Rembulan

Rembulan
Dia Lagi?


Waktu terus bergulir, tak terasa Kenanga dan Athar sudah semakin mendekati bulan pernikahan mereka, berbagai persiapan tentu saja sudah di siapkan oleh kedua orang tua mereka, meski semua biaya resepsi pernikahan mereka berdua sepenuhnya di tanggung oleh keluarga Athar, tapi tetap saja Mama Vina melibatkan calon besannya untuk turut serta mempersiapkan segalanya. Ya, Kenanga memang sudah memutuskan untuk menerima tawaran Athar menuju jenjang pernikahan, bukan tanpa alasan Kenanga menerima Athar menjadi calon suaminya, berbagai pertimbangan matang sudah dirinya pikirkan secara baik-baik. Athar adalah pria tang baik, bahkan bisa sedikit mengobati rasa takutnya terhadap kegagalan masa lalunya, kegagalan dimana dirinya di tinggalkan di hari pernikahannya dulu.


Hari-hari menjelang pernikahan-pun membuat Kenanga sedikit tertekan, takut sesuatu yang buruk akan kembali menimpa dirinya, namun keberadaan Athar yang selalu mendengarkan semua keluh kesah hatinya, membuat Kenanga sedikit tenang, bahkan Athar selalu berada di sampingnya, meyakinkan Kenanga kalau semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama.


Seperti siang ini, Athar duduk menunggu di ruang tunggu boutique langganan mamanya, tangannya sedari tadi sibuk membolak-balikkan majalah yang dirinya pegang. Sebenarnya Athar sudah jenuh menunggu, tapi demi menemani Kenanga mencoba gaun pernikahan mereka, Athar berusaha tenang dan tidak mau menunjukkan kalau dirinya saat ini dalam fase jenuh, Athar tidak mau membuat Kenanga merasa kecewa terhadap dirinya.


"Tuan, bagaimana menurut anda?" Suara desainer yang begitu familiar menyentak telinga Athar, membuat Athar langsung mengalihkan pandangan matanya.


Kedua mata Athar di buat terpesona dengan tampilan Kenanga yang saat ini menggunakan gaun pernikahan yang begitu mewah dan elegan. Desain yang di buat sendiri oleh Kenanga dan di kerjakan oleh orang kepercayaan keluarganya, membuat Kenanga saat ini benar-bebar mampu melumpuhkan pandangan mata Athar.


"Bagaimana?" Kenanga sedikit ragu bertanya kepada Athar yang saat ini diam mematung di hadapannya


"Bidadari itu ada" ucap Athar tanpa sadar dengan suara pelan namun bisa di dengar oleh Kenanga, hingga membuat gadis itu tersipu malu dan kedua pipinya menyembulkan warna merah muda.


"Dokter..." Suara Kenanga kali ini cukup menyentak Athar, hingga membuat pria itu sadar akan lamunannya.


"Sayang... kau cantik sekali" puji Athar melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kenanga.


"Bisakah tinggalkan kami berdua sebentar?" Athar menatap ke arah Desainer sembari melemparkan senyuman hormat


"Lama pun tidak masalah Tuan" jawab Desainer sambil tersenyum, kemudian dia pun pamit dari hadapan Athar dan Kenanga.


Athar masih menatap kagum ke arah Kenanga yang saat ini berdiri di hadapannya, kejenuhan menunggu Kenanga kini sudah terbayar lunas saat melihat calon istrinya begitu tampil cantik di hadapannya.


"So beautiful honey " Athar meletakkan dua telapak tangannya di pipi Kenanga, memberikan usapan lembut penuh kasih sayang. Hangat telapak tangan Athar seakan menjalar ke seluruh tubuh Kenanga, hatinya merasa sangat tersentuh oleh perhatian kecil dari Athar.


Jauh dalam hati Kenanga, dirinya merasa sangat bersyukur di pertemukan dengan Athar. Bahkan bila di ingat, dulu menjelang hari pernikahannya dengan Riko, Kenanga malah menyiapkan segala sesuatunya seorang diri, dan Riko malah sibuk dengan pekerjaannya bahkan tak Riko lebih banyak menghabiskan waktunya di luar kota ketimbang mempersiapkan acara pernikahan mereka.


"Sayang .." panggil Athar pelan, Athar faham betul pasti Kenanga saat ini teringat akan masa lalunya.


" Are you oke? "


"Aku baik-baik saja" jawab Kenanga sambil memaksakan senyumannya.


Athar pun memberikan satu kecupan di kening Kenanga, begitu lama. Athar tahu kalau memakai gaun pernikahan itu sangatlah sulit untuk Kenanga, bahkan mungkin Kenanga harus bertarung dengan hatinya yang saat ini kembali terkoyak akibat luka lama. Kegagalan pernikahan tentu saja bukan hal yang mudah untuk di lupakan begitu saja.


Dering ponsel milik Athar, membuat kecupan di kening Kenanga berakhir, tangan kokohnya mengambil ponsel dari saku celana dan terlihat di layar ponsel nama mama Vina. Athar menggeserkan ikon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu tepat di daun telinganya.


"Halo Ma"


" Athar Kak Athira masuk rumah sakit" suara mama Vina terdengar panik di balik telefon


"Apa? Kak Athira masuk rumah sakit?" Athar mengulangi perkataan mamanya.


"Athar akan pulang ma" imbuh Athar dan langsung mematikan panggilan telefonnya sebelum mamanya memberikan jawaban


"Sayang, kita harus pulang sekarang" ucap Athar panik.


"Aku akan segera berganti pakaian" Kenanga pun bergegas kembali menuju kamar pass, untuk mengganti gaun pernikahannya dengan pakaian miliknya.


^


Athar duduk gelisah di balik kemudinya, bukan tanpa alasan Athar sepanik ini, karena Athar kenal betul dengan kakaknya, Kakaknya itu paling anti di rawat di rumah sakit bila keadaannya masih bisa di berikan penanganan di rumah. Bahkan kakaknya itu bukan tipikal orang yang mudah sakit, tubuh kakaknya itu jarang sekali di dera sakit parah.


"Tenanglah, kita berdoa semoga kak Athira keadaannya baik-baik saja" Kenanga memberikan usapan lembut di pundak Athar, berharap Athar bisa sedikit tenang.


"Terimakasih sayang" Athar meraih tangan Kenanga dan menggenggamnya, sementara tangan satunya memegang kemudi mobil.


Perjalanan panjang dan cukup macet di sertai cuaca terik siang ini membuat Athar semakin ingin cepat sampai di rumah sakit tempat kakaknya di rawat. Setelah perjalanan yang menurut Athar sangat lama, kini Athar dan Kenanga berjalan menyusuri lorong rumah sakit, meski Athar sangat di landa kecemasan akan kondisi kakaknya, tapi Athar juga tau ada Kenanga yang harus di pikirkan pula olehnya, maka dari itu tangan Athar sedari tadi tak melepaskan tangan Kenanga dari genggaman tangannya.


"Paman.." Arlin yang sedari tadi menangis di pangkuan Neneknya seketika menghambur ke arah Athar yang baru saja tiba.


"Sayang.." Athar langsung meraih tubuh keponakannya dan menggendong gadis kecil itu.


"Mama pasti akan baik-baik saja. Arlin jangan menangis ya" Kenanga mencoba menenangkan Arlin yang menangis dalam gendongan Athar


"Iya sayang.." imbuh Athar sembari menyelipkan anak rambut di balik telinga keponakan semata wayangnya itu


"Paman harus menyembuhkan Mama, paman tolong mama" Rengek Arlin sambil berlinang air mata, membuat Athar semakin gelisah dan kawatir


"Pasti, paman akan menolong mama" jawab Athar


Mama Vina terlihat memberikan kode terhadap Kenanga, membuat Kenanga langsung paham akan kode yang di berikan. Pasti ada hal penting yang ingin Mama Vina katakan kepada Athar namun Arlin tidak boleh mendengarnya.


"Arllin sayang, kita belikan minum dulu yuk buat mama, paman Athar dan juga nenek" Kenanga mencoba mengambil alih Arlin dari gendongan Athar


"Tidak mau bibi, Aku mau tetap di sini" tolak Arlin


"Sebentar saja sayang ya, mama pasti di dalam kehausan. Jadi lebih baik sekarang Arlin temani bibi mencarikan mama minuman. Memangnya Arlin tidak kasihan pada mama?"


"Benarkan seperti itu bibi?" tanya Arlin polos


"Tentu saja sayang. Ayo..". Kenanga mengambil alih Arlin dari gendongan Athar dan kini menggendong gadis kecil itu dan membawanya mencari minuman ke kantin rumah sakit.


Sepeninggal Kenanga, Athar langsung duduk di kursi besi yang terletak di depan ruang IGD, bersebelahan langsung dengan Mamanya


"Sebenarnya apa yang terjadi ma? Kenapa Kakak bisa tiba-tiba masuk rumah sakit?" Athar memejamkan matanya, mencoba menghalau rasa cemas yang kini menguasai dirinya


"Kakakmu mengalami pendarahan hebat"


"Pendarahan? Pendarahan apa ma?"Athar langsung membuka kedua matanya begitu terkejut mendengar ucapab mamanya


"Sepertinya kakakmu hamil, tapi dia tidak menyadari akan hal itu" Mama Vina menghela nafasnya dengan berat


"Lalu dimana kak Niko ma? Mengapa dia belum juga datang?" Athar mengedarkan pandangan matanya melihat sekeliling mencari keberadaan Kakak iparnya.


"Kak Niko sedang ada urusan pekerjaan di luar negri, tapi tadi Mama sudah menghubunginya dan dia akan sampai sini mungkin besok dini hari"


Athar menghela nafasnya berat, menyesali sikap ceroboh kakaknya yang terus saja gila bekerja dan tidak tau bagaimana kondisinya saat ini. Bahkan sampai mengalami pendarahan hebat seperti ini.


Keheningan seakan menjadi jarak antara Athar dan mamanya, tak ada lontaran kalimat yang mereka perbincangkan hanya terdengar suara derap langkah kaki para perawat dan dokter yang berlalu lalang di hadapan mereka. Kedua anak dan ibu itu terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, bahkan mungkin mereka tak henti melafalkan doa untuk keselamatan Athira dan kandungannya yang saat ini masih terus di lakukan tindakan oleh perawat dan dokter di ruang Instalasi Gawat Darurat.


.


.


.


.


.


.


Srayu Nongol lagi Ah😆


Maaf yak lama ga Up🙏