Rembulan

Rembulan
Menikahlah


Athar dengan perlahan masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya, sebenarnya Athar sudah memiliki rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya, rumah sederhana yang di beli dari hasilnya menabung sedari zaman kuliah dulu, meski tidak mewah semewah rumah kedua orang tuanya, tapi Athar bangga karena sebagai anak laki-laki Athar tidak mau berpangku tangan dan meminta jatah kepada kedua orang tuanya. Meski sudah memiliki rumah sendiri, tapi setiap sabtu dan minggu Athar pasti pulang ke rumah orang tuanya, itu semua Athar lakukan sebagai salah satu bakti kepada mama dan papanya, dan tentu saja supaya minggu pagi bisa melakukan ibadah bersama dengan kedua orang tuanya.


"Athar.." suara Mamanya membuat Athar sedikit terjingkat karena terkejut


"Mengapa baru sampai rumah nak?" Mama Vina mendekati putra bungsunya yang kini sudah semakin dewasa dan berumur, bahkan teman sebaya Athar hampir semua sudah menikah dan memiliki anak


"Mama..." Athar tersenyum kikuk saat mamanya kini berdiri tepat di hadapannya


"Belum tidur ma?" imbuhnya


"Mama sedari tadi menunggumu, mengapa malam sekali baru tiba di rumah?" tanya Mama Vina penuh selidik


"Athar ada keperluan bersama dengan teman lama Athar ma" jawab Athar dusta, padahal yang sebenarnya terjadi adalah Athar berputar-putar keliling kota menggunakan mobilnya tanpa tujuan hanya demi menghindari Sherin


"Padahal sore tadi Sherin datang berkunjung, bahkan membawakan kue kesukaan mama"


"Benarkah?" tanya Athar pura-pura terkejut


"Sherin gadis yang sangat baik, manis, juga sopan, bahkan dia satu profesi denganmu" Mama Vina menghentikan ucapannya, dan melirik ke arah putra bungsunya


"Mama sangat setuju bila Sherin menjadi menantu mama" imbuhnya


Ucapan mamanya membuat Athar menghembuskan nafasnya dengan berat, sungguh ini obrolan yang sangat membuat Athar merasa tidak nyaman.


"Kalian saling mengenal sudah sekian lama, apa kau tidak berminat untuk menikahi Sherin, nak?" suara mama Vina kali ini penuh dengan harapan


"Ma...." jawab Athar lesu


"Ma, selama ini Athar hanya menganggap Sherin sebagai teman, hanya teman tidak untuk di jadikan pendamping hidup" imbuh Athar


"Tapi usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah dan memberikan mama cucu, lihat kakakmu, Athira, dia sudah memiliki sepasang anak yang lucu, apa kau tidak ingin seperti kakakmu? membina rumah tangga yang bahagia?" ucap Mama Vina mulai putus asa.


Selama ini Mama Vina dan Papa Zanaka tidak pernah mengatur anak-anaknya menikah dengan siapa, apapun yang anaknya pilih selagi itu dalam kebaikan pasti selalu di dukung, begitupun perihal pernikahan, meskipun jodoh anak mereka orang biasa, kedua orang tuanya tidak pernah mempermasalahkan, yang terpenting adalah kebahagiaan putra-putri mereka.


"Mama mu betul Athar, kau ini sudah matang dan pantas menikah, pekerjaanmu sudah tetap, rumah sudah kau miliki, lantas kau menunggu apa lagi nak?" kali ini suara Papa Zanaka ikut menimpali obrolan ibu dan anak itu


"Menikah lah Athar, papa dan mama sudah tua, keinginan kami yang terakhir adalah melihatmu menikah dan memiliki keluarga bahagia" Papa Zanaka kini duduk di samping putra bungsunya, bahkan memberikan tepukan di pundak Athar


"Siapapun wanita yang kau pilih, kami tidak akan menolaknya, selagi dia bisa membuatmu bahagia pasti kami akan mendukung. Iya kan pa?" timpal Mama Vina


"Benar Nak, kami tidak butuh wanita dari keluarga kaya, yang kami butuhkan adalah wanita yang bisa membuat putra kami bahagia, dan tentu saja menyayangi seluruh keluarga kita" imbuh Papa Zanaka


"Keluarga kita tidak membutuhkan koneksi manapun" Papa Zanaka melebarkan senyuman di bibirnya


"Tapi Athar belum bertemu dengan yang cocok pa, ma"


"Dokter Sherin, dia gadis yang baik, sopan, serta sayang kepada keluarga kita. Apa kau sama sekali tidak menaruh hati padanya?" tanya Papa Zanaka penuh selidik


"Pa, Athar hanya menganggap Sherin teman, dan tidak lebih. Athar harap papa dan mama mau mengerti" Athar melihat kedua orang tuanya secara bergantian


Papa Zanaka dan mama Vina kompak menghela nafasnya panjang, jawaban putranya selalu saja sama tidak berubah bila membahas perihal pernikahan.


"Tapi kau tidak berniat melajang seumur hidupmu kan?"


"Tentu saja tidak pa. Athar juga ingin menikah, tapi dengan wanita yang tepat, dan saat ini Athar belum menemukan yang tepat"


Untuk kesekian kalinya papa Zanaka dan Mama Vina kembali menghela nafasnya panjang, usahanya untuk membujuk putra bungsunya sangatlah sulih, bahkan Athira juga sudah ikut turun tangan untuk membantu mengenalkan Athar pada adik dari teman-temannya, tapi sayang sekali Athar tidak berminat sekalipun terhadap mereka. Tak mau mengobrol lebih panjang dan lebih ruwet lagi, Athar memutuskan untuk segera berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam kamarnya.


^


"Lelah sekali" Athar membanting tubuhnya di atas kasur sesaat setelah dirinya membersihkan diri dan berganti pakaian


Kedua mata Athar terpejam, semua percakapannya dengan kedua orang tuanya terngiang memenuhi isi kepalanya, selama ini Athar hanya bisa menyusahkan mama, papa, serta kakaknya, belum memiliki prestasi apapun yang bisa di banggakan, bahkan belum pernah membahagiakan kedua orang tuanya bahkan selama ini kedua orang tuanya tidak pernah meminta hal apapun darinya. Tapi kali ini? permintaan sederhana untuk pertama kalinya, tapi sayang sekali permintaan itu sangat sulit untuk di kabulkan.


"Apa aku harus mulai belajar membuka hati untuk Sherin? lagi pula Sherin juga gadis yang baik" ucap Athar pada dirinya sendiri.


Jika memang menikah dengan Sherin bisa membuat mamanya bahagia, Athar akan mencoba membuka hatinya untuk Sherin, dan memberikan wanita tersebut kesempatan untuk merubah statusnya dari teman kerja menjadi teman hidup. Masalah berhasil atau tidak biarkan waktu yang menjawab.


"Mungkin mulai besok aku harus sedikit lebih bersikap manis terhadap Sherin" Athar kembali menghembuskan nafasnya di udara, berharap bebannya juga ikut lepas bersama hembusan nafas yang di lepaskan olehnya.