
Sejak kedatangan Om Teguh yang membawa banyak tanaman untuk Mama, genderang perang seperti ditabuh. Papa Bhanu seperti kehilangan akal untuk mencari perhatian Mama, semua tingkah laku Papa Bhanu menjadi bahan gossip anak-anak, hiburan di kala kerja.
Bulan**:**
“Guys…. Papa datang siang-siang membawa beberapa pot selada”
“Buat Papa tanaman Gelombang Cinta itu mirip Selada Air cuma versi gedenya…hahahhaa”
Afi:
“What? Wgwgwgwgwgwgwg… tadi habis rapat langsung pergi, kirain mau rapat sama orang ternyata belanja sayur”
Emil:
“Besok bisa makan sayur banyak-banyak…sehat, petik langsung dari pot”
Afi”
“Bul… lu ada nomor Om Teguh gak… besok suruh bawa ayam… dijamin nanti Papa bawain kambing atau sapi… lumayan kita bisa makan steak”
Juno:
:)
Afi:
“Lampu ruang tamu bagusnya diganti sudah kusam, ntar gw bilang sama Papa kalau Om Teguh sekarang jadi supplier lampu”
Bulan:
“Afiiii gilaaak kamu modus banget”
Afi:
“Sekalian aja sofa kita bilang kalau Om Teguh nawarin promo big sale….wgwgwgwgwgwg”
Bulan:
“My God Fi… lu kualat”
Afi”
“Aji mumpung… Mumpung si Aji lagi panas”
Emil:
“Kenapa gw merasa Mama Nisa jadi adik gw yang mesti dilindungi dari laki-laki berandal”
Bulan:
“Berandal? Hmmm…. Papa lebih cocok disebut playboy buaya darat hehehehe”
Afi:
“Aligator kalee”
Juno:
“Mohon dikondisikan… Papa tetap orangtua kita”
Emil:
“Pamit”
Bulan:
“Satpam datang… permisi”
Afi:
“Sesama buaya saling melindungi”
Juno:
“Maksudnya?”
Afi:
“Off dulu yaaa mau rapat, #Modus lari dari kejaran satpam"
Bulan tertawa-tawa sendiri di kamar membaca chat dalam grup keluarga, mereka terpaksa membuat grup chat baru khusus anak-anak, untuk menghadapi serangan kondisi genting di rumah, agar semuanya memiliki sikap yang sama, dan tidak ada lagi kejadian seperti kemarin siang pada Mama Nisa.
Dua hari setelah pengiriman sayur mayur ke rumah, sore itu Papa kembali datang ke rumah, alibinya adalah mengantar Afi pulang. Nico eh Emil masih belum pulang, semenjak menikah panggilan pada Nico jadi berubah, Afi seringkali memanggilnya dengan Emillio… lebih enak katanya seperti merk mie instan yang sehat. Walaupun sering dikonsumsi tidak akan berakibat buruk pada tubuh. Analogi Afi memang luar biasa.
Malam itu Juno pulang terlambat, semua orang sudah berkumpul termasuk Papa Bhanu yang seakan menanti kesempatan untuk bisa makan malam bersama di rumah. Mama Nisa seperti tidak mempersoalkan kehadiran mantan suaminya, tidak bersikap memusuhi dan tidak pula berbasa-basi untuk sekedar menyapa. Lurus dan datar, mirip Juno dalam kondisi netral.
“Aku lapar, biarin aja Kaka nanti makannya menyusul” Afi memilih makan lebih dahulu, mengambilkan nasi untuk Emil baru kemudian untuk dirinya. Bulan melihat pada Mama Nisa yang seakan tidak mempedulikan Papa Bhanu yang sudah duduk di sofa dan sesekali melirik ke meja makan, berharap ada yang memanggilnya untuk bergabung.
“Papa makan dulu sebelum pulang, nanti keburu masuk angin” tawar Bulan.
Papa Bhanu langsung bangkit dari sofa, panggilan yang dinanti akhirnya datang juga. Bersikap santai dengan tidak segera duduk dan menatap ke arah meja makan, menunggu untuk dipersilahkan, seakan tidak berminat untuk bergabung di meja makan. Mama Nisa masih menata makanan di meja, kemudian mengambil piring untuk dirinya sendiri, tidak ada keinginan untuk mengajak mantan suaminya duduk.
“Suami kamu kemana? Sudah hampir jam delapan masa masih kerja. Punya kantor sendiri kan mestinya bisa mengatur ritme kerja” Bhanu melihat pada jam di tangannya.
“Katanya susah mendapatkan mobil online, jam pulang kerja juga”
“Tadi habis dari workshop, biasanya bareng Bang Doni, tapi kebetulan mobilnya Bang Doni juga rusak masuk bengkel” jelas Bulan, sambil menyimpan piring dan alat makan di kursi yang biasa diduduki Bhanu kalau di rumah.
"Silahkan Pa" ucap Bulan, yang disambut gembira oleh Papa Bhanu.
Mama Nisa terlihat termenung mendengarnya, selama ini Juno selalu difasilitasi kendaraan semenjak SMA bahkan, sehingga mendengar anaknya mengalami kesulitan untuk pulang karena tidak ada kendaraan membuatnya merasa sedih.
“Besok bilang sama suamimu supaya memakai mobil Mama saja, sudah Mama bilang dari kemarin tapi dia menolak terus padahal Mama kan gak ada kegiatan keluar” keluh Mama Nisa.
“Iya Ma” jawab Bulan pelan, ada perasaan bersalah juga dalam dirinya, ternyata di keluarga ini menggunakan transportasi umum bukanlah hal yang biasa.
“Di kantor ada banyak kendaraan yang bisa dia pakai kalau mau” ucap Papa Bhanu sambil mengambil makanan di meja.
“Dia gak akan mau memakai barang bekas… apalagi bekas dipakai perempuan itu” jawab Mama ketus, Papa Bhanu langsung terdiam. Suasana langsung terasa dingin padahal ac hanya berhembus dengan mode fan.
“Waaaduuuuh” teriak Afi keras, langsung membuat semua orang tersentak. Nico eh Emil langsung bangkit dan berdiri kaget,
“Kenapa? Sakit perutnya?” usia kehamilan Afi baru tujuh bulan, tapi seringkali disebut masa yang rawan karena kerap terjadi komplikasi pada ibu hamil.
“Ini bayinya ganti posisi nungging, ya ampun perut aku sampai penyok begini” Afi menyandarkan badannya ke kursi. Ia merasa tidak nyaman karena perubahan posisi.
“Ini gak apa-apa Ma?… Aku khawatir dia mules sampai nungging gini, soalnya tadi aku makan siang nambah sama bakso pedas” Afi mengusap-usap perutnya sambil meringis. Seketika suasana menjadi riuh, Mama yang berusaha menenangkan bayi dalam perut, dan Nico… eh Emil yang kebingungan berjalan hilir mudik tak jelas arah.
“Ahhhhh sudah kembali ke posisi semula? Kayanya dia tadi gak kuat nyicipin bakso pedas. Mules sampai magh….hahahahhaha” Afi tertawa terbahak, semua orang hanya bisa menggelengkan kepala melihatnya. Bulan hanya tersenyum, ia tahu kalau Afi hanya akting supaya bisa menenangkan suasana yang sempat genting. Tak lama terdengar pintu terbuka, rupanya Juno sudah pulang.
“Alhamdulillah A.. sudah sampai, dapat juga mobilnya?” tanya Bulan bergegas mendekat. Juno mengangguk mukanya terlihat lelah dan kusut.
“ Nggak! Naik motor akhirnya. Kamu teruskan makan, aku mau mandi dulu” ucapnya pendek sambil masuk ke kamar. Bulan terlihat bimbang, tapi akhirnya memilih untuk menyusul Juno ke kamar, sambil membawa air minum. Papa Bhanu hanya menatap menantunya yang meninggalkan meja makan.
“Cape banget A? Nunggu berapa lama tadi?” tanya Bulan sambil mengambil pakaian kotor yang dilepas Juno.
“Setengah jam gak dapat terus akhirnya aku putuskan pakai ojek online” jawabnya sambil mengambil handuk dari tangan Bulan.
“Ya Allah dari Tangerang pakai motor” mata Bulan membulat, ia menyangka kalau tadi Juno main-main. Juno paling alergi naik motor. Pengalaman di bonceng Benny membuatnya trauma.
“Yah gimana lagi… lumayan juga ternyata lebih cepat. Kalau pakai mobil bisa-bisa jam sembilan baru sampai” meneguk minuman yang disiapkan istrinya sampai habis kemudian beranjak ke kamar mandi.
“Aku mandi dulu, nanti lanjutin ngobrolnya… lengket banget nih” keluhnya.
Bulan menyiapkan pakaian tidur Juno di tempat tidur kemudian kembali ke ruang makan. Menunggu beberapa saat tapi tampaknya Juno masih betah di kamar mandi, merelaksasi tubuhnya yang penat setelah seharian bekerja. Rasa lapar mendorongnya untuk makan terlebih dahulu. Ada mahluk kecil yang harus diutamakan daripada menunggu suaminya.
Semua orang sudah selesai makan, Afi dan Emil sudah kembali ke kamar hanya tinggal Papa Bhanu yang entah kenapa masih duduk menunggu di sofa.
“Mana suamimu” tanyanya pada Bulan begitu mendekat.
“Masih mandi Pa, saya mau makan duluan, tidak tahan lapar” keluhnya, sambil mengambil piring dan mengisi dengan nasi dan lauk pauk.
“Ya makan dulu… kamu harus menjaga kesehatan” Papa mengangguk setuju. Tak berapa lama Juno keluar kamar, tampak segar dengan rambutnya yang masih terlihat basah.
“Makan dulu Ka” Mama Nisa membawakan tahu goreng isi sayur kesukaan anaknya, rupanya melihat anak yang baru pulang bekerja. Mama ingin membuatkan makanan kesukaan anaknya.
“Sebentar Papa mau bicara sebelum pulang” suara Papa Bhanu terdengar serius. Juno yang akan duduk di meja makan kemudian duduk di sofa di seberang Papa.
“Kondisi seperti ini tidak bisa diteruskan”
“Kamu harus segera pakai kendaraan sendiri” ucap Papa dengan datar.
“Ya proyek akan selesai tiga bulan lagi”
“Aku akan mulai cari kendaraan nanti” jawab Juno dengan berat, ia sendiri merasakan beratnya tidak memiliki kendaraan, tapi mau bagaimana lagi kondisinya tidak memungkinkan.
“Sebetulnya kamu bisa memilih kendaraan operasional di kantor Papa”
“Tapi Mama kamu melarangnya” bisik Papa perlahan, khawatir Mama yang sedang ke dapur mendengar.
“Jadi kamu pilih saja mau mobil apa”
“Nanti bilang sama Afi supaya bisa segera diurus pembeliannya”
“Gak usah… aku masih bisa bertahan kok” tolak Juno, melirik Bulan yang hanya duduk diam di meja makan menyimak percakapan Papa. Mama Nisa yang datang dari dapur tampak ikut menyimak sambil menyimpan tahu isi pada wadah kemasan.
“Kamu jangan egois”
“Istri kamu lagi hamil, akan butuh kendaraan untuk beraktivitas keluar”
“Kamu juga tidak bisa mengandalkan menggunakan transportasi umum”
“Papa bekerja untuk menjamin supaya anak-anak Papa terjamin secara kondisi”
“Naik motor seperti tadi itu rawan kecelakaan” ucap Papa Bhanu dengan kening berkerut.
“Papa tahu kamu ingin mandiri”
“Dengan kamu sekarang punya perusahaan sendiri dan berkembang. Papa bangga dan mengakui kalau kamu sudah bisa membuktikannya”
“Perusahaan baru akan butuh bantuan dan support”
“Kenapa pada perusahaan asing kamu minta bantuan tapi sama Papa kamu tidak mau”
“Kalau mau hitungan profesional ok… gak masalah”
“Kamu bisa mengembalikannya nanti pada Papa setelah kamu punya keuntungan”
“Papa akan hargai itu”
“Tapi selama perusahaan kamu belum stabil, Papa akan support”
“Jangan membantah… Papa lakukan ini bukan cuma untuk kamu… tapi juga untuk cucu Papa” Papa Bhanu menyudahi pembicaraannya dengan muka dingin dan dahi berkerut. Menutup percakapan tanpa memberikan kesempatan pada Juno untuk bicara.
“Papa pulang dulu” ucapnya pendek sambil melirik pada Mama yang tampak asyik dengan peralatan rajutnya di meja makan.
“Papa ini ada tahu isi baru digoreng Mama, katanya Mama kebanyakan menggoreng jadi gak akan kemakan di rumah juga”
“Waaah sudah lama tidak makan tahu isi” Papa menatap wadah berisi potongan tahu isi yang berembun karena masih panas.
“Begitu sampai di rumah, pasti Papa makan… terima kasih yaa” ucapnya sambil tersenyum.
“Nis… aku pulang dulu” menatap Mama Nisa yang hanya mengangguk tanpa memandang balik.
“Bulan antar kedepan Pa” ucap Bulan sambil salim.
“Gak usah, itu suami kamu mau makan, siapkan saja makanannya” Papa Bhanu menolak sambil beranjak pergi.
“Assalamualaikum” ucapnya dengan kaku.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Bulan sambil tersenyum, rupanya Papa sudah berusaha merubah kebiasaannya.
Sepeninggal Papa, suasana rumah terasa sepi, Mama yang sibuk merajut di sofa tampak termenung. Beberapa kali menarik nafas panjang seakan sulit menyelesaikan rajutannya. Juno memberikan tanda pada Bulan untuk pindah duduk menemani Mama di sofa.
“Aku mau belajar dong ngerajut Ma” ucap Bulan mendekat duduk disamping Mama.
“Jangan… kamu lagi hamil, biar Mama aja yang merajut” jawab Mama pendek. Bulan mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
“Tabu… pamali kata orang sunda” jawab Mama.
“Meskipun kita tidak boleh percaya pada hal-hal mistis, tapi tidak ada salahnya menghormati budaya leluhur, karena pasti ada kandungan kebijakannya”
“Kalau Mama pikir sih, biasanya kalau kita merajut duduknya suka asyik lama, duduk membungkuk, kaki menekuk hingga bengkak. Sedangkan ibu hamil kan harus banyak bergerak supaya pasokan darahnya memadai untuk tumbuh kembang janin” jelas Mama.
“Jadinya ibu hamil suka dilarang menjahit atau merajut”
Bulan mengangguk-angguk mengerti.
“Mama lagi bikin sepatu bayi untuk cucu Mama, karena anaknya Afi laki-laki jadi Mama bikin warna biru”
“Karena anaknya Bulan belum tahu laki-laki atau perempuan jadi kita tunggu saja setelah nanti di periksa USG lagi” jelas Mama.
“Hmmm aku sih warna apa saja gak masalah Ma… bukan karena pengen segera dibuatkan yah… tapi gak ada jenis kelamin buat warna kalau buat aku”
“Perempuan boleh saja pakai baju biru, sepatu hitam, atau baju coklat… yang penting nyaman dan dia suka pakainya” Bulan tersenyum membayangkannya.
“Hmmm kalau perempuan itu jangan dikasih warna gelap ah… kasih warna terang atau pastel supaya terlihat cerah” Mama keukeuh tidak mau memakai warna gelap.
“Hahahaha iya deh terserah Mama, kan Mama yang bikin rajutannya juga”
“Bulan sih udah dibuatin juga udah senang banget, bersyukur punya ibu yang baik kaya Mama” ucapnya sambil bersandar manja pada bahu Mama.
Tiba-tiba Mama berbisik pada Bulan.
“Bujuk suami kamu supaya mau menerima tawaran Papa” ucapnya pelan sambil melirik ke arah Juno yang asyik melihat hp.
“Mama gak tega ngeliat dia naik motor, Mama takut dia ketabrak”
“Motor di Jakarta pada ngebut-ngebut kalau Mama lihat”
“Perasaan Mama jadi gak tenang” rupanya itu yang membuat Mama Nisa terlihat galau.
“Iya Ma” jawab Bulan pelan, ia tidak menafikan kalau dia pun khawatir.
“Makasih yaa, sudah jadi menantu Mama yang baik, Mama bersyukur punya anak perempuan seperti Bulan” Mama memeluk Bulan.
“Yah sehat yaah utun… nanti Nenek bikinin sepatu sama topi”
“Mama gak cocok dipanggil Nenek… kemudaan” protes Bulan.
“Apa dong dipanggilnya, pikir-pikir Mama belum menyiapkan panggilan buat cucu yah” Mama Nisa tampak berpikir keras. Bulan tersenyum melihatnya pantas saja kalau Papa Bhanu tidak bisa melupakan istrinya ini, Mama itu dalam keadaan serius pun terlihat cantik.
“Neli… Nenek Lincah?” tawar Bulan, Mama menggelengkan kepala dengan tegas tanda tidak setuju.
“Necan… Nenek Cantik?” tawar Bulan lagi sambil tersenyum, Mama mendengus sambil menggeleng merasa kalau kecantikan tidak harus disebutkan.
“Hmmm Nesha… Nenek Nisha?” baru kemudian Mama Nisa terlihat mengerutkan dahi tanda berpikir tanpa menggeleng.
“Hmm tapi kaya nama panggilan… aneh gak?” Mama tampaknya senang kalau dipanggil Nesha.
“Nggak lagi Ma… palingan nanti kalau cucunya masih kecil manggilnya Neca… atau Eca…hahahhaha” Bulan tertawa membayangkannya. Mama Nisa tersenyum sambil mengangguk setuju.
“Ya untuk sementara Mama setuju… Nesha… atau Neca… ihhh Mama gak sabar pengen segera lahir” ucap Mama sambil mengusap-usap perut Bulan.
“Udah ah Nesha nguantuk… bobo dulu yaaa supaya bisa shalat malam”
“Iya Ma… jangan lupa shalat istiqarah yaa Ma… supaya permintaan Khanu diproses” ucap Bulan.
“Siapa Khanu?” tanya Mama bingung.
“Itu Maa… lamaran dari Kakek Bhanu jadi Khanu…hehehehe” Bulan tertawa terkekeh, membayangkan panggilan Papa Bhanu.
“Isshhh ikut-ikutan mau disingkat enaknya aja” ucap Mama sambil mendengus.
“Shalat istiqarah Maaa jangan lupa” ucap Bulan lagi.
“Gak usah diingetin juga sudah Mama lakukan” jawab Mama kesal. Tapi masih memberi kode pada Bulan untuk berbicara dengan Juno. Bulan mengangguk sambil tertawa lepas. Ternyata Mama mempertimbangkan lamaran Papa Bhanu tanpa mereka kira.
“A… kata Mama tawaran Papa soal mobil diterima” ucap Bulan pendek sambil membawa perlengkapan makan kotor bekas suaminya. Juno mengerutkan dahi tanda tidak setuju.
“What? Kenapa ini semua orang jadi pemaksa seperti ini” ucap Juno kesal.
“Bukan pemaksa tapi penyayang… semua orang sayang sama Aa”
“Aku, Mama, Papa”
“Papa yang sayang sama anaknya… aku melihat kalau buat Papa… A Juno adalah kebanggaannya… Anaknya yang sudah bisa membuktikan kemandirian dengan punya perusahaan sendiri”
“Buat Papa… adalah harga diri kalau anaknya bisa tampil dengan tampilan yang terbaik”
“Maaf… standar keluarga aku dengan keluarga Aa beda”
“You have been born with silver spoon in your mouth”
“Buat aku naik kendaraan umum adalah hal yang biasa”
“Untuk keluarga Aa… punya kendaraan adalah hal yang biasa”
“Jadi aku tidak bisa menyamakan budaya dalam keluarga aku dengan keluarga Aa”
“Mama merasa tidak tenang kalau Aa terpaksa harus naik motor”
“Sekali dua kali mungkin ok kalau terpaksa, tapi kalau berulang kali, aku melihat Mama jadi sedih dan khawatir”.
“Aku… aku minta maaf kalau sekarang aku berubah sikap”
“Bukan karena soal orang yang menawarkan mobilnya tapi karena sisi kepentingan yang berbeda"
“Aku berpikir kalau menerima tawaran Papa Bhanu untuk membeli mobil adalah pilihan yang terbaik”
“Anggap saja sebagai tawaran investor”
“Dengan tawaran yang lebih menguntungkan, tanpa bunga, waktu pengembalian yang lebih fleksibel. Dari sisi analisa keuangan tentu saja ini adalah tawaran yang tidak bisa ditolak” ungkap Bulan tegas.
Juno hanya menarik nafas panjang.
“Appa… apa yang selama ini dilakukan sudah membuktikan bahwa tekad dan kerjakeras untuk mandiri telah tercapai”
“Biarkan sekarang kita dibantu oleh orang-orang yang menyayangi kita”
“Bukan dalam artian memanfaatkan fasilitas dan keistimewaan tapi untuk membuat hati mereka senang dan bahagia” jelas Bulan sambil memegang tangan suaminya.
“Tolong terima bantuan dari Papa… demi aku dan bayi kita”
“Aku gak mau Appa nya anak-anak harus kena matahari terus… nanti gantengnya hilang dong” ucap Bulan sambil mengecup telapak tangan Juno dan menempelkannya ke pipi.
Hadeuuuh ilmu tingkat dewa, kecup telapak tangan terus tempelkan ke pipi. Sambil baca mantra …. Dijamin keranjang belanja online akan bisa di check out.