
“Apaa?” ucap Juno kaget saat Afi menjelaskan permintaan Oma.
"Kok malah jadi aku yang harus melakukan keinginan Oma bukannya Papa?" protes Juno
“Ayo Nis antar Mama jajan… Mama mau pengen Bika Ambon… trus Mama pengen es krim MangD” ucapnya seakan tidak memperdulikan pertanyaan Juno yang kaget.
“Oma udah tua suka makan es krim... kaya anak kecil aja” protes Afi sambil menarik kursi roda Oma.
“Biarin” jawab Oma
“Afi mau Oma jajanin apa?” Afi langsung tersenyum lebar.
“Bulan mau ikut jajan sama Oma?” tanyanya pada Bulan yang sedang bingung menatap Juno.
“Euhhh.. nggak usah Oma, Bulan…Bulan jagain Papa aja disini”
“Iya bagus… nanti Oma kirim makanan buat Bulan sama Bapak yah” Oma memberikan jempol dan senyuman yang penuh arti pada Juno yang hanya bisa menatapnya bingung.
“Ma?” teriak Juno pada Mama Nisa yang hanya bisa meringis dan memberikan tanda kalau Mama juga pusing.
“Ini apa sih pembahasannya kenapa tiba-tiba aku disuruh kerja sama Om Rahmat” Juna tampak kebingungan dan menatap Bhanu dan Bulan karena Mama Nisa sudah kabur bersama rombongan Ibu Suri.
“Bukan kerja tapi kamu dikasih warisan perusahaan… dasar anak bodoh!” gerutu Bhanu tapi mulutnya tersenyum senang. Juno mengerutkan dahi bingung.
“Kamu melanjutkan perusahaan keluarga, karena tidak ada cucu yang memiliki kemampuan selain kamu”
“Aku sudah punya perusahaan sendiri, buatku sudah cukup… aku tidak butuh warisan” sanggah Juno kesal. Bulan hanya menyimak dalam diam, ini adalah masalah sensitif untuk suaminya, kalau ia salah bicara bisa-bisa malah jadi kena semprot.
“Papa tahu… tapi ini bukan berarti kamu kehilangan perusahaan malah kamu mendapatkan perusahaan yang lebih besar”.
“Om kamu seumuran sama Papa, pasti sudah merasa lelah menanggung beban mengelola perusahaan”
“Perusahaan kakekmu ini bukan perusahaan kecil Kak”
“Lebih besar dan lebih tua dari perusahaan Papa, waktu Papa kerja dulu di perusahaan kakekmu.. omsetnya sudah milyaran. Tidak tahu kalau sekarang”
“Kemampuan dan keahlian kamu sekarang secara genetik diwariskan oleh Kakekmu dan Papa juga terutama”
“Aku gak pernah tahu urusan perusahaan Kakek atau Om Rahmat” ucap Juno pelan, keningnya berkerut dalam.
“Itu salah Papa” jawab Bhanu
“Papa ingin membuktikan kalau Papa bisa lebih hebat dari Om mu itu dari perusahaan Kakekmu… Papa ingin membangun dinasti sendiri, sehingga mereka tidak akan meremehkan Papa lagi… itu sebabnya Papa tidak pernah mengenalkan perusahaan itu padamu”
“Maaf… sekali lagi Papa minta maaf… ternyata darah Rahmadi terlalu kuat mengalir dalam darah kamu sehingga pada akhirnya kamu yang terpilih sebagai penerus keluarga”
Juno diam terpaku, akhirnya duduk menatap layar laptop dengan tatapan kosong.
“Minum A… dari tadi kayanya belum minum” ucap Bulan menyodorkan mug berisi air hangat.
“Makasih” jawab Juno pelan.
“Udah gak usah dipikirkan terlalu dalam, sesuatu yang belum terjadi itu masih tidak pasti”
“Kita shalat saja minta petunjuk… tenang aja”
“Aa kerjakan saja itu yang depan laptop, aku mau mengurus administrasi buat kepulangan Papa”
“Papa yang mau nikah kok malah aku yang kena imbasnya” gerutu Juno kesal, saat Bulan keluar dari kamar perawatan.
“Aku masih tahu aja sama Papa, kalau Om Rahmat baru memberikan restu untuk Papa bisa menikahi Mama kalau Papa sudah miskin katanya”
“Gimana caranya coba Papa mau jadi miskin?” Juno tertawa mengejek, ia merasa kesal karena harus memenuhi tugas tanggungjawab keluarga akibat dari keinginan Bhanu yang ingin kembali menikah.
“Serius? Om kamu bilang gitu?” tanya Bhanu seraya bangkit dari tempat tidur dan mendekat pada Juno.
“Dia benar-benar kesal Papa dulu menikah sama Mamamu”
“Hehehehe… mungkin saja dia kesal sama Papa tapi pada akhirnya dia butuh anak Papa untuk bisa meneruskan perusahaan itu….hahahahhaa”
“Jun… kamu jangan khawatir perusahaan interior kamu bisa tetap berkembang di perusahaan Rahmadi”
“Dulu kita pernah mencoba mengembangkan lini bisnis ini karena masih merupakan bagian dari jasa konstruksi”
“Tapi karena tidak ada orang yang ahli akhirnya Kakek kamu memilih untuk fokus di jasa konstruksi”
“Cita-cita Papa ingin memiliki anak yang diperhitungkan kemampuannya oleh keluarga Rahmadi sudah terlaksana”
“Papa bangga punya anak seperti kamu… bisa membuktikan di usia kamu sekarang untuk punya perusahaan sendiri dan sekarang bahkan diminta untuk mengurus perusahaan keluarga”
“Papa bicara seperti itu supaya aku mau mengikuti keinginan Oma dan Papa bisa menikahi Mama lagi kan?” ucap Juno kesal.
“Tidak… Papa sama sekali tidak ingin membebanimu”
“Kalau kamu tidak nyaman dan ingin tetap bekerja sendiri, Papa tidak akan memaksa”
“Sudah cukup banyak kesalahan Papa pada kalian”
“Seperti Mamamu bilang, dia tidak akan menghalangi Papa kalau ingin dekat bersama kalian, walaupun tidak menikah kembali”
Juno masih merengut kesal, pikirannya jadi tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan karena memikirkan permintaaaan Oma.
“Aku jadi tinggal di Bandung dong” ucapnya pelan.
“Rumah yang di Bandung belum dijualkan?” tanya Bhanu
“Nggak… sama Mama hanya disewakan saja”
“Ya… kalian tinggal disana, rumah itu cukup sampai kalian punya anak tiga juga.. kamarnya kan banyak”
“Bulan pasti senang kalau kita pindah ke Bandung, padahal kemarin dia sudah setuju buat ikut sama aku beli rumah di Bali” Juno hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya pusing.
“Apaaa? Pindah ke Bali… Tidak…tidak Papa izinkan… Papa baru saja bisa berkumpul dengan kalian” tolak Bhanu keras. Juno mendelik kesal.
“Papa waktu muda bisa melakukan apapun keinginan Papa, aku juga punya keinginan yang ingin aku wujudkan sendiri”
Bhanu terdiam, ia menyadari bahwa di usia anaknya sekarang banyak impian yang ingin dikejar dan dicapai.
“Iya Papa tahu itu”
“Tapi masalahnya ternyata semua ambisi dan keinginan itu, saat tercapai tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada kehadiran keluarga yang menyertai kita”
“Saat Papa bisa mencapai kesuksesan di perusahaan, Papa malah merasa hampa”
“Bertahun-tahun Papa bertahan karena merasa malu untuk mengakui bahwa semua yang dicapai itu ternyata terasa tidak berarti”
“Papa ingin kembali pada kalian, tapi bingung harus mulai dari mana”
“Untungnya perempuan itu membuat kesalahan fatal yang sehingga Papa bisa membuat titik balik”
“Percaya atau tidak, Papa selalu berdoa ingin diberikan kesempatan untuk bisa bersama-sama kalian… rupanya diantara semua dosa yang Papa lakukan, masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki”
“Untuk itu kamu harus belajar dari kesalahan Papa, jadikan keluarga sebagai pijakan dalam membuat langkah besar kehidupan kamu”
“Membangun perusahaan keluarga itu meneruskan cita-cita besar dari Kakekmu, menemani Oma di usianya yang semakin tua sehingga bisa menebus kehilangan kedekatan dengan kamu dan Afi”
“Dan yang terpenting Papa sama Mama bisa berkumpul lagi jadi kita bisa keluarga utuh” ucap Bhanu sambil tersenyum lebar.
“Sudah aku perkirakan… ujung-ujungnya biar Papa bisa menikahi Mama lagi”
“Ahhhh sudahlah gak usah dipikirkan sekarang soal itu”
“Papa pikirkan saja gimana caranya memiskinkan diri sekarang”
“Cepat segera nikahi Mama biar aku gak pusing banyak urusan”
“Kerjaan aku udah banyak ini yang keteteran”
“Papa ganti baju dulu, kemarin aku udah beli baju ganti buat pulang, jadi nanti pas Bulan datang kita sudah tinggal berangkat”
Juno beranjak mengambil pakaian ganti di lemari, Bhanu menatap anaknya dengan penuh rasa syukur. Siapa yang akan menyangka kalau ia bisa berkumpul dan dicintai oleh anak-anaknya seperti sekarang. Bagaimana mungkin ia tidak bersyukur atas segala kebahagiaan yang didapatkan sekarang ini. Semua harta kekayaan dan perusahaan rasanya tidak berarti kalau dibandingkan dengan kebahagiaannya bisa berkumpul dengan keluarga. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Ia rela kehilangan kekayaan tapi tidak rela kehilangan keluarganya sekarang.
Tiba-tiba Bhanu mengerutkan dahinya seperti berpikir keras, dan tiba-tiba saja senyuman lebar mengembang di wajahnya.
“Paaa heeeh… malam senyum senyum sendiri, gak geger otak kan?” tanya Juno heran. Ia memanggil Papanya berkali-kali tapi tidak ada tanggapan sama sekali.
“JUN… KITA PULANG SEKARANG. ADA YANG HARUS PAPA URUS”
Nah… mau ngapaian lagi nih Papa Bhanu… suka curiga aku tuh kalau udah senyam senyum trus bersemangat. Pasti ada yang direncanakan… awas weh kalau bikin ribut lagi.