
Mentari terlihat mulai kembali ke peraduannya, sinarnya yang orange membuat suasana semakin terlihat indah, terlebih lagi pemandangan hamparan kebun teh dan udara yang sejuk mendekati dingin membuat siapa saja akan merasa betah bila berlama-lama di tempat ini.
Kenanga, sedari tadi gadis itu hanya duduk di bangku taman belakang villa milik keluarga Athar, semenjak pertemuannya kembali dengan Riko beberapa jam yang lalu di hotel, membuat Kenanga memilih duduk diam di belakang villa milik Athar, suasana yang tenang membuat gadis itu memilih menenangkan diri di tempat itu sejak dua jam yang lalu.
"Udaranya sangat dingin, apa kau tidak kedinginan?" Athar membalutkan mantel tebal di punggung Kenanga, pria itu benar-benar merasa iba dengan Kenanga.
"Aku tidak dingin" Kenanga mencoba melepaskan mantel pemberian Athar dari tubuhnya, namun dengan cepat Athar menahan tangan Kenanga
"Pakai !!" Suara Athar terdengar tegas, sorot matanya penuh kesungguhan membuat Kenanga mengurungkan niatnya
Sunyi...
Tidak ada yang berbicara satu sama lain baik Athar maupun Kenanga, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing, yang terdengar hanya kicauan burung yang berterbangan kembali ke sarangnya.
"Dokter.." Kenanga memanggil Athar
Athar menolehkan kepalanya ke arah Kenanga dan mengangkat kedua alisnya ke atas sebagai jawaban atas panggilan Kenanga.
"Terimakasih sudah mengantarku bertemu dengan dia, dan sekarang Dokter membawaku ke villa milik Dokter, setidaknya pikiranku sudah mulai tenang, suasana di sini membuatku sedikit merasa damai"
"Ralat, Villa ini milik kedua orang tuaku bukan milikku, aku tidak memiliki apapun selain sebagai dokter umum di Rumah Sakit tempatku bekerja" Jawab Athar sambil mengulas senyuman
Kenanga tercenung mendengar jawaban dari Athar, pria di sampingnya ini sangat sederhana, meskipun kalau di lihat dari mobil yang di pakai olehnya saja Kenanga bisa menebak kalau dokter di sampingnya ini pasti anak orang berada.
"Aku tidak tau harus membalas kebaikan dokter dengan cara apa" Kenanga menundukkan kepalanya kebawah, melihat rumput yang kini dirinya pijak
"Cukup kau bangkit dari keterpurukan, berusahalah menata kehidupanmu dan tentu saja kau harus melanjutkan apa yang harus kau lanjutkan"
"Kenapa Dokter begitu perduli denganku? kenapa dokter mau menolongku?" tanya Kenanga penuh penasaran sesaat setelah mendengar jawaban dari Athar.
Athar mengedipkan kedua matanya beberapa kali, kini dirinya juga menjadi bertanya mengapa dirinya perduli dengan Kenanga gadis asing ini, karena iba atau faktor yang lain? Athar merasa bingung sendiri, bahkan dengan reflek Athar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sejak pertama kali Athar melihat Kenanga memang sudah menaruh rasa kagum pada gadis itu, tapi apa benar hanya rasa kagum dan iba? hingga Athar mau menolong gadis ini hingga sejauh ini?
"Dokter..?" Kenanga mengguncang bahu Athar hingga membuat Athar tersadar dari lamunan dan pemikirannya sendiri
"Y-Ya?"
"Kenapa Dokter perduli denganku?" Kenanga mengulangi pertanyaannya lagi
"Itu karena..." Athar berusaha mencari jawaban yang logis atas jawaban pertanyaan Kenanga, namun sialnya kepalanya terasa buntu tak mendapat jawaban yang tepat sama sekali.
"Tuan muda, pakaian yang tuan minta sudah saya belikan dan saya simpan di sofa ruang tamu" Suara penjaga villa menyelamatkan Athar dari pertanyaan Kenanga
"Baiklah Bi, terimakasih" jawab Athar tak melepaskan senyuman di bibirnya
Setelah mengatakan apa yang perlu di katakan pada Athar, penjaga villa tersebut terlihat kembali masuk ke dalam villa.
"Kenanga, sekarang sudah sore, kau juga pasti lelah bukan? lebih baik kau sekarang membersihkan tubuhmu dulu karena penjaga villa sudah membelikanmu beberapa pakaian ganti" Athar beranjak berdiri dari duduknya dan maju beberapa langkah mendekati bunga-bunga yang di tanam mamanya
"Dokter sendiri?" Kenanga mengajukan pertanyaan kepada Athar
Kenanga sedikit tertarik akan tawaran yang di tawarkan oleh Athar, dengan menyibukkan diri tentunya Kenanga bisa melupakan sejenak permasalahannya dengan Riko.
^
Kenanga terlihat tersenyum melihat pakaian yang saat ini dirinya kenakan, pakaian cassual yang sangat Kenanga sukai, sudah sejak lama Kenanga tidak pernah berpakaian sesantai ini, karena selama ini Kenanga selalu menyesuaikan diri dengan gaya berpakaian Riko yang selalu terlihat rapih hingga Kenanga melupakan kepribadiannya sendiri.
Tanpa polesan make up apapun, Kenanga tampil begitu sederhana layaknya gadis SMA yang belum mengenal Make Up. Setelah menyisir rambutnya lalu mengikatnya seperti ekor kuda, Kenanga keluar dari kamar yang dirinya gunakan untuk membersihkan diri dan saat keluar dari kamar, ternyata Athar sudah duduk santai di ruang tamu dengan pakaian yang sudah di ganti, bahkan rambut Athar terlihat basah sepertinya Athar baru saja selesai keramas.
"Dokter.." sapa Kenanga
"Kau sudah siap?" Athar beranjak dari duduknya dan membalikkan badan menatap ke arah Kenanga, kedua mata Athar begitu terpesona melihat kesederhanaan dari Kenanga, tanpa make up apapun tapi gadis itu terlihat tetap cantik
"Kata penjaga villa, tak jauh dari sini ada pasar malam. Apa kau kau berjalan-jalan ke sana?" tawar Athar mencoba mengalihkan pikirannya yang semakin mengagumi Kenanga
"Apa Dokter bisa ke tempat seperti itu?" tanya Kenanga ragu akan perkataan dari Athar, bagaimana mungkin pria sekelas Athar mau ke tempat seperti pasar malam
"Memangnya kenapa? apa Dokter sepertiku tidak boleh ke pasar malam dan hanya boleh ke Rumah Sakit?" Athar menyipitkan matanya
"Bukan..Bukan.. Bukan seperti itu maksudku Dok, maksudku yaitu..."
"Maksudmu dokter seharusnya di Rumah Sakit merawat orang sakit? Hallo nona Kenanga, aku juga manusia membutuhkan hiburan" Jawab Athar terkekeh sambil berlalu mendahului Kenanga yang terlihat kebingungan. Meski Kenanga sendiri tidak yakin akan perkataan dari Athar
"Kau mau ikut atau tidak?" Teriak Athar yang sudah sampai lebih dulu di luar villa
Kenanga yang mendengar teriakan dari Athar seketika berlari keluar villa menyusul Athar, akan sangat konyol bila Kenanga harus tinggal di villa sebesar ini sendirian, bahkan villa milik keluarga Athar jauh lebih besar dari villa milik keluarga Riko yang berada di kawasan Rancabali.
"Ayo cepat masuk" Athar membukakan pintu mobilnya untuk Kenanga, dan gadis itu hanya menurut apa yang Athar perintahkan.
Kini keduanya duduk di dalam satu mobil, Athar melajukan mobilnya dengan santai, sambil menikmati suasana di sekitar yang menampakkan lampu-lampu yang gemerlap. Suasana juga cukup ramai meski saat ini mereka di atas perbukitan.
"Setelah dari pasar malam, kita pulang ke Bandung dan..."
"Jangan..." tolak Kenanga dengan cepat
Athar menolehkan kepalanya ke arah Kenanga saat mendengar penolakan dari gadis di sampingnya "Maksudnya??"
"Hm-Hm, maksudku.. Bolehkan aku menginap di villa dokter malam ini.." ucap Kenanga ragu-ragu
"Menginap? di Villa ku? berdua? bersamaku??" jawab Athar beruntun bahkan Athar langsung menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak
Kenanga menundukkan kepalanya, merasa menyesal telah mengatakan hal tersebut pada Athar "Dokter pasti berfikir kalau aku..."
"Kau yakin mau menginap di villa malam ini? Memangnya kau tidak takut denganku?" tanya Athar, kini bahkan tubuh Athar menghadap ke arah Kenanga
"Takut mengapa?" tanya Kenanga polos
"Kau tidak takut aku akan menerkammu tengah malam nanti? Aku pria normal, Kenanga?" Athar mendekatkan tubuhnya ke arah Kenanga, bahkan kini jarak keduanya sangatlah dekat, hingga hangat nafas Athar bisa Kenanga rasakan dan menerpa kulit wajahnya.