
Terhitung sudah dua pekan ini Athar dan Kenanga menghabiskan waktu bersama, keduanya banyak sekali melakukan banyak hal yang membuat hubungan keduanya semakin dekat. Bahkan, bisa di bilang kemajuan hubungan mereka berdua banyak sekali mengalami kemajuan. Kedua orang tua Kenanga juga sudah mengetahui rencana pertunangan putri mereka dengan Athar, tak hanya itu kedua orang tua Athar juga sudah berkunjung ke kediaman rumah Kenanga dua hari yang lalu untuk menyampaikan rencana pertunangan antara Athar dan Kenanga.
"Bibi, coba rasakan apakah menurut bibi sudah enak?" Kenanga membawa mangkuk kecil berisikan sop ayam yang baru saja dirinya buat
"Enak sayang.." jawab Mama Vina setelah mencoba mencicipi sop ayam buatan Kenanga
"Yang benar bibi? Bibi tidak bohong?" Kenanga sedikit ragu
"Enak sayang, calon istri putra bibi sangat pandai memasak" puji Mama Vina senang, pujian Mama Vina membuatnya tersipu malu.
Entahlah meski baru mengenal tapi Mama Vina sangat baik terhadap dirinya, membuat Kenanga sangat merasa nyaman, bahkan kedua orang tua Athar sama sekali tidak memandang perihal materi yang di miliki oleh keluarga Kenanga, bahkan setelah kedua orang tua Athar berkunjung ke rumahnya. Perlakuan baik dari kedua orang tua Athar membuat Kenanga sangat terharu, dan semakin memantapkan hati kalau keputusannya menerima Athar adalah keputusan yang tepat.
"Kenanga? ada apa?" Mama Vina mengerutkan keningnya saat melihat Kenanga malah melamun
"Tidak Bibi, tidak ada apa-apa" Kenanga mengulas senyumannya
"Benarkah?"
"Iya bibi" jawab Kenanga meyakinkan
"Oh iya sayang, besok temani bibi membeli beberapa pakaian ya. Putri sulung bibi dia sangat sibuk bekerja dan mengurus kedua anaknya, jadi dia tidak pernah memiliki waktu menemani bibi berbelanja"
Kenanga terdiam, bukannya Kenanga tidak mau menemani mama Vina berbelanja, melainkan Kenanga bingung apakah uangnya akan cukup untuk membayar belanjaan mama Vina, karena tidak mungkin Kenanga membiarkan Mama Vina membayar barang belanjaannya sementara ada dirinya yang menemani.
"Kenanga? bisa kan?" Mama Vina menatap penuh harap
"Besok Kenanga bekerja bibi, mungkin sehabis pulang bekerja baru memiliki waktu"
"Tidak apa-apa, nanti bibi jemput ya"
"Jangan bibi, Kenanga yang datang kemari" tolak Kenanga
Kenanga kembali menyiapkan makanan yang sudah di masak olehnya bersama Mama Vina, sementara Mama Vina menyiapkan piring dan gelas di atas meja, di susul dengan Athar dan papa Zanaka terlihat masuk bergabung di meja makan. Suasana makan di keluarga itupun sangat hangat. Bahkan Kenanga juga sudah beberapa kali makan bersama di rumah kedua orang tua Athar. Setelah makan malam bersama, Athar mengantarkan Kenanga pulang ke rumah kedua orang tuanya.
"Kenanga" Athar meraih tangan Kenanga yang sudah hendak menyentuh pintu mobil untuk keluar
"Ya, ada apa?" Kenanga mengurungkan niatnya dan memiringkan tubuhnya menatap Athar
"Terimakasih untuk semuanya"
"Astaga, sudah berapa kali kau mengatakan itu padaku?" Kenanga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
"Terimakasih karena sudah membuat mama ku akhir-akhir ini merasa terhibur karena kehadiranmu" Tangan Athar menyentuh pipi Kenanga, mengusapnya menggunakan ibu jarinya dengan lembut dan penuh perasaan
Kenanga mematung, hangat telapak tangan Athar membuatnya merasa nyaman, setelah dua pekan bersama ini kali pertama Athar menyentuhnya.
"Terimakasih sekali lagi.."
"Bu-bukankah dokter juga sering melakukan hal yang sama saat aku berada di surabaya? mama sudah menceritakan semuanya" jawab Kenanga setenang mungkin meski saat ini jantungnya terasa meletup-letup di dalam dadanya di perlakukan sebegitunya oleh Athar
Athar mengulas senyumannya "Itu karena aku.."
Tak ada lanjutan dari perkataannya, bibirnya tiba-tiba terasa kelu saat ingin mengutarakan perasaannya yang sebenarnya pada Kenanga, sementara Kenanga mengerutkan keningnya menantikan kata selanjutnya yang akan di utarakan Athar padanya.
"Karena apa dok?"
"Ah... itu .." Athar tergagap dan terbangun dari lamunannya
"Iya karena apa..?"
"Oh iya, mama bilang besok kalian akan pergi berbelanja sepulang kau dari kantor?" Athar mengalihkan pembicaraannya dan menjauhkan tangannya dari pipi Kenanga
"Hm iya.." jawab Kenanga sedikit datar, kepergian tangan Athar membuat pipinya kembali merasa dingin di terpa hawa pendingin di dalam mobil Athar
"Besok aku akan menjemputmu sepulang bekerja" Athar mengacak-acak puncak kepala Kenanga dengan gemasnya
Athar hanya terkekeh saat melihat Kenanga mengerucutkan bibirnya, rasa-rasanya Kenanga sangat menggemaskan. Membuatnya semakin ingin cepat menggelar acara pertunangannya lantas kemudian menikah.
"Sudahlah, aku masuk dulu ke rumah" Kenanga membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya.
"Jangan tidur terlalu larut" Athar membuka kaca mobilnya dan mengingatkan Kenanga.
"Baik pak dokter" jawab Kenanga
Athar kembali tersenyum, hari-harinya terasa sangat menyenangkan dua pekan ini, begitu pula dengan Kenanga yang selama sepekan ini sudah bisa tidur dengan tenang, kehadiran Athar membuat mimpi buruknya akan kegagalan menikah perlahan mulai menghilang. Setelah melambaikan tangan, mobil Athar perlahan meninggalkan halaman rumah Kenanga.
"Aku sangat beruntung di pertemukan dengannya, Tuhan, terimakasih" ucap Kenanga
Kenanga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, saat baru saja menutup pintu rumah, Kenanga mendengar ada deru mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Baru saja bertemu, sudah kembali lagi" Kenanga tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Dokter pasti merindukanku kan..." Ucap Kenanga sambil membuka lebar pintu rumahnya.
Namun kedua matanya di buat terkejut saat melihat bukan Athar yang duduk di sana, seorang pria bertubuh tegap dan kekar berdiri di ambang pintu rumahnya, setelan jas berwarna hitam dengan dasi senada di padukan dengan kacamata hitam yang menghiasi kedua matanya membuat kesan maskulin begitu terasa namun tidak dengan Kenanga, Kenanga sama sekali tidak merasa terkesan.
"Kenanga? Apa kabar?" Riko melepaskan kacamata yang membingkai kedua matanya
"Baik, sangat baik" jawab Kenanga tenang
"Kau tidak menyuruhku masuk?" Riko mengangkat kedua alisnya ke atas
"Maaf, di rumah sedang tidak ada mama dan papa, jadi jika ada yang ingin kau katakan silahkan katakan sekarang"
Kenanga terlihat begitu tenang, meski hatinya saat ini sedang terkoyak hebat, luka lama yang sudah dia usahakan untuk sembuh kini harus kembali tergores, rasa trauma seakan kini menguasai diri Kenanga. Meski Kenanga tak lagi menyimpan perasaan apapun pada Riko, tapi rasa traumanya benar-benar di rasa sangat mengerikan. Kenanga kembali teringat saat kepergiannya ke Surabaya, selama setahun pertama Kenanga harus pulang-pergi ke psikolog untuk mengobati rasa trauma yang dia derita.
"Kenanga, terimakasih sudah menungguku sekian lama"
"Menunggumu? cih" Ucapan Kenanga terdengar sangat sinis
"Aku sudah menguburmu dan menganggap dirimu mati. Kenanga yang bodoh sudah mati bersama dengan kepergianmu saat hari itu. Dan saat ini yang berdiri di hadapanmu adalah Kenanga yang tak akan lagi mau di bodohi oleh mu" bentak Kenanga. Tak ingin membuat dirinya membuang energi, Kenanga langsung masuk ke dalam rumah, bahkan membanting pintu rumahnya dengan begitu keras
"Kenanga aku tau kau belum menikah pasti karena menungguku" suara Riko kembali terdengar meski pintu rumah Kenanga sudah tertutup rapat.
Kenanga menutup telinganya rapat-rapat supaya tidak bisa mendengar apapun yang Riko katakan. Untungnya saja kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota mengunjungi kerabat jauh sekaligus mengundang mereka untuk hadir pada acara pertunangan Kenanga yang akan di gelar tiga pekan ke depan.
Kenanga berusaha untuk tidak menangis, berusaha sekuat tenaga menguasai dirinya supaya tidak di kuasai oleh trauma. Namun kepala Kenanga terasa semakin pusing, dadanya terasa sesak.
"Ah..." Kenanga menjerit menarik rambutnya bahkan Kenanga membenturkan kepalanya ke pintu
Kenanga merasa tak bisa mengendalikan emosinya, kemarahan, kebenciannya terhadap Riko membuat Kenanga hingga merasa seperti sekarang ini. Kenanga berusaha mengambil ponselnya, hanya ada satu nama saat ini. Dengan tangan bergetar Kenanga menekan nomor ponsel Athar.
Sementara itu, Athar baru saja tiba di rumahnya, belum sempat turun dari mobil, Athar melihat layar ponselnya menyala dan menampakkan nama Kenanga di layar tersebut, senyuman di bibir Athar terbit.
"Hallo, apa kau sudah merindukanku?" jawab Athar begitu senang
"Ahhhhh" Bukan jawaban manis yang Athar dengar, melainkan jeritan suara Kenanga yang dirinya dengar.
Seketika Athar menjadi panik "Kenanga? ada apa?"
"Kenanga? apa yang terjadi?"
Tak ada jawaban lagi dari Kenanga meski panggilannya masih terhubung dan belum terputus, Athar di buat sangat panik saat ini.
"Kenanga? tolong jawab aku" Athar berusaha kembali memanggil Kenanga namun hasilnya nihil
Athar meletakkan ponselnya dengan asal dan kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Saat ini Athar hanya ingin segera tiba di rumah Kenanga untuk memastikan keadaan wanita itu.