
Bulan memandang Juno dengan kesal, rasa kagetnya berganti dengan rasa kesal melihat laki-laki yang sudah tiga hari tidak ia temui.
“Mau kemana? Ayo… udah malem ini, kamu gimana sih malem-malem naik travel?!” Juno memaksa Bulan mengikutinya, meraih lengan Bulan untuk ikut dengannya.
Bulan menghempaskan tangannya, energinya sudah kembali akibat tidur cukup selama di perjalanan ditambah makan roti dan cokelat. Petugas travel yang melihat mereka berdua mendekat.
“Teh gak apa-apa?” dia seperti khawatir melihat gelagat Bulan yang seperti dipaksa oleh Juno, tengah malam perempuan ditarik paksa oleh laki-laki, siapa yang tidak curiga.
“Ehh… gak apa-apa A… saya kaget aja” Bulan cepat-cepat berubah sikap sambil terus berusaha menurunkan tangan Juno yang masih mencengkram lengannya.
“Istri saya lagi ngambek Mas… biasa perempuan kalau ngambek suka minta pulang” Juno tertawa di paksa, yang langsung disambut dengan tatapan maut Bulan.
“Udah jangan marah sekarang nanti orang-orang pada ngeliatin” bisik Juno sambil tersenyum lembut, kembali Bulan menarik tangan Juno yang menggenggam erat tangannya. Kali ini Juno mengalah dan membiarkan Bulan sendiri.
“Aku parkir di sana” tunjuk Juno sambil berjalan lebih dulu, dengan malas Bulan mengikutinya diiringi tatapan petugas travel yang tersenyum melihatnya.
“Ngambeknya jangan lama-lama teh… nanti suka kangen” goda petugas travel sambil kembali merapikan kelengkapan mobil yang akan berangkat. Ingin rasanya Bulan mengacungkan satu jari kepada petugas itu. Dasar laki-laki pikirnya, pasti gak jauh kelakuannya sama si Junaedi.
Juno berjalan lambat mencoba mengiringi Bulan yang ada di belakangnya.
“Cepat juga yah sampainya padahal weekend” Juno mencoba membuka percakapan, tapi Bulan seperti tidak mendengar ucapannya, mukanya datar tanpa ekspresi.
“Untung saja tadi travelnya istirahat dulu di rest area jadi aku bisa ngejar” sambungnya lagi, Bulan masih diam tidak menjawab apapun.
Juno membukakan pintu penumpang dan memastikan Bulan masuk dan duduk, kemudian langsung berlari ke bangku pengemudi.
“Tadi aku ngebut banget dari Jakarta, sampai kadang 150 km/jam rata-rata di atas 100 lah….hehehehhe”
“Set...set...set… aku kaya Ayrton Senna… hehehe keren” Juno tertawa-tawa sendiri mengingat kelakuannya tadi di jalan tol.
“Sepanjang jalan malah aku melipir mengambil posisi di sisi kiri jalan… ngelewatin truk-truk gede”
“Tadi nyaris aja ada truk berhenti di sisi jalan, untung aku gak ngantuk langsung banting stir ke kanan….hehehe”
Bulan melirik dengan kesal, tapi masih diam seribu bahasa.
“Kamu tau gak tadi pas di rest area aku ngeliatin kamu keluar dari mart… kamu kaya yang celingukan nyariin siapa sih?”
“Hampir saja aku turun nyamperin, tapi kamu keburu masuk ke travel”
Bulan menoleh menatap suaminya, seperti ingin bicara tapi masih menahan diri, tatapannya semakin terlihat kesal, akhirnya mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil dengan tangan dilipat di dada.
“Ini kan sudah malam, kalau kita datang ke rumah kasian Bapak” suara Juno terdengar rendah membujuk.
“Malam ini kita nginap di hotel saja, besok pagi-pagi baru ke rumah, gimana?” tanya Juno menatap Bulan yang masih memalingkan muka melihat ke arah luar.
“Hei… gimana setuju?” tangan kiri Juno menyentuh paha Bulan sambil sedikit mere mas kencang yang langsung dikibaskan dengan kasar oleh Bulan.
“Hmmm... masih ngambek yah” keluh Juno saat tangannya dikibaskan kasar.
“Aku tuh beresin kerjaan di kantor, supaya gak bolak balik jadi nginep di kantor kan ada sofa kamu tahu sendiri kan?”
“Alhamdulillah tadi udah serah terima semua laporan sama Arvian”
“Pas mau pulang eh staf pada pengen Farewell Party jadi tadi sejak magrib pada ngumpul ke Three Buns, aku kan udah share lock sama kamu supaya nyusul”
Juno menggaruk-garuk leher belakangnya seperti kebingungan harus menjelaskan apa. Bulan masih memalingkan muka melihat keluar jendela. Akhirnya di mobil hanya ada keheningan.
“Kita nginep disini aja yah, biar deket nanti kalau pulang ke rumah” Juno membelokan mobil ke hotel transit yang ada di daerah Setiabudi. Bulan seperti tidak peduli, menyandarkan dirinya ke kursi sambil sesekali menarik nafas panjang seakan ingin mengeluarkan beban di hatinya.
Untungnya parkiran masih ada yang kosong sehingga mereka dapat segera memarkirkan mobil tanpa kesulitan.
“Aku turun dulu, ngecek ada kamarnya gak. Atau mau barengan turun?” tanya Juno, namun Bulan masih membisu, Juno menarik nafas panjang sambil tersenyum kecut.
“Ngambeknya nyeremin gini… aku bawa tas kamu ah…. khawatir kabur” ucapnya sambil menarik tas yang disimpan di pangkuan Bulan.
Bulan yang tengah diam melamun kaget dan tidak siap saat tasnya diambil Juno
“Isshhh…” teriaknya hendak mengambil tasnya kembali tapi Juno sudah keluar lebih cepat, dengan kesal akhirnya Bulan menyusul keluar dari mobil.
Di dalam hotel dilihatnya Juno di meja resepsionis sedang memesan kamar, kalau dari bahasa tubuhnya tampaknya mereka mendapatkan kamar untuk malam ini. Dan betul saja, Juno menghampiri sambil membawa kunci kamar.
“Kamu duluan ke kamar, aku bawa tas di mobil dulu” ucapnya sambil memberikan satu kunci kamar pada Bulan, tatapan dari petugas resepsionis yang menatap Bulan lekat seakan mereka sepasang kekasih yang hendak bermalam di hotel. Tatapan kesal Bulan langsung membungkam senyuman yang terbit di muka petugas hotel.
Di kamar Bulan duduk tepekur, bingung harus bersikap bagaimana dengan Juno, antara kesal tapi dia memahami alasan Juno untuk menyelesaikan pekerjaan. Yang tidak ia sukai adalah sikap Juno yang meremehkan tidak menjawab telepon dan pesan dirinya seakan tidak berarti. Untuk apa ia menjadi istri kalau kemudian tidak dianggap keberadaannya.
Saat Juno masuk ke dalam kamar Bulan menatapnya lekat, ia membawa tas kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan pakaian cadangan. Menatap Bulan dengan senyuman yang terlebar yang pernah diberikan pada istrinya, tapi yang diberikan senyuman menatapnya lurus tanpa ekspresi bahkan membuang pandangan.
Juno kembali menarik nafas panjang melihat sikap Bulan yang masih bermusuhan, ia tidak menyalahkan karena memang Ia merasa kalau ia berbuat salah. Hanya saja ia juga bingung harus bagaimana lagi meminta maaf, sikap Bulan yang memilih diam membuatnya tidak tahu harus berbuat apa, kalau boleh memilih dia lebih suka dimarah-marahi daripada didiamkan seperti ini.
Begitu Juno mendekat, Bulan langsung berdiri dan beranjak ke kamar mandi, tapi ditahan oleh Juno.
“Jangan marah terus dong, aku jadi bingung mesti ngomong gimana lagi?” ucapnya sambil menarik lengan Bulan yang hanya menatap diam ke arah tangan Juno yang mencengkram tangannya.
“Kamu galak banget sih kalau marah” keluh Juno sambil melepaskan genggaman tangannya di tangan Bulan.
Bulan akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri, seharian diluar dan ia perlu mandi untuk menyegarkan diri, tapi saat akan membuka baju ia baru ingat tidak membawa baju ganti. Tidak mungkin ia memakai baju kantor untuk tidur dan pakaian dalamnya juga sudah kotor. Ia hanya membawa mukena di tasnya. Tapi ia ingat kalau Juno membawa tas baju ganti dari mobil pasti ada kaos yang bisa dipinjamnya.
Keluar dari kamar mandi disambut tatapan Juno yang menatapnya lekat,
“Kenapa gak ada handuknya?” tanya Juno sambil bangun, Bulan tidak menjawab hanya melihat ke arah tas baju ganti Juno yang tergeletak di ujung tempat tidur. Tanpa banyak bicara membongkarnya dan mengambil kaos Juno, sempat bingung saat melihat celana boxer milik suaminya tapi akhirnya diambilnya tanpa banyak bicara dan kembali masuk ke kamar mandi. Melihat Bulan yang mengambil pakaian gantinya dari tas, Juno hanya tersenyum tertahan, tidak sabar melihat penampilan istrinya keluar dari kamar mandi.
Betul saja saat keluar dari kamar mandi, hanya memakai kaos putih tanpa dalaman membuat gunung alami tercetak nyata, Bulan masih memakai handuk di bagian bawahnya menutupi kaki yang hanya memakai boxer milik Juno, setiap pergerakan Bulan tidak lepas dari tatapan Juno yang mengintai seperti pemangsa.
Melihat Bulan yang menjalankan sholat isya mengingatkan Juno untuk segera membersihkan diri agar bisa segera berdekatan dengan istrinya yang sudah tiga hari tidak bertemu. Melompat dan bergegas ke kamar mandi tanpa menunda waktu. Saat ia keluar dari kamar mandi Bulan sudah menggulung dirinya dengan selimut.
Sholat Isya pun terasa lama, membayangkan dirinya ingin segera masuk ke dalam selimut untuk bergulung bersama Bulan. Membuat Juno berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan konsentrasi agar bisa khusyu menjalankan sholat isya.
Begitu salam, tanpa babibu ia langsung melompat ke tempat tidur. Belum sempat ia memeluk Bulan, cengkraman tangan Bulan sudah menahan mukanya untuk mendekat. Mata Bulan yang tadi terlihat tertutup sudah tidur ternyata hanya berpura-pura, saat ini tengah menatapnya dengan tatapan seperti menghakimi.
“Aduuuuh udah dong jangan terus-terusan marahnya aku kangen pengen meluk kamu” suara Juno terdengar merajuk, bayangan tubuh Bulan hanya berbalut kaos putihnya terbayang di matanya.
Bulan mengacungkan handphone di depan muka Juno, sebagai tanda memintanya untuk melihat handphone. Dengan malas Juno meraih handphone di meja samping tempat tidur, ternyata sudah ada pesan Bulan disana.
“Aku sekarang gak akan mau ngomong sama A Juno lagi”
“Seenaknya aja… mencari aku cuma butuh untuk **** saja…”
“Memangnya aku mahluk PEMUAS *****”
“Kok kamu ngomongnya begitu sih, yah enggak dong masa aku menganggap kamu serendah itu?” protes Juno kesal. Kembali Bulan mengacungkan handphone kemudian menuliskan pesan.
“Mulai sekarang gak ada jawaban lisan, kalau mau jawab tulis di hp”
Juno menarik nafas kesal, posisi Bulan yang menjauh dari sisinya dan duduk bersandar di dinding sehingga tidak bisa di raihnya.
“Iya...iya Aa minta maaf, kan udah dibilangin ngerjain tugas supaya cepat beres jadi nginep di kantor” tulis Juno sambil cemberut.
“Kamu tuh gimana sih masa dua orang berhadapan tapi ngobrolnya pake hp”
“Katanya kamu gak suka sama phubbing sekarang kamu phubbing” sambil menulis Juno sesekali melirik Bulan yang sudah tampak terkantuk-kantuk.
“Iya memang, kalau ngejawab pesan orang aja sampai dibela-belain dijawab tapi kalau aku kirim pesan sama sekali gak dibalas”
“AKU BENCI SAMA A JUNO” tatapan Bulan yang nanar sampai berkaca-kaca menulisnya.
Juno menunduk dengan perasaan bersalah. Sesekali melihat ke arah Bulan yang sudah mulai menangis, ia jadi serba salah.
“Ya maaf, aku gak berpikir panjang” ucapnya lagi, disimpannya handphone dan kemudian maju beranjak mendekati Bulan. Melihat pergerakan Juno, Bulan langsung menoleh dan kembali menulis di hpnya.
“Stop… kalau mendekati aku terus aku mau keluar dari kamar… gak peduli cuma pake handuk”
Melihat Bulan kembali menulis pesan akhirnya Juno kembali meraih handphone dan membacanya. Menarik nafas panjang dan kemudian menuliskan pesan.
“Iya-iya aku gak akan mendekati kamu, jadi mau kamu apa?”
Akhirnya keduanya duduk termangu sambil berjauhan menatap handphone, sesekali Bulan mengusap air mata dipipi.
“AKU SAKIT HATI”
“Iya maaf… aku gak akan gitu lagi … maaf ya sayang”
“A Juno tuh nganggap aku apa? Aku tuh kan khawatir ngeliat muka A Juno sampai luka sama lebam”
“Gak nganggep sama perasaan aku… gak mikirin apa kalau aku tuh khawatir”
“Mungkin memang A Juno gak pernah nganggap perasaan aku” air mata Bulan mengalir semakin deras, sambil sesekali mengusap air mata di pipi dan ingus yang mengalir… sroooks.
Juno menunduk perasaan bersalahnya terasa semakin besar melihat Bulan yang menangis tapi mencoba ditahan.
“Jangan nangis gitu dong… aku jadi sedih” tulis Juno,
“GAK PEDULI… MAU SEDIH MAU MARAH AKU SEKARANG UDAH GAK PEDULI”
“SANA DIEM DI KANTOR”
“Uhuuuu….uhuuuuuu” yang terdengar hanya suara tangis Bulan yang tertahan sambil bersandar di dinding.
Juno akhirnya tidak tahan, dengan sekali gerakan langsung duduk di sisi Bulan yang kaget melihat Juno tiba-tiba sudah berada disisinya, berusaha menjauh tapi sudah keburu di dekap oleh suaminya.
“Maaf… Maaf sayang, aku gak kepikir kalau kamu sekhawatir itu… kamu tau kan aku gak apa-apa… cuma kepukul dikit…”
“Aku cuma minum obat sakit aja…”
Bulan berontak berusaha melepaskan diri tapi pelukan Juno terlalu kuat sampai akhirnya ia melemah sendiri sambil menangis.
“Udah jangan nangis dong… duh aku jadi merasa bersalah gini”
Juno menciumi rambut Bulan dengan penuh rasa sayang, didekapnya perempuan yang masih bergetar karena sisa tangisannya. Sambil menangis Bulan masih sempat menulis di hapenya,
“Ngapain juga nyusul aku… ” sambil memeluk Bulan, Juno bisa melihat apa yang dituliskannya di hp.
“Yah kan aku bilang kerjaan aku udah selesai, jadi aku bisa pulang”
“Anggap aja kemarin aku lagi tugas keluar kota… kaya ke Surabaya gitu… “
“BEDA….. 😠“ emoticon marah langsung keluar dari pesan.
Juno terkekeh melihatnya,
“Hahahahaha kenapa yah tulisannya kebaca sama aku kaya pake nada suara kamu” tiga hari tidak bertemu dengan Bulan membuat Juno merasakan kerinduan yang kuat memeluk perempuan di depannya.
“Kangen banget meluk kamu” ucapnya sambil mencium dengan gemas.
“Gak usah cium-cium… sana cium aja kerjaan” masih saja bertahan menuliskan pesan di hp membuat Juno semakin gemas melihatnya.
“Sampai kapan mau nulis disitu? Gak mau ngomong sama AA?” ucap Juno dengan suara menggoda sambil menyebutkan kata AA.
“A Juno tiga hari gak mau menjawab pesan dari aku, jadi selama tiga hari kedepan aku gak mau ngomong”
“Aa mesti dibiasakan nulis pesan dan ngejawab pesan dari aku” tulis Bulan, kali ini ia menutup layar teleponnya sehingga terpaksa Juno mengambil hp nya untuk membaca.
“Iya.. iya aku nyerah...boleh dihukum gimana juga… udah berlaku mulai hari ini yah”
“Jadi besok masuk hari kedua”
Bulan diam sambil cemberut. Sisa-sisa air mata masih basah di pipinya.
“Tidur yuk… udah mau jam dua.. Besok mau pulang jam berapa ke rumah?” berusaha membujuk yang marah supaya berhenti menangis.
“Sebangunnya aja, aku pusing kepalanya” Bulan berusaha melepaskan diri dari pelukan Juno. tapi malah diangkat dan ditidurkan.
“Makanya jangan nangis gitu… kalau marah jangan suka sambil nangis nanti pusing” menyelimuti tubuh mereka berdua, Bulan baru sadar kalau dari tadi Juno tidak memakai baju hanya memakai celana pendek, yah baju kaosnya dia pakai.
“Sudah kita tidur sekarang…” Juno menarik nafas panjang, tidak masalah kalau Bulan masih menghukumnya yang penting sudah mau dipeluk dan didekap seperti sekarang.
“Muneey….” bisiknya
“Kalau kita ngobrolnya pake pesan…. Ntar kalau lahiran anaknya jadi baterai dong…” goda Juno sambil memejamkan mata
Hanya pukulan yang ia rasakan di dadanya, pukulan manja sehingga tidak membuatnya sakit padahal itu adalah bekas pukulan Kevin….
“Mudah-mudahan besok bisa nge charge yah… supaya pesannya nanti terkirim lancar” sambung Juno, tapi tidak ada lagi pukulan, diliriknya perempuan yang tengah dipeluknya rupanya telah tertidur.
Iya ngecharge nya besok aja… nunggu low baterai...