
Juno beralasan mengambil dokumen portofolio ke mobil dan mengajak Bulan untuk ikut dengannya, tapi cukup dengan melihat tatapan Juno, Bulan sudah tahu kalau ia akan kena ledakan kompor.
“Kamu tuh mikir gak sih… coba berpikir dewasa… aku gak ngerti sama pikiran kamu?!” saat di luar Juno langsung melakukan serangan.
“Klien yang sekarang punya pengaruh besar dengan kelanjutan proyek kedepan”
“Kalau sikap kamu tidak memperlihatkan profesionalisme, mereka tidak akan percaya dengan kemampuan kita” Juno memandang Bulan dengan lekat.
“Iya… maaf” jawab Bulan sambil menunduk.
“Ini bukan main-main Bulan… mungkin buat kamu hanya sekedar proyek tapi buat aku ini pertaruhan masa depan aku”
“Sekarang kamu pengen main-main sama masa depan aku?”
“Nggak… aku gak bermaksud begitu… aku cuma mencoba mengakrabkan diri aja”
“Lagipula Teh Hasna-nya juga santai aja kok” kilah Bulan.
“Yang jadi klien disini bukan istrinya tapi suaminya!” tegas Juno
“Dia yang menentukan ok atau tidak untuk menyewa kita”
“Kamu gak lihat kalau mereka mau menyewa kita untuk merancang dan menata interior rumah mereka… gak cuma pemasukan yang akan kita dapatkan tapi portofolio perusahaan kita akan meningkat secara signifikan”
“Dia pemilik perusahaan besar di Jakarta”
“Keluarga mereka pemegang saham Great Indonesia… perusahaan apparel yang punya banyak pabrik di jabodetabek” ternyata sebelum datang, Juno sudah melakukan penyelidikan siapa bakal klien yang ditemuinya. Mendengar penjelasan Juno kening Bulan berkerut.
“Kalau begitu sebetulnya Kak Juno gak punya banyak peluang untuk bisa memenangkan tender desain interior rumah ini?”
“Perusahaan kita cuma perusahaan kecil yang baru berdiri”
“Gak punya portofolio sebelumnya”
“Kak Juno cuma mengandalkan rekomendasi teman yang kebetulan kakak iparnya” jelas Bulan sambil menarik napas.
“Iya… sekarang ditambah dengan kelakuan kamu yang absurd seperti itu”
“Ngapain juga kamu liat-liatin dada?”
“Aku cuma main-main sama Teh Hasna, lagian aku ngeliatin dada sama bayi”
“Laki-laki sensitif banget sih sama dada… liat fungsinya perempuan itu memiliki payu dara untuk memberikan minum kepada bayi”
“Laki-laki aja yang memperluas fungsi dari payu dara… gak cukup cuma 2 tahun waktu bayi maunya ditambah terus… gak bisa disapih!” gerutu Bulan sambil meninggalkan Juno.
“Heee… malah mengalihkan fokus”
“Ngerti gak tadi penjelasan aku?”
“Iya ngerti… udah lah buruan banyak aturan banget… sekarang tawarin langsung mereka suka atau enggak” ucap Bulan kesal sambil meninggalkan Juno.
Saat masuk ke dalam ternyata Hasna sedang menyusui si kembar. Yang satu disusui dengan menggunakan dot dan satunya lagi menyusu langsung pada Hasna. Hasna membelakangi pintu dan menghadap ke halaman yang nanti dirancang menjadi taman, disebelahnya Reza yang sedang memberikan susu dengan dot. Melihat kedatangan Juno dan Bulan di pintu, Reza memberikan tanda agar mereka menunggu.
“Papi, biar Bulan saja yang memberi susu pada Bu, katanya dia terlatih mengurus bayi dari kecil”
“Biar kita bisa cepet pulang… kasian Maura juga udah capek kayaknya” Hasna memberikan tanda pada Bulan untuk mendekat. Disebelahnya Maura tampak sudah tertidur dengan gelas susu disatu tangannya dan satu tangan lagi memegang tangan Hasna.
“Bulan bisa ngasih susu sama Bu? Biar Mas Reza bisa beresin soal interior sama suami kamu” panggilan Hasna membuat Bulan mendekat, dengan enggan Reza memberikan Bu yang tengah menyedot asi di botol susu.
“Ini ASI yang dipompa Teh? Wuaah keren jadi bisa meng-asi-hi yah walaupun kembar, gak dibikin tandem aja Teh?” Bulan menatap Bu lekat, tangan Bu langsung berusaha menarik kerudung Bulan yang bermotif.
“Euuuh sekarang mah udah gak mau diem, apalagi Bu hadeuuuh teu daek cicing (gak mau diem)”
“Tuh kan tangannya selalu kemana-mana”
“Sini Bul duduk dekat Teteh biar nyaman, kalau ngasih susu sama bayi kita-nya mesti santai dan enjoy nanti bayinya merasa tenang juga”
“Dulu waktu masih bayi bisa ditandemin Bul… tapi setelah umur enam bulanan lah ...waaah riweeeuuh (repot)”
“Bisa kelahi suka dorong-dorongan, atau iseng saling gaplok (pukul)”
“Teteh jadi stress yang nyusuinnya… bayangin aja sambil menyusui ada yang kelahi depan muka pisan” Hasna menggelengkan kepala mengingat saat ia menyusui tandem.
“Bu sama Ay kan beda cara menyusuinya”
“Yang satu kalem menyusunya… alon-alon asal kelakon… lamaaaa tapi sambil nyedot liat kiri kanan nyedot lagi… mainin tangan….nyedot lagi...mainin rambut nyedot lagiii hadeeuuuh matak kaluman (gak sabar) lah!”
“Nah ini nih yang gembul ini, kalau nyusu pake kekuatan penuh…. Nyot nyot…. Tarik nafas… nyot nyot nyot trus sampai habis kapasitas”
“Udah habis dia lirik deh ember susu lain yang masih penuh… main suntrungin aja saudaranya mau ambil alih… wuiiih mulai deh perang” Hasna menggelengkan kepala lagi sambil menarik nafas. Ia tidak menyangka kalau punya bayi kembar akan serepot ini saat menyusui.
“Bu akhirnya dicampur sama susu formula setelah enam bulan soalnya kuat minum susunya”
“Kelebihan Ay dia suka makan mpasi gampang banget kalau makan, makanya keduanya badannya hampir sama yah”
Kedua perempuan itu asyik membicarakan soal persusuan sampai tidak sadar kalau si kembar sudah tertidur karena kenyang dan cape beraktivitas di luar rumah. Hasna tampak ingin segera menidurkan Ay dalam stroller.
“Papi… stroller-nya diubah ke posisi tidur… ini anak-anak udah bobo” Hasna berbisik keras memanggil Reza yang tampak asyik melihat portofolio Juno dan desain yang ditawarkan. Reza tampak fokus dengan gambar desain sehingga tidak mendengar.
“Papiiiiii” desis Hasna, ia tidak ingin mengganggu tidur Ay yang paling mudah untuk terbangun oleh suara keras.
Juno yang mendengar permintaan Hasna langsung memanggil Reza.
“Mas… itu Mbak Hasna minta bantuan untuk stroller” mendengar ucapan Juno, Reza langsung berdiri, mulut Hasna sudah komat kamit saja kesal..
“Kalau udah fokus telinga itu kaya ditutup headset, gak bisa dipanggil cuma sekali mesti berkali-kali!” omel Hasna sambil berbisik-bisik, mulutnya sudah mancung ke depan karena kesal. Padahal ia hanya memanggil Reza dua kali saja.
“Jangan berisik nanti Ay nya bangun, nanti kamu lagi yang repot” bisik Reza sambil membetulkan letak stroller.
“Maura itu mau dipindah?” Hasna menggelengkan kepalanya pasti, tangannya masih dipegang erat Maura sambil tidur. Reza tersenyum mengerti ia langsung mengangkat Ay dari pangkungan Hasna tanpa mengubah posisi istrinya.
Juno yang melihat kesibukan Reza ikut membantu merubah posisi stroller untuk Bu karena rupanya sama-sama sudah tertidur di pangkuan istrinya Bulan. Setelah posisi stroller siap, Bulan pun memindahkan Bu.
Jangan ditanya soal Nuna Mola, sejak menyentuh kursi malas yang menjadi kesukaannya, dan diberi botol susu ia langsung teler. Kalau dulu sebelum punya adik bayi ia harus menempel di dada seperti koala dipangkuan Hasna. Sekarang cukup diberikan tangan Hasna dan diusap-usap sambil memegang sikut Hasna dia akan tertidur. Hanya saja Hasna harus membagi tangannya antara memegang bayi dan memegang Maura.
Awalnya karena kasihan Reza berusaha memisahkan Maura agar tidak mengganggu Hasna pada saat menyusui Ay dan Bu tapi apa daya kalau Maura sudah mengantuk bersamaan dengan bayi kembar menyusu akhirnya Hasna terpaksa memegang ketiganya bersamaan. Saat dipisahkan Maura mengamuk menangis keras sampai akhirnya ketiganya menangis karena Ay dan Bu terganggu oleh tangisan Maura.
Hal pertama yang dilakukan Hasna adalah mengambil alih Maura yang mengamuk di pelukan Reza. Masih terbayang di kepala Reza kejadian saat itu. Hasna meninggalkan kedua bayi yang menangis keras dan memeluk Maura.
“Papi yang gendong si kembar, biar Maura aku yang tidurkan” Hasna langsung mengambil alih Maura yang menangis sambil menjerit-jerit. “Maaau sama Bunaaaa...waaaaaaa…. Mau samaaa Bunaaaa” teriaknya menyayat hati. Akhirnya bayi kembar ditenangkan oleh baby sitter yang membantu Hasna, saat bayi kembar tertidur tenang Reza yang kemudian menyusul Hasna ke kamar Maura melihat ternyata Maura juga sudah tertidur di pelukan Hasna.
“Ay dan Bu belum mengerti kehilangan perhatian dari orangtua tapi beda dengan Maura”
“Dia merasakan kalau perhatian yang selama ini terpusat pada dirinya digantikan oleh adik adik bayinya”
“Sedangkan Ay dan Bu kan masih bayi belum sadar sama lingkungan, menangis karena lapar atau gerah tidak peduli siapa yang memberikan yang penting kebutuhannya terpenuhi”
“Tapi kalau Maura tidak diperhatikan oleh kita dia akan merasakan kehilangan dan merasa disisihkan.”
Sejak saat itu kapanpun Maura membutuhkan perhatian khusus dari Hasna ataupun Reza mereka berusaha mendahulukannya sambil tetap melibatkan kedua adiknya, hingga akhirnya Maura menerima dan mengerti kalau adik bayi perlu menyusui pada Hasna dan lebih membutuhkan daripada dirinya yang lebih besar.
“Alhamdulillah sudah tidur semua” bisik Bulan saat Hasna berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Maura.
“Ini minum dulu… isi ulang energi” Reza menyodorkan tumbler , yang disambut Hasna dengan penuh antusias dan senyuman hangat.
“Terima kasih Papiiiii…. Tau aja aku haus banget, tadi mah gak kerasa haus” duduk di meja kerja yang terpasang di ruangan besar di tengah rumah. Reza membuka kotak bekal berisi makanan dan buah kemudian menyodorkan pada istrinya.
“Makan dulu….mumpung anak-anak pada tidur” ucap Reza sambil menyiapkan semua makanan ke depan Hasna.
“Ihhh aku masa makan sendiri”
“Yang lain tidak menyusui… kamu sendiri yang bilang kalau saat hamil dan menyusui, badan kamu bukan lagi milikmu.... Jadi jangan pikirin orang lain… pikirkan Ay dan Bu yang hanya bisa makan dari air susu kamu”
“Makan habiskan!” ucap Reza tegas.
“Makan aja teh… tadi kita sudah makan di rumah… jangan ragu-ragu.. Katanya kalau ibu hamil sama menyusui itu punya banyak alasan untuk selalu makan… manfaatkan kesempatan untuk makan banyak tanpa merasa bersalah...hehehehhe” Bulan duduk menyertai Hasna.
“Baiklah… Kak Angga pesan makanan atau minuman apa kek… biar aku makan dengan tenang kalau lihat yang lain makan” Hasna memandang kakaknya meminta bantuan, perintah Reza sulit dibantah, kalau ia tidak segera makan pasti akan panjang urusannya.
“Aku udah pesan makanan, kopi dan cake sebentar lagi sampai” jawab Angga tenang, tanpa diminta ia sudah menyiapkan kudapan untuk pertemuan hari ini.
“Aku juga mau kopi donggg” Hasna langsung semangat.
“Nooo… jangan minum kopi!” ucap Reza cepat. Hasna tersenyum ucapannya tidak dari Reza benar-benar mirip Maura.
“Masss aku cuma mau minta sedikit aja” Hasna menarik napas sedih sambil kemudian kembali minum cairan dari tumbler yang diberikan Reza. Ternyata susu, terlihat dari sisa cairan yang membekas di mulut Hasna.
“Gak apa-apa kok Mas Reza kalau ibu menyusui minum kopi, asal jumlahnya tidak banyak”
“Kalau aku baca sih batasan maksimal untuk ibu menyusui minum kopi tidak boleh lebih dari tiga cangkir” ucap Bulan, Juno memandangnya kesal merasa kalau istrinya ikut campur pada urusan orang lain.
“Wahahahahha masa iya aku minum kopi tiga cangkir Bul, palingan aku pengen minum tiga tegukan aja” jawab Hasna sambil terbahak. Bayangan minum satu cangkir kopi saja tidak akan ia lakukan, ia hanya merindukan minum kopi karena itu adalah minum favoritnya dulu.
Reza mengerutkan dahinya tanda tidak setuju tapi ia tidak mengatakan apapun.
“Lagipula yang paling penting dari seorang ibu yang menyusui adalah kebahagian hati si Ibu”
“Teh Hasna sehari minum susu ibu menyusui berapa banyak sih?” tanya Bulan
“Lebih seliter kali… udah eneg aku tuh tapi mau bagaimana lagi, kalau bisa pengen nyusuin mereka sampai dua tahun”
“Seliter artinya kalau dibagi dalam gelas sekitar lima gelas?” tanya Bulan
“Lebiiiiiih… kadang enam atau tujuh gelas malahan. Mas Reza tuh rajin banget bikin susu, hobinya ngecek sama baby sitter… ibu udah minum susu belum? Ibu sudah makan belum?” Hasna menatap Reza kesal.
“Bagus lagi Teh punya satpam...heheheh” Bulan tertawa senang, Juno menarik napas panjang, dengan santainya Bulan menyebut Reza sebagai satpam. Direktur disebut satpam tapi Reza tampak tidak peduli.
“Naaah Mas Reza bayangin enam gelas susu kalau dibandingkan dengan tiga tegukan kopi sih lewaaat gak akan keliatan item-itemnya sedikitpun… kalau perlu mari kita bikin percobaan tiga sendok makan minuman kopi kalau dilarutkan dalam enam gelas susu apakah akan tetap berwarna hitam?” lanjut Bulan santai, Hasna langsung tertawa.
“Hahahahah ide kamu boleh juga Bulan… brilliant banget idenya”
“Boleh yaaa Mas nanti minta kopinya?” tanya Hasna dengan tatapan penuh harap, Reza menarik napas panjang dan kemudian tersenyum sambil memandang istrinya.
“Ya boleh… asal kamu ngerasa senang… tapi jangan banyak-banyak beberapa teguk saja, ngilangin rasa penasaran” jawab Reza.
“Yessss….. Hihihi… aku habisin dulu susunya nih biar pas kopinya datang sudah meresap susunya dalam lambung” sambut Hasna, melihat istrinya tertawa senang Reza ikut tersenyum. Ia baru menyadari saat Bulan tadi memberikan perbandingan antara susu yang diminum istrinya dengan beberapa tegukan kopi tapi bisa memberikan kebahagian. Terkadang Reza merasa bersalah melihat kesibukan Hasna dalam mengurus bayi, rasanya memberikan kebahagiaan hanya dengan beberapa tegukan kopi sangat sederhana hingga tidak adil kalau tidak dipenuhi.
Hasna mengacungkan jempol pada Bulan, mereka baru bertemu beberapa jam tapi langsung sudah klik seperti bertemu teman lama. Mereka berdua langsung asyik melihat gambar rancangan yang dibuat Juno, sesekali terdengar pujian dari Hasna melihat desain yang dibuat oleh Juno terlihat mewah dan berkelas. Berbeda dengan Bulan yang tampak mengerutkan dahinya, perasaan Juno langsung tidak enak.
“A… kenapa ini pinggiran tangganya terbuat dari kaca?” tanya Bulan dengan dahi berkerut. Juno menarik napas, perkiraannya terbukti yang mengkritik rancangannya bukan klien tapi istrinya sendiri.
“Penggunaan kaca membuat rumah seakan tidak bersekat, jadi kesannya elegan dan minimalis” jelas Juno, ia menggelengkan kepalanya, mengapa harus menjelaskan desain pada istrinya sendiri sebagai pihak yang menawarkan rancangan kepada klien.
“Bukan itu masalahnya A… kaca itu gak kids friendly, kalau anak-anak sudah bisa jalan mereka akan senang naik tangga, pegangan akan sangat penting untuk mengajarkan anak naik turun tangga”
“Anak-anak belum bisa memegang pegangan yang atasnya, mereka akan sangat bergantung pada pegangan yang seukuran dengan tubuh mereka, jadi kalau bisa jangan kaca tapi bahan yang bisa dipegang sama anak-anak dan tidak melukai tangan mereka seperti kayu” ucap Bulan.
“Betul… aku setuju, ini jangan kaca harus plat besi atau kayu yang bisa membantu mereka berpegangan” ucap Hasna membenarkan Bulan. Angga tersenyum mendengar penjelasan Bulan dan muka Juno yang tampak berusaha menahan diri untuk bersikap sabar dan mendengarkan. Beberapa kali bekerja dengan Juno ia tahu kalau temannya itu paling tidak sabar dengan klien yang cerewet atau banyak maunya. Ternyata yang cerewet bukan klien tapi malah istrinya sendiri.
“Trus ini kan aku lihat kamar anak-anak dipusatkan di lantai dua sedangkan orangtua ada di bawah di lantai satu”
“Nanti Teh Hasna harus naik turun dong kalau mau menidurkan anak”
“Mendingan kalau selama mereka masih bayi mah kamarnya didekatkan saja sama kamar orangtua”
“Yang kamar tamu biar diatas aja… namanya tamu pasti sudah dewasa atau tua gak khawatir naik turun tangga” sambung Bulan.
“Betuuul itu… ih kamu Bulan cerdas banget sih kepikir gitu. Teteh mah gak kepikir sampai kesana. Gak kebayang hadeuh turun naik yaaa Allah pasti aku langsung jadi langsing ini mah” sambung Hasna.
“Fix kamar anak-anak selama masih kecil di bawah aja, disatuin lah gak usah dipisah-pisah segala, udah misah kamar juga udah menyusahkan buat aku sih” sambung Hasna.
“Bul… kita lihat kamarnya biar kebayang langsung”
“Aku butuh masukan dari kamu sebagai istri dari desain interior, aku suka kurang ide” sambung Hasna.
“Siaaaaap Teh” ucap Bulan dengan penuh semangat. Mereka berdua beranjak ke kamar yang rencananya akan dijadikan kamar tamu.
Juno hanya bisa bengong melihatnya, disini yang menjadi desainer interior dirinya tapi malah istrinya yang diminta pertimbangan.
“Jadi gimana Mas… mau dilanjut untuk desain interiornya sama Juno?” tanya Angga dengan senyum ditahan.
“Aku terserah Hasna, dia yang punya rumah ini dan dia yang akan lebih banyak di rumah, semuanya terserah keinginannya, aku sudah banyak membangunkan rumahnya, dia yang menentukan soal interior” jawab Reza pasrah.
Angga mengangguk dan tersenyum pada Juno. Kalau jawaban Reza seperti itu, sudah bisa dipastikan kalau desain interior untuk rumah ini akan diserahkan pada perusahaan Juno.
“Jun… laki-laki memang yang berkuasa tapi perempuan tidak pernah salah… hahahahhaha” Angga tertawa terbahak.
Juno termenung, ternyata perkiraanya salah yang mengambil keputusan disini malah istrinya sedangkan suami ikut-ikut saja asalnya istrinya bahagia.... ternyata perempuan selain tidak pernah salah mereka itu selalu benar.