
Athar membenarkan letak kacamata berbingkai emas yang saat ini dirinya gunakan, waktu prakteknya sudah hampir habis, bahkan sepertinya di luar sudah tidak ada pasien lagi, bahkan Asistennya juga sedang pergi ke toilet sejak lima menit yang lalu. Hari ini tidak terlalu banyak pasien yang datang, meski begitu Athar terlihat lelah hingga dirinya memutuskan untuk menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, rutinitas sehari-hari yang Athar lalukan sebagai seorang pelayan masyarakat.
"Dokter Athar, ada satu pasien lagi" tiba-tiba suara Evan membuat Athar kembali duduk tegap.
"Apa mau di periksa atau di suruh kembali besok Dok? waktu praktek anda sudah habis" Evan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya
"Suruh masuk, kasihan" jawab Athar, tak menunggu lama Evan langsung mempersilahkan pasien tersebut masuk ke dalam ruang kerja Athar.
"Selamat sore Ibu, silahkan duduk" Ucap Athar ramah sembari menyematkan senyuman di bibirnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" imbuh Athar ramah
"Dokter, sudah setengah bulan ini pinggang saya terasa sangat sakit, bahkan sulit sekali untuk di bawa tidur maupun duduk" jawab wanita paruh baya yang kini duduk tepat di depan Athar dan hanya terpisahkan. oleh meja kaca
"Kalau begitu, mari saya periksa terlebih dahulu. Silahkan ibu berbaring" Athar mempersilahkan pasien tersebut untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang periksa yang berada di ruang kerjanya.
Athar mulai memeriksa dengan begitu teliti, profesinya sebagai Dokter Spesialis Urologi benar-benar dirinya amalkan dengan baik. Ya, beberapa tahun berlalu begitu cepatnya, dan saat ini Athar bukan lagi dokter umum yang berjaga di IGD, melainkan Dokter Spesialis Urologi. Sudah setahun ini Athar bekerja di Rumah Sakit swasta di kota Bandung.
"Baik ibu sudah selesai, ibu bisa duduk kembali" Athar melepaskan Stetoskop dari daun telinganya
"Untuk sementara waktu, saya resepkan obat terlebih dahulu, dan kita lihat perkembangannya seperti apa dalam seminggu ini, baru setelah itu kita bisa melakukan tindakan selanjutnya" Athar menyerahkan selembar kertas berisikan tulisan resep kepada pasiennya.
"Terimakasih Dokter" ucap pasien tersebut sambil menerima resep tersebut dan berlalu keluar ruang kerja Athar.
"Akhirnya, pekerjaan selesai" ucap Evan senang saat jam kerjanya telah berakhir, setidaknya dirinya bisa pulang untuk bersantai menikmati akhir pekan
"Memangnya jomblo sepertimu mau kemana akhir pekan begini?" tanya Athar penuh ledekan.
Meskipun Evan hanya seorang perawat yang menjadi asistennya, tapi kedekatan antara Evan dan Athar memang sudah seperti teman, mereka berdua juga memiliki umur yang tidak berbeda jauh, tak ayal bila di luar jam kerja Evan dan Athar selalu saling melempar ledekan satu sama lain.
"Dokter juga jomblo abadi, jadi jangan membully saya" celetuk Evan sambil sibuk merapihkan rekam medis para pasien
"Ya memang, tapi setidaknya aku tidak membicarakan akhir pekan, tidak sepertimu yang seolah-olah sangat senang berakhir pekan meski sendirian" Athar terkekeh
"Hissshhh" Evan mendesis dan tak mau meladeni lagi Dokter Athar, rasanya dirinya tidak akan menang bila berdebat dengan Athar.
Suasana menjadi sunyi, hanya Athar yang masih berada di ruang tersebut, tubuhnya terasa penat hingga Athar memutuskan untuk menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya, kedua matanya terlihat terpejam. Sudah beberapa tahun berlalu, tapi Athar masih belum bisa menghapus senyuman Kenanga dari dalam benaknya. Meski pertemuan mereka sangat singkat, tapi entah mengapa senyuman Kenanga sangat membekas di dalam pikirannya bahkan sulit sekali untuk di hilangkan.
Sementara gadis itu telah menghilang dari kehidupannya sejak beberapa tahun yang lalu, bahkan setelah Ibu Anesa keluar dari rumah sakit, Athar pernah berkunjung ke rumahnya untuk memenuhi janjinya singgah atas undangan ibu Anesa, tapi sayangnya Athar datang terlambat. Setelah dua minggu ibu Anesa keluar dari Rumah sakit, Athar baru sempat untuk berkunjung, bukan tanpa alasan, Athar selama dua minggu itu sibuk melengkapi berkas-berkas pendaftaran untuk melanjutkan kembali kuliahnya, tapi sayang saat Athar datang berkunjung ternyata Kenanga sudah perdi ke Surabaya untuk melanjutkan kembali pendidikannya di salah satu universitas di sana.
Saat Athar menanyakan dimana Kenanga melanjutkan sekolahnya, ibu Anesa tidak mau memberitahukan itu semua atas permintaan Kenanga.
Athar mendesahkan nafasnya dengan berat "Rembulanku" ucapnya lirih
Setelah hari itu, Athar tak patah semangat, bahkan beberapa kali Athar bertanya kepada tetangga rumah Kenanga apakah Kenanga terlihat kembali ke rumah atau tidak, tapi sayangnya jawabannya nihil, begitupun dengan ibu Anesa yang sama sekali tidak mau memberitahukan keberadaan putri sematawayangnya.
"Apakah akan kembali bertemu?" tanya Athar pada dirinya sendiri.
"Kenanga" Athar melafalkan nama itu dengan begitu lembut
Kenanga, gadis itu benar-benar memberikan kesan mendalam untuk Athar, bahkan Athar belum melupakan kebersamaan mereka di villa Lembang, kesederhanaan, sikap manja bahkan sikap perduli Kenanga terhadap orang lain mampu menarik Athar larut terlalu jauh hingga bayang Kenanga tak lepas dari dalam otaknya.
Suara dering ponsel membuat lamunan Athar seketika buyar. Athar membenarkan letak kacamata berbingkai emas yang dirinya kenakan, kemudian mengambil layar ponselnya dan melihat dua pesan masuk dari Sherin. Ya Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sherin Indrawan. Bertahun-tahun berlalu, Sherin masih saja menjadi teman baiknya, meski Athar sendiri tau kalau Sherin menaruh hati padanya, tapi selama ini Athar selalu menegaskan kalau dirinya hanya menganggap Sherin seorang teman tak lebih.
*Dokter Athar, malam ini kita minum kopi yuk ~Sherin
Di cafe biasa ~Sherin*
Athar kembali menghembuskan nafasnya dengan berat, sungguh Athar tidak ingin membuat Sherin berharap lebih padanya, namun bila Athar menolak pasti Sherin akan datang ke rumahnya dan berbicara pada mamanya supaya Athar mau di ajak keluar bersama dengan dirinya.
Dokter Sherin, malam ini aku ada acara menghadiri pesta ulang tahun teman lamaku, jadi maaf aku tidak bisa minum kopi bersama dokter ~Athar
Merasa tak ingin di ganggu lebih jauh, Athar langsung mematikan daya ponselnya setelah mengirim pesan balasan pada Sherin.
"Enaknya kemana? Jika aku pulang pasti Sherin ada di rumah, jika tetap di sini pasti sangat membosankan. Lantas harus kemanakah aku?" Athar menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal.
"Sudahlah pikirkan nanti saja" Athar melepaskan jas berwarna putih yang membalut tubuhnya.
Jas kebanggaannya sebagai seorang pelayan masyarakat kini Athar gantung di tempat biasa dirinya menyimpan jas kerja. Kemudian Athar memutuskan untuk keluar dari rumah sakit, tidak ada tujuan sama sekali saat ini, yang terpenting Athar harus keluar dulu dari rumah sakit, dan akan kemana setelah ini, Athar akan pikirkan sambil mengemudikan mobilnya nanti.