
“Aku dapat kabar dari Icha kalau kamu udah nikah.”
“Selamat semoga berbahagia.”
Juno memandang hp dengan tatapan yang dingin, masih ada perasaan sakit menyelinap di hatinya saat melihat pesan dari nomor tak bernama itu. Tidak ada keinginan darinya untuk membalas pesan itu.
Walaupun tidak menyebutkan dari siapa ia tahu kalau pengirimnya adalah Inneke. Teman-temannya tidak ada yang tahu akan pernikahannya dengan Bulan.
“Bang… ini surat wali keluarganya ditandatangani sama siapa? Abang aja yah” muka Benny terlihat pucat, hari ini Bapak akan menjalani operasi, mukanya sudah terlihat panik.
“Loh bukannya mesti diisi kemarin ini?” Juno menatap formulir persetujuan operasi,
“Katanya menunggu rekomendasi dari dokter Dini dulu sebagai bedah syaraf, hasil MRI- nya baru keluar tadi pagi” Benny menyodorkan bolpoin kepada Juno.
“Kenapa kamu? Takut kalau tanda tangan terus terjadi sesuatu pada Bapak?” Juno tersenyum tipis sambil memandang Benny.
“Jangan gitu Bang… aku gak mau Bapak kenapa-kenapa, Aku banyak dosa sama Bapak” muka Benny sudah berkaca-kaca sedikit lagi pasti jebol itu tanggul pikir Juno. Diraihnya kepala Benny, diacak-acaknya kepala anak tengil itu, sekalinya punya adik laki-laki malah dikasih yang cengeng pikirnya.
“Kamu harus belajar kuat, jangan cengeng. Kita harus ingat kalau kematian itu sudah diatur oleh yang diatas”
“Kalau sekiranya dengan operasi ini Bapak jadi sembuh, alhamdulillah artinya kita masih dikasih kesempatan untuk bersama dengan Bapak”
“Tapi kalau sekiranya dengan operasi ini Bapak harus meninggalkan kita, kita harus ikhlas dan menerima dengan lapang dada. Artinya tugas Bapak di dunia sudah selesai, dan kita sebagai anak wajib mendoakan” Juno merangkul pundak Benny sambil diguncang-guncang untuk memberikan kekuatan.
Benar saja air mata sudah mengucur dari mata Benny, mukanya terlihat menyedihkan. Juno menghela nafas, kalau sudah pada menangis seperti ini muka Benny dan Bulan terlihat sangat mirip.
“Sudah jangan nangis, mesti kuat. Jadi laki-laki itu mesti belajar menahan air mata. Kalau kakak kamu nangis terus wajar soalnya dia perempuan”
“Hapus air matanya” ucap Juno tegas.
“Iya Bang” Benny mengusap air mata dengan lengan bajunya, Juno menggelengkan kepalanya, gak adik gak kakaknya menyusut ingus dan airmata dengan lengan baju.
“Jorok kamu… nih pakai sapu tangan, biasakan bawa sapu tangan!”
“Kalau ada perempuan menangis nanti kamu tinggal kasih saputangan, nah jadi bisa kenalan” hibur Juno sambil menyodorkan sapu tangan kepada Benny.
“Tapi aku kan bukan perempuan Bang, kenapa sekarang dikasih saputangan?” Benny cemberut sambil menolak saputangan pemberian Juno.
“Ahahahahahah iya bener juga yah, kamu bukan perempuan” Juno kemudian memasukan kembali sapu tangannya, yang penting ia berhasil membuat Benny melupakan perasaan sedihnya karena Bapak.
“Nih udah Abang isi semuanya, kembalikan kepada suster kamu tunggu di ruang jaga ICU, Abang mau jemput kakak kamu dulu. Udah bisa keluar kamar perawatan sekarang.”
Semua urusan perawatan Bulan sudah diselesaikan juga, kelebihan biaya perawatan karena mengambil kelas dari yang seharusnya sudah ia bayar..
“Sudah siap?” Juno melihat Bulan duduk di sofa sambil mencoba mengutak atik Hp.
“Sudah dari tadi” jawabnya cepat, mukanya masih pucat tapi sudah stabil kondisinya. Memakai celana panjang berwarna hijau pastel dengan atasan putih dan cardigan warna soft pink, membuatnya terlihat semakin feminim.
“Obatnya sudah diminum?” tanya Juno lagi sambil membereskan semua barang bawaannya yang tadi malam diletakan begitu saja di sudut kamar. Semalam ia tidur di sofa walaupun Bulan memaksanya pulang ke hotel.
“Tadi subuh kan sebelum makan aku sudah minum, trus tadi pagi sudah, palingan nanti satu jam sebelum makan siang aku minum obat dulu.”
“Tadi aku mau beresin barang Kak Juno tapi takut salah” ucapnya pelan, merasa bersalah melihat Juno sibuk membereskan perlengkapan, padahal dari tadi ia tidak mengerjakan apa-apa.
“Gak apa-apa, bagus seperti itu, aku gak suka barang-barang aku diberesin sama orang lain.”
“Nanti aku jadi susah mencarinya lagi” dari dulu ia memang orang yang mandiri, jarang mengandalkan orang lain untuk membantunya.
Bulan hanya menunduk, perkataan orang lain membuatnya merasa tersudut, dalam pikiran Juno ia masih orang lain, bukan sebagai istrinya. Yah masuk akal pikir Bulan, dia hanya bertanggung jawab atas kesalahannya karena numpang tidur di kamarnya.
“Ayo… siang ini Bapak dioperasi, jam 11 masuk ruangan operasi jadi kamu masih bisa bertemu Bapak dulu di ruang ICU” berdiri dan mengambil tas pakaian Bulan yang teronggok di ujung tempat tidur.
“Tas aku biar aku bawa sendiri aja, Kak Juno udah bawa barang banyak” Bulan langsung mencoba menarik tasnya, tapi kibasan tangan Juno membuatnya terlepas.
“Kamu jangan sok kuat, kondisi masih belum stabil. Nanti kalau sudah sembuh mau jadi kuli angkut juga boleh” Juno tersenyum sinis, kedua tangannya penuh dengan tas, dan ransel di pundaknya.
“Ayo… kasian Benny nanti nangis lagi kalau ngeliat Bapak masuk ruang operasi” mendengar ucapan Juno, Bulan langsung beranjak dan mengejar Juno.
“Benny nangis kenapa? Tapi Bapak gak apa-apa kan Kak?” tangannya meraih lengan Juno berusaha menahan agar memberikan penjelasan.
“Gak apa-apa juga, dia cuma khawatir aja soal Bapak, kaya kamu cengeng!” Bulan langsung menunduk sambil cemberut, semua orang pasti akan cengeng kalau orang tuanya sakit.
“Kenapa?” Juno berhenti dan menoleh kepada Bulan, pegangan tangan Bulan di tangannya terlepas.
“Gak apa-apa” jawab Bulan pendek, masih dengan ekspresi muka cemberut karena disebut cengeng.
“Pegangan lagi… biar aku tau kamu ada”
“Aku kalau jalan suka gak sadar sama orang lain, tau-tau udah hilang” ucapnya pendek sambil mengasong-asongkan sikunya agar digandeng Bulan.
“Berat nanti Kak Juno-nya, udah bawa tas juga… aku ngikut di belakang kok” Bulan menggeleng tegas, tidak mungkin menambah beban lagi.
“Pegang!” ucap Juno pendek, sambil mengerutkan dahi tanda bersikeras. Melihat muka Juno seperti itu Bulan cepat-cepat merangkul lengan Juno, lebih tepatnya menarik ujung kemejanya. Ternyata pantas saja membuat orang tertinggal, karena ia hampir setengah berlari mengikuti ritme langkahnya.
“Kecepetan yah jalannya?” ia baru menyadari saat melihat Bulan tampak terengah-engah saat mereka harus berdesakan saat masuk ke lift.
“Eng-gha… “ jawab Bulan dengan nafas terengah, kalau maag-nya kambuh ia mudah merasa sesak, mungkin karena asam lambungnya naik.
“Maaf, nanti aku akan mencoba lebih lambat… ayo mesti masuk sekarang nanti lama lagi!” Juno mengepit tangan Bulan agar bisa masuk ke dalam lift berdua. Untung saja bisa masuk, karena yang belakang terpaksa harus mundur kembali karena lift sudah berbunyi.
Dentingan suara lift seperti mengulang mimpi buruk yang terjadi 18 tahun yang lalu, berjalan menuju ruang ICU, menunggu selama dua jam seperti perjalanan mimpi saat ia menunggu ibu dioperasi dan berakhir dengan berita kematian ibu.
Apakah sekarang harus mengulangi cerita yang sama seperti dulu?, karena ternyata Bapak tidak bisa ditemui lagi, dokter melarang pasien ditemani, karena khawatir kondisi pasien menjadi tidak stabil sehingga akan mengganggu proses operasi. Akhirnya Bulan hanya bisa berdiam pasrah di ruang tunggu. Harapannya untuk bertemu Bapak sebelum masuk ruang operasi sirna sudah.
“Sabar… tugas kita sekarang cuma bisa berdoa dan meminta yang terbaik untuk Bapak” ucap Juno pelan pada dua kakak beradik yang tertunduk dengan wajah yang sedih.
“Jangan stress nanti asam lambung kamu naik lagi… kasian nanti Benny bakalan panik” bisik Juno saat melihat Bulan tampak pucat dan lemas.
“Sekarang minum obatnya dulu, satu jam lagi kita makan!” suaranya tidak terbantahkan.
“Operasi masih tiga jam lagi, kita harus makan sekarang supaya tidak sakit”
“Ayo bangun semuanya!, harus berenergi supaya bisa merawat Bapak setelah keluar dari ruang operasi”
“Ayo Ben! perlu sapu tangan lagi?,” ucap Juno sambil menepuk pundak Benny.
“Enggak Bang… aku mau makan” ia langsung berdiri, menarik tangan kakaknya.
“Ayo teh, jangan sakit lagi kaya kemarin, kasian atuh sama ade” muka Benny tampak menghiba. Bulan tersenyum, betul juga sekarang bukan waktunya bersedih harus optimis.
“Iyaa… maafin Teteh yaa, ayo kita makan. Kita makan yang banyak biar kuat!”
“Ade mau apa? Nanti teteh beliin? Mau steak atau bakso?” Bulan menggandeng tangan Benny dan berjalan ke pintu. Juno menarik nafas panjang, kalau sudah optimis seperti itu jadi malah lupa sama dirinya.
“Ini tas mau ditinggal disini?” ucapnya ketus, dianggap jadi kuli angkut terus kemudian gak dibayar.
“Ini sekalian bawa, nanggung kalau cuma bawa satu… “ Benny langsung mengambilnya dengan cepat. Dengan satu tangan yang bebas, Juno bisa menggandeng Bulan.
“Ayo, kita mau makan di kafetaria atau keluar rumah sakit?”
“Kafetaria aja, jangan jauh-jauh supaya ada yang menunggu, khawatir ada apa-apa” Bulan menurut saja saat digandeng, tapi ia masih menahan dirinya bergerak, khawatir dibawa pergi keluar.
“Iyaaa... kita makan di kafetaria, paling hanya 30 menit, sekarang Bapaknya juga masih dalam tahap awal operasi. Ayo kalian mesti makan dulu!” ternyata menyenangkan juga menyeret perempuan, bisa memeluk dan merangkul tapi seperti terpaksa melakukan ini, pikir Juno dalam hati, dan yang dirangkul seperti tidak sadar juga, membuat Juno tersenyum sendiri,
“Kenapa senyam senyum sendiri? Ngetawain aku?” suara ketus itu menyadarkan Juno dari perasaan hangat yang baru menjalar di hatinya.
“Nggak... ngetawain Benny aja, kaya yang berat disuruh bawa dua tas juga” kilah Juno cepat, untung saja otaknya pintar dalam mencari alasan. Tangannya masih merangkul erat pada pundak Bulan.
“Panas ih…” Bulan baru sadar rangkulan Juno saat akan masuk ke kafetaria, ia berusaha melepaskan rangkulan tangan Juno saat Benny mendekat dan melewati mereka.
“Mentang-mentang pengantin baru, kemana-mana pelukan” ucapnya sinis sambil duduk setelah menyimpan tas di kursi sebelahnya.
“Tapi ade gak apa-apa Teteh nikah sekarang, kalau gak ada Bang Juno, kemarin kayanya ade bakalan mati berdiri”.
“Liat Bapak pingsan, Teteh pingsan trus ada laki-laki teriak-teriak kaya orang gila”.
“Bulan…. Bulan tunggu aku… jangan nikah dulu”
“Bulaaan… maaf aku sama sekali gak bermaksud” Benny bergaya dramatis sambil memperagakan Anjar.
“Teteh punya pacar banyak ternyata”
“Ade gak nyangka ternyata teteh itu play girl”
“Padahal teteh suka bilang sama ade… de… jangan pacaran dulu de… beresin sekolah, cewe mah nanti gampang kalau kamu udah kerja banyak duit bakalan ngantri.” ucap Benny sambil bersungut-sungut
“Ehh.. malah teteh yang cowoknya ngantri… jelas-jelas udah nikah sama Bang Juno… itu laki-laki masih teriak-teriak aja…. Bulan tunggu aku Bulaaaaan!” Benny terus saja nyerocos kesal, perpaduan kesal disuruh bawa banyak tas dan melihat Juno asyik merangkul Bulan berjalan di depannya.
“ADE BERISIK TAU GAK!!” Bulan langsung menghardik, dari tadi dia sudah memberikan kode supaya Benny diam, tapi anak itu gak ngerti-ngerti juga. Padahal muka Juno sudah tampak mulai mendung kembali.
“Gimana Bapak gak pingsan, anak udah ijab kabul …. Eh masih ada yang niat melamar” seakan tidak mendengar ucapan Bulan, Benny masih terus saja berbicara, akhirnya Bulan menendang kaki Benny yang dibawah meja.
“Awwww sakit teteh! “ Benny mengusap-usap kakinya, ia baru menyadari kalau kakaknya sedang melotot memandangnya.
“Kenapa pake marah segala? Kan memang benar!”
“Aneh tau gak, kudu dicatat dalam sejarah akad nikah, pengantin perempuan yang sudah menikah tiba-tiba mantannya datang.”
“Kemudian bilang kalau dia mau menikahi pengantin perempuan!” Benny tertawa karena merasa lucu
“Pake acara hajar-hajaran sama pengantin laki-laki”
“Beuh kalau aja sama ade di videokan pasti bakalan viral da!”
Juno malah tampak tenang mendengarkan ocehan Benny kalau dipikir-pikir memang lucu sih pikirnya, akhirnya ia memesankan 3 porsi makan siang tanpa bertanya lebih dulu.
“Sama Jus Alpukatnya satu!” tiba-tiba saja Benny menyela di antara cerita fantastic yang dibuatnya.
“Gak kebayang kalau datangnya pas ijab kabul kayanya ade bakalan lupa semua yang mesti diomongin… kertas paririmbonnya juga kemana sekarang sudah hilang” Benny merogoh saku kemeja dan celananya, Bulan hanya bisa menggelengkan kepala. Untuk apa juga kertas ijab kabul dibawa-bawa terus, akhirnya Bulan menarik nafas panjang, percuma saja memberikan kode pada Benny anak itu tampak seperti tidak peduli.
“Tapi ganteng juga sih pacar teteh yang kemarin datang” sambungnya lagi. Juno langsung melirik tajam
“Gantengan mana sama Abang?” tanya Juno cepat.
“Gantengan Abang dong… Abang tuh udah ganteng banyak duitnya lagi. Kalau gak ada Abang, dijamin Bapak gak akan bisa dioperasi sekarang” Benny mengacungkan kedua jempolnya. Juno mengangguk memberikan persetujuan sambil tersenyum. Baginya pujian Benny terdengar tulus, mengingat kontribusinya yang tidak sedikit pada keluarga Bulan.
“Kak Juno bayarin biaya operasi Bapak?” suara Bulan terdengar tercekat.
“Hanya menalangi saja, karena BPJS tidak bisa langsung on kata dokter Samuel”
“Jangan khawatir, yang penting Bapak bisa cepat dilakukan tindakan”
“Dokter Samuel berjanji akan membantu mengurus BPJS Bapak” Juno berusaha menenangkan Bulan yang langsung terlihat pucat.
“Berapa… berapa uang Kak Juno yang dipakai?” tanya Bulan cepat, Juno hanya tersenyum.
“Daripada mikirin uang operasi mendingan kamu makan yang banyak biar nanti malam kamu kuat!”
Mata Bulan langsung membulat, walaupun cuma bisikan ia yakin kalau Benny mendengar ucapan Juno.
“Apaan sih…” Bulan langsung menggeser duduknya.
“Maksudnya Kak Juno mau minta jatah sebagai suami nanti malam Teh” jawab Benny cepat.
“Tapi jangan ngamar dulu sebelum yakin Bapak kondisinya stabil yah!” ucapnya sambil menyambut makanan yang disodorkan oleh petugas kantin.
“Makan yang banyak Teh biar kuat…. Ntar pingsan lagi kaya kemarin!” mendengar ucapan Benny, Juno langsung tertawa geli.
“Tos Ben….. kamu bener-bener adik Abang” mereka berdua langsung terlihat akrab. Bulan menatap mereka berdua dengan kesal.
“Siap Bang… kapan pun dibutuhkan Ade siap ngasih bantuan,” Bulan menatap kesal sejak kapan adiknya jadi berpindah haluan seperti ini.
“Mulai sekarang kamu jangan manggil aku Kakak lagi… panggil Abang aja kaya dia,” Juno menolehkan kepala ke arah Benny, Bulan mengerutkan dahi merasa aneh ia sudah terbiasa memanggil Juno dengan panggilan Kakak.
“Jangan dong kurang spesial… Abang itu panggilan umum, musti beda kalau panggilan istri sih”
“Bang Jun… Bang Juno ahh… rasanya kepanjangan… Bang Uno ah ntar ketuker sama bapak pengusaha muda” akhirnya Bulan membiarkan saja Benny mengoceh sendiri, tampaknya hatinya sudah mulai tenang tidak lagi terlalu risau soal Bapak.
“Bang Je gimana?” tanya Benny bersemangat, mata Bulan langsung melintir, ia ingat kalau Inneke selalu memanggil Juno dengan Je… Je saja, mengingatnya saja ia langsung kesal.
“Jangan teteh gak suka apa itu Bang Je Bang Je” ucapnya sambil terus menyuap dengan cepat.
“Panggilan mantan Ben... musti dibedain dong biar gak ketuker” jawab Juno santai, Bulan jadi semakin kesal, badannya langsung memutar membelakangi Juno.
“Ngambek tuh Bang… mantan dipanggil-panggil… Cieeee teteh udah mulai cinta nih ceritanya pake cemburu-cemburuan” Benny tertawa terkekek, lupa semua keresahan hati gara-gara operasi Bapak. Juno tersenyum melihat keceriaan Benny, sudah tiga hari ini ia belum melihat mereka tertawa atau tersenyum. Muncul optimisme kalau semua akan baik-baik saja ke depan.
“Awas aja kalian berdua! . “ tanpa banyak bicara, Bulan kembali melahap makanan di depannya. Untuk marah itu butuh energi, apalagi menghadapi dua begundal yang tampak tertawa bersama-sama. Bapak cepat sembuh, teteh butuh bantuan.
*****************
Kalau Bulan butuh bantuan Bapak menghadapi duo begundal, penulis butuh bantuan deterjen untuk mengisi angket penelitian. Link angket ada di IG asha_shanti_ig. Hasil dari angket akan memberikan informasi bagaimana pembaca novel memanfaatkan novel online sebagai bacaan. Mohon bantuannya 🙏🏽. Yang gak punya IG bisa minta informasi link angket di komentar story, nanti othor kasih link ketcup basah 😂.
Terima kasih atas semua dukungan vote, like, gift dan komen selama ini. You all keep me in spirit to write... 📝.
Big Hug
ShAnti