
Kenanga duduk tenang di dalam mobil yang saat ini Athar kemudikan, raut ekspresinya lebih tenang dari sebelumnya, perasaannya sudah lega dari sebelum-belumnya, meski tak bisa di pungkiri kalau Riko masih mengisi hatinya saat ini, tapi tidak menutup kemungkinan kalau Riko akan segera terusir dalam hati dan hidupnya, karena Kenanga telah bertekad akan segera mengusir nama itu dari dalam kehidupannya.
Dering ponsel sejenak membuat Kenanga melirik ke arah Athar yang kini mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Jalanan yang lengang membuat Athar memutuskan untuk tidak menepikan mobilnya saat menerima panggilan telefon.
"Hallo"
"Athar, kau dimana? aku dari siang mencoba menghubungi nomor ponselmu tapi tidak mendapat jawaban" suara Sherin terdengar di balik ponsel miliknya
"Memangnya ada apa Sherin?" jawab Athar sedikit penasaran
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu minum kopi bersama"
"Oh, tapi aku tidak bisa, lain kali saja ya. Kebetulan aku sedang mengemudi saat ini, aku matikan panggilannya ya" jawab Athar setelah itu benar saja Athar langsung mematikan ponselnya
Sherin menatap layar ponselnya yang menghitam, Athar benar-benar mematikan panggilannya, pria itu memang sangat sulit di tebak oleh Sherin, meski mereka berdua sudah dekat sejak lama bahkan Sherin juga menaruh hati pada Athar dan berharap hubungan merela lebih dari seorang teman, tapi sayangnya harapan Sherin belum terwujud hingga saat ini.
Sementara Athar meletakkan ponselnya di saku celananya kembali, kemudian fokus mengemudikan mobilnya, membuat Kenanga merasa tidak enak. Pasti yang baru saja menghubunginya adalah kekasih dari dokter yang selama seharian ini bersama dirinya.
"Maaf" ucap Kenanga pelan, namun masih bisa di dengar oleh Athar
"Maaf??" Athar mengulangi perkataan Kenanga kembali sembari menaikkan kedua alisnya
"Untuk apa?" tanya Athar sambil menghentikan mobilnya yang kini sudah tiba di pelataran villa milik keluarganya
"Pasti kekasih Dokter mencari keberadaan Dokter seharian ini" suara Kenanga terdengar lirih
"Hahaha" Athar malah tertawa begitu renyah saat mendengarkan apa yang Kenanga katakan
"Mengapa Dokter tertawa?" Kenanga mengerutkan alisnya
"Yang menghubungiku adalah teman sejawatku yang mengajak minum kopi bersama, bukan kekasihku" jawab Athar sambil tubuhnya berbalik ke bangku belakang mobilnya mengambil kantong plastik berisi boneka bulan sabit
"Apa benar seperti itu?" tanya Kenanga penuh selidik
"Tentu saja, selama ini aku hanya sibuk berkuliah dan setelah lulus kuliah aku langsung bekerja di rumah sakit yang saat ini menjadi tempatku bekerja. Kau mungkin tau kuliah kedokteran itu lebih rumit dari jurusan perkuliahan yang lain bukan?"
"Jadi aku belum sempat mencari kekasih, dan lagi saat ini aku tengah fokus untuk melanjutkan kembali sekolahku, aku ingin menjadi dokter spesialis, namun sayangnya aku masih bingung harus mengambil apa" jelas Athar panjang lebar
"Oh, syukurlah" jawab Kenanga menghembuskan nafasnya dengan begitu lega
"Syukur? maksudmu?" Athar mengangkat kedua alisnya ke atas
"Ya karena aku tidak menganggu waktu dokter bersama kekasih dokter atau malah membuat dokter bertengkar dengan kekasih dokter" jawab Kenanga sambil melebarkan senyuman di bibirnya.
Tangan Kenanga menyentuh pintu mobil dan hendak keluar dari dalam mobil, namun Athar langsung menarik kembali pergelangan tangan Kenanga dan menahannya.
"Ini untukmu" Athar menyerahkan boneka bulan sabit beserta jepit rambut yang sudah di belinya di pasar malam.
"Benar, tapi keponakanku hanya satu, dan kakakku juga hanya satu, sementara aku membelinya masing-masing dua" Athar masih memegang boneka berbentuk bulan sabit di tangannya
"Benarkah? ini untuk diriku?" Kenanga merasa tak percaya, entah mengapa Kenanga merasakan ketulusan dari setiap apa yang Athar lakukan padanya dan kembali mendapat anggukan kepala dari Athar.
Kenanga mengambil boneka beserta jepit rambut pemberian dari Athar, sungguh dirinya sangat berterimakasih dengan apa yang sudah di berikan oleh Athar padanya.
"Dokter terimakasih"
"Bisakah kau memanggil dengan namaku saja tanpa menyebutkan gelar ku?"
"Aku lebih suka memanggil dengan sebutan Dokter" jawab Kenanga terkekeh pelan sambil keluar dari dalam mobil milik Athar.
Sementara Athar malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, senyuman Kenanga membuat dirinya merasakan sesuatu yang belum pernah Athar rasakan, ada kesenangan tersendiri dalam diri Athar sudah bisa membuat gadis itu tersenyum.
^
Waktu sudah hampir pukul sebelas malam, setelah kembali dari berjalan-jalan Kenanga sudah masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar lagi, sementara Athar masih terjaga, dirinya belum merasakan ngantuk sama sekali dan memilih duduk menghabiskan waktu di sofa ruang tamu dekat dengan perapian, karena suhu di sini saat malam hari sangatlah dingin. Untuk mengusir rasa sepi Athar memilih memainkan game online di ponsel miliknya, hingga perhatian Athar terusik dengan suara pintu kamar yang tiba-tiba terbuka, terlihat Kenanga keluar dari kamarnya sambil menggosok kedua matanya, bahkan Kenanga sama sekali tidak menyadari keberadaan Athar di ruang tamu. Gadis itu berjalan menuju dapur dan mengambil air minum di sana. Setelah mengambil air minum Kenanga hendak kembali ke kamarnya, namun kali ini dirinya melihat Athar yang duduk memainkan ponsel di ruang tamu.
"Dokter belum tidur?" tanya Kenanga dengan mata yang setengah terbuka
"Kau melihatnya bagaimana?" jawab Athar tak mengalihkan pandangan matanya dari layar ponselnya
Kenanga mengerucutkan bibirnya dan malah mendekati Athar dan ikut duduk di sofa ruang tamu. Perutnya Kenanga terasa lapar karena rencana Athar mengajak Kenanga makan nasi Liwet terbengkalai akibat Kenanga terlalu asik bermain di wahana pasar malam.
"Dokter, apa ada sesuatu yang bisa di makan?" tanya Kenanga mengusap perutnya yang terasa sangat lapar
"Kau lapar?" Kali ini Athar mengalihkan pandangan matanya dan langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Kenanga bahkan Athar langsung mematikan ponselnya.
"Mungkin ada sesuatu di dalam kulkas" Athar beranjak berdiri dari kursi di ikuti oleh Kenanga yang mengekor di belakang tubuh tegap Athar
Athar membuka pintu kulkas dan ternyata ada beberapa sayuran dan bahan makanan di dalam sana, sepertinya penjaga villa mengisi kulkas tersebut saat mereka pergi berjalan-jalan.
"Dokter biar aku saja yang memasak" Kenanga mendorong tubuh tegap Athar yang berdiri di depan pintu kulkas
"Astaga gadis ini" Athar mendesahkan nafasnya dan memilih duduk di kursi meja makan.
Kini Kenanga sibuk mengambil bahan makanan yang di perlukan, mulai dari sayur hijau dan kwetiau yang di simpan di dalam kulkas. Tak banyak bicara Kenanga langsung mengeksekusi bahan-bahan yang sudah dirinya ambil. Karena posisi sudah tengah malam, Kenangan memilih memasak makanan sederhana yang penting cepat bisa di makan. Kurang dari tiga puluh menit dua piring kwetiau goreng sudah tersedia di atas meja makan bersama dua gelas teh panas yang masih mengepul asapnya.
"Selamat makan" Kenanga dengan semangat langsung memakan masakannya sendiri, begitu pula dengan Athar.
Athar lagi-lagi semakin kagum dengan sosok Kenanga, selain cantik secara natural, Kenanga ternyata juga pandai memasak bahkan masakannya juga enak di lidah Athar.
"Lantas mengapa bisa calon suaminya meninggalkannya saat pernikahan mereka? bukankah Kenanga adalah sosok wanita ideal untuk di jadikan seorang istri? Kesederhanaannya, kecantikannya serta pandai memasak, rasanya sulit menemukan wanita yang pandai memasak di era digital seperti sekarang ini" gumam Athar dalam hatinya.
Keduanya menikmati kwetiau sederhana buatan Kenanga, bahkan kali ini Kenanga terlihat mengajak Athar mengobrol, meski bukan obrolan pribadi melainkan obrolan seputar pekerjaan dari Athar sebagai seorang dokter.