
Ada perasaan tidak nyaman saat ia mengikuti Anjar bertemu dengan teman-temannya, tapi daripada harus kikuk berhadapan dengan Juno, Bulan merasa lebih mudah untuk menghindar saja. Ada 4 orang teman SD Anjar yang berkumpul, kalau dari mukanya terlihat mereka memang satu aliran semua.
“Weiiiis beneran ini cewenya Anjar… aaah gak percaya gw” satu orang langsung berkomentar.
“Hmm… dibayar berapa sama Anjar sampai mau diajak kesini” satunya lagi terlihat kalem tapi gayanya sinis, Bulan langsung menoleh kesal.
“Belum dikasih tarif masih gratisan…” jawab Bulan asal… langsung semuanya tertawa terbahak-bahak.
“Bolehhhh Njar… model ginian bakalan tahan banting nih…” satu orang langsung mendekat dan mengacungkan tangannya pada Bulan mengajak bersalaman.
“Jerome… tapi panggil aku Bang Je” gayanya lebih tengil dari Anjar, mendengar nama panggilannya Bulan langsung tersenyum ingat Inneke yang selalu memanggil Juno dengan Je.
“Saya Bulan ... Bang Je-ruk” jawab Bulan sambil tersenyum…. Jerome langsung terhenyak.
“Aiiishhh baru ketemu udah nge kick…” teman satunya lagi langsung mengacungkan tangan juga.
“Gw Satria… cowok paling macho diantara kutukupret ini semua…. “ gaya Satria memang terlihat paling gagah.
“Saya Bulan… Bang-Sat….” semuanya langsung tertawa, sampai orang-orang yang ada di dalam gedung memperhatikan.
“Waaah ini nemu dimana lu Njar…” laki-laki yang tidak percaya pada dirinya sebagai pacar Anjar menatap lekat.
“Saya teman sekantor Anjar Bang… jadi udah tau dalemannya Anjar kaya gimana” ucap Bulan tegas.
“Buseeeet lu udah “maen” die udah tau dalaman lu kaya gimana… “ Bulan menatap mereka jengah, kelompok seperti ini bakalan susah diajak ngomong bener bakalan melenceng terus. Ia langsung menggelengkan kepala pusing.
“Pamit Bang… mau nemenin penganten … sebentar lagi acaranya akan dimulai” Bulan memilih kabur daripada memancing keributan.
“Eiits bentar…jangan kemana mana dulu... kita pengen ngobrol dulu yank"
“Udeh dong… nih kan gw udah bawa gandengan… jadi artinya gak ngenes” muka Anjar terlihat memelas, rupanya dia habis di bully gara-gara menjadi yang paling akhir menikah.
“Atau lu kena kutukan si Mirna tuh… udah bunting bukannya dulu” celetukan seorang temannya Anjar membuat Bulan melotot.
“Ehhh bangsat lu pitnah gw depan cewe lagi… Si Mirna bukan bunting sama gw… enaknya aja lu… gw masih perjaka tau..” Bulan menggelengkan kepalanya, semakin lama bisa-bisa dia kebawa error.
“Njar… aku balik liat Afi yah…” Anjar mengangguk, ia terlihat kesal pada temannya. Beberapa tendangan dan pukulan dia layangkan pada temannya itu yang tampak bahagia melihat Anjar kesal.
Acara pesta pernikahan ternyata sudah akan dimulai … tampak para pengiring dan pengantin beserta keluarganya, walaupun dilakukan dengan adat Palembang tapi tidak semua upacara adat dilakukan, Afi hanya melakukan Tarian Pagar Pengantin, ini menjadi salah satu hal yang membuat Afi stress dari kemarin takut salah melakukan gerakan.
Bulan ingat saat ia melihat Afi melakukan latihan melalui panggilan video. Saat itu Afi sudah menghapalkan gerakan tarian dan meminta Bulan untuk menilainya.
“Bul… liatan gw luwes gak… lu musti jujur yah… gw udah latihan nih tiap hari” Afi tampak berada di kamarnya hp disandarkan di kasur sehingga ia bisa melihat Afi berada di atas lingkaran kertas.
“Itu kamu kenapa musti ditengah-tengah kertas” Bulan tertawa melihat Afi seperti jadi sasaran tembak…
“Emang gw musti latihan nari di tengah-tengah gini, ntar pake dulang jadi musti dibiasain...eeeehhh” saking fokusnya hampir saja keluar dari lingkaran.
“Udah jangan banyak protes liatin gw” sambung Afi dan langsung menari di atas lingkaran kertas.
Bulan tersenyum, ingatannya melayang pada kejadian dua bulan yang lalu. Saat ini kedua mempelai telah menaiki panggung dan kedua orang tua sudah duduk di pelaminan.
Para penari pengiring memasuki panggung, menyimpan dulang warna emas di depan pengantin dan membawa Afi untuk menaikinya. Bulan maju ke depan panggung pelaminan ia ingin melihat Afi secara jelas.
Tiba-tiba pundaknya direngkuh dari belakang.
“Kesebelah sini kalau kamu mau melihat Afi” Juno membawanya ke sisi panggung tempat keluarga sehingga tidak berdesak-desakan dengan tamu yang lain.
“Aku deg-degan liat Afi takut dia gugup” Bulan tersenyum panik pada Juno yang hanya mengulas senyuman tipis melihat adiknya di atas panggung.
Nico berdiri di belakang Afi, tampak gagah dan serius tidak tampak ekspresi Nico yang terlihat cupu entah karena efek pakaian yang gagah dan mentereng sehingga Nico terlihat seperti pangeran.
Afi memulai tarian dengan para penari sebagai pembuka, mukanya tampak fokus menatap kedepan. Kemudian para penari memasangkan tanggai hiasan tangan yang seperti kuku yang panjang dan lentik warna emas di tangan Afi. Setelah terpasang kemudian Afi dan para penari pengiring memulai tarian.
Bulan terharu melihatnya, temannya yang kaku itu ternyata bisa menari dengan baik, gerakannya luwes tidak kaku. Tidak terasa air mata mengalir, Bulan tersenyum haru.
“Kenapa nangis? Dia narinya bagus kok” Juno menatapnya heran.
“Justru karena bagus … ahhh Kak Juno gak akan ngerti… aku tuh gak nyangka banget aja… dia tuh anaknya kaku… dulu segala gak mau… ikut ini gak mau… ikut itu gak mau…. Kadang aku suka pusing sama dia….”
“Tapi ternyata kalau dia mau ngelakuin … dia bisa nari dengan baik… udah kaya penari profesional dia” Bulan masih mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Juno tersenyum melihatnya, menarik nafas dan menatap Bulan lekat.
“Ngapain tadi anak itu ngenalin kamu sama temen-temennya?” tatapan Juno menusuk meminta penjelasan. Bulan melengos
“Yah biasa gak aneh lah… dijadikan bahan ledekan karena gak punya pacar” jawab Bulan singkat.
“Trus kamu ngaku pacarnya?” Juno mendesak. Bulan tidak segera menjawab, Afi sudah menyelesaikan tariannya dan tengah kembali ke pelaminan bersama dengan Nico, para tamu memberikan apresiasi dengan tepuk tangan.
“Itu kenapa harus menarinya di atas dulang emas?” Bulan bukan menjawab pertanyaan Juno malah menanyakan alasan mengapa Afi menari di atas piringan besar yang berisi bunga-bunga yang disebut dengan Dulang Mas.
“Perempuan setelah menikah ruang geraknya lebih terbatas tidak seperti saat ia masih gadis, dia akan berada dalam ruang lingkup rumah tangga” jelas Juno
“Trus alasan pemakaian hiasan tangan seperti itu maksudnya apa?” Juno menarik nafas panjang dan menatapnya.
“Googling kalau tidak tahu itu, jangan semuanya nanya… biar terlihat pintar” Juno menatap Bulan dengan kesal.
“Aku ngetes bukan nanya… Kak Juno sebagai orang setengah Palembang tau gak makna dari upacara adatnya… nanti kalau nikah sama istrinya bisa jelasin” Bulan tersenyum manis, membuat Juno dengan malas menjawab.
“Logikanya sih kalau jadi istri musti cantik, gemulai lembut di depan suaminya membuat suami merasa tertarik. Jadi kamu nanti kalau jadi istri jangan pakai daster batik yang udah belel tapi pakai baju seksi yang melambai, bibir musti merah kalau suami datang, rambut ditata rapi membuat suami betah” jelas Juno panjang lebar, Bulan langsung mencibir.
“Suami memang pengen istri terlihat cantik menggairahkan, gak tau istri di rumah musti, masak, nyuci, ngurus anak… boro-boro kepikiran menggairahkan” gerutu Bulan.
“Loh kamu kok jadi marah … tadi kan nanya kenapa pake hiasan tangan yang lentik… aku jelaskan maknanya ehhh kok malah jadi emosi” Juno tertawa.
“Kamu kenapa jadi emosi seperti itu… indikator musti makan sana” Juno mendorong Bulan ke arah tempat makan prasmanan khusus untuk keluarga. Kalau dipikir-pikir memang sedari tadi ia belum sempat mengambil kudapan saat rehat, sibuk mengurus Afi dan mengambilkan pakaian untuk Juno.
“Ini area untuk keluarga Ka, aku ngambil makanan di sana aja bersama tamu-tamu yang lain” Bulan beranjak keluar dari area khusus keluarga.
“Udah disini sama aku… aku sebagai anak yang dilangkahi punya hak untuk memulai membuka menu makanan disini” Juno mendorong Bulan duduk.
“Mas tolong beberapa porsi hidangannya minta ke meja yah” Juno meminta staf catering untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
“Kok mereka yang bawain, biasanya juga kita yang ngambil sesuai kesukaan” Bulan sudah akan kembali berdiri.
“Sudah duduk… temenin saya disini… gak ada yang saya kenal tamunya. Lagipula di tempat tamu undangan kamu bakalan susah duduk… sudah duduk disini saja” Juno kembali menarik Bulan duduk.
Akhirnya Bulan duduk manis di salah satu meja khusus keluarga, staf catering yang datang menyediakan hidangan untuk mereka. Tamu yang datang semakin banyak, untungnya gedung tetap dingin karena ac ruangan yang cukup memadai sehingga gedung terasa nyaman.
Band pengiring memeriahkan suasana dengan alunan lagu instrumental ataupun lagu pop yang dilantunkan oleh band sewaan. Sesekali pembawa acara MC menawarkan kepada para tamu yang ingin menyumbangan lagu untuk pengantin dan keluarganya, tapi tak nampak ada yang maju memberanikan diri sampai akhirnya gerombolan si berat yang tadi ngobrol tidak jelas tiba-tiba maju.
“Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengenang masa-masa indah kami bersama pengantin pria yang sekarang sedang menjadi Raja Sehari” Bang Sat.. tampak maju menjadi pengantar grup.
Bulan melihat Anjar ada diantara mereka, ia tersenyum rupanya mereka benar-benar kompak sampai ngeband bareng juga. Anjar memainkan instrumen gitar, yang judes ternyata penabuh drum, Bang Jeruk main keyboard. Bulan kagum juga melihat gerombolan itu, tampak seperti kelompok pemuda yang tidak memiliki idealisme hidup tapi bisa memainkan instrumen musik.
“Karena basis kita sedang menikah maka, maafkan kalau lagu-lagu yang kami mainkan kurang menggigit”
“Untuk lagu pertama… kami persembahkan bagi pasangan mempelai… Nic.. sekarang lu udah punya perempuan yang bisa dipeluk pagi-pagi…. Afi.. Selamat yaaa menjadi Perempuan yang Ada di Pelukan Nico” Bang Sat… memanggil kedua mempelai yang disambut dengan tepuk tangan para tamu.
Anjar memainkan instrumen gitar dengan penuh penghayatan, Bulan tersenyum kaget, rupanya banyak bakat yang terpendam dari temannya itu. Bulan memberikan tepukan dengan penuh semangat.
“Go...Go….” teriaknya penuh semangat.
“Sudah duduk… ini bukan pertandingan sepak bola tidak butuh supporter” Juno menarik Bulan untuk duduk kembali, Bulan mendelik kesal. Juno terlalu kalem jarang menunjukkan antusiasme sehingga terkadang membosankan.
Melihat Anjar dan teman-temannya bermain band ternyata menyenangkan juga, beberapa lagu mereka mainkan, dari lagu Sempurna, Mantan Terindah dan lagu Seribu Tahun Lamanya yang terdengar merdu. Ternyata Bang Sat memiliki vokal yang terasah, dan bisa menghibur para tamu yang humor retjeh yang menjadi pengantar lagu. Seperti saat menyanyikan lagu mantan terindah, dia menyebutkan mantan-mantannya Nico saat sekolah di SD dulu. Tentu saja itu hal yang menggelikan karena anak SD mana mungkin memiliki mantan. Sehingga para tamu seperti menantikan setiap kalimat pembuka dari lagu yang akan dinyanyikan.
“Sudah empat lagu kami mainkan, untuk lagu yang terakhir ini kami berikan kesempatan kepada teman kami yang masih belum menikah. Anjar…. Kami dulu mengira Nico yang akan menikah terakhir karena kami melihat Nico tidak pernah mengalami pubertas. Ternyata dia ibarat buah adalah tipe masak di pohon, gak pakai banyak drama langsung menikah”
“Sesuai dengan tradisi, yang masih jomblo harus membawa calonnya kedepan kalau ada dan mereka harus nyanyi bareng…. Nanti kita nilai bareng-bareng yah… apakah mereka bakalan cocok buat lanjut” sambung Bang Sat. Ia kemudian memberikan mike kepada Anjar yang tampak tampil kalem dan cool di atas panggung.
“Baik terima kasih … Saya memang jadinya terakhir menikah tapi bukan berarti tidak laku”
“Ini semata-mata saya ingin memberikan kesempatan terlebih dahulu pada teman-teman saya supaya tidak terlihat menyedihkan… karena kita semua tahu… tidak mungkin cowo ganteng seperti saya tidak laku kaaan…. Hahahhaahha” ucapan Anjar langsung disambut dengan teriakan para tamu yang ternyata sebagian adalah teman-teman mereka.
“Ok saya akan panggil teman yang akan menjadi partner bernyanyi hari ini”
“Umiiiiii…… “ tiba-tiba teriakan Anjar di atas panggung, membuat Bulan tersedak. Uhuuuuuk… Apa-apaan ini, ia tidak mungkin bernyanyi di depan panggung. Bulan langsung membuka kipas yang sedari tadi dipegangnya menutupi mukanya supaya tidak terlihat.
Sayangnya kesalahan yang ia lakukan tadi adalah berdiri memberikan semangat, dan itu terlihat oleh Satria yang langsung menunjuk posisi duduknya kepada Anjar.
“Umi…. ayo maju ke depan” Anjar menunjuk dirinya dari arah panggung, sebagian orang menatap dirinya, ia tetap menundukkan kepalanya berharap tidak ada yang mengenalinya. Juno yang ada disebelahnya hanya diam dan pura-pura sibuk dengan handphone sambil makan.
Akhirnya Anjar turun dari panggung, dan menghampiri dirinya.
“Please… aku musti nyanyi di depan sama cewe… kalau gak mereka pasti ngetawain aku” Muka Anjar terlihat menyedihkan, Bulan melengos, orang-orang melihat ke arah mereka.
“Kamu ngapain sih pake ngajak aku nyanyi… ajak temen cewe SD kamu aja, jangan aku” Bulan melotot sambil berbisik-bisik.
“Aku kasih kamu 3 Lot Saham ARTO kalau kamu mau nyanyi di depan sama aku” Anjar langsung memberikan tawaran menarik, ia tahu kalau Bulan paling suka pada pembelian saham saat ini.
“What kamu mau nyuap aku?” Bulan menatap sengit,
“Ayooo cepat naik ke panggung… kita kasih hitungan sampai sepuluh… kalau belum naik ke panggung artinya tahun ini Anjar gak bakalan naik pelaminan” ucap Bang Sat dari panggung.
“Lima Lot saham ARTO” Anjar menaikan penawaran.
“Ditambah dua lot saham CPRI kalau musti nyanyi duet” tawar Bulan, Anjar langsung tersenyum.
“Aku kasih tiga lot saham CPRI kalau kamu sambil nyanyi goyang”
“DEAL” tanpa berpikir panjang Bulan langsung berdiri, saham CPRI sudah ia incar lama, kapan lagi hanya nyanyi di atas panggung bukan masalah besar.
Juno yang mendengarkan trasnsaksi hanya bisa bengong sambil menatap tajam dan kesal.
“Permisi Kak… ini berhubungan dengan kehidupan masa depan yang lebih cerah” Bulan langsung maju berjalan bersama Anjar yang tidak melewatkan kesempatan menggandeng Bulan ke atas panggung. Teriakan dan suitan langsung terdengar saat mereka naik ke atas panggung.
“Hahahahahah akhirnya bisa juga lu Njar bawa cewe ke atas panggung… ok mari kita doakan saja supaya pasangan ini bisa berakhir di pelaminan juga seperti Nico dan Afi” sambung Bang Sat…. Bulan tidak berani memandang ke atas panggung pelaminan, ia tahu Afi pasti akan marah kalau dia bersama-sama Anjar. Tapi untuk bisa mendapatkan saham dengan kategori Top Gainers ia siap menghadapi amukan dari Afi.
“Untuk lagu pertama ini saya akan menggoyang anda semua…. Siap semuanya” ucap Anjar
“Wokkkkeeee….” sebagian tamu muda menjawab. Anjar merasa seperti sedang tampil di konser rupanya. Anjar membisikan sesuatu pada Bang Sat yang langsung disambut dengan senyuman.
Terdengar intro lagu yang rasanya dikenal oleh Bulan
“Goyang Bul… ingat 3 lot saham CPRI” ucap Anjar, Bulan mengangguk sambil berpikir ia rasanya kenal lagu ini…. Detingan piano yang dimainkan oleh Bang Jer rasanya sangat kenal… tiba-tiba mata Bulan membulat…. Kurang ajar lagu “Cinta Satu Malam….”
“STOPPPPPPPPP” teriak Bulan…. Apa-apaan ini…. Bisa-bisa ia dianggap cewe bisa gampangan…
“STOOOOOOPPPPPPPPPP”
Cinta satu malam ohhhh indahnya….. Cinta satu malam buat ku melayang
Anjarrr…. Awas sepatu akan melayang kena kepala….. Hahahahhahaha