
Sepanjang perjalanan, Bulan berpikir keras, kenapa Inneke datang ke Ruko? Darimana dia tahu alamat Ruko?. Pandangannya terarah pada Juno tapi laki-laki itu terlihat sama saja, tidak tampak gugup ataupun senang. Masih dalam mode diam dan dinginnya.
“Kira-kiranya ada apa yah Kak Inne datang ke Ruko?” tanya Bulan sambil menatap suaminya. Juno hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
“Untung ada Mbak Sarah yah di rumah, padahal tadi pagi dia keluar mau ketemu sama klien katanya” sambung Bulan.
“Kenapa disebut Tinkerbell yah?” tanyanya lagi.
“Katanya Mimi Peri” ucap Juno sambil tersenyum, bibirnya hanya terangkat sedikit. Bulan langsung cemberut.
“Meni seneng yang mau ketemu mantan sampai senyam senyum” ucapnya ketus
“Aku ketawa membayangkan Mimi Perinya bukan dia… kok kepikir nyebut dia Mimi Peri”
“Sudahlah jangan berpikir macam-macam… aku tidak mengundang dia datang dan gak tau kalau dia akan datang”
“Anggap saja dia perempuan biasa seperti halnya Sarah"
“Jangan overthinking” ucapnya tenang. Bulan menarik nafas panjang dan mengangguk.
“Iyaa… maaf… gak mikir apa-apa sih, cuma aneh aja tiba-tiba datang”
“Ok… santuy” ucapnya dengan senyum lebar.
“Aku sekarang tinggal kirim email ke perusahaan yang dulu proyeknya Aa kerjakan, minta letter recommendation”
“Aku pake email Aa yah biar personal langsung” tanya Bulan. Juno mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar istrinya penuh semangat untuk membuat rencana mencari investor membuatnya menjadi tidak tega.
“Jangan terlalu berharap banyak… nanti kecewa” ucapnya tenang.
“Iya… ini mah ikhtiar aja.. Paling tidak sudah berusaha… soalnya hasilnya gimana yang di Atas” jawab Bulan.
“Nanti aku bantu juga cari investor, mudah-mudahan saja bisa menambah modal usaha kita” sambung Juno tenang.
“Hindari pinjaman ke Bank A… Soalnya Riba.. kalau investor kita sistemnya jelas, dia invest berapa nanti bagi hasil berapa persen dalam kurun waktu berapa lama” jelas Bulan sambil mengerutkan dahi. Mereka telah sampai di depan Ruko dan ia langsung mengenali mobil asing yang tampak mewah terparkir di depan Ruko.
“Mobilnya Kak Inne bagus gitu yah” ucap Bulan, mobil berwarna putih mengkilat tampak mencolok kalau dibanding dengan mobil yang ada di Ruko. Juno hanya diam dan melirik mobil yang terparkir di sebelah. Mereka berdua beriringan masuk, tapi ternyata yang dicari tidak ada, rupanya Inneke naik ke lantai dua. Dan betul saja, perempuan itu tengah duduk bertumpang kaki di sofa, sementara Sarah duduk di meja makan sambil makan sereal.
“Kalian berdua kemana sih?… pergi gak bilang-bilang!” Sarah langsung menyambut dengan muka kesal.
“Memangnya aku Jin Penunggu Ruko musti stay tune terus disini… cari investor atuh Mbak” jawab Bulan sambil menyimpan dokumen di meja makan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Inneke.
“Halo Kak Inne wahh suatu kehormatan didatangi Ibu Kepala Cabang” ucapnya sambil tersenyum formal.
Pantas saja kalau Sarah tadi menyebut ada Tinkerbell ternyata dandanan Inneke benar-benar seperti Tinkerbell dengan rambut yang ditata sanggul kecil diatas, baju seragam atasan yang membentuk badan dengan pola asimetris sehingga mengesankan baju fantasi dalam film kartun. Rok span selutut yang semakin memperkuat siluet tubuh Inneke yang tinggi langsing. Duduk dengan kaki yang ditumpangkan memperlihatkan betisnya yang jenjang dan sebagian dari paha yang putih mulus.
Melihat godaan pemandangan seperti itu Bulan langsung ingat pada Juno yang berjalan di belakangnya. Tapi saat ia menoleh ternyata suaminya malah langsung masuk ke kamar.
“Ehh kok malah ke kamar?... sebentar Kak mau ke A Juno kan?” ucap Bulan sambil beranjak ke kamar. Sarah hanya memandangnya dengan tatapan yang lekat sambil menaikan alis sambil bertanya tanpa suara “Siapa?” Bulan hanya tersenyum kecut dan bergegas menyusul suaminya ke kamar.
“A itu Kak Innekenya udah nunggu” ucapnya sambil menatap Juno yang malah membuka baju.
“Aku mau solat dulu… suruh dia tunggu dibawah” jawab Juno singkat tanpa banyak basa basi. Bulan mengerti kalau suaminya ingin memposisikan Inneke sebagai tamu bukan teman dekat.
Saat ia keluar kamar Inneke tampak sudah menunggu dan menatapnya tajam dari atas sampai bawah, baru kali ini ia bertemu Bulan yang sudah mengenakan hijab.
“Kak… katanya diminta menunggu di bawah supaya nanti lebih enak ngobrolnya” Bulan mempersilahkan Inneke dengan memberikan tanda memintanya turun ke bawah, dengan enggan Inneke berdiri dan mengikuti Bulan beranjak turun.
“Ehh saya buatkan minum dulu yah sebentar” Bulan berbalik dan membiarkan Inneke turun sendiri.
“Siapa sih dia?” tanya Sarah sambil berbisik mendekati Bulan yang membuat minum. Setelah Juno masuk ke kamar mandi.
“Temen SMA nya si Abang” jawab Bulan pelan.
“Haah… boong gak mungkin teman biasa… gayanya belagu banget, gw tadi udah suruh tunggu dibawah ehhh malah naik keatas”
“Dia bilang katanya suaminya atasan elu dulu?!” sambung Sarah, Bulan mengangguk mengiyakan.
“Iya… dunia ini memang cuma selebar daun kelor… aku sekantor sama suami mantannya suami” jelas Bulan santai, mata Sarah langsung melotot kaget.
“Whaaat… cewek itu mantannya si Juno? Ahahahahhahaha” Sarah tertawa terbahak dengan keras, gantian Bulan yang melotot kesal khawatir terdengar ke lantai bawah.
“Kalah set lu sama dia… cantikan dia dibandingkan elu” ucap Sarah sambil tertawa sinis.
“Itu mah gw juga tau Mbak gak usah diomongin… tapi tetep weh yang nikah sama A Juno adalah si gw ini cewe bohay yang dicari-cari si Abang sampai ke Bandung...wee” ucap Bulan sambil menjulurkan lidah.
“Bohay..bohay… modal elu cuma bemper doang” sanggah Sarah.
“Jodoh mbak… jangan diprotes sudah rahasia yang diatas”
“Aku turun dulu… ayo sama Mbak Sarah… kali aja pengen tahu kaya gimana seleranya si Abang di masa lalu” ajak Bulan sambil membawa nampan minum.
“Males banget gw … mukanya belagu kaya gitu” jawab Sarah keras, Bulan langsung melotot suara Sarah pasti terdengar oleh Inneke.
Ternyata perempuan itu tengah duduk di meja rapat, sambil asyik bermain hape.
“Maaf menunggu Kak… tadi kita habis dari kantor A Juno dulu.. Gak tahu kalau Kak Inne mau kesini” ucap Bulan mencoba berbasa basi.
“Sudah lama tinggal disini?” tanya Inneke sambil menatap ke sekeliling ruangan.
“Hmmm lumayan hampir tiga bulan lebih”
“Sudah banyak proyek yang dikerjakan?” kembali Inneke menatap Bulan dengan lekat.
“Alhamdulillah sudah dua proyek yang berjalan makanya A Juno agak sibuk, trus akan ada proyek cafe juga tapi masih proses” jelas Bulan dengan bangga. Inneke mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Perempuan yang diatas siapa?” tanya Inneke sambil menunjuk ke atas.
“Ohhh Mbak Sarah, salah seorang desain interior kita juga, dia handle kerjaan yang Kuldesak tapi sekarang masih on off soalnya masih kerja di kantor lama” jelas Bulan. Inneke mengerutkan dahinya.
“Dia tinggal disini?”
“Iya… ada banyak kamar disini, bahkan Bang Doni juga punya kamar di atas cuma jarang ditempati soalnya belum full kerja disini”
“Doni teman SMA Juno dulu?” tanya Inneke heran.
“Iyaa teman Kak Inne juga kan yah? Tadi katanya mau nyusul… ehhh panjang umur baru aja diomongin udah muncul” ternyata yang dibicarakan datang dengan tergesa.
“Fuiiih panas banget diluar… Assalamualaikum… weeeeh ada tamu kehormatan nih datang, udah lama banget gak ketemu sama elu Nge… masih cantik aja kaya dulu gak rubah-rubah lu” puja puji langsung meluncur dari mulut Doni.
“Halo apa kabar, gak rubah lu Don… masih sama kaya dulu” jawab Inneke sambil menjabat tangan Doni.
“Sama lah gw mah dari dulu ganteng gak akan luntur-luntur” sombong Doni sambil menepuk dada.
“Gak luntur soalnya pake borax” jawab Bulan sambil tertawa nyengir. Doni langsung melengos kesal.
“Ehhh Mumun gak tau aja lu... kalau Abang dulu lagi SMA gantengnya kaya gimana” bibir Doni tersenyum sinis.
“Model-model Bang Doni gak akan jauh, palingan rambut gondrong gak beraturan soalnya sering dicukurin guru BK, trus motor di modif sampai suaranya kaya terompet, baju gak ada beige identitas sekolahnya, cuma ada osisnya doang, celananya cingkrang ujungnya ada sobek lepas jahitan, warna seragam udah agak kuning soalnya jarang dicuci” jawab Bulan panjang, Doni melotot heran.
“Lu kok tau Mun… liat foto gw yah di Juno” telusur Doni.
“Nggak lah… itu kan template anak SMA yang aliran kadal” jawab Bulan cepat, Doni langsung mengambil map yang ada di meja untuk membalas ucapan Bulan dengan keprukan di kepala.
“Don… pesan makanan” suara Juno langsung menghentikan gerakan Doni.
“Mumun lu gak masak hari ini?” tanya Doni cepat, Bulan menggelengkan kepala
“Mumun..mumun enaknya aja ngeganti nama orang. Tadi kan ke kantor jadi gak sempat masak… beli aja biar cepat, aku capek masak terus” jawab Bulan. Inneke melihat mereka bertiga bergantian.
“Lah si Juno manggil elu Mooney… gw juga pengen manggil elu Mumun. Tau gitu tadi gw makan di jalan” keluh Doni sambil beranjak keluar.
“A aku solat dulu yah?” ucap Bulan sambil berdiri, ia bisa melihat sikap kaku Juno saat memasuki ruangan di lantai satu
“Tunggu Doni datang” jawab Juno singkat tapi Bulan bisa mengerti kalau suaminya tidak ingin ditinggalkan berdua dengan Inneke. Ia mengangguk dan kemudian kembali duduk.
“Ada apa Nge? Gak ngasih kabar dulu mau kesini?” tanya Juno langsung.
“Hmmm dan satu lagi… aku butuh interior desain buat apartemen yang baru”
“Gak urgent karena sekarang juga masih tinggal di rumah lama, hanya karena sekarang sudah jadi pengen mulai menata interiornya dulu sebelum nanti ditempati”
“Tadi kata Rembulan sudah banyak proyek yah? Mudah-mudahan kamu bisa bantu aku menata interior di apartemen” ucap Inneke sambil menatap Juno.
“Ada tiga proyek kedepan, yang dua bersamaan sedangkan staf disini masih terbatas” ucap Juno pendek, Bulan terhenyak kaget, ia tidak menyangka kalau Juno akan langsung menolak secara halus.
“Aku bilang juga tidak terburu-buru, karena tidak akan langsung ditempati”
“Aku akan sangat senang bisa menempati rumah yang kamu rancang sendiri interiornya” sambung Inneke santai, menatap Juno lekat tanpa memandang Bulan yang semakin kaget mendengarkan percakapan keduanya. Juno tersenyum sinis sambil memainkan pulpen di tangannya.
“Hehehe alhamdulillah banyak permintaan untuk interior disaat baru memulai perusahaan” ucap Bulan memecah keheningan. Entah kenapa ada rasa sakit yang dihatinya melihat perseteruan antara suaminya dan Inneke seperti pertengkaran dua orang kekasih. Apa jadinya kalau dia tidak ada di ruangan, apakah perempuan itu akan lebih gila lagi memohon pada suaminya.
“Masalahnya Kak… untuk langsung handle tiga proyek saja kami saat ini sedang berusaha menata keuangan sehingga bisa berjalan dengan baik”
“Apalagi kalau bertambah satu proyek lagi” jelas Bulan.
“Kalian kesulitan soal modal usaha? Kenapa gak bilang sama aku… kaya sama siapa aja, aku bisa bantu proses cepat” Inneke langsung menyambut cepat. Juno langsung menarik nafas panjang seakan merasa terbebani.
“Ehh hehehe yang namanya perusahaan baru pastilah tidak akan langsung punya aset yang cukup banyak”
“Kita slowly but sure aja Kak”
“Tapi kalau hanya masalah modal usaha trus kalian menolak tawaran pekerjaan rasanya gak profesional banget deh”
“Kenapa gak mau pinjam ke Bank? kenapa takut riba?”
“Ada banyak pilihan skim pinjaman kok jangan takut” Inneke kembali menawarkan bantuan dengan muka penuh harapan.
“Ehhh… gimana yah?” Bulan memandang Juno yang sedari tadi hanya diam.
“Tipe berapa apartemennya?” tanya Juno pendek.
“Ehh bisa yah 90m2 ada dua kamar” jawab Inneke dengan penuh semangat. Juno mengambil buku catatan. Menanyakan beberapa spesifikasi apartemen pada Inneke yang langsung dijawab dengan cepat. Bulan hanya diam memandang suaminya yang tampak sibuk menuliskan beberapa keterangan di buku itu.
“Aku tidak menjanjikan bisa dikerjakan dalam waktu dekat ini”
“Kalau kamu mau mencari desain interior lain silahkan saja”
“Tapi kalau nanti dimungkinkan untuk bisa dikerjakan oleh anggota tim, kita kabari!” ucap Juno sambil menutup buku catatan.
Inneke langsung tersenyum senang, tangannya mengatup di depan mukanya.
“Aku akan tunggu kabar baiknya”
“Terima kasih sudah mau membuatkan rumah impian aku, aku yakin kamu masih ingat apa yang aku inginkan kalau punya rumah” jelasnya penuh percaya diri. Juno diam tidak memberikan tanggapan apapun, yang ada hanya Bulan yang tidak bisa berkata apapun mendengarnya.
“Aku mau makan, tolong buatkan pasta seperti yang kemarin” ucap Juno pada Bulan sambil berdiri seakan menutup percakapan mereka hari itu. Bulan hanya melongo heran, bukankah tadi suaminya meminta Doni untuk membeli makanan, kenapa sekarang malah minta dibuatkan pasta.
“Kalau ada yang mau ditanyakan terkait administrasi dan pembiayaan kamu bisa tanya sama istriku” sambung Juno, Bulan hanya bisa mengangguk mengiyakan.
“Hmmm nanti saja kalau sudah ada kejelasan waktunya, terima kasih sudah bisa bertemu. Saya juga akan langsung ke kantor lagi. Masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan” Inneke pun berdiri dan mengajak Juno bersalaman.
“Terima kasih yaa sudah mau meluangkan waktunya untuk aku” ucapnya sambil menggenggam tangan Juno. Kemudian tersenyum dengan manis pada Bulan tanpa ada usaha untuk mengajak bersalaman.
“Rembulan saya pamit. Nanti saya kabari yaa soal dana usaha” tersenyum manis dan melangkah dengan anggun meninggalkan ruangan. Bulan hanya bisa menarik nafas panjang.
“Sabar...sabar....” ucapnya sambil mengusap dada. Juno hanya tersenyum melihat sikapnya dan kemudian beranjak pergi menuju lantai dua.
“Eitssss… bentar” Bulan menarik tangan Juno yang tadi bersalaman dengan Inneke.
“Cuci dulu tangannya… bahaya karena pertemuan dua tangan itu nanti mengandung senyawa kimia” jelas Bulan sambil menyeret Juno ke wastafel dan mencuci tangan suaminya dengan sabun. Melihat sikap Bulan yang posesif Juno hanya tersenyum, sambil sesekali menciprati muka istrinya dengan air.
“Senyawa kimia apaan? malahan kamu tuh kalau udah marah kaya Tembaga sama Tellurium” ucap Juno sambil tersenyum melihat tangannya dibersihkan oleh Bulan dengan sabun.
“Apaan tembaga telurium” Bulan mengerutkan dahi.
“Tembaga apa rumus kimianya?” tanya Juno
“Cu?”
“Terus kalau Tellurium?” tanya Juno lagi
“Te?” jawab Bulan bingung.
“Disatukan jadi?”
“Cu Te…. iiiih sebel” Bulan langsung melengos malu. Juno tersenyum senang mendengar gombalannya berhasil membuat Bulan tersenyum malu.
“Aku sering denger yang kaya gitu… dasar Barium Silikon” balas Bulan sambil menghempaskan tangan Juno.
“BaSi…. hahahahhaha” giliran Juno yang tertawa terbahak sekarang.
“Heeeh… malah main air berdua kalian… Mana si Inge? Gw udah beli nasi padang nih” Doni muncul sambil menjinjing kresek berisi nasi bungkus.
“Gak level atuh Kepala Cabang dikasih nasi padang tangannya tidak bisa berlumuran bumbu rendang, ntar kuning-kuning… kuteknya bisa lumeeerr” ucap Bulan sambil cemberut.
“Makan nasi padang aja, gak usah pasta sayang nanti mubazir lagi” ucap Bulan sambil mengambil bungkusan nasi padang dari tangan Doni dan beranjak naik ke lantai dua.
“Si Inge mau ngapain Doel?” tanya Doni sambil mengikuti Juno dibelakangnya.
“Pengen dibikin interior buat apartemennya yang baru” jawab Juno pendek.
“Wuahaaaayyy…. Mantan udah punya apartemen… lah elu di Ruko aja masih ngontrak...hahahha” teriak Doni sambil tertawa terbahak.
“Hahaha beranian banget si Inge minta elu ngedesainin apartemennya dia”
“Gak takut sama macan tuh” Doni melirik Bulan yang sedang menata nasi bungkus di meja.
“Dia mah kagak peduli sama aku Bang, dari tadi matanya menatap terus sama mantan gebetan, aku yang duduk disebelahnya cuma dianggap vas bunga aja” ucap Bulan sambil tersenyum sinis.
“Udah aku tolak tapi dia bersikukuh” jawab Juno pelan
“Kamu tahu kan si Ingge gak pernah bisa ditolak” keluh Juno.
“Mentang-mentang gak bisa ditolak, diikuti aja maunya apa” keluh Bulan.
“Kalau aku tadi tidak mendengarkan maunya apa… dia bakalan terus aja disini gak pulang-pulang” sanggah Juno, mukanya terlihat kesal karena merasa serba salah.
“Lagipula kan aku gak bilang ok.. Cuma dicatat dulu keinginannya apa, soal nanti mau dilanjutkan atau tidak harus menunggu proyek yang dua ini selesai”
“Wuaddduuhh… kan gw bilang juga bakalan ada perang ini” keluh Doni sambil memandang Juno dengan meringis.
“Bilang Bang sama perempuan itu… Cinta itu kaya hukum atom” ucap Bulan sambil membawa gelas minum ke meja makan.
“Maksudnyeee?” tanya Doni bingung.
“Ada saatnya untuk memiliki... ada saatnya juga untuk melepaskan” ucap Bulan sambil menyimpan gelas minum dengan menghentak.
“Cakeeeppp… hahahahaha” Doni tertawa terbahak dengan senang.
“Iya sayang soalnya kan aku dan kamu itu sin 90” sambung Juno dengan santai sambil membuka nasi bungkus.
“Apaan sin90?” Doni kembali bingung.
“Makanya lu matematika belajar yang bener… sin 90 itu nilainya 1” jawab Sarah sambil memukul kepala Doni. Kalau mendengar ada makanan datang telinga Sarah memang paling tajam.
“Anjiiiir tau pelajaran bisa dipakai nge gombal dulu gw belajar yang bener” jawab Doni sambil mengelus-elus kepalanya. Bulan hanya bisa tersenyum kaku, rasa kesalnya masih terasa tapi ia tidak bisa menyalahkan suaminya juga karena memang Inneke yang terlihat begitu bersemangat, ternyata perjuangan melawan para mantan belum berakhir.
################
Udah ah… cape nginget-nginget rumus gombalan.. Hehehe yang pasti cintaku pada gembulers itu tan 90 alias tak terhingga…. Eaaaaaaa