Rembulan

Rembulan
Mengertilah


"Athar tunggu" Suara mama Vina menggema di lorong rumah sakit, kini langkah kakinya pun ikut menggema seiring sepatu heels yang dia kenakan berbenturan dengan lantai rumah sakit.


"Apa-qpan kamu ini" Mama Vina menarik lengan putra bungsunya menjauh dari kedua orang tua Kenanga.


"Mama.." Athar terkejut saat melihat Mamanya kini berdiri tepat di sampingnya.


"Cukup sudah putri kalian membuat putraku malu, membuat putraku menderita beberapa tahun ini. Untuk apa sih putri kalian datang kembali dalam kehidupan putra saya? apa karena dia butuh pendonor ginjal? Pinta saja milik suaminya. Untuk apa meminta ginjal putra saya?? pria yang sudah di sakitinya" Mama Vina tak bisa lagi menahan emosinya. Benar-benar tak bisa melihat Athar kehilangan sebelah ginjalnya untuk Kenanga


"Mah.. bukan seperti itu" Athar mengusap lengan mamanya,berharap mamanya bisa mengontrol emosinya. Sementara kedua orang tua Kenanga hanya diam saja tak menjawab. Keduanya juga merasa bersalah bila Athar memang benar mendonorkan ginjalnya. Tapi mau apa di kata, Kenanga saat ini benar-benar membutuhkan transplatasi secepatnya.


"Bukan begitu bagaimana Athar?? Mama tidak bodoh!! Kamu fikir hidup dengan sebelah ginjal itu mudah???hidupmu sudah cukup menderita nak"


"Ma ayo kita bicara.. " Athar menarik lengan mamanya menjauh dari kedua orang tua Kenanga.


Kini Athar dan mamanya sudah berdiri di ujung lorong yang sepi. Athar menatap kedua bola mata ibunya, wanita yang sudah dengan penuh cinta merawatnya sedari kecil, bahkan wanita yang selalu setia berada di sampingnya di masa tersulit dalam hidupnya, mengusap punggungnya, menenangkan harinya saat Kenanga menorehkan luka beberapa tahu. silam.


"Ma, jangan salah paham. Athar melalukan ini semua murni karena kemanusiaan"


"Kemanusiaan katamu nak?? Kalo memang karena kemanusiaan, coba kau berikan sebelah ginjalmu pada orang lain?? mama yakin betul di rumah sakit ini pasti sudah banyak yang mengantri mendapatkan donor ginjal bukan??" Ucap mama Vina sinis


Athar terdiam, kali ini ucapan mamanya benar-benar membungkam mulutnya. Dirinya tak tahu harus berkata bagaimana lagi.


"Kenapa diam?? Mama tahu kau belum bisa melupakan gadis itu bahkan setelah semua yang terjadi. Mama paham kalau gadis itu adalah wanita pertama yang bisa merebut hatimu nak. Tapi kau harus berfikir realistis, dia sudah memiliki suami. Dia bukan tanggung jawabmu" Mama Vina menepuk pundak putra bungsunya.


"Ma..."Athar tak sanggup membuka mulutnya lebih lama, hatinya sakit, hatinya tak bisa melihat Kenanga pergi selamanya dari hidupnya. Bahkan tanpa terasa bulir air mata menetes di wajah pria tampan itu.


Athar tak akan mau melihat Kenanga pergi selamanya, setelah apa yang terjadi beberapa tahun silam. Athar paham betul betapa terlukanya Kenanga saat itu di tinggalkan oleh Riko di acara pernikahan mereka. Dan setelah itu, Riko kembali datang untuk menghancurkan pernikahan Kenanga dengan dirinya. Kenanga sudah sangat menderita sejak dulu. Jadi saat ini Athar hanya berharap bila donor ginjal ini akan berhasil dan setidaknya Kenanga di beri kesempatan untuk merasakan hidup yang sedikit lebih lama dan membahagiakan dirinya sendiri.


"Apa-apaan kamu ini?? Jangan menangis untuknya. Ayo kita pulang" Mama Vina menarik lengan putranya.


Namun Athar menahan mamanya, dengan perasaan yang tidak jelas, Athar perlahan membuka mulutnya, dengan perasaan yang berat Athar mulai menceritakan apa yang Kenanga alami, alasan Kenanga membatalkan pernikahan mereka berdua. Serta kehidupan Kenanga selama beberapa tahun silam. Athar menyampaikan kalau Kenanga juga telah mendapatkan surat pembatalan pernikahan dari pengadilan agama.


"Athar mohon ma, biarkan Athar membantu Kenanga. Athar mencintainya ma" Athar memohon kepada mamanya. Mama Vina benar-benar tidak menyangka putra bungsunya begitu mencintai Kenanga.


Meski dengan semua yang telah terjadi, Mama Vina bisa memahami posisi Kenanga saat itu, tapi bukan berarti Mama Vina membenarkan apa yang Kenanga lakukan. Seharusnya meski apa yang telah terjadi, alangkah baiknya Kenanga datang menemui Athar, menjelaskan semuanya, meminta maaf kepada putranya, entah bagaimana responnya itu seharusnya sudah menjadi konsekuensi Kenanga. Tapi yang terjadi sebaliknya Kenanga malah menghilang tanpa jejak begitu saja.


"Ma, Athar mohon..." Athar kini berlutut dan bersimpuh di hadapan mamanya.


"Athar..." Mama Vina mencoba membangunkan putra bungsunya, namun. Athar tak bergeming.


Empat jam kemudian...


Kini mama Vina berdiri mondar-mandir di depan ruang operasi, dirinya benar-benar merasa kawatir dengan kondisi putranya di dalam sana. Begitupun kedua Kenanga sedari tadi tak hentinya pula berdoa semoga operasinya berjalan dengan baik dan lancar, dan baru beberapa menit yang lalu pula Athira datang ke rumah sakit untuk menemani mamanya serta menunggu adiknya. Lampu ruang operasi ya g terpasang tepat di atas pintu ruangan tersebut padam, menandakan kalau operasinya juga sudah di selesaikan. Tak lama kemudian pula dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana operasinya dok??"Mama Vina bertanya dengan tidak sabar


"Maafkan kamu bu" Suara dokter itu terlihat begitu menyesal.


"Transplatasinya berjalan dengan baik, Tapi detik-detik akhir, dokter Athar mengalami pendarahan hebat dan saat ini kondisinya koma" sambungnya


Mama Vina begitu kaget hingga jatuh meluruh ke lantai, tubuhnya begitu lemas tak berdaya saat ini. Belum sembuh dari rasa terkejut, kini Athar di bawa keluar dari ruang operasi dengan alat bantu kehidupan yang begitu banyak menempel di tubuh putranya. Bahkan selang ventilator juga sudah terpasang disana. Hati mama Vina hancur melihat kondisi putranya yang begitu mengenaskan. Bahkan beberapa jam lalu dirinya masih bisa berdebat dengan putranya. Athira mencoba kuat meski dirinya sebenarnya juga tak kalah terkejutnya melihat kondisi adiknya. Dengan sekuat tenaga Athira membantu mamanya untuk bangun mengikuti Athar yang akan di pindahkan ke ruang rawat.


Kini Vina hanya bisa menatap putranya yang memejamkan mata dengan begitu tenang, alat-alat kehidupan menempel di sekujur tubuh putranya. Entah apa yang akan dirinya katakan kepada suaminya jika suaminya pulang dari Jepang nanti. Vina benar-benar menyesal sudah memberikan izin pada Athar melakukan donor ginjal untuk Kenanga.


"Athar bangun sayang, bangun nak" Mama Vina menangis tersedu menggoyangkan tubuh putranya yang tetap diam tak menjawab.


Athira juga tak kuasa menahan lagi air matanya, kedua wanita itu kini saling memeluk satu sama lain untuk menguatkan. Athira tak menyangka kalau adiknya rela mengorbankan hidupnya demi wanita yang dirinya kasihi. Athira berharap setelah Kenanga sadar nanti, Kenanga bisa membuka mata dan bisa menerima adiknya. Dan Athira juga berharap kalau Athar akan segera membuka matanya dan sadar, bisa membangun kehidupan yang bahagia bersama wanita yang adiknya pilih.


.


.


.


.


.


.


.


.


. THE END