Rembulan

Rembulan
Sah


Pagi itu semua sudah bersiap semenjak subuh, karena acara akad nikah Mama Nisa diadakan dirumah dan hanya terbatas untuk keluarga dan sahabat dekat saja sehingga tidak banyak orang yang hadir.


Papa Bhanu menginap di hotel bersama Juno dan Bulan. Semenjak subuh sudah sibuk telepon menanyakan ini itu pada Juno dan Bulan. Afi dan Emil menginap di rumah Oma bersama Mama, mereka berempat seperti menjadi dua kubu yang berbeda. Keluarga Papa Bhanu yang datang hanya adiknya saja, itu pun tidak tinggal di hotel yang sama. Mereka memilih tinggal di hotel yang dekat bandara karena datang malam hari.


Grup Chat Keluarga


Emil:


“Mohon laporan apakah pengantin sudah siap?


Bulan:


“Lagi dicek dirapikan pakaiannya sama mantan mempelai pria Junaedi”


“Papanya bingung mau pakai jas yang mana, soalnya jas yang kemarin dipesan merasa kekecilan jadi gak nyaman. Maklum Papa kemarin-kemarin kebanyakan tidur istirahat di Ruko”


“Untung ada jas cadangan yang warnanya sama jadi memakai jas itu deh”


Afi:


“Mama gak mau pakai makeup lengkap, biasa aja katanya.. Gak mau di pasang bulu mata juga cukup pakai eyeliner aja”


“Pengantin kalau sudah tua ternyata bisa nawar…hahahhaha”


“Gw dulu pas kawinan gak mau make up cetar membehenol langsung dimarahin sama Mama, sekarang dia sendiri gak mau di makeup in… ampun deh Oma marah-marah”


Emil:


“Mas kawin jangan sampai ketinggalan”


“Apalagi Mas Bhanu (emot nyengir)”


Afi:


“Mertua lu itu Kiting… kalau papa baca bisa-bisa dipecat”


Emil:


“(Emot menangis dan mohon maaf)”


Juno:


“Kita berangkat dari hotel jam delapan, nungguin dulu Om Rian dan Tante Miska adik Papa”


“Mereka baru sampai Bandung tadi malam”


Afi:


“Punya Om sama Tante gak kangen apa sama keponakan datang ke Bandung dipas-pasin banget waktunya cuma buat nikahan Papa n Mama”


“Dicoret dari warisan keluarga tahu rasa mereka”


Emil:


“Memangnya masih ada warisan? Bukannya Papa sudah misquen?”


Afi:


“Iya heran gimana Om Rahmat bisa setuju, semua saham perusahaan masih atas nama Papa kok… kirain udah dipindahkan an gw …hahhahahha”


Emil:


“Sudahlah Yang saham aku udah disimpan dikamu, jangan khawatir itu cukup buat jaminan hidup”


Afi:


“Saham yang mana? Gw gak pernah terima sertifikat kepemilikan saham? (emot bingung)”


Emil:


“Itu di perut kamu kan sahamnya dari aku… gak akan bisa ngegedein kalau gak dikasih saham aku"


Afi:


“Kiiiiitiiiiiing…. Dimana lu sekarang gw pelintir (emot marah dan mendengus)”


Bulan:


“LOL (emot tertawa ngakak)”


Begitu Om Rian dan Tante Miska datang ke hotel mereka langsung berangkat menuju kediaman Oma. Bulan bisa melihat kalau Papa terlihat nervous.


“Santai aja Pa… kaya yang gak pernah akad aja” ucap Juno sambil tersenyum. Papa Bhanu memilih duduk di mobil bersama Juno daripada dengan adiknya.


“Kalau dihitung-hitung Papa sudah tiga kali akad nih” sambungnya.


“Jadi kalau hitungan ekspert mestinya udah gak usah gugup lagi”


“Gak usah ngomongin itu lagi bisa gak”


“Bukan hal yang bikin Papa bangga sekarang” ucap Bhanu kesal. Juno langsung tertawa terbahak.


“Ahahahahaha… biar Papa gak stress Pa”


“Apalagi nanti yang jadi wali Mama kan Om Rahmat, dijamin Papa ngeliat Om Rahmat melotot bakalan lupa ijab kabulnya”


“Jangan langsung ngomong sah ya Pa… malu nanti keliatan banget Papa udah kebelet pengen nikah sama Mama”


“Udah kamu jangan banyak omong ah… bantu aja berdua kaya Bulan tuh, dan tadi sudah berdoa aja bikin Papa tenang” ucap Bhanu kesal.


Tadi subuh Papa terlihat panik, sehingga akhirnya Bulan memberikan secarik kertas berisi doa untuk dibaca Papa supaya tidak panik, ternyata betul saja perlahan Bhanu menjadi lebih tenang. Semenjak mereka berdua terlibat dalam proyek uang murni, Bhanu jadi lebih mengenal menantunya itu. Bulan pun menjadi lebih bisa santai saat bersama Papa Bhanu. Padahal dulu mereka sering bersama-sama saat melakukan investigasi korupsi di perusahaan tapi seiring waktu keakraban diantara mereka semakin terbangun.


Begitu tiba di rumah, suasana sudah ramai. Banyak saudara dari pihak Oma yang datang, teman-teman Mama juga hadir tidak lupa Om Teguh dan tetangga yang di kompleks ternyata sudah hadir. Om Teguh bergegas menghampiri Papa Bhanu yang baru keluar dari mobil.


“Selamat Mas… selamat akhirnya dipersatukan kembali. Semoga langgeng sekarang” ucap Teguh dengan hangat.


“Terima kasih, sudah bisa ikut menghadiri” ucap Bhanu dengan diplomatis.


“Senang sekali saya diundang. Dek Nisa itu seperti adik sendiri buat saya” ucap Teguh dengan senyuman lebar.


“Iya sekarang adiknya sudah punya kakak lagi, jadi Mas Teguh bisa cari adik yang lain lagi” sambung Bhanu tidak mau kalah.


“Ahahahahahha Mas Bhanu bisa saja…siap mas siap” Teguh menepuk-nepuk pundak Bhanu dengan hangat, semenjak mereka terlibat proyek Bonsai hubungan mereka berdua tidak sekaku dulu walaupun aroma persaingan masih terasa.


Ruangan sudah disetting sedemikian rupa sehingga semua kursi-kursi sudah dikeluarkan. Di ruang tengah hanya ada meja kecil dan tamu keluarga duduk melingkarinya. Mama Nisa belum tampak di ruangan, tampaknya beliau baru akan keluar setelah acara akad akan dimulai.


Ternyata yang untuk acara akad sudah ada yang mengatur dari pihak luar, Bulan baru mengetahui itu saat ada seorang laki-laki muda yang kemudian meminta Papa Bhanu untuk duduk di meja tengah karena acara akan langsung dimulai. Tidak ada lagi sambutan dan ataupun serah terima dari pihak keluarga karena kedua keluarga sudah saling mengenal.


“Ada WO nya A yang mengatur acara pernikahan ini” bisik Bulan pada Juno.


“Tadi teman aku kirim pesan kalau undangannya gak nyebutin acara pernikahan Papa Mama, cuma mengundang acara Syukuran Keluarga Rachmadi”


“Teman-teman kamu bisa datang kan?” tanya Juno lekat


“Bisa katanya, kan aku konfirmasi dulu siapa yang bisa datang”


“Tapi kalau nambah dadakan gak apa-apa A?” tanya Bulan bingung sambil memandang hp nya


“Gak apa-apa santai aja, acaranya di hotel kan mereka sudah profesional. Tidak akan memalukan keluarga kita. Kalau melebihi jumlah budget pasti sudah siap”


“Lagipula yang hadir banyak keluarga yang sudah tua seperti sekarang ini”


“Mereka makannya gak banyak apalagi malam hari”


"Yang penting bilang sama mereka untuk hadir tepat waktu, karena kalau terlambat mereka akan kehilangan acara inti"


"Memangnya ada acara apa di bagian pembuka, kaya tarian gitu yah... hebat banget Mama pakai acara pembuka segala... iya aku bilang supaya hadir sebelum waktu supaya gak kehabisan suvenir"


“Aku khawatir kalau datang banyak itu ngabisin souvenir”


“Orangtua memang gak makan banyak tapi kalau urusan souvenir beuuuh bisa julid kalau ga kebagian” jelas Bulan, Juno mengangguk-angguk.


“Kalau gak salah Mama udah siapkan ekstra souvenir pernikahannya dilebihin seratus piece jadi jangan khawatir”


“Kecuali teman kamu yang datang melebihi seratus itu yang akan jadi masalah” ucap Juno sambil mendelik.


“Ihihihi yah enggak mungkin atuh A”


“Buat datang ke gedung hotel mewah tuh butuh keberanian tampil”


“Temen SD dan SMP aku mah sederhana orang-orangnya”


“Ini juga pada bilang ah malu datangnya juga gak punya baju bagus katanya”


“Trus ada ngasih ide, nyewa baju ke salon katanya biar blink-blink.. Ampun deh temen-temen aku tuh A… gak apa-apa yah… biar punya pengalaman masuk ke hotel mewah”


“Ya gak apa-apa bagus aja kata aku sih”


“Aku nanti mesti dandan yang ganteng banget dong yah biar kaya Pangeran Tampan di dongeng-dongeng” goda Juno.


“Ihhh apaan sih suka lebay” Bulan memukul suaminya kesal.


“Sttttt… pacaran mulu dari kemarin” Oma melotot kesal. Bulan dan Juno langsung menunduk sambil menahan tawa berdua. Om Rahmat tampak sudah duduk di sebelah penghulu, tampak tidak memperdulikan kehadiran Papa Bhanu malah sibuk berbicara dengan saksi dari pihak keluarganya.


“Papa kasian diasinin sama Om Rahmat” bisik Bulan.


“Ini seperti acara pernikahan terlarang” jawab Juno, kembali mereka terkikik berdua. Oma menatap mereka dengan kesal.


“Kalian itu gimana malah cekikikan terus. Bulan sana liat Mama kamu bilang untuk bersiap karena petugas dan tamu undangan sudah siap… sekalian bujuk biar mau pakai bulu mata palsu sama dikutekin biar cantik” ternyata Oma masih penasaran.


“Takut terlihat bulu mata badai kali Oma… hehehe Oma kenapa gak pakai bulu mata palsu, kan ibu mempelai” ucap Bulan.


“Oma udah tua.. Dipasangin bulu mata atau sapu ijuk juga gak ada bedanya” jawabnya dengan lurus


“Ahahahahha… baru tahu sapu ijuk bisa jadi bulu mata” Bulan tertawa sambil beranjak meninggalkan ruangan dan menuju kamar Mama Nisa yang belum berubah dari semenjak ia gadis. Rumah keluarga Rachmadi memang besar, di rumah utama ada lima kamar untuk keluarga inti dan dibagian belakang terdapat ruang tambahan untuk asisten rumah tangga dan supir keluarga. Sedangkan paviliun disiapkan tamu-tamu yang datang berkunjung. Setiap paviliun memiliki area pantry dan toilet sendiri. Semuanya disiapkan untuk kenyaman yang tinggal disana. Itu sebabnya Oma sangat kesepian setelah anak dan cucunya tinggal jauh dari dirinya. Rumah yang besar jadi terasa semakin sepi.


Saat Bulan tiba di kamar ternyata Mama Nisa sudah siap dengan makeup minimalisnya. Walaupun minimalis malah semakin menonjolkan kecantikan Mama Nisa, mukanya yang lembut seakan semakin bersinar.


“Aduuuh Mama terlihat cantik banget… glowing gitu” ucap Bulan kagum.


“Mama aku… siapa dulu dong anaknya” ucap Afi sombong. Memakai kerudung yang hanya disampirkan di kepalanya.


“Hahahahaha iyalah buat Afi mah diiyahin aja daripada ribut” jawab Bulan.


“Maa… katanya petugas dan saksi sudah pada siap, trus tamu undangan juga sudah pada datang… Mama harus sudah bersiap”


“Iya Mama sudah siap”


“Doakan Mama yah” ucapnya sambil memeluk Bulan erat.


“Sama aku gak minta didoakan Ma” celetuk Afi kesal.


“Kamu kan dari tadi udah sama Mama, baca doa bareng-bareng sama Mama” ucap Mama sambil meraih Afi.


“Apa yang Mama lakukan sekarang untuk kebahagian keluarga kita semua, bukan untuk Mama pribadi, supaya Afi memiliki Papa yang selalu mendukung dan menemani Afi dan supaya Bulan bisa tenang gak khawatir kalau Mama pergi-pergi sendiri” ucapnya. Bulan tersenyum mendengarnya, selama ini memang ia yang paling khawatir kalau Mama mau pergi sendiri.


Terdengar pintu diketuk dan ternyata petugas dari wedding organizer yang memberitahu kalau acara akad akan segera dimulai sehingga Mama Nisa diminta untuk hadir keruangan.


“Bismillahirohmanirrohim” ucap Mama mantap sebelum keluar dari kamar. Bulan dan Afi mengikuti dari belakang. Mama mengenakan baju muslim warna putih dengan manik-manik halus sehingga terlihat anggun.


“Mama yang nikah kok gw yang deg-degan yah Mbul”


“Sama aku juga” jawab Bulan, begitu masuk ruangan matanya langsung menangkap kehadiran Bapak dan Benny yang sedang duduk bersama Juno.


“Bapak” bisiknya, dari tadi ia menanti kehadiran Bapak yang dijemput oleh supir keluarga, rupanya Bapak baru datang. Bulan langsung salim dan posisi duduknya menggantikan Juno yang harus duduk bersama Oma dan Afi serta keluarga besar Rahmadi lainnya. Emil yang hari bertugas untuk mengecek semua kesiapan tampak hilir mudik berkoordinasi dengan WO.


“Baik…. Semua sudah hadir, kedua mempelai juga sudah hadir, wali nikah sudah ada dan para saksi juga sudah ada” ucap Bapak Penghulu.


“Baik mari kita mulai dengan membaca basmallah terlebih dahulu”


“Bismillahirohmanirrohim” semua orang dalam ruangan dengan kompak bersama-sama membaca basmallah.


Selanjutnya seperti halnya akad nikah dalam Islam, Penghulu menjelaskan tata tertib dan susunan dalam akad nikah. Dimulai dengan pembacaan al quran, khutbah nikah, ijab kabul, doa nikah, penerimaan mahar dan kemudian sungkeman atau meminta doa dari pihak keluarga. Tampak buliran keringat membasahi dahi Papa Bhanu, Mama Nisa kemudian memberikan tissu yang sudah dilipat kepada suaminya.


“Waaah calon pengantin prianya nervous pada nikah yang kedua kalinya yaa dengan mempelai perempuan… tidak apa-apa kalau gagal bisa diulang sampai maksimal tiga kali” ucap penghulu, Papa Bhanu hanya bisa tersenyum kecut mendengar lelucon itu. Akhirnya Juno memberikan air minum yang langsung dihabiskan oleh Papa Bhanu.


“Baik kalau sudah minum air satu gelas harus disegerakan ijab kabulnya supaya tidak terpotong karena calon pengantin pria nya nanti keburu kebelet pengen ke toilet” semua orang tertawa mendengar lelucon Penghulu hanya Papa Bhanu dan Om Rahmat yang tidak tertawa mereka berdua hanya bertatapan dengan dingin.


“Tadi ada permintaan dari pihak perempuan untuk meminta ijin kepada kakaknya yang akan menjadi wali nikah… saya persilahkan”


"Bismillahirrahmaannirrahiim, Astaghfirullahal’adzim, Asyhadualla ilaha illallah, Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Kang Rahmat yang Nisa cintai dan hormati. Nisa menyampaikan permohonan maaf jika selama ini Nisa telah banyak melakukan kesalahan dan kekhilafan sehingga melukai hati Kakang. Nisa memohon restu dan doa dari Kakang, semoga kedepan kehidupan rumah tangga Nisa nanti senantiasa rukun, damai, dan dipenuhi keberkahan dari Allah SWT. Untuk itu Nisa memohon izin, mohon restu untuk dinikahkan dengan laki-laki yang tetap menjadi pilihan Nisa hingga saat ini, laki-laki yang selalu Nisa cintai, laki-laki yang bernama Bhanu Senggala… Semoga Allah meridhoi”


Ucapan Mama Nisa yang sendu dan terbata sambil meneteskan air mata membuat suasana seketika menjadi sedih, Rahmat yang pada awalnya memasang muka garang perlahan mengendur hingga akhirnya menitikan air mata. Ucapan permohonan ijin dari adiknya memang tidak rancang sebelumnya, sehingga betul-betul menyentuh hati seorang kakak yang sangat menyayangi dan melindungi adiknya. Oma yang duduk di samping meja akad malah menangis tersedu sehingga dipeluk oleh Afi dan Juno. Butuh waktu beberapa saat hingga suasana kembali kondusif. Pihak keluarga yang mengetahui prahara keluarga Mama Nisa dan Papa Bhanu pasti akan menangis, semua orang mengetahui betapa berat perjuangan Mama Nisa dulu.


Om Rahmat yang tampak langsung tersenyum kemudian berkata kepada Penghulu.


“Mari kita mulai Pak” ucapnya dengan senyuman lebar, kemudian menatap Bhanu seakan seperti memandang teman lamanya yang dulu.


“Sudah siap Nu” katanya, yang membuat Papa Bhanu terperangah, sudah lama Rahmat tidak memanggilnya sedemikian akrab seperti masa kuliah dulu, dia hanya sanggup tersenyum kaku sambil mengangguk gugup.


“Jangan gugup tenang saja” ucap Rahmat sambil kemudian menggenggam tangan Bhanu dengan hangat. Mama Nisa yang melihat itu kembali menangis sambil kemudian mencoba mengendalikan diri dengan menarik napas yang panjang. Ia tidak menyangka kalau kakaknya akan bisa menerima Bhanu kembali dengan permohonannya barusan. Ternyata ketulusan dan kepasrahan yang amat dalam membuat hati kakaknya yang keras membatu luluh juga


“Baik kita mulai alhamdulillah… Bapak Rahmat sebagai wali nikahnya yah, kakak kandung dari mempelai perempuan. Namanya bagus sekali Pak … semoga selalu di rahmati Allah” ucap Penghulu, semua orang mengamini ucapannya.


Kemudian dengan genggaman yang kuat Rahmat memegang tangan Bhanu sambil menatapnya tajam, tidak ada keinginannya untuk menatap secarik kertas yang dipersiapkan sebelumnya.


“Saudara Bhanu Senggala Bin Hassanudin Ali saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya Khaerunissa binti Rachmadi dengan Mas Kawin Akta Kepemilikan Perusahaan Senggala Corp  dan perhiasan emas seberat 18 gram dibayar tunai” ucap Rahmat dengan tegas yang langsung disambut oleh Bhanu.


“Terima saya nikah dan kawinnya dengan Khaerunissa Binti Rachmadi dengan maskawin tersebut dibayar tunai” ucap Papa Bhanu dengan lantang.


“Alhamdulillah… Sah?”


“Sahhh…. Sahhhh…Sahhh” bersahut-sahutan semua orang mengatakan sah dimulai dari saksi sampai tamu yang hadir.


Afi dan Juno saling bertatapan saat mendengar ijab kabul.


“Wagilaseeh…. Bos gw sekarang si Mama… mati aku bakalan disuruh kerja bagai kuda”


Juno tersenyum menatap adiknya.


“Bos di rumah dan bos di kantor… lengkap sudah penderitaanmu dek”