
Bulan PoV
Sudah aku perkirakan kalau hari ini aku akan kesiangan, tadinya ingin naik ojek online saja, tapi A Juno memaksa mesti berangkat sama dia, mana lama lagi banyak acara, pake ketinggalan rokok dan korek segala. Mulai besok semua korek dan rokok tidak akan aku perbolehkan masuk kamar. Bau..
Semuanya sudah duduk di meja rapat, pasti sedang membuat review mingguan. Hadeuuuh memalukan.
“Maaf kesiangan” hanya bisa nyengir dan memberikan muka penuh penyesalan. Upaya memberikan efek dengan terengah-engah biasanya memberikan dampak kasihan ternyata tidak berlaku, Pak Kevin awalnya terlihat mengerutkan dahi terus kemudian seperti membuang muka, Mbak Icha juga malah menatap dengan lekat dan berakhir dengan mentertawakan sedangkan Anjar hanya membuang muka tanpa ekspresi.
“Bulan supaya bisa narik nafas buat kopi yang enak dulu deh biar fresh kita rapatnya” sela Mbak Icha, aku mengangguk dan segera menuju pantry. Semenjak alat pembuat kopi rusak, terpaksa harus membuat kopi secara manual di pantry.
“Bulan..” Mbak Icha ternyata menyusul, kenapa lagi.
“Kamu tadi gak ngaca dulu sebelum pergi?” Mbak Icha tersenyum melihat kearahku sambil mengambil teh kesukaannya.
“Ngaca mbak… kenapa emang muka aku berantakan?” aku langsung merapikan rambut, tadi memang lari-lari dari lobby, soalnya sudah terlewat lima belas menit.
“Bukan rambut kamu… ituu leher penuh dengan tanda cinta” Mbak Icha menyibakan kerah baju dan mengusap-usap leher.
“Astagfirullah keliatan Mbak? Tadi aku udah bedakin tebel banget padahal udah gak keliatan” aku langsung menutup kerah baju. Ya Allah maluuu….
“Hahahahaha bedak sih luntur sama keringat.. Itu kelihatan banyak banget. Harusnya kamu tutupi dengan foundation atau pakai concealer” Mbak Icha menyesap teh sambil menatapku lekat.
“Hehe aku gak pernah pake foundation atau concealer Mbak jadi gak punya paling pakai pelembab sama sunblock aja” tidak menyangka sampai segininya gara-gara Junaedi gak bisa nembus, jadi bikin marka jalan dimana-mana. Hadeuuuh… awas nanti kalau pulang.
“Sudah aku perkirakan, makanya tadi aku suruh kamu bikin kopi, soalnya itu bekas di leher bikin Kevin sama Anjar ntar traveling otaknya gak bisa konsen”
“Nih.. untung gw bawa concealer.. Di cover dulu baru ke ruangan” Mba Icha melemparkan wadah kecil, untung sigap kutangkap… Mbak Icha ini main lempar aja. Widih merk mahal ini saat kulihat tempat make up. Masuk akal kalau Mbak Icha pakai merk ini, secara dia kalau dandan selalu all out.
Masuk kembali ke ruangan terasa lebih percaya diri, marka jalan sudah ditutup sempurna, kopi sudah diseduh dan tercium harum. Ditambah bonus dengan membeli donat dari kafetaria minta tolong sama OB sebagai sogokan karena tadi terlambat datang.
“Widih kamu ke pantry cuma lima belas menit tapi datang-datang bawa kopi sama donat” Mbak Icha tertawa lepas melihat kearahku. Hadeuuh malu sebetulnya tapi bagaimana lagi.
“Pemain baru dalam dunia liar belum hafal mesti keluar rumah kaya gimana… payah lu Bul makanya hidup jangan steril... hahahaha” Mbak Icha masih saja mentertawakan, Pak Kevin hanya melirik sebentar ke arahku dan kemudian kembali menekuni dokumen, sedangkan Anjar tampak seperti tidak memperdulikan apapun.
Hari itu akhirnya semua berjalan lancar, semua rapat dapat dilalui dengan baik. Sampai akhirnya rapat terakhir yang menjadi project Mbak Icha dan Anjar ternyata harus dihadiri juga oleh Pak Kevin karena VP akan hadir dalam pertemuan tersebut.
“Rembulan kamu ikut saja, pertemuannya di Restoran Starlight … ada fasilitas lengkap disana, rencananya setelah meeting dilanjut dengan makan malam” ajakan itu langsung terucap Pak Kevin saat aku menyerahkan bahan profile company dari perusahaan yang akan meeting hari ini.
“Omo..omo… gimana nasib satpam di Ruko kalau aku mesti ikutan lembur dinner sama VP” terbayang muka masam dan kesalnya, hari ini dia seharian pasti jadi kuli angkut dan menata ruko.
“Hehehe ampun Pak Bos… saya mau izin tidak ikut rapat yaa.. Lagipula saya hanya jadi dayang-dayang saja kan… tidak ada yang harus saya kerjakan secara fungsional”.
“Hari ini saya pindah rumah Pak ke Ruko mau beres-beres supaya bisa segera ditempati. Malah kalau Bapak sama Mbak Icha dan Anjar berangkat meeting, saya izin pulang lebih cepat”.
“Tinggal di Ruko?” muka Pak Kevin terlihat kaget.
“Hehe iya Pak… Suami mau mulai perusahaan sendiri katanya, jasa konsultan dengan temannya, mereka kemarin sudah menyewa Ruko. Lantai bawah untuk kantor, sedangkan lantai atasnya kami tempati, lumayan Pak menghemat biaya kost-kost-an mau mencoba mandiri” masa iya aku musti nyebutin diusir sama Papa Bhanu, mendingan diceritain yang positif thinking aja deh.
“Ow keren-keren” hanya itu tanggapan Pak Bos, tersenyum dan memberikan tanda jempol.
“Kamu tidak masalah tinggal di Ruko? Bukan di rumah biasa?” tiba-tiba saja Pak Kevin menanyakan hal yang gak jelas.
“Ruko juga rumah pak...hehehe ada dapur, ada kamar mandi, ada kamar tidur”
Pak Kevin tersenyum mendengar jawabanku, apa karena terdengar seperti jawaban utopia yang hanya ada dalam dunia khayalan saja?.
“Kenapa Pak ketawanya meni gitu? Terlalu ideal yah.. Habis mau gimana lagi, aku sih tinggal dimana aja gak masalah, yang penting nyaman saja… kalau sudah nikah mesti ikut permintaan suami” ini jadi ngomongin masalah rumah tangga lagi sama si Bos gegara Mbak Icha dan Anjar berangkat lebih dulu, terpaksa aku yang mesti nyiapin berkas yang tertinggal.
Pak Kevin mengangguk-angguk sambil membereskan berkas, sesekali memandangku dengan ekspresi penuh arti.
“Gak apa-apa… wajarlah pengantin baru dunia masih terlihat hitam dan putih”.
“Kata orang pernikahan itu paling sulit lima tahun pertama yah Pak… untungnya Bapak dan Kak Ingge punya Elma jadi masa sulitnya terasa menyenangkan” hikmah punya anak sebelum menikah tetap mesti diambil positifnya.
“Menyenangkan memang memiliki anaknya, tapi urusan suami dan istri kan bukan cuma soal anak tapi banyak urusan lain yang harus diselaraskan”
“Butuh kerjasama dari kedua belah pihak bukan hanya sepihak” jelasnya lagi. Aku mengangguk tanda setuju.
“Setuju kalau itu Bos”
“Apalagi kalau sudah biasa mengambil keputusan sendiri… hadeuuh ribet deh” bayangan satpam yang tidak mau dicampuri urusan kantor baru dan merasa harus diikuti kemauannya bikin kepala migrain.
“Kamu beneran gak akan ikut? Asyik loh Restaurannya berkelas, ada di puncak Hotel di daerah Sudirman kamu bisa lihat suasana Jakarta di malam hari”.
“Malahan kalau kamu jadi dayang-dayang kamu bisa menikmati malam disana, free of charge… semuanya bisa dipesan atas nama perusahaan”. Hmmm ini tawaran yang bikin otak petualangan bergetar. Kalau belum menikah mungkin aku langsung iyakan, masalahnya ini satpam bakalan ngamuk. Males deh bakalan panjang urusan.
“Nikmat dunia saya sudah berkurang pak… sudah pindah jadi nikmat akhirat sekarang”.
Pak Kevin mengerutkan dahi, “Maksudnya apa? Nikmat akhirat?”
“Sekarang aku musti banyak melakukan kegiatan yang baru dirasakan kenikmatannya di akhirat pak”
“Kalau nikmat dunia kan langsung terasa sekarang, ikut sama Bapak meeting lihat restoran mahal, lihat suasana dunia yang gemerlap… itu nikmat dunia kan langsung dirasakan getarannya...hehehe”
“Kalau nikmat akhirat itu… yah pulang beres-beres rumah, masakin makanan, nyuci dan seterusnya… berakhir dengan terkapar cape. Getaran kenikmatannya baru nanti dirasakan di akhirat Pak… mungkin karena hasilnya tidak langsung dirasakan, membuat orang malas melakukannya..hehehehe”
“Jadi kenikmatan dunia saya mulai berkurang Pak sekarang… gak apa-apa proses pendewasaan, biar bisa naik kelas” ucapku lagi, sekedar menghibur diri dan pengingat diri.
“Seandainya semua perempuan ingin naik kelas… tampaknya yang tinggal kelas cuma laki-laki saja Bulan” Pak Kevin beranjak dari mejanya dan berjalan keluar.
“Ayo.. katanya kamu mau menikmati dunia akhirat… kita pulang saja sama-sama” ajaknya.
“Pulang? Bapak kan mau langsung ke meeting” untung saja tadi sudah beres-beres jadi bisa langsung pergi.
“Aku mau pulang dulu saja mencari nikmat akhirat, nanti baru join sama mereka pas dinner sambil menikmati nikmat dunia”
“Dimana Rukonya? Kalau searah kita pulang bareng?”
“Radio Dalam Pak...gak usah Pak saya pakai busway aja, masih jam 3 sore belum macet kok” bahaya nanti satpam ngambek lagi.
“Saya mau ngambil dulu barang-barang di kost-an supaya bisa dibereskan sekalian. Makasih Pak”
Kelebihan Pak Kevin adalah bukan orang yang suka memaksa, gayanya yang santai dan senyumnya yang tenang membuat orang tidak merasa bersalah kalau menolak permintannya.
“Ok sampaikan salam pada Calon CEO Konsultan Design.. Sukses yah!” Aamiin jawabku dalam hati… Mimpi apa nikah sama CEO kaya novel online aja.