapak, ibu gak suka kalau Bapak digodain sama orang lain jadi ibu sering godain Bapak supaya Bapak gak jadi geer kalau ada perempuan ngegodain Bapak.
“Waaaah seriusan Pak?” aku sampai tergelak mendengar kelakuan Ibu demi menjadi perempuan penggoda, katanya ibu sampai punya baju yang dikecilkan ukurannya supaya kelihatan seksi. Ahahahaha mesti dicari nih baju yang ibu pakai buat godain Bapak jadi penasaran.
Cerita Bapak tentang ibu berakhir dengan kesimpulan kalau kita tidak ingin suami penasaran dengan dunia luar, kita mesti bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan dari suami.
“Si Aa teh kasep teh, ganteng pasti banyak yang suka”.
“Engke teteh jangan gampang malah kalau ada pelempuan suka telepon atau kilim pesan”.
“Tanya dulu yang betul dan baik-baik jangan asal tuduh”.
“Teteh mesti penuhi kebutuhan apa yang diinginkan .suami, nanti dia juga akan memenuhi keinginan teteh”.
“Lalaki mah gampang teteh ngolona (ngebujuknya)” wah apa ini rahasia laki-laki mumpung dapat dari sumber informasi langsung, aku langsung pasang telinga.
“Apa Pak… cara menaklukan suami?” ehhh si Bapak malah ketawa.
“Kamu meni semangat, sering dicarekan (dimarahi) yah ku si Aa?” aku mengangguk lemah, punya suami darah tinggi memang makan hati.
“Rahasiana aya di kasul dan dapul” penjelasan Bapak pendek amat, masa cuma kasur sama dapur. Tidur sama makan doang, yah itu sih penjelasan standar dimana-mana juga setiap orang butuh makan dan tidur supaya bisa bertahan hidup.
“Haaah masa cuma tidur sama makan aja Bapak?”
“Itu mah semua orang juga tahu atuh Bapak” aku mendengus kesal kirain musti ngapain biar suami takluk seperti ngelempar ****** ***** ke genteng, atau memasukan pakaian dalam ke dalam bantal milik suami. Dijamin bakalan tunduk pikirku.
“Ehhhh ari Neng Bulan bukan tidul sama makan… dasal kamu mah jomblo jadi teu ngalti” Bapak malah menghina status masa laluku, dasarrr….
“Kasul teh altinya kamu musti melayani suami di atas kasul” ucap Bapak tandas, aku langsung melotot, ih si Bapak meni gak kagok ngomongin yang ginian sama anak.
“Kenapa teteh melotot wajal ngomongin kaya gini da kamunya udah nikah”
“Mestinya sama ibu kamu tapi kalna gak ada jadi sama Bapak”
“Udah ah jadi risih ngomonginnya sama Bapak, da teteh juga ngerti musti melayani suami” jawabku masa iya ngebahas soal ranjang sama Bapak.
“Gak apa-apa ini mah nasehat pelnikahan… bapak mah gak akan ngomong soal gaya belenangnya, nanti teteh juga jagoan sendili” hadeuuuh Bapak ampun deh gaya bercinta disebut gaya berenang. Mana aku tahu soal gaya berenang di kasur, di kolam renang aja aku cuma tahu gaya bebas, yang penting pas ujian praktek bisa lulus udah cukup buat aku.
“Tapi teteh kebutuhan laki-laki itu paling utama ditempat tidul”
“Rrrrumah boleh belantakan tapi kasul musti belsih beles supaya suami bisa tidul dan dilayani sama kamu dengan baik” aku mengangguk-angguk, dicatat tempat tidur mesti rapi dan bersih supaya suami bisa istirahat disertai dengan layanan plus-plus.
“Terrrus…” eh ternyata Bapak lama-lama huruf R nya lancar juga.
“Terus gimana Pak” aku harus terus ngajak Bapak bicara supaya semakin lancar bicaranya.
“Kalau ulusan dapurrr, kamu mesti tahu kesukaan makanan si Aa, buatin makanan kesukaan suami jangan ngandelin yang kerrrrja bantuin”.
“Apa yang dimakan sama suami, siapin sama Teteh supaya nilai ibadahnya jadi milik teteh bukan orrrang lain” ok dicatat… makanan kesukaan suami dibuatkan khusus sama kita sendiri jangan ngandelin orang lain.
“Siapin baju si Aa, kan dia mau kerrrja buat nyarrri uang buat keluarrrga jadi mesti pakai baju yang rrrrapi” aku jadi ingat kalau Ibu suka menjahit sendiri baju untuk Bapak, waaah kayanya gak akan sampai segitunya. Secara aku gak bisa jahit baju, kecuali nempelin kancing baju yang copot atau jahitan di baju ada yang lepas.
“Kalau gitu gak cuma kasur, dapur aja atuh Pak ditambah sama setrika juga” kirain cuma dua, bisa-bisa nambah terus ini mah.
“Kamu mah itungan pisan jadi perempuan teh!” Bapak langsung melotot, aku cuma bisa mesem aja, hmmm si Bapak sudah mulai membela menantu, bahaya nih. Musti cari bala bantuan dari Mama Nisa tips dan trik supaya gak banyak dimarahi suami yang gak bikin capek. Kan kebayang udah musti melayani di kasur, musti masak trus nyuci dan nyetrika… hadeuuh bisa-bisa lemes gak bisa me time baca novel online.