Rembulan

Rembulan
Tahukah Kamu??


Athar memarkir mobilnya di depan sebuah minimarket, dengan cepat Athar keluar dari mobil. Tenggorokannya terasa kering setelah menahan haus di tengah kemacetan jalanan kota tempatnya tinggal. Meskipun ingin rasanya Athar pergi dari kota dimana dirinya di lahirkan, tapi hatinya terasa begitu berat, selain keluarganya, tentu saja Athar masih berharap bila suatu saat nanti dirinya bisa kembali bertemu dengan Kenanga. Ya, gadis itu masih mampu menawan hati Athar hingga kini, meski setelah kejadian batalnya pernikahan mereka berdua, tapi tetap saja hati Athar tak bisa membuang nama Kenanga. Gadis itu benar-benar memiliki arti istimewa dalam hidup Athar.


Athar melangkahkan kakinya masuk ke dalam minimarket, kedua langkah kakinya menuju ke arah lemari pendingin, telapak tangannya yang kokoh meraih pintu lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral. Namun pandangan mata Athar seketika tersita saat melihat wajah Kenanga yang turun dari mobil. Ini seperti mimpi untuk Athar, setelah dua tahun berlalu, kini Athar kembali melihat wajah Kenanga. Wajah gadis yang dia cintai hingga saat ini. Gadis itu terlihat sedikit kurus dari hari terakhir Athar melihat Kenanga di hari pernikahannya dengan Riko. Ya, hari itu Athar dengan sekuat tenaga membawa kedua kakinya menghadiri resepsi pernikahan Kenanga, meskipun hatinya terasa sakit, jantungnya seakan tak berdetak lagi, tapi apalah daya Athar hari itu, Athar hanya ingin melihat dengan kedua matanya, gadis yang dirinya cintai menikah dengan pria pilihannya, meskipun menyakitkan tapi Athar berusaha menerima semua keputusan Kenanga, bagaimanapun juga Athar menghormati keputusan yang Kenanga ambil setelah sekian banyak usaha yang Athar lakukan untuk mengembalikan Kenanga kedalam dekapannya, tapi Kenanga telah mimilih dan Athar harus menerimanya.


Setelah sekian lama, akhirnya Athar bisa kembali melihat Kenanga, Athar sangat merindukan gadis itu, meski Athar tahu perasaannya adalah rasa yang salah, rasa yang seharusnya hilang dari hatinya, rasa yang tak pantas mencintai istri dari pria lain. Tapi itulah perasaan yang tak bisa di paksa pergi ataupun di paksa untuk singgah dan menetap. Athar segera menyembunyikan diri di balik rak makanan supaya Kenanga tak melihatnya, Athar takut kalau Kenanga akan lari saat mengetahui ada dirinya di sana. Hati Athar bergetar hebat, terasa sesak hingga matanya berkaca-kaca. Sungguh melow dan bodoh pikir Athar saat itu. Dirinya seorang pria tapi merasa sangat lemah dan tak berdaya, bukankah itu bodoh?? pikirnya.


Kenanga terlihat mengambil beberapa makanan kecil dan memasukan ke dalam keranjang yang dirinya bawa. Meskipun tubuhnya terasa sedikit lemas, tapi Kenanga berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Sementara kedua mata Athar tak berhenti mengawasi Kenanga. Hatinya tak terhankan lagi, hingga kedua kakinya melangkah dan kini berhenti tak jauh dari samping Kenanga. Tenggorokan Athar terasa tercekat. Ingin rasanya Athar menyapa Kenanga, namun Athar rasanya tak bisa.


"Dokter Athar ...." Suara seseorang membuat Athar membuka lebar kedua matanya, begitupun dengan Kenanga yang langsung mengalihkan pandangan matanya mencari sumber suara.


Kini Kedua pasang mata itu saling menatap, menatap dalam diam. Baik Kenanga maupun Athar tak ada yang saling mengucapkan kata-kata.


"Dokter Athar..."


"Ya..." Athar menjawab dengan suara bergetar.


"Sedang apa di sini??" sapa Nela salah satu perawat yang bekerja satu rumah sakit dengan Athar. Athar tak menghiraukan pertanyaan Nela. Athar dengan langkah kaki yang cepat mengejar Kenanga yang sudah keluar dan meninggalkan keranjang belanjaannya begitu saja.


"Kenanga tunggu!!"


Kenanga seolah menutup telinganya, dirinya tak ingin lagi bertegur sapa dengan dengan Athar setelah semua yang terjadi. Dua tahun berlalu Kenanga selalu berusaha terbaik menghapus masa lalunya bersama Athar, tapi mengapa kini harus kembali bertemu dengan Athar setelah semua masalah yang terjadi?


"Kenanga tunggu !!" Kali ini tangan Athar dengan cepat meraih pintu mobil milik kenanga. Membuat Kenanga berhenti melangkah.


"Aku tak berniat menggagumu. Aku hanya ingin menyapa dan menanyakan kabarmu? apakah itu salah??"


"Tidak ada yang salah Athar, hanya keadaan yang selalu salah untuk kita berdua" Batin Kenanga. Dengan terpaksa Kenanga membalikkan badan dan kini berhadapan langsung dengan tubuh Athar. Bahkan Kenanga bisa mencium aroma parfum yang Athar kenakan.


"Kenanga? how are you?"


"I'm fine" jawab Kenanga dengan singkat padat dan tidak banyak bicara.


"Apakah kau kemari sedang mengunjungi kedua orang tuamu?"


Tak ada jawaban dari bibir Kenanga, bibirnya terasa kaku. Sementara Athar mengernyitkan keningnya dalam. Bukankah setelah menikah Kenanga dan Riko memutuskan untuk pindah keluar kota. Maka dari itu dua tahun lamanya Athar tak pernah melihat Kenanga di kota ini, bukan hanya itu, Athar beberapa kali pernah mendatangi rumah Kenanga tapi sayangnya Kenanga selalu tak berada di rumahnya, bahkan saat terakhir kali Athar datang, tetangga Kenanga bilang kalau Kenanga dan kedua orang tuanya kini pi dah dan menetap di luar kota.


"Kenapa kau laro dariku?? aku bukan penjahat??" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Athar.


Kenanga tak menjawab sepatah katapun, dirinya dengan cepat masuk kedalam mobil dan menutupnya, bahkan langsung menacap gas mobilnya dan pergi meninggalkan Athar yang masih berdiri mematung di posisinya.


"Kamu tidak harus tau bagaimana kehidupanku Athar. Biarkan aku menjalani hidupku dan kamu dengan kehidupanmu" Kenanga memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.


Sementara Athar, pria itu terdiam seperti patung, apakah hanya sebagai teman saja Kenanga tak mau menerimanya? Sebenarnya apa kesalahan dirinya hingga Kenanga memberinya dinding pemisah?? bukankan hubungan keduanya dahulu selalu baik-baik saja???


"Kenanga, tahukah kamu aku rasanya seperti pria bodoh yang selalu mencintai istri orang lain?? mengharapkan wanita yang telah dimiliki oleh pria lain?"