
"Maaf aku datang terlambat sayang" ucap Athar dengan nafas yang ter-engah-engah karena pria itu setengah berlari menemui kekasihnya, tak lupa pula Athar menyematkan satu kecupan mesra di kening Kenanga.
Kenanga terdiam, kedua kelopak matanya menutup, gadis itu tengah mengatur nafasnya yang di rasa menyakitkan dadanya. Sementara Athar menarik sebuah kursi dan kini pria itu duduk berhadapan dengan kenanga dengan meja kayu sebagai pembatas keduanya.
"Are you oke?" Tanya Athar sambil mengamati wanita yang tiga hari lagi akan sah menjadi istrinya.
Tak ada jawaban sepatah katapun dari bibir Kenanga, gadis itu terdiam dengan mimik wajah yang susah di tebak. A
"Kau marah padaku?" Kali ini Athar menarik tangan Kenanga dan mengusapnya dengan lembut. Sementara di sudut lain sepasang mata tengah mengawasi keduanya dengan tatapan tak suka, Rona merah jelas mengisi wajahnya yang saat ini tengah menahan rasa amarah dan cemburu.
"Sebelum pergi kemari ada satu pasien darurat yang harus aku tangani, jadi aku harus memeriksanya terlebih dahulu. Tidak mungkin kan bila aku meninggalkannya begitu saja?" Athar mencoba menjelaskan mengapa dirinya bisa datang terlambat.
Namun bukan senyuman Kenanga yang Athar dapat, melainkan tarikan tangan Kenanga yang lolos dari tangan kokoh milik Athar. Gadis itu terdiam, kedua matanya kini menatap setiap inci wajah tampan milik Athar.
Athar semakin mengerutkan keningnya dalam, setelah hampir sepekan mereka berdua tak berjumpa, mengapa Kenanga bersikap aneh seperti sekarang? Bukankah sepekan lalu Kenanga sendiri yang bilang untuk tidak bertemu dengan alasan Kenanga ingin fokus membantu mempersiapkan pernikahan mereka? Lantas mengapa Kenanga seperti ini?
"Sayang..." panggil Athar lembut seraya mencoba kembali meraih tangan Kenanga, namun gadis itu malah menghindar dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.
"Maafkan aku karena datang terlambat" kali ini suara Athar semakin merendah, dirinya tak menyangka Kenanga bisa mengambek seperti sekarang ini, padahal biasanya Kenanga selalu bersikap dewasa dan mengerti kondisinya sebagai seorang dokter.
"Athar.." suara Kenanga terdengar lirih
"Ya sayang? Ada apa? Apa ada masalah dengan rencana pernikahan kita?"
"Athar aku pikir rencana pernikahan kita tak bisa kita lanjutkan kembali"
Kedua mata Athar terbuka lebar, bagaikan di sambar petir ya g memang tengah bergemuruh di luar sana. Hujan di deras di luar kafe membuat Athar menggelengkan kepala berharap dirinya salah mendengar ucapan Kenanga.
"Apa sayang? Aku pasti salah mendengarnya bukan?" ucap Athar dengan tersenyum
"Aku rasa perasaanku terhadapmu hanya sebatas teman tidaklah lebih, dalam hatiku sudah ada nama orang lain jauh sebelum aku mengenalmu" lanjut Kenanga
Kali ini ucapan Kenanga membuat Athar menggelengkan kepala, bibirnya tersenyum getir mendengar kata demi kata yang Kenanga ucapkan padanya. Pernikahan mereka sudah di depan mata, persiapan juga sudah hampir selesai. Lantas mengapa Kenanga tiba-tiba membatalkannya begitu saja?
"Jika aku ada salah, katakanlah sayang! aku akan memperbaikinya. Tapi jangan seperti ini" ucap Athar berusaha tenang. Meski saat ini dirinya tengah merasakan ribuan pisau menusuk jantung serta hatinya.
"Kau tidak memiliki salah sedikitpun terhadapku. Tetapi waktu-lah yang salah. Waktu mempertemukan kita di saat hatiku telah di miliki oleh orang lain.
"Kenanga.." ucapan Athar terhenti tatkala melihat sosok yang tak asing mendekat ke arah meja keduanya bahkan dengan jelas sosok tersebut melaflkan nama Kenanga dengan begitu lembut
"Apa kau sudah selesai?" imbuhnya tanpa menghiraukan keberadaan Athar.
"Sayang.. " Athar menggelengkan kepalanya tak percaya, kedua matanya terlihat berkaca-kaca menatap Kenanga
Bukankah setelah kejadian di hotel jakarta malam itu, Kenanga masih bisa bersikap sedikit baik padanya, meskipun Athar juga tahu kalau sikap Kenanga sedikit aneh dan terkesan menjaga jarak padanya, namun semua itu tidaklah masalah, mungkin Kenanga masih merasa tak enak mengenai masa lalunya bersama Riko yang harus di dengar Athar melalu mulut Riko.
Kenanga terlihat berdiri dan di sambut hangat oleh Riko "Kami pamit" Ucap Kenanga
"Kenanga tunggu" Dengan cepat Athar berdiri dari duduknya dan meraih pergelangan tangan Kenanga, namun dengan cepat Riko menjauhkan tangan Athar
"Athar, tolong jauhi Kenanga. Kami masih saling mencintai dan kami pula memutuskan untuk kembali bersama dan menikah dalam waktu dekat" tegas Riko
"Benar ! Mulai sekarang sadarlah. Kita tidak berjodoh, dan aku juga telah menyadari kalau hatiku memang hanya untuk Riko, sekarang, besok atau seterusnya" imbuh Kenanga dengan suara bergetar.
"Tidak Kenanga, jangan lakukan ini padaku. Kau tau betapa besar perasaanku padamu, tegakah kau melakukan ini semua padaku??"
Riko dan Kenanga tak mau mendengarkan semua perkataan dari Athar, bahkan saat Athar berusaha menahan laju mobil milik Riko di tengah hujan dan suara petir bergemuruh. Kenanga seolah mati rasa terhadap Athar, gadis itu sama sekali tidak menoleh.
"Dokter Athar..." seseorang terasa menepuk pundak Athar.
Athar tersadar dari lamunannya. Dua tahun sudah semenjak kegagalan pernikahannya dengan Kenanga. Tapi sayangnya Athar masih belum bisa melupakan kejadian tersebut, sungguh hatinya benar-benar tak sanggup. Meski Athar selalu terlihat baik-baik saja, tapi saat malam tiba, kesunyian terasa benar-benar menyiksanya dengan kenangan bersama Kenanga.
"Dokter Athar, dokter baik-baik saja?" Evan sedikit kawatir setiap kali melihat Athar melamun. Evan tau betul meski Athar selalu bersikap riang dan ramah di depan semua orang, termasuk pasiennya, tapi hatinya pasti rapuh. Evan paham betul kalau Athar hingga saat ini belum bisa melupakan sosok Kenanga.
Padahal Evan tau, kalau selepas batal menikah dengan Kenanga, ada beberapa gadis yang di jodohkan dengannya oleh orang tuanya, tapi sayangnya, Athar masih menolak dan mengatakan kalau ingin fokus bekerja terlebih dahulu, meski usia-nya semakin menambah setiap harinya. Hal tersebut membuat keluarga serta para sahabat Athar kawatir bila pada akhirnya Athar malah tak mau menikah.
"Evan, apakah masih ada pasien di luar?" tanya Athar seraya membenarkan letak kacamata miliknya
"Bukankah sudah saya katakan kalau sudah tidak ada pasien lagi?" Evan menaikkan kedua alisnya.
"Oh iya kah?" Athar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, kalau begitu" Athar berdiri dari kursi duduknya, seraya melepaskan jas berwarna putih yang membalut kemeja panjang berwarna maroon.
Dengan segera Athar meninggalkan Evan yang masih membereskan Rekam Medis milik pasien yang tertumpuk di meja kerjanya. Sementara Athar berjalan menyusuri lorong rumah sakit tempat dirinya bekerja. Beberapa perawat bahkan tersenyum simpul sembari memberikan sapaan hangat hangat terhadap Athar. Di rumah sakit ini memang Athar terkenal ramah dan murah senyum, selain itu dirinya masih single dan memiliki wajah tampan. Namun sayangnya tak seorangpun perawat maupun dokter di Rumah sakit ini yang mampu menarik perhatian Athar. Hati Athar seakan beku dan patah tak bisa di sembuhkan lagi semenjak pernikahannya dengan Kenanga batal.